MOJOK.COPijat dengan Injak-injak punggung sekilas memang terasa bikin rileks dan lega. Tapi, yakin nih, tindakan ini betul-betul aman buat tubuh kita?

Saat kecil, saya sering diminta tolong oleh bapak dan ibu untuk menginjak-injak punggungnya. Dengan bobot saya yang cenderung masih ringan itu, tentu aktivitas tersebut cukup bikin enak di badan mereka. Pasalnya, kalau saya diminta untuk memijat menggunakan tangan, pasti nggak bakal kerasa apa-apa. Kurang mantap rasanya. Oleh karenanya, injak-injak punggung dianggap sebagai solusinya.

Bagi ibu atau bapak saya, setelah saya injak-injak punggung mereka. Maka, rasa pegal-pegal dan lelah setelah melakukan aktivitas keseharian lumayan berkurang. Dampaknya, mereka bisa mendapatkan kesegaran badan dengan harga ekonomis. Hanya bermodalkan rayuan manis, supaya anaknya mau-mau aja diminta injak-injak punggungnya.

Nah, sebetulnya, apa iya, injak-injak punggung ini cukup aman untuk dilakukan? Dan betul-betul bisa merilekskan badan?

Ternyata nih, jika hal ini dilakukan dengan tepat oleh ahlinya, memang sanggup memberikan dampak relaksasi pada tubuh kita. Tapi, kalau injak-injak punggung ini dilakukan dengan orang awal dan melakukannya asal-asalan—seperti asal minta tolong anaknya sendiri—tanpa memedulikan soal teknik dan metodenya yang benar. Maka hal tersebut bisa berbahaya untuk tubuh si orang yang bersangkutan. Bahkan, bisa menyebabkan patah tulang, saraf kejepit, ataupun pergeseran tulang punggung yang siginifikan.

Hmmm, mau menjadi lebih rileks dan nyaman kok malah jadi nggak nyaman, ya. Hadeeeh~

Hal tersebut diamini oleh seorang pakar kesehatan Greg Kawchuk. Beliau adalah professor di departemen terapi fisik dari University of Alberta, Kanada. Kata beliau, nih, kalau pijatan dengan menginjak-injak punggung, sangat tidak aman dilakukan dan bisa berbahaya bagi tubuh kita. Lantaran, orang yang menginjak tubuh kita bisa jadi punya berat badan yang lebih berat daripada berat badan kita sendiri. Nah, kalau memaksa untuk tetap diinjak, hal tersebut bakal memicu tekanan yang lebih tinggi dari kekuatan ligamen dan buku-buku pada tulang punggung kita. Tentu saja, ini bakal berisiko terjadinya cedera pada tulang punggung. Wowww….

Tetapi, sebetulnya injak-injak punggung ini adalah salah satu terapi pijat shiatsu dari Jepang dan dilakukan sudah sejak lama oleh para biksu. Kalau dilihat sekilas, memang pijat shiatsu ini mirip dengan cara kita menginjak punggung seperti biasanya. Namun bedanya, pijat shiatsu hanya dilakukan oleh terapis yang sudah punya sertifikat dan dianggap legal. Plus, sudah terjamin kemampuannya.

Mereka-mereka ini, sudah mampu mengendalikan tekanan kakinya dan bisa menyesuaikan dengan keinginan kliennya. Nggak asal-asalan seperti yang biasa kita lakukan. Oleh karenanya, pijatan kaki mereka ini, tentu tidak terasa menyakitkan, dan keamanannya terjamin.

Lantas, bagaimana mereka mengendalikan gerakan kaki-kakinya tersebut? Jadi, cara injak-injak punggung yang dilakukan oleh terapis shiatsu, yakni dengan berjalan perlahan ke atas dan ke bawah punggung. Namun, hal itu dilakukan dengan meletakkan kedua kaki hati-hati pada kedua sisi tulang belakang. Bukan tepat di atas tulangnya, ya. Kemudian, kaki tersebut mendorong dan menarik otot supaya bisa melepaskan ketegangan, sehingga otot bisa lebih rileks. Jadi, sekali lagi, nggak asal injek-injek aja, ya, Maemunah?

Untuk memudahkan pergerakan tersebut, punggung bakal diolesi minyak terlebih dahulu. Nggak cuma itu, selama pemijatan berlangsung, terapis bakal memegang sebuah gagang besi yang berada di atas kepalanya supaya dia bisa berjalan dengan stabil. Hmmm, kurang luar biasa apa, coba? Cara untuk menyetabilkan pergerakan mereka ini?

Dengan gambaran tersebut, apa iya, kita masih berani aja ngasal minta orang lain untuk injak-injak punggung kita demi kerileksan yang hakiki? Jangan-jangan, bukannya terasa rileks dan nyaman, justru badan kita jadi sakit semua karena salah injek, lagi? Jadi, sebaiknya pikirkan dulu baik-baik. Sebelum memperbudak minta tolong, anak-anak kecil di sekitar kita. Gitu.



Tirto.ID
Loading...

No more articles