Tanya

Dear, Mas Agus yang baik hatinya.

Sebelumnya salam kenal, Mas. Nama saya Yusril. Saya salah satu pembaca Mojok generasi awal yang terlalu pengecut sehingga selama ini hanya berani menjadi pembaca namun tak pernah berani mengirim tulisan. Nah, curhatan ini saya harapkan bisa menjadi debut saya.

Begini, Mas. Saya punya masalah yang cukup pelik terkait masa depan saya. Saya sudah lulus kuliah dua tahun lalu dan saat ini belum punya pekerjaan tetap. Kesibukan saya sekarang adalah mengelola usaha penerbitan dan jasa cetak buku yang saya rintis bersama beberapa kawan saya sewaktu di aktif di persma.

Nah, Bapak dan Ibu saya ternyata tak terlalu suka dengan usaha yang saya rintis. Mereka justru menginginkan agar saya ikut seleksi CPNS. Entah dapat bisikan dari siapa kok sekarang mereka jadi sangat menginginkan agar saya bisa jadi PNS, padahal dulu kelihatannya mereka selalu tampak moderat terkait urusan pekerjaan anak-anaknya.

Awalnya mereka memang cuma menyindir saya secara halus. Namun lama-lama, langkah mereka semakin brutal. Lha gimana nggak brutal, mereka tiba-tiba memberikan saya buku seleksi CPNS. “Dipelajari sana, tahun depan daftar,” kata Bapak saat memberikan buku yang tebalnya membuat saya ngeri itu.

Memang usaha jasa cetak buku yang saya rintis itu sekarang belum besar, namun saya yakin, dengan semangat dan passion yang saya dan kawan-kawan saya miliki di bidang buku, kelak usaha penerbitan dan percetakan buku itu akan menjadi besar.

Saya tipikal orang yang sangat tidak terarik menjadi seorang PNS. Saya jauh lebih bahagia bekerja di dunia buku yang memang sudah sejak jaman kuliah saya sudah saya geluti.

Ingin sekali saya menolak permintaan orangtua saya secara terang-terangan, namun saya tak tega. Saya takut kualat. Selain itu, saya juga tak bisa membayangkan betapa saya akan sangat menderita kalau harus jadi PNS.

Nah, Menurut Mas Agus, kira-kira apa yang harus saya lakukan? Mohon saya dikasih saran, nggih, Mas.

~Yusril

Jawab

Dear Yusril.

Adalah hal yang wajar jika orangtua Anda punya pengharapan atas masa depan anak-anaknya. Saya pikir, pada satu titik, mereka memang punya hak untuk itu. Wong mereka yang membiayai Anda kuliah, yang ngasih Anda makan, yang ngasih uang jajan.

Mereka ingin yang terbaik buat anak-anaknya. Nah, pada dasarnya, di sinilah letak polemiknya.

Orangtua Anda menganggap bahwa menjadi PNS adalah pekerjaan terbaik yang cocok bagi Anda. Sedangkan bagi Anda, PNS adalah pekerjaan yang sangat tidak cocok buat Anda.

Orangtua Anda kemungkinan besar menganggap bahwa PNS adalah pekerjaan yang menjanjikan penghasilan yang mantap, sehingga dengan itu, mereka mengira Anda bakal hidup enak dan bahagia.

Untuk menyelesaikan hal ini, maka yang perlu Anda lakukan tentu saja adalah memberikan bukti.

Anda harus membuktikan diri bahwa bisnis penerbitan dan percetakan yang Anda rintis itu bisa memberikan Anda pekerjaan yang membahagiakan dan bisa memberikan penghasilan yang mantap, tak kalah dengan PNS.

Namun sampai saat ini, bisnis penerbitan dan percetakan tersebut dilihat dari pernyataan Anda tampaknya baru sebatas memberikan pekerjaan yang membahagiakan saja, bukan penghasilan yang mantap.

Nah, sembari menunggu momen itu datang, saran saya, tak ada salahnya Anda mendaftar seleksi CPNS tersebut. Hitung-hitung semacam mencicil membahagiakan orangtua.

Nah, namun saat seleksi, Anda harus berusaha agar tidak lolos. Tentu saja ini hal yang sangat mudah dilakukan. Bahkan saya pikir, Anda tak memerlukan banyak effort, sebab dengan belajar tekun pun, saya yakin orang seperti Anda tak akan lolos. Hahaha.

Kalau sudah nggak lolos, Anda bisa fokus membesarkan usaha penerbitan dan percetakan Anda.

Nanti tahun depan, tinggal daftar lagi, dan “menggagalkan“ diri lagi.

Setidaknya, orangtua Anda paham, bahwa Anda sudah sudah mau menuruti permintaan mereka untuk mendaftar dan ikut CPNS. Perkara Anda nggak diterima, itu lain soal, bukan?

Nah, saat momen itu datang, saya yakin usaha Anda sudah besar dan bisa memberikan penghasilan yang besar pula.

Yah, kecuali kalau memang Anda dan kawan-kawan Anda itu bodohnya memang nggak ketulungan.

Baca juga:  Surat Protes dari PNS untuk Jokowi dan Pendukung Garis Keras Salam Dua Periode