Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame Moknyus

Suhu Bandung Lagi Dingin-Dinginnya Demi Sambut Musim Kemarau

Redaksi oleh Redaksi
6 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Suhu Bandung mendadak rendah dan menjadikannya kota yang lebih dingin dari kemarin. Ternyata, hal ini memiliki penjelasan ilmiah: Bandung sedang bersiap menghadapi kemarau.

Dikenal sebagai kota yang adem dan sejuk, Ibu kota Jawa Barat, Bandung, kini dikabarkan sedang mengalami suhu yang jauh lebih adem. Padahal, jika dibandingkan dengan banyak kota lain di Indonesia, suhu Bandung sendiri sudah tergolong dingin. Lantas, bagaimana keadaan suhu Bandung yang sekarang disebut sedang dingin-dinginnya?

Sejumlah netizen Bandung ramai-ramai berkeluh kesah di media sosial. Mereka menyatakan bahwa kabar suhu Bandung yang mendadak kian dingin ini benarlah adanya. Beberapa dari mereka menyebut suhu berkisar di angka 16 derajat Celcius.

Tak hanya pengakuan langsung, sebuah pesan berantai pun tersebar di kalangan warga. Isi pesan ini merupakan peringatan karena suhu Bandung diperkirakan mencapai suhu minimal. Artinya, dengan suhu yang rendah, Bandung di malam hari tentu bakal jadi jauh lebih dingin.

Pesan berantai ini pun mengimbau warga untuk senantiasa menggunakan baju yang lebih tebal, kaus kaki, dan sarung tangan.

Tapi sebenarnya, kenapa suhu Bandung bisa tiba-tiba menjadi sangat dingin?

Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung, keadaan dingin ini ternyata disebabkan Bandung sedang “menyambut musim kemarau”. Eh, gimana, gimana?

Berdasarkan pernyataan Kepala Humas BMKG Harry Tirto Djatmiko, dinginnya suhu Bandung ini diketahui terjadi setiap tahun, khususnya di bulan Juli hingga Agustus. Pada masa-masa ini, aliran massa udara dingin berembus dari Australia ke Asia. Aliran udara inilah yang kemudian mengindikasikan masuknya Bandung ke musim kemarau.

Bukan hanya Bandung, kota-kota lain yang dilewati oleh angin ini pun berpotensi terkena dampak yang sama, yaitu kota-kota yang berada di selatan garis khatulistiwa. Berembus kencang dengan kecepatan 36-45 kilometer per jam, angin ini disertai pula dengan terbentuknya awan hujan di Bandung.

Jika dijabarkan, beginilah perkiraan perjalanan suhu udara di Bandung bulan Juli-Agustus:

  1. Suhu di sore hari menjelang malam hari cukup tinggi
  2. Suhu di pagi hari rendah, alias relatif dingin
  3. Suhu di siang hari sedikit lebih panas karena munculnya awan hujan

Alhasil, Bandung dan kota-kota sekitarnya harus siap menghadapi cuaca yang cerah dan berawan dalam keadaan suhu minimal. Berdasarkan pernyataan BMKG Bandung, suhu minimal yang akan terjadi adalah sebesar 17,4 derajat Celcius, sementara suhu tertingginya adalah 30 derajat Celcius. Kelembapan suhu pun tercatat rendah, 38 persen.

Namun begitu, dilansir dari Kumparan, suhu Bandung saat ini bukanlah yang paling dingin. Sebelumnya, suhu 12,4 derajat Celcius pernah terjadi (Juli 1986) di kota ini, bahkan pernah pula mencapai 9,8 derajat Celcius (Juli 1991).

Berita perihal dinginnya Bandung tentu menjadi PR besar bagi kita-kita yang memang tidak tahan cuaca dingin. Kalau sebelumnya saja Bandung terasa hampa tanpa jaket tebal—padahal orang Bandung aslinya malah kipas-kipas karena hareudang—gimana jadinya kalau kita ke Bandung bulan Juli ini, ya?

Ha wong nyalain AC aja paling mentok 25 derajat Celcius. (A/K)

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2018 oleh

Tags: angin musim kemarauAustraliadinginjawa baratsuhu Bandung
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Lulusan S2 Jepang nggak mau jadi dosen, pilih kerja di Australia. MOJOK.CO
Sekolahan

Lulusan S2 di Jepang, Pilih Kerja sebagai Koki di Australia daripada Jadi Dosen di Indonesia karena Terlalu Senioritas

29 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis
Sekolahan

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Sweeping buku oleh aparat Jawa Barat: mencekal ilmu pengetahuan, masyarakat tak boleh pintar MOJOK.CO
Ragam

Derita Jadi WNI: Dipaksa Anti-Pengetahuan dan Tak Boleh Pintar, Suka Baca Buku Dianggap “Ancaman”

22 September 2025
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menerima kunjungan CEO dan Founder IndOz Australia, David Widjaja, di ruang kerjanya, Kamis, 28 Agustus 2025 MOJOK.CO
Kilas

Gubernur Jateng Dorong Peningkatan Investasi dari Australia

29 Agustus 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Tukang pijat.MOJOK.CO

Lulusan Akuntansi Banting Setir Jadi Tukang Pijat: Dihina “Nggak Keren”, tapi Dapat Rp200 Ribu per Hari, Setara 2 Kali UMR Jogja

24 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Sulitnya menjadi orang dengan attachment style avoidant. MOJOK.CO

Sulitnya Menjadi “Avoidant” Menjelang Usia 25, Takut Terlalu Dekat dengan Orang Lain hingga Pesimis Menikah

24 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.