Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Rame List

5 Alasan Rahasia Kenapa Piala Dunia Diselenggarakan 4 Tahun Sekali

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
17 Juni 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kenapa Piala Dunia diselenggarakan 4 tahun sekali? Kenapa harus angka 4? Segitu nggak sukanyakah Piala Dunia sama angka lain?

Gelaran Piala Dunia kini tengah menjadi primadona di televisi. Ditayangkan hampir tiap hari, Piala Dunia sontak mencuri perhatian, mulai dari jadwal permainannya hingga teknis-teknis penyelenggaraannya.

Iklan

Salah satu hal yang disoroti dalam acara ini adalah waktu pelaksanaannya: kenapa Piala Dunia diselenggarakan 4 tahun sekali? Kenapa panitia Piala Dunia membiarkan penggemarnya menanti dalam waktu yang sedemikian lama demi mempertahankan prinsip waktu pelaksanaannya? Kenapa???

Melihat hal ini, Mojok Institute tidak tinggal diam. Melalui beberapa penelitian dan diskusi, kami pun akhirnya menemukan 5 kemungkinan alasan mengapa Piala Dunia diselenggarakan 4 tahun sekali. Hmmm, memang kenapa, ya? Soalnya…

1. Kalau Sebulan Sekali…

…namanya month-versary alias perayaan hari jadian orang pacaran.

Jelas, Piala Dunia bukan perayaan seremeh itu, gaes-gaesku. Coba aja bayangkan pemain-pemain sepak bola ini meng-update media sosial mereka dengan caption semacam, “Happy World Cup’s monthversary, I love you to the moon and back. Langgeng-langgeng, ya, sepak bola dan kakiku.” Hih, geleuh.

Lagi pula, waktu pelaksanaan yang sebulan sekali tentu merepotkan pemain yang harus bolak-balik ke luar negeri. Gempor!

2. Kalau Setahun Sekali…

…namanya Ujian Nasional.

Ya, ya, ya. Baik di jenjang SD, SMP, hingga SMA, setiap tahunnya selalu ada Ujian Nasional yang diselenggarakan. Kalau Piala Dunia memaksakan diri menggelar acaranya setiap tahun, tentu euforianya akan kalah dengan Ujian Nasional. Berita-berita di media soal hasil pertandingan pun kemungkinan akan tenggelam karena terkadang berita soal Ujian Nasional lebih menghebohkan hingga skala nasional, apalagi kalau soal Matematikanya sulit. Hehe.

3. Kalau Dua Tahun Sekali…

…namanya kenaikan gaji PNS.

Dalam PP Nomor 7 Tahun 1977 tentang Peraturan Gaji PNS disebutkan bahwa kenaikan gaji berkala (KGB) dilakukan setiap dua tahun sekali. Seharusnya.

Dengan demikian, jika pelaksanaan Piala Dunia diselenggarakan tiap dua tahun, lagi-lagi, hype-nya akan kalah dengan hal-hal yang mungkin terjadi menyambut kenaikan gaji: diskon besar-besaran di toko baju, acara nikahan, liburan ke Karimun Jawa 20 kali, dan lain-lain. Yah, naik gaji masa musti diem di rumah sambil nonton TV? Nggak cucok!

4. Kalau Tiga Tahun Sekali…

…namanya komet Encke.

Apaan tuh komet Encke? Nah, baru tahu namanya, kan? Ya, inilah yang menjadi alasan kenapa Piala Dunia diselenggarakan 4 tahun sekali: supaya kita punya kesempatan untuk mempelajari bahwa komet di dunia bukan cuma komet Halley yang muncul 76 tahun sekali.

Iklan

Melalui orbitnya, komet periodik yang satu ini memiliki masa revolusi 3 tahun sekali. Bahkan, lebih tepatnya, angka 3 ini berulang dua kali menjadi 3,3 tahun sekali. Dengan pengulangan ini, Piala Dunia jelas tidak punya kans untuk diselenggarakan setiap 3 tahun. Skip!

5. Kalau Lima Tahun Sekali…

…namanya Pemilihan Presiden alias Pilpres.

Gelaran acara yang satu ini jelas terlalu sakral untuk digantikan oleh Piala Dunia meskipun praktiknya rada-rada mirip. Gimana nggak? Di Piala Dunia, yang namanya perang hashtag, kaos, dan lagu jelas menjadi hal yang lumrah.

Bedanya, penggemar-penggemar sepak bola ini terbiasa langsung menyelesaikan kompetisi selama 90 menit pertandingan, bukannya cuma sindir-sindiran sambil mainan spanduk dan klakson.

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2018 oleh

Tags: diselenggarakan 4 tahun sekaligaji PNSkomet EnckePiala duniaPilpres 2019UNBK Matematika
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Gotong Royong ala Serigala Putih: Napas Kultural Uzbekistan di Pentas Piala Dunia.MOJOK.CO
Fragmen

Sepak Bola Gotong Royong Bernama Mahalla, Senjata Taktis Uzbekistan di Piala Dunia

17 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO
Fragmen

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
Pojokan

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Bisa kuliah di ITB berkat beasiswa ojol. MOJOK.CO

Menangis di Hadapan Bapak yang Sehari-hari Ngojol agar Diizinkan Kuliah di ITB, Gadis Malah Dapat Beasiswa dari Pekerjaan Sang Ayah

24 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026
Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri? MOJOK.CO

Mengapa Calon Mahasiswa PTN Banyak yang Mengundurkan Diri?

29 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.