Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Komen Versus

Menyalahkan Bahasa Orang Lain dengan Senjata “Kata Baku” dan “Kata Tidak Baku”

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
22 Oktober 2017
A A
polisi-kbbi-mojok

polisi-kbbi-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jangankan satu miliar sholawat, satu sholawat saja sudah bikin saya pening. Sungguh hari Minggu yang berat.

Biasa, perkara mengedit naskah di Mojok. Penulis memakai sholawat, saya cek di KBBI daring, perkakas andalan saya itu, dan menemukan …

“Entri tidak ditemukan.” Hurufnya merah semua.

Saya ketik kata lain di bilah pencarian, kali ini salawat. Hasilnya, diarahkan ke kata selawat. Saya klik. Keluar: pencarian benar. Ada tambahan informasi pula,

“bentuk tidak baku: salawat, salwat, solawat.”

Kali ini hurufnya hitam, tapi justru ini yang bikin pusing.

Kalau salawat saja tidak baku, sholawat lebih tidak baku lagi karena bahkan masuk daftar kata tidak baku pun nggak. Hanya saja, kalau percaya vox Google vox populi; suara Google, suara rakyat, masyarakat lebih terbiasa memakai sholawat karena ada 19,8 juta entri di Google yang mengandung kata itu.

Kalau salawat? Cuma 1,9 juta.

Kalau selawat? 36 juta, dengan catatan sebagian besar hasil datang dari situs web Malaysia.

Jarum jam bergerak terus, naskah harus segera tayang sementara saya masih galau mau pakai kata yang mana.

Habis, kalau mau pakai sholawat, kayaknya bahasa Indonesia tidak punya cara menulis bunyi [sh]. Pada masyhur, misalnya, huruf h bunyi sendiri. Masy-hur. Tapi, ini juga bukan jenis [sh] yang dipakai para abdi insha Allah. ini [sh] yang lain ….

Oke, tenangkan pikiran … buka pedoman transliterasi Arab-Latin Indonesia dulu. Huruf ص [Șad] apabila diindonesiakan menjadi Ș. Huruf [es] besar dengan titik di bawah.

Masalah bukannya selesai, malah semakin ribet. Nggak lucu kan kalau Mojok dikira situs web Kazakhstan hanya karena memakai Șalawat.

Ribet amat sih, Tong. Langsung pakai selawat aja kenapa? Batin saya yang memang tabiatnya suka gampang menganjurkan.

Iklan

Njir, aneh. Kapan saya dengar orang menyebut selawat? Nggak pernah. Dan rasanya meleset jauh dari kata Arabnya. Lah kok nggak pakai salawat aja sebagaimana kamu memakai salat, bukannya shalat? (FYI, salawat [apa pun cara nulisnya deh] adalah bentuk jamak dari salat.)

Ya KBBI sih bilangnya itu tidak baku, jawab saya kepada diri sendiri. Tapi, baiklah, saya pakai salawat aja daripada banyak cingcong. Kalau kelak saya mendapati itu pilihan salah, saya terima. Cuma Wiro Sableng yang pendekar kebenaran dan pembasmi kejahatan, saya bukan.

Setelah naskah (akhirnya!) tayang, saya jadi ingat kata seorang editor, “Jangan perlakukan tanda baca di tulisan sebagai terjemahan dari intonasi ucapan.” Misal, kamu memakai koma, koma itu harus diletakkan sebagai pembatas makna antara komponen makna satu dan komponen makna lain, bukan untuk mengatur bagaimana ritme kamu mengucapkannya.

Saya renungi perkataan itu lebih dalam lagi dan mengambil kesimpulan, bahasa tulis punya logika sendiri sebagaimana bahasa lisan juga demikian. Jangan karena orang mengucapkan bunyi sho-lat, bahasa tulis pun harus disesuaikan demikian. Dan memangnya saya yakin, semua orang menyebut sholat? Bagaimana dengan lidah Banyumasan? Jangan-jangan yang diucap adalah sho-lad. Bahasa lisan ada konteks, orang bisa paham karena itu, dan kalau tidak paham bisa langsung tanya. Bahasa tulis tidak.

Baik, saya rasa saya sudah di jalur yang benar ketika mengganti milyar, fiqih, kyai, dan mushola menjadi miliar, fikih, kiai, dan musala. Hanya saja untuk ustaz, saya masih manut sama Arlian Buana yang alumni pesantren.

KBBI memang menyatakan yang baku adalah ustaz, tapi dalam pedoman transliterasi, ذ itu ditulis dengan z yang dikasih titik di kepalanya (ż), sedangkan z yang polos adalah transliterasi ز.

Kalian yang pernah ngaji tahu kan beda ucapan dua huruf Arab itu: sekilas sama-sama terdengar berbunyi [za], tapi yang satu lidah di dalam, yang satu lidah di gigi. Gara-gara transliterasi nggak harmonis dengan KBBI itu, Bana menyatakan ia akan pakai ustadz. Di hadapan mantan santri yang kalau nonton Liga Arab nggak pakai subtitle ini saya cuma manggut-manggut menyadari betapa daif hamba ini.

Ribet ya? Tapi, sejauh ini asyik.

Menghadapi problem-problem seperti itu sehari-hari sedikit banyak membuat saya tidak saklek apa-apa harus sesuai KBBI. KBBI memang melabeli satu kata baku atau tidak, tetapi pembaca KBBI kerap menjadikannya sebagai alat pentung. Kalau tidak baku, salah. Jumawa salah, yang benar jemawa. Praktek salah, yang benar praktik. Dan seterusnya berlaku untuk sekedar, apotik, supir, dll. Menerjemahkan baku sebagai benar dan tidak baku sebagai salah kok rasa-rasanya perbuatan fasis bahasa ya? Terlebih kenyataannya, pendapat tidak satu, dan pendapat-pendapat yang lain punya landasan rasionalnya sendiri.

Misal begini, cobalah Anda buka Bumi Manusia, novel pertama Kuartet Buru itu. Pramoedya Ananta Toer, si pengarang yang usianya lebih tua daripada KBBI itu, memakai perduli dan silahkan. Wajar kita jadi bertanya-tanya, kalau ada suatu masa orang biasa memakai perduli dan silahkan, dan sebenarnya itu masih berlanjut sampai hari ini, mengapa kemudian yang baku (atau yang benar, kata pejuang KBBI) adalah peduli dan silakan?

Sementara ini sih saya memutuskan meyakini, baku dan tidak baku adalah variasi saja, dan kata baru apa pun bisa saja masuk ke dalam teks berbahasa Indonesia. Nggak usah marah dulu, ini pendapat seorang milenial yang merasa kids jaman now itu sudah enak dan nggak perlu direvisi jadi kids zaman now atau jomblo itu memang b-nya bunyi sehingga jomlo ala KBBI diabaikan sajalah. KBBI, atau kamus lain dan lebih bagus kalau online, sepertinya bakal lebih asyik kalau mencatat terus semua variasi kata yang muncul dan berhenti melabeli baku atau tidak baku.

Sepakat nga?

Terakhir diperbarui pada 4 Juni 2021 oleh

Tags: bahasa indonesiakata bakuKBBIKids Jaman Nowmilenialtidak baku
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas Mojok.co
Pojokan

Anak Muda Ogah Angkat Panggilan Telepon, Dianggap Ganggu dan Cuma Bikin Cemas

18 Mei 2026
Gen Z dihakimi milenial
Urban

Nasib Gen Z: Sudah Susah, Malah Serbasalah hingga Dicap “Gila” padahal Hadapi Krisis dan Hanya Mencoba Bertahan Hidup

30 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

Penjual Makanan Laris Dikit Dituduh Pesugihan, Kebodohan yang Kita Pelihara dan Rayakan

18 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
Prabowo kasih guru honorer insentif saat HUT RI. MOJOK.CO

JPPI Kritik SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026, Sebut Pemerintah Lebih Peduli Karyawan SPPG daripada Guru Honorer

12 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.