Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Tuduhan Eko Kunthadi ke Nussa Hanya Pintu Gerbang untuk Label Taliban-taliban Selanjutnya

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
21 Juni 2021
A A
Tuduhan Eko Kunthadi ke Nussa Hanya Pintu Gerbang untuk Label Taliban-taliban Selanjutnya

Tuduhan Eko Kunthadi ke Nussa Hanya Pintu Gerbang untuk Label Taliban-taliban Selanjutnya

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Tuduhan Eko Kuntadhi ke karakter animasi Nussa, jadi babak baru stigma “Taliban” digunakan untuk menuding pihak yang berbeda di akar rumput.

Eko Kuntadhi tiba-tiba jadi viral dengan kicauan serius saat menuduh bahwa Nussa itu Taliban. Salah satu pegiat media sosial ini coming out of nowhere memberi punchline tanpa set up apa-apa ke netizen Indonesia.

Iklan

Katanya kartun Nussa itu mengampanyekan Taliban. Buset.

Begini punchline-nya.

Apakah ini foto anak Indonesia? Bukan. Pakaian lelaki sangat khas Taliban. Anak Afganistan.

Tapi film Nusa Rara mau dipromosikan ke seluruh dunia. Agar dunia mengira, Indonesia adalah cabang khilafah. Atau bagian dari kekuasaan Taliban.

Promosi yg merusak! pic.twitter.com/iLKMVVCGEi

— Eko Kuntadhi (@eko_kuntadhi) June 19, 2021


Nggak lucu ya?

Ya maklum sih, emang cuma segitu kualitas punchline kalau tidak dibarengi dengan argumentasi apik dan hasrat menggebu-gebu keburu pengin nuduh sembrambangan. Lagian, nyambungin label Taliban di Afghanistan dengan kampanye kekhilafahan itu kan jelas kejauhan, Mas Bro. Bedain ISIS sama Taliban aja nggak bisa ini orang. Pffft.

Ketimbang sebagai sebuah serangan untuk Nussa, saya malah melihat ini sebagai bentuk baru dari kelompok—saya menyebutnya—ultra-nasionalis guna memberi stigma kepada mereka yang berbeda atau terlihat menganggu kelompok yang lagi berkuasa.

Masih inget dong dengan kasus KPK? Bagaimana lembaga yang pernah mendapat kepercayaan tinggi dari publik ini, digembosi dari dalam. Dan upaya itu muncul dari istilah sepele yang sederhana kayak gini: Eh, KATANYA ada Taliban di KPK.

(((Katanya)))

Gosip murahan itu pun dipercaya… atau dipaksakan jadi kepercayaan ke masyarakat. Tuduhan yang nyata-nyatanya tak terbukti, bahkan sampai sekarang.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Uniknya, orang-orang yang menuduh itu tak peduli amat meski tudingannya tak berdasar dan tidak benar, bahkan begitu KPK berhasil digembosi habis-habisan. Semua pada bodoamat, yang penting hasil dari tuduhan itu ada: revisi UU KPK dan non-aktifkan pegawai yang mengusut kasus-kasus besar di Indonesia.

Persis kayak tuduhan Amerika Serikat zaman George W. Bush (Jr.) ke Sadam Husein yang katanya punya senjata pemusnah massal pada era 2000-an awal. Terus Irak diserang gila-gilaan, dan setelah habis nyerang sampai Irak babak belur, ternyata senjata pemusnah massal itu cuma omong kosong doang.

Hal yang sama juga rupa-rupanya sedang dipraktikan di Indonesia akhir-akhir ini, pakai istilah “Taliban”. Jika kemarin KPK babak belur dengan isu itu, karakter animasi Nussa pun mengalami hal yang serupa. Dituduh sedemikian rupa hanya karena pakaiannya.

Dulu istilah “kadrun” alias kadal gurun pernah dipakai untuk disematkan pada mereka yang berseberangan dengan pemerintah. Namun agaknya, kadrun terlalu lekat dengan narasi elektoral, jadi itu bukan stigma yang bisa awet digunakan.

Iklan

Dan kini, agaknya pegiat-pegiat sosial media mulai kreatif memakai istilah baru yang lebih peka-jaman. Sesuatu yang lebih lentur digunakan. Agar asosiasi untuk radikal, bisa diteruskan di tahun-tahun mendatang.

Ini supaya orang atau lembaga yang tertuduh bisa segera merunut pada citra Taliban di Afghanistan sana. Dan karena asosiasinya radikal, maka mereka yang tertuduh itu akan dianggap berbahaya menurut Kakak Pembina Indonesia.

Soalnya, masyarakat kita memang sudah didesain supaya nggak demen dulu sama yang radikal-radikal, maka jika apapun disematkan sama asosiasi radikal, ya habis lah itu.

Di sisi lain, tuduhan sembrambangan Eko Kuntadhi ke karakter animasi Nussa ini setali tiga uang dengan bagaimana white supremacy di Amerika Serikat, terutama pada era Donald Trump.

Bagaimana mereka yang berkulit gelap, kerap diasosiasikan sebagai kriminal, berbahaya, makanya mereka harus “dididik” atau “dikendalikan” atau—kalau dalam konteks Indonesia: “dibina”.

Di Indonesia tudingan serupa dengan memanfaatkan label kayak gini sudah muncul dalam aneka rupa.

Zaman Orde Baru, kita kerap mendengar seseorang mendadak dituduh jadi komunis atau simpatisan PKI karena mereka yang berseberangan dengan Soeharto dan kroni-kroninya. Maklum, saat itu istilah teroris, taliban, dan radikal belum ada.

Asosiasinya saat itu toh juga bukan radikal, tapi komunis. Dan komunis itu “sah” dianggap musuh negara, dan karena negara dasarnya Pancasila, maka mereka yang melawan negara juga dianggap melawan Pancasila.

Dan itulah wujud Indonesia sejak dulu. Siapa yang berkuasa, merekalah yang akan memakai jubah Pancasila supremacy. Jubah sakti yang tidak bisa disentuh, tidak bisa dikritik, dan tidak bisa diganggu gugat. Siapa aja yang berani nyentil penguasa, maka akan langsung dibenturkan sebagai sosok yang “tidak pancasilais”.

Dan dalam proses itu, pembuktian tidak lagi penting, karena orang cenderung ketakutan duluan dan buru-buru ingin berada di pihak yang memakai “jubah” Pancasila ini.

Uniknya lagi, jika pada umumnya stigma semacam ini muncul dari sikap resmi pemerintah atau kelompok yang punya kuasa, label-label ini belakangan justru muncul “seolah-olah” dari akar rumput. Di-create sedemikian rupa oleh buzzer-buzzer yang bermunculan di media sosial, lalu tiba-tiba pemerintah akan mengafirmasinya sebagai “keresahan publik”.

Persis kayak Eko Kuntadhi ujug-ujug menyematkan label “Taliban” ke Nussa. Tanpa perlu penjelasan berbusa-busa. Bagi mereka yang punya sentimen senada dengan Eko Kuntadhi, maka mereka akan segera mengamini tanpa bertanya-tanya lagi.

Ranah pembuktian yang terjadi pun jadi absurd karena dalam situasi saling tuduh ini, semua mendadak jadi serba-terbalik. Bukan orang yang menuduh yang harus membuktikan tuduhannya, tapi justru yang tertuduh yang harus klarifikasi: bener nggak tuduhan itu.

Kasus Nussa ini juga menunjukkan, bahwa hal yang mengkhawatirkan sebenarnya bukan pada kicauan Eko Kuntadhi ini saja, melainkan bagaimana seseorang bisa dengan enteng memberi label ke pihak lain, tanpa perlu memberi penjelasan.

Dan bukan tidak mungkin, apa yang disematkan ke karakter Nussa ini jadi pintu gerbang untuk tudingan “taliban-taliban” selanjutnya.

Di masa depan, saya khawatir, siapapun yang dianggap mengganggu kekuasaan, bisa saja diisukan sebagai taliban. Ketika itu terjadi, maka pihak yang tertuduh akan disibukkan dengan klarifikasi demi klarifikasi, sembari menunggu penguasa menciptakan regulasi untuk menyingkirkannya.

Jika hal semacam ini dibiarkan, tudingan-tudingan serupa bakal muncul ke depan di sekitar kamu, saya, kita. Kamu yang terlalu kritis ke pemerintah, kalian yang terlalu vokal menyentil kebijakan-kebijakan negara, bukan tidak mungkin akan disematkan stigma serupa ke depannya.

Persis seperti yang dialami KPK, mirip yang sedang dirasakan oleh Nussa.

BACA JUGA Agar Film ‘Nussa dan Rara’ Nggak Dibacotin Buzzer Lagi dan tulisan POJOKAN lainnya.

Terakhir diperbarui pada 21 Juni 2021 oleh

Tags: buzzerDonald TrumpKPKnussa raraPancasilapemerintahTaliban
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda MOJOK.CO
Esai

Emas 74 Kilo, Sumatra Gelap Gulita, dan Aparat Hukum yang Berperan Ganda

10 Juli 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO
Esai

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat MOJOK.CO
Esai

Gus Ipul, Awas Kutukan Sepatu Hitam di Sekolah Rakyat 

11 Mei 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO
Esai

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman, Kota Jogja. MOJOK.CO

Ketika Lapangan Hijau Berbayar Kalah Mewah dengan Paving Gratis Masjid Kauman

11 Juli 2026
Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik India menjalin kesepakatan kerja sama konservasi terhadap Candi Perwara Kompleks Candi Prambanan MOJOK.CO

Menerjemahkan Candi Prambanan sebagai Bukti Historis Hubungan Nusantara-India

8 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.