Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Prabowo Sedih Anak Muda Jadi Driver Ojol, Anak Muda Sedih Kalau Nggak Ada Driver Ojol

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
22 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mengaku sedih karena banyak anak muda jadi driver ojol, Prabowo mungkin lupa kalau kita juga bakal bersedih tanpa para driver.

Rabu (21/11) lalu, calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, mengeluarkan pernyataan kontroversial (lagi). Dalam Forum Ekonomi Indonesia yang berlangsung di Hotel Shangri-La, Jakarta, beliau mengaku sedih melihat realita yang dialami anak muda Indonesia. Lebih spesifik, ia merujuk pada meme yang beredar di internet.

Disebutkan, meme ini adalah meme bergambar topi, mulai dari topi sekolah sejak Sekolah Dasar, SMP, hingga SMA. Namun, setelah jenjang SMA, topi ini berubah menjadi helm berwarna hijau yang digunakan pengemudi/driver ojek online (ojol). Pernyataan Prabowo selanjutnya pun langsung menjadi sorotan:

“Saya sedih dengan realita yang ada, seperti di meme yang ada di internet terkait jalan karir anak muda di Indonesia, dari SD, SMP, SMA dan setelah lulus dia jadi ojek driver. Sedih, tapi itulah realitas.”

Sontak saja, gejolak (halah, gejolak) bermunculan, baik dari kubu pendukung Prabowo dan kubu pengkritik Prabowo. Banyak yang menganggap pernyataan Prabowo merendahkan para driver ojol, meski tak sedikit yang menegaskan bahwa Prabowo hanya bermaksud mengajak masyarakat membuka lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, Prabowo ini kan hanya menarasikan sebuah meme yang sudah beredar duluan; kenapa kok malah Prabowo yang di-bully???

Terlepas dari merendahkan atau tidak merendahkan, Prabowo memang mengaku sedih melihat realitas ini. Mungkin, beliau ikut sedih karena kita-kita ini (hah, kita???) sudah susah-susah mengerjakan PR Matematika, ikut praktikum Biologi, atau bahkan lompat jauh di bak pasir sampai nggelinding nggak jelas, eh ujung-ujungnya malah bukan jadi calon presiden seperti dirinya. Tidak apa-apa. Perasaan sedih adalah wajar bagi manusia, jadi kita juga harus memahami Pak Prabowo, dong, mylov.

Yang tidak Prabowo sadari—mungkin beliau lupa—adalah kita (hah, kita???) juga akan merasa sedih luar biasa kalau tidak ada driver ojol dalam kehidupan sehari-hari. Bagi manusia-manusia milenial mager alias males gerak dan jomlo seperti kita (IYA, KITA), driver ojol ibarat pahlawan, meski tidak tanpa tanda jasa.

Jadi begini, Pak Prabowo. Bukannya mau mendukung semua anak-anak SMA di Indonesia langsung bekerja sebagai driver ojol, agaknya kita perlu memperhatikan latar belakang mereka yang memilih jalan demikian; baik keadaan ekonominya atau motivasinya sendiri. Lagi pula, driver ojol sekarang ini sudah menjadi pekerjaan yang memiliki posisi penting di hati para konsumennya karena beberapa hal berikut ini.

Pertama, driver ojol adalah andalan bagi kami yang tidak punya motor, tidak bisa naik motor, tidak dijemput bapak, ibu, apalagi pacar, serta kami yang sudah bosan naik motor sendirian karena lagi jomlo.

Ya, Pak Prabowo, kami adalah golongan pertama yang akan merasa sedih kalau tidak ada driver ojol. Soalnya, FYI aja, kehidupan kami tidak seperti tokoh utama di sinetron televisi yang ke mana-mana pasti diantar supir pribadi yang memanggil kami dengan sapaan Non atau Den.

Dalam beberapa momen, kami merasa sedih karena nggak bisa pergi dengan bebas akibat tak bisa naik motor—dan tidak punya motor—serta mengalami kebosanan akut harus bepergian sendiri karena tak punya pacar yang bisa diajak main-main. Dengan demikian, adanya ojek online jelas membantu kami. Hanya dengan klik-klik menu, eh tahu-tahu ada yang nge-chat, “Mbak, saya sudah di depan.”

Duh, betapa senangnya kami, Pak!

Kedua, driver ojol dapat menjadi orang baik yang mau repot-repot berbicara panjang lebar dengan kami, sekaligus sebaliknya.

Saat dunia sedang tidak bersahabat (haiaaaah), kadang-kadang kami mengalami salah satu dari dua hal berikut: 1) ingin diajak ngobrol orang lain; atau 2) tidak ingin berbicara dengan siapapun. Yang mana pun yang kami rasakan, Pak, nyatanya driver ojol bisa menjadi dua hal ini.

Iklan

Kadang, driver ojol akan berbasa-basi bertanya pada kami, “Baru pulang kerja, Mbak?” atau “Kerja atau kuliah, Mbak?” di atas motor. Kami bisa menjawabnya singkat-singkat untuk memberi sinyal tidak ingin diajak bicara, terutama saat sedang bad mood. Umumnya, driver pun akan ngeh pada kondisi kami dan tetap mengantar kami ke tujuan tanpa harus rewel bertanya, “Lewat sini bisa nggak, Mbak?”. Kenapa? Ya karena semua rute ada di GPS, mylov~

Tapi, kalau kami memang sedang ingin mengobrol dengan seseorang, driver ojol pun tetap bisa menjadi pahlawan. Kami bisa loh, Pak, balas bertanya ke driver, misalnya, “Tadi macet nggak, Pak?” atau “Pak, jaketnya warna hijau biar boleh jalan terus, ya? Hehe.” Lama-kelamaan, obrolan kami pun kian panjang sehingga ke-umub-­an kami akan berkurang.

Baik banget, kan, Pak, driver-driver ini?

Ketiga, dengan bantuan driver ojol, kami bisa makan apa saja dan mengantarkan apa saja.

Aplikasi ojek online tak hanya mengizinkan kami bepergian naik ojek, melainkan juga menyediakan layanan pengantaran barang dalam kota serta antar-kirim makanan. Di kehidupan yang penuh dengan kemalasan seperti saat ini, apa lagi yang lebih kami butuhkan, coba, Pak Prabowo???

Saya pernah mengirimi teman saya buku dengan bantuan driver ojol, sekaligus membeli makanan sahur dengan layanan antar makanan. Hasilnya? Teman saya puas, perut saya pun kenyang, sementara puasa saya lancar. Coba kalau nggak ada driver ojol: saya kayaknya paling mentok sahur cuma pakai kue nastar sisa oleh-oleh zaman lebaran kemarin, Pak. Maklum, saya ini anak kos yang suka lupa beli mi instan.

Jadi, saya—mewakili pengguna jasa driver ojol—berharap keadaan Pak Prabowo yang bersedih gara-gara anak muda jadi driver ojol agar tidak berlarut-larut. Syukur, memang, jika lapangan pekerjaan bisa dibuka lebih banyak, sebagaimana harapan beliau. Tapi perlu diingat, driver ojol bukanlah pekerjaan yang rendah, mylov.

Ingat, nyatanya, ada pekerjaan yang lebih rendah dan lebih patut dimiris-miriskan, yaitu orang-orang yang nggak pakai helm dan jaket hijau, tapi matanya hijau semua meski kostum pekerjaannya sudah perlente di gedung perwakilan rakyat.

Terakhir diperbarui pada 22 November 2018 oleh

Tags: anak mudadriver ojolForum Ekonomi Indonesialapangan pekerjaanmirisprabowo
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

Pekerja muda hobi bikin kue
Sehari-hari

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

10 Februari 2026
Event bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan jadi berkah bagi driver obol Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora

20 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Tes Kompetensi Akademik, TKA, Stres, orang tua.MOJOK.CO

3 Cara Sukses Hadapi TKA Tanpa Banyak Drama, Orang Tua Wajib Tahu Biar Anak Nggak Stres

25 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI karena “Technical Stuff” di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Gamplong Studio Alam, Tempat Wisata Sleman yang Unik, tapi Nggak Perlu Diulang Dua Kali

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.