Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
16 Maret 2026
A A
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Siksaan selama 2 jam di atas sepeda motor, dari Bekasi ke Jakarta

Saya sampai di rumah saudara di Bekasi menjelang diri hari. Setelah memejamkan barang sejenak, kakak sepupu membangunkan saya. Dia yang akan mengantarkan saya ke Jakarta untuk micro teaching. Saya kira sudah tidur cukup lama. Padahal, saat itu, subuh saja belum. Sialan, saya cuma tidur satu jam.

Setelah mandi dengan air dingin yang terasa hangat padahal itu dini hari, kami berangkat. Saya ingat, sata itu, kakak sepupu saya mengantar saya naik Supra X. Motor yang saya siksa selama perjalanan dari Tambun Bekasi menuju Tanjung Priok di Jakarta.

Iklan

Jalanan Tambun aneh sekali, pikir saya. Beberapa lokasi tidak memakai aspal, tapi semacam cor-coran besar. Sudah begitu, jauh sebelum matahari muncul, jalanan sempit, becek, dan rusak itu sudah penuh oleh pemotor. “Sama kayak kamu, mereka mau ke Jakarta. Banyak orang Bekasi kerja di Jakarta,” kata kakak sepupu saya.

Perjalanan perdana itu berlangsung selama dua jam. Saya sudah cukup sering naik motor dengan durasi panjang. Jogja ke Solo itu juga bisa dua jam kalau bawa motornya santai. Tapi ini, dari Bekasi ke Jakarta, setiap jengkal aspal adalah wilayah yang harus kamu pertahankan. Motor oleng tak peduli, yang penting kamu maju barang lima meter.

Pengendara di sana juga kadang nggak peduli kalau motor saling senggol. Pokoknya klakson nyala dulu, baru kemudian adu mulut sambil terus melaju pelan. Tak ada perkelahian. Mungkin mereka sama-sama sadar betapa bodohnya berkelahi ketika potensi terlambat masuk kantor ada di depan mata. Itu lebih mengancam, sih.

Saya sampai di SMA swasta itu pukul 06:15 tepat. Kami berangkat dari Bekasi pukul 04:00. Jadi, dua jam di atas motor itu jadi salah satu pengalaman horor yang pernah saya rasakan.

Sah jadi guru di Jakarta

Saudara sepupu saya langsung tancap gas menuju tempatnya bekerja. Saya tahu dia akan terlambat.

Singkat kata, saya menjalani micro teaching pukul 08:30 sambil menahan kantuk yang teramat sangat. Ada guru Bahasa Indonesia dan kepala sekolah yang menemani sekaligus menilai. 

Saya menjelaskan konsep piramida terbalik dan pentingnya kalimat pendek di depan para siswa yang akan menjalani ujian. Semua siswa menyambut dengan antusias karena dua hal ini bisa jadi semacam trik mengatasi soal-soal uraian. Para pengawas senang dan siang harinya, saya lulus ujian jadi guru Bahasa Indonesia di Jakarta.

Saya, sih, senang. Jujur, lega juga. Namun, sore harinya, saya sadar harus segera mengejar bus karena saya akan pulang sendiri ke Bekasi dan Tambun yang ajaib itu. Sialan. Kakak sepupu saya tidak bisa menjemput karena jam kerja yang tidak memungkinkan.

Lagi-lagi, siksaan perjalanan

Secara teori, naik bus dari Tanjung Priok ke Bekasi itu sekitar dua jam. Kalau tidak salah ingat, itu saja sudah masuk tol. Tolong koreksi kalau saya salah.

Sekitar pukul 18:00, saya sudah di dalam bus kota super reyot. Setiap tikungan yang ia libas, menghadirkan suara decit janggal dari bagian bawah. Ketika sopir menginjak rem, rasa-rasanya suspensi bus reyot ini akan copot dan memberontak. Seperti manula yang terpaksa masih harus bekerja karena ditelantarkan anak-anaknya.

Pengamen naik silih-berganti. Wajah mereka terlihat sangat kusut, tatapannya menerawang ketika menyanyi, dan suaranya seperti mengkhianati pita suara. Orang-orang Jakarta ini lelah dengan segala kebusukan hidup dan manisnya mimpi. Tapi akhirnya jatuh juga karena mimpi itu cuma pemanis tidur dan angan, bukan realita.

Perjalanan yang seharusnya sekitar dua jam itu berlangsung tak sesuai perkiraan. Entah kenapa saya dapat bus siput. Dan, celakanya, hari-hari saya ke depan akan terwarnai oleh bus menyebalkan seperti ini. Saya sampai di Bekasi setelah pukul 21:00. Capeknya setengah mati.

Saya masih harus naik ojek dari tempat bus berhenti sampai ke rumah saudara di Tambun. Jujur, pengalaman selama satu hari ini sebetulnya sudah sukses menghajar mental saya. Namun, saudara saya di Bekasi mengingatkan bahwa kehidupan itu sejatinya keras kalau kita lembek ke diri sendiri.

BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

Tak kuat, memutuskan kembali ke Jogja

Selama tiga bulan saya menjalani rutinitas yang sama. Dan saya yakin pekerja di Jakarta dan Bekasi pasti akrab dengan rutinitas ini: berangkat sebelum subuh, pulang di atas pukul sembilan malam. Saya sendiri mencapai titik lelah ketika dosen di Jogja meminta saya pulang.

Capeknya minta ampun ketika melahap jalanan dari Bekasi ke Jakarta. Namun, saya akhirnya bisa beradaptasi. Performa saya sebagai guru amatiran juga tidak begitu menyedihkan. Saya bahkan sudah melihat beberapa kos di dekat SMA tempat saya bekerja. Gaji saya masih cukup untuk membiayai kos.

Iklan

Namun, saya harus pulang ke Jogja. Ternyata, pihak kampus tidak berkenan saya menyelesaikan skripsi sambil bekerja. Pihak kampus menganggap kalau saya bekerja dengan kontrak permanen. Dosen pembimbing tidak tahu akan aturan itu dan memang bukan salah beliau. Pasalnya, korespondensi kami untuk setiap revisi via email berjalan dengan baik.

Tapi ya sudah, saya pulang ke Jogja ketimbang perkara ini jadi panjang. Saya sedikit lega karena akan meninggalkan segala derita bernama “perjalanan” di Jakarta dan Bekasi. Namun nyatanya, selepas pulang ke Jogja, derita lain sudah menunggu. Namanya:

UMR Jogja.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota dan pengalaman yang menantang lainnya di rubrik POJOKAN.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 16 Maret 2026 oleh

Tags: bahasa indonesiabekasiguru bahasa indonesiajakartaJakarta UtaraJogjalowongan guruskripsisupra xtambuntanjung priokumr jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Bakpia barangkali menjadi oleh-oleh khas Jogja yang biasa saja dan gitu-gitu aja. Tapi punya nilai sosial bagi perantau Jogja asal desa MOJOK.CO

Bakpia Jogja Memang Oleh-oleh Biasa dan Gitu-gitu Aja, Tapi Sangat Berharga buat Orang di Desa

22 Agustus 2026
Realitas pasangan muda di Jogja: tak sanggup bermimpi punya rumah sendiri, pasrah menua di kosan makan tahu-tempe untuk bertahan MOJOK.CO

Realita Pasangan Muda di Jogja: Tak Sanggup Punya Rumah, Pasrah Menua di Kosan Makan Tahu-Tempe buat Bertahan

21 Agustus 2026
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

3 Agustus 2026
Biaya kos, kisah mahasiswa.MOJOK.CO

Bertahan di Kos Tanpa Jendela yang Berisik dan Sepanas Oven, Semua Demi Ngirit dan Lolos Ancaman DO Kampus

30 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
Tercatat 1 juta lulusan S1 (sarjana) jadi pengangguran hingga terjebak pinjol karena hidup konsumtif MOJOK.CO

Banyak Lulusan S1-S3 Nganggur Bukan Cuma karena Lapangan Kerja, Tapi Ada Juga Dua Masalah yang Jarang Disadari

19 Agustus 2026
Sikap-sikap sederhana ke pelayan rumah makan atau restoran yang seharusnya jadi kewajaran MOJOK.CO

Sikap-sikap Sederhana ke Pelayan Rumah Makan atau Restoran yang Kita Abaikan karena Ego, Padahal Bermakna Memanusiakan

20 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
Gelandang Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Ayla Dva Khala Ahisma, Kepala Timnas Putri U-16 Indonesia Garuda Pertiwi Timo Scheunemann, Pelatih Kepala Timnas Putri U-16 Thailand Thidarat Wiwasukhu dan Kapten Timnas Putri U-16 Thailand Kawinthida Kukintod.

Di Lapangan Jadi Lawan, di Luar Jadi Teman: Ayla Bertukar Kaos, Kapten Thailand Bertukar Medsos

23 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026
Bukan Sekadar Beternak Karang Taruna Bono dan Upaya Menghidupkan Ekonomi Warga

Dari Ternak untuk Desa: Geliat Karang Taruna Bono Menghidupkan Ekonomi Warga

31 Juli 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.