Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jakarta Memang Keras, dan Itu Membuat Saya Tak Berani Bekerja di Sana

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
25 Mei 2021
A A
bekerja di jakarta
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bekerja di Jakarta adalah tantangan besar. Tak semua orang sanggup dan layak melewatinya.

Selayaknya banyak orang, saya menyaksikan wajah Jakarta di masa kecil melalui tampilan di layar-layar televisi. Jakarta di mata saya merupakan kota yang dihuni oleh artis-artis top dan beken. Dari Rano Karno sampai Mathias Muchus, dari Anwar Fuady sampai Pong Harjatmo, dari Dina Lorenza sampai Paramita Rusady.

Saya hampir selalu berpikir, Jakarta pastilah kota yang menyenangkan, sebab kalau tidak, mana mungkin orang-orang seperti Dina Lorenza itu kelihatan cantik melulu. Nggak ada jelek-jeleknya.

Perlahan, saya mulai naksir pada kota itu. Dan rasanya tak berlebihan jika kemudian Jakarta menjadi kota yang, saya merasa, kelak harus pernah merasakan hidup di sana, atau setidaknya, pernah mengunjunginya.

Harapan itu tak tercapai saat saya SMP, sebab ketika banyak SMP menjadikan Jakarta sebagai tujuan darmawisata, SMP saya justru bervakansi ke Bali.

Saya akhirnya baru benar-benar bisa mengunjungi Jakarta saat sudah dewasa. Bayangkan, bahkan untuk sekadar ke Jakarta pun saya harus menunggu aqil-baligh dan berjembut dulu.

Di kunjungan pertama saya ke Jakarta itulah, saya menyadari bahwa Jakarta tak semenyenangkan yang saya kira. Ia adalah kota yang kejam. Saya datang ke sana untuk mengambil hadiah lomba menulis blog yang diadakan oleh salah satu BUMN. Saya tak punya kenalan di sana, sehingga malam hari saat saya tiba di sana, saya memutuskan untuk tidur di musala tak jauh dari stasiun Gambir. Belum juga saya terlelap, seseorang langsung mengusir saya dan mengatakan bahwa musala mau ditutup.

Bayangkan, bahkan di rumah Allah pun, saya tak punya hak untuk merebahkan diri.

Saya terpaksa berpindah ke tempat lain. Saya susuri sepanjang jalan Sudirman dan jalan-jalan di kiri-kanannya, berharap ada warnet yang bisa saya tumpangi untuk tidur. Hal yang selalu saya lakukan saat di Magelang atau Jogja.

Namun ternyata, kota ini kelewat maju. Saya tak menemukan warnet. Mungkin semua kantor di Jakarta sudah punya akses internet sendiri, sehingga warnet sudah tak diperlukan lagi dan hanya layak dicatat dalam arsip kebudayaan saja.

Pada akhirnya, saya tidur di bangku taman Monas. Saya tidur dengan sangat lelap. Bukan karena bangkunya empuk dan nyaman buat tidur, namun karena saya sudah kelewat letih berjalan jauh mencari warnet dan tak menemukannya.

Pagi harinya, saya harus bertemu dengan kekejaman kota ini dalam versi yang lain. Saya tak tahu di mana hotel tempat saya harus saya datangi untuk mengambil hadiah. Saya pun bertanya kepada orang yang lewat. Dan keparat, salah seorang bahkan mengusir saya dan memberikan tanda dengan tangannya agar saya menjauh darinya bahkan sebelum saya sempat menanyakan pertanyaan saya.

Mungkin ia mengira saya sales yang sedang menawarkan barang dagangan atau, yang lebih parah, ia mengira saya pengemis yang berharap ia mau menyisihkan barang sedikit uang receh miliknya.

Kota ini tak sebaik yang saya kira. Dan tak semenyenangkan yang saya duga. Perkara Dina Lorenza selalu tampak cantik, saya pikir itu murni karena dirinya rajin merias dan mematut-matutkan diri di depan cermin, bukan karena sumbangsih kota ini.

Iklan

Saya kemudian berjodoh lagi dengan Jakarta saat saya bekerja sebagai desainer grafis di Sukabumi. Agensi tempat saya bekerja sering mengerjakan desain annual report perusahaan-perusahaan dari Jakarta, sehingga mau tak mau, saya jadi harus sering bolak-balik Sukabumi-Jakarta.

Pengalaman tidak menyenangkan tentang kerasnya Jakarta itu masih tetap tersisa. Di bayangan otak saya, Jakarta semakin tampak serba bergegas. Jakarta tampak serba cepat dan mekanis. Sebagai seorang pemalas, saya tak yakin bisa mengimbangi ritme kerja Jakarta yang amat ketat itu.

Entah kenapa, saat itu, saya selalu merasa sangat tersiksa tiap kali harus ke Jakarta dan selalu bahagia tiap kali harus balik ke Sukabumi.

Jakarta menjadi selayaknya kawan menyebalkan yang saya selalu berusaha untuk menghindar darinya.

Kelak, dalam waktu yang lain, saya ternyata berkesempatan untuk kembali bersentuhan dengan Jakarta. Kali ini, saya mendapatkan tantangan kerja di Jakarta. Saya diminta untuk datang ke studio Bukan Empat Mata dan diminta menjadi salah satu pengisi acara di sana. Awalnya sebagai narasumber. Saat itu, saya memang sedang cukup moncer karena terkenal sebagai tukang edit foto bareng artis.

Setelah penampilan saya di episode Bukan Empat Mata itu, dua minggu kemudian, saya diminta untuk datang lagi ke Jakarta. Kali ini, saya diminta untuk menjadi semacam asisten co-host yang bertugas untuk menyemarakkan acara.

Dua episode saya menjadi asisten co-host di sana, dan itu sudah cukup untuk membuat saya amat tak betah di Jakarta. Di studio syuting, kebergegasan Jakarta yang dulu saya saksikan di kantor-kantor menjadi tampak semakin jelas.

Itu belum termasuk kemacetan Jakarta yang ngaudubillah setan itu.

Bayangkan, saya tidur di penginapan tak jauh studio Trans7, dan jarak yang tak jauh itu rupanya tak bisa ditempuh dengan sebentar. Kemacetan Jakarta benar-benar susah dinalar. Saya bahkan butuh puluhan menit hanya untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang berjarak tak sampai tiga kilometer.

Sejak saat itulah, saya meyakini, Jakarta benar-benar bukan tempat yang cocok untuk saya. Jakarta hanya cocok untuk para pekerja keras dan saya bukanlah salah satunya. Apa saja yang menggelinding di sana berderap dengan sangat cepat dan taktis.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” Begitu kata Seno Gumira dalam salah satu karyanya.

Narasi menyeramkan yang ditulis oleh Seno Gumira itu begitu terbayang dalam kepala saya, dan saya meyakini, itulah yang akan terjadi pada diri saya seandainya saya tetap memutuskan untuk terus bertahan dan bekerja di Jakarta.

Pada akhirnya, saya memutuskan untuk pulang ke Magelang, berusaha bekerja di sana, sebagai seorang penjaga warnet atau sebagai penulis, dengan honor yang tak terlalu besar, tentu saja, namun saya amat menikmatinya.

Di Magelang, memang tak ada Dina Lorenza, namun itu mungkin adalah harga sepadan yang harus dibayar agar tak ada kemacetan yang semenyebalkan jalanan Jakarta.

Tiap kali saya bertemu dengan kawan yang berhenti dari kerjanya di Jakarta karena merasa tak betah, saya selalu berusaha membesarkan hatinya. Saya lalu semangat untuk memprovokasinya bahwa pilihannya sudah benar.

“Jakarta tidak cocok buat kamu, juga nggak cocok buat aku. Sudah, kita ngopi saja. Ini yang paling cocok buat kita berdua.”

BACA JUGA Betapa Dahsyatnya Kalau Ganjar Pranowo Berpasangan dengan AHY dan Maju di Pilpres 2024 dan artikel AGUS MULYADI lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 25 Mei 2021 oleh

Tags: jakartapekerjaan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kerja Jakarta, Tinggal Bekasi Pulang Jogja Disambut UMR Sialan (Unsplash)
Pojokan

Kerja di Jakarta, Tinggal di Bekasi Rasanya Mau Mati di Jalan: Memutuskan Pulang ke Jogja Disambut Derita Baru Bernama UMR Jogja yang Menyedihkan Itu

16 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Stasiun Pasar Senen Jakarta Pusat merampas senyum perantau asal Jogja MOJOK.CO
Urban

Stasiun Pasar Senen Saksi Perantau Jogja “Ampun-ampun” Dihajar dan Dirampas Jakarta, Tapi Terlalu Cemas Resign buat Balik Jogja

15 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah di Bekasi, Dituntut Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Nyaris “Mati” karena Tumbang Mental dan Fisik

17 Maret 2026
Blok M dan Jakarta Selatan (Jaksel) dilebih-lebihkan, padahal banyak jamet MOJOK.CO

Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina

14 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.