Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

IFDC Gemes Sama Kamu yang Asal Boikot Film Tanpa Nonton Dulu

Audian Laili oleh Audian Laili
30 April 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Asosiasi Sutradara Film Indonesia atau IFDC (Indonesian Film Directors Club) menyatakan sikap atas mudahnya orang-orang melakukan boikot film. Lantas membatasi kebebasan berekspresi di tengah masyarakat (((yang ngakunya))) majemuk.

Tidak sedikit orang yang nggak suka dengan sesuatu, lalu begitu ada “hal lain” yang sedikit ngutik-ngutik “sesuatu” tersebut, langsung dibenci habis-habisan. Tanpa mau memberi kesempatan untuk dirinya sendiri mencari tahu lebih dalam dulu. Seperti yang baru saja terjadi pada film Kucumbu Tubuh Indahku. Begitu tahu kalau dalam film itu terkesan ada unsur “LGBT-nya”. Langsung ditolak dan diboikot begitu saja. Jangankan nonton dan memahami pesan di filmnya, sepertinya baca sinopsis cerita lengkapnya saja nggak.

Iklan

Ya, mohon maaf nih. Kok minta orang buat baca. Lha wong, sekarang kan, budayanya bukan lagi membaca. Tapi memindai. Iya, memindai, Saudara-saudara. Penginnya sih, dapat informasi-informasi pentingnya buat diobrolkan dan disampaikan di media sosial. Tentu saja, tanpa mengeluarkan waktu lebih lama. Hasilnya apa? Hasilnya adalah, mendapatkan pengetahuan baru yang konteksnya nggak pas. Yang ada, malah ngawur dan ngasal.

Lagian, ya, menilai sebuah film sebelum menontonya itu, cara mikirnya gimana, sih, Malih? Ini itu kayak kita beli es krim (untuk pertama kalinya dan belum pernah sebelumnya), terus langsung difoto dan di-upload di Instastory. Nggak lupa dikasih caption, “Sumpah, ini es krimnya enak dan lembut banget!” Padahal, dicoba sedulit aja belum. Ncen, Srimulat tenan!

Hal semacam ini, nggak hanya baru dialami oleh film Kucumbu Tubuh Indahku saja. Tapi sudah banyak film-film sebelumnya yang juga mengalami hal serupa. Sebut saja film Cin(T)a yang bercerita soal kisah cinta perempuan Jawa dan lelaki keturunan Tionghoa. Film ini dibatasi peredarannya (((hanya karena khawatir))) bisa memunculkan isu sara yang kontroversial di tengah masyarakat. Padahal, kan, fenomena cinta beda agama dan beda budaya ini, betul-betul terjadi di sekitar kita. Ini fenomena yang jamak terjadi, dan masih saja menimbulkan kegalauan dalam hubungan cinta yang tidak terbatas cohort itu.

Ini nggak mau bahas-bahas isu sara—padahal isu sara masih ada di tengah masyarakat, maksudnya apa, sih? Mau nutup-nutupin suatu keadaan seolah-olah biar kelihatan baik-baik saja, gitu? Mau membohongi diri sendiri? Iya?

Hal ini kemudian menggerakkan Asosiasi Sutradara Film Indonesia atau IFDC (Indonesian Film Directors Club) untuk menyatakan sikapnya. Pasalnya, penghakiman massal sepihak yang dilakukan tanpa dialog, justru membatasi kebebasan mereka dalam berekspresi. Tentu saja, ini adalah hal yang merugikan bagi mereka.

Banyak yang nggak setuju dengan pernyataan sikap dari IFDC tersebut. Katanya sih, mereka-mereka ini diminta lebih baik bikin film yang lurus-lurus aja. Nggak perlu sampai memancing kontroversi. Soalnya kan Indonesia majemuk, jadi nanti bakal ada yang sakit hati dan tersinggung. Terus bisa menyebabkan perpecahan, dst, dst.

Oke, katanya sih, Indonesia itu majemuk. Lha terus, kenapa nggak boleh punya pandangan yang berbeda atas suatu hal? Menginginkan informasi yang kita dapatkan dari film itu “lurus-lurus saja.” Sepertinya kita memang masih menganggap film sekadar sebagai media hiburan, deh. Padahal kan, lika-liku kehidupan kita itu, nggak selalu ideal dan tidak sedikit yang menyakitkan.

Bukannya, film itu juga jadi media pembelajaran, ya? Kalau kayak gini terus, kapan kita melek dan berhenti untuk gampang nggumunan setiap ada sesuatu yang “nggak biasa” terjadi? Atau dimunculkan dengan nyata di depan kita? Sampai kapan??1!!1!

Terus, kita kapan pinternya, Ya Tuhan? Disuruh baca, males. Nonton TV, isinya sinetron sama reality show yang settingan melulu. Nonton film-film supaya dapat memperluas perspektif, eh, malah film-film semacam itu diboikot. Hmmm, kasihan saya. Yaudahlah, nonton Youtube aja. Buka akunnya Atta Halilintar. Sambil terus merapal doa supaya kita bisa cepat-cepat jadi kaya kayak dia. Hidup bergelimang subscriber dan play botton. Terus nggak perlu lagi nonton Youtube sambil ngandelin wifi gratisan.

Memangnya, kita ini nggak punya moral yang kuat, ya? Kita nggak punya kemampuan untuk nge-filter informasi, po? Jadi, bakal begitu mudahnya terpengaruhi? Kalau nonton Kucumbu Tubuh Indahku, ujug-ujug bisa langsung jadi LGBT. Kalau nonton Dilan, bisa langsung bergabung dengan geng motor dan suka tawuran. Ya kali, kayak gitu. Kenapa kita justru mendeskreditkan pikiran dan hati kita sendiri dan begitu mudahnya membatasi informasi yang berseliweran—karena takut gampang jadi pengin?

Masak iya, sih, untuk film kita nggak cuma butuh Lembaga Sensor? Dan setiap penayangannya harus dikasih logo halal dari MUI dulu, sih? Atau nggak cukup di situ? Sekalian dibikinin RUU Perfilman? Iya? Iya? Heem?

Terakhir diperbarui pada 30 April 2019 oleh

Tags: asosiasi sutradara Indonesiaboikot filmIFDCKucumbu Tubuh Indahku
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

Santuy, Film “Dua Garis Biru” Nggak Otomatis Bikin Kita Hamil di Luar Nikah

3 Mei 2019

Tenang, Film “Kucumbu Tubuh Indahku” Nggak Bakal Bikin Kamu Tiba-Tiba Jadi Gay

27 April 2019
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata.MOJOK.CO

InJourney Bangun Rumah Layak Huni bagi Warga Kalasan, Wujud Kepedulian kepada Warga di Sekitar Destinasi Wisata

18 Agustus 2026
Saat adik saya jadi korban bullying (perundungan) di sekolah, pihak guru malah menganggapnya masalah biasa MOJOK.CO

Melabrak Guru usai Adik Jadi Korban Bullying di Sekolah hingga Cedera: Saya Justru Menerima Jawaban Memuakkan

18 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
Pelaku pembakaran hutan di Kalimantan dan titik lemah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia MOJOK.CO

Titik Lemah Penanganan Karhutla di Indonesia: 72 Orang Sengaja Bakar Hutan untuk Buka Lahan, Jadi Ancaman Ekosida

23 Agustus 2026
Kiprah dosen pembimbing mahasiswa KKN UGM di Sangurejo. MOJOK.CO

Dulu Dicap Kampung Kumuh, Kini Produk Kulit Salak Kampung Sangurejo Sampai Belanda

21 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.