Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Janji Sumpah Pocong Dosen UNRI: Sumpah Pocong Masih Relevan?

Perkara sumpah pocong memang menggelitik banget. Memangnya masih ada yang percaya beginian ya?

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
7 November 2021
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Iya, hari gini sumpah pocong masih ada. Mana yang nyebut-nyebut bakal ngelakuin adalah dosen UNRI, seorang akademisi. Menarik, bukan?

Sebuah video pengakuan dari seorang mahasiswi UNRI beredar di media sosial. Dia mengakui telah mengalami pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen bimbingan proposalnya sendiri. Sambil menangis, mahasiswi tersebut menceritakan kejadian tidak mengenakkan yang dia alami. Di sisi lain, sang dosen, Syafri Harto, justru membantah segala tuduhan dan berencana menuntut balik mahasiswa dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Syafri Harto juga mengatakan bahwa blio berani sumpah pocong, sumpah mubahalah dengan Al-Qur’an pun berani. Yah, namanya juga usaha biar orang-orang mempercayai. Wajar, Guys.

Sebelum huru-hara ini diproses secara serius dan terbukti kebenarannya, kita layak membela dan mengawal korban. Pokoknya kasus ini diawasi terus sampai tuntas, jangan biarkan menguap, ya. Nah, sambil mengawasi, daripada nganggur mendingan kita mendorong Pak Syafri Harto dari UNRI benar-benar praktik sumpah pocong.

Ini menarik, sebab kalangan akademisi nggak akan begitu saja melewatkan momen berharga. Anak-anak Jurusan Sosiologi bakal panen bahan penelitian. Bahkan, di beberapa jurusan lain yang masih berkaitan sama ilmu sosial, sumpah pocong Pak Syafri juga bisa dijadikan momentum. Contohnya, analisis framing media dalam memberitakan sumpah klenik yang hampir punah, studi fenomenologi yang salah satu subjek penelitiannya seorang dekan fakultas. Ah, sungguh lahan basah untuk belajar ilmu baru.

Sumpah pocong adalah sebuah momen yang sudah langka dan sangat jarang dilakukan. Caranya cukup ngeri-ngeri sedap. Orang yang melakukan sumpah pocong perlu dibalut kain kafan dan mengucapkan sumpahnya sambil berbaring. Ini cara yang paling afdal dan mantap. Kadang dilakukan di musala atau di balai desa dan disaksikan oleh orang sekampung. 

Sayangnya, demi segi kepraktisan, orang yang mau bersumpah sekarang nggak perlu dibalut kain kafan di seluruh tubuh. Beberapa “ritual” hanya menyelubungkan kain kafan di kepala orang yang bersumpah. Hmmm, tapi kalau kayak gini kurang greget. Saran saya nih ya, buat Pak Syafri Harto, dosen UNRI, mendingan pakai cara pertama. Lebih mantap dan totalitas.

Sebenarnya saya sendiri juga penasaran, kok bisa ya sumpah pocong begitu populer di Indonesia. Apakah karena bawa-bawa hantu poci yang menggemaskan atau karena masih banyak dipercaya sampai sekarang? Yang jelas, sejak zaman CCTV, sumpah pocong seharusnya udah nggak relevan lagi. Banyak bukti yang nggak bisa ditolak.

Bapak saya sendiri di masa kecilnya pernah mendengar desas-desus bahwa orang Jawa sering melakukan sumpah pocong. Tapi, blio yang sampai setua ini saja belum pernah menyaksikan langsung. Konon memang ceritanya cuma beredar dari mulut ke mulut dan hanya segelintir orang yang pernah jadi saksi. 

Dulu memang sumpah pocong dilakukan ketika sudah tidak ada lagi bukti dan saksi terhadap suatu peristiwa. Ketika kebenaran sulit terungkap, sumpah dilakukan dengan kepercayaan bahwa orang yang berbohong akan dilaknat Tuhan. Jika si orang yang bersumpah ini memang bohong, seminggu kemudian dia bisa sakit bahkan mati. Mengerikan memang, tapi sumpah ini sulit kita percaya jika logika pembuktiannya dibalik.

Kalau orang yang telah bersumpah tidak mengalami apa pun, kita tidak bisa begitu saja percaya dengan sumpahnya. Akan ada bisik-bisik tetangga macam: Ah, jangan-jangan memang sumpah pocong itu mitos, ah jangan-jangan ritualnya nggak benar. Lah, malah semakin banyak spekulasi jadinya. Makanya ritual sumpah begini sudah nggak banyak dianggap karena memang bau-bau mitos dan nggak bisa dibuktikan secara kasat mata.

Seorang netizen di Quora pernah bertanya, “Apakah orang non-Muslim boleh melakukan sumpah pocong?” Rasanya pengin saya jawab pakai huruf kapital dan tebal, BOLEH. Gimana nggak boleh, lha wong sumpah macam ini nggak ada hubungannya dengan agama kok. Tidak ada tata cara melakukan sumpah pocong yang diajarkan di kitab fikih. Nah, kalau di kitab Primbon atau kitab-kitab Jawa mungkin ada kali ya. Khusus buat ini harus beneran riset lebih dalam lagi. Jadi ya sekalipun kamu semut, kamu boleh sumpah pocong kalau memang sanggup dan mau.

Gini deh, kita balik lagi ke kasus mahasiswi UNRI dan Syafri Harto. Saya sih dukung saja sumpah pocong segera dilakukan Pak Syafri, biar se-Indonesia heboh dan mulai mikir-mikir ini yang bohong sebenarnya siapa sih. Nah sambil menimbang-nimbang siapa yang salah dan benar, bakal lebih seru lagi kalau mahasiswa juga melakukan sumpah yang sama. 

Bingung, bingung dah tuh! Salah siapa ngide sumpah-sumpahan.

Iklan

Tapi, ya memang begitu, pihak yang benar dan yang bersalah, bahkan pihak pocongnya sekalipun bisa melakukan sumpah pocong jika mereka mau. Nggak peduli ini sudah nggak relevan, dilakukan oleh seorang akademisi yang seharusnya nalarnya lebih baik, sok aja segerakanlah bersumpah. Kalau perlu malamnya adu pocong di TPU terdekat biar semakin mencekam.

BACA JUGA Tips Ngenalin Hantu Pocong di Amerika saat Halloween dan artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 7 November 2021 oleh

Tags: akademisiDosenMahasiswamitospelecehan di kampuspelecehan seksualsumpah pocongtindak pidana
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur MOJOK.CO
Esai

Catatan Getir Dosen Kalcer: Tampil Keren, tapi Cemas Mahasiswanya Jadi Sarjana Menganggur

20 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO
Kabar

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO
Esai

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Sulap lahan kosong jadi kebun kosong untuk ketahanan pangan mandiri. MOJOK.CO

Ironi Lihat Balita Gizi Buruk di Bogor hingga Oknum Nakes yang Promosikan Sufor, Alumnus UNJ Ini Buka Kebun Sayur di Lahan Mangkrak 

16 Mei 2026
Ironi jadi orang tunawicara (bisu) di desa, disamakan seperti orang gila MOJOK.CO

Ironi Orang Tunawicara (Bisu) di Desa: Dianggap Gila, Punya Otak Cerdas Tetap Dianggap Tak Bisa Mikir Hanya karena Sulit Bicara

15 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.