Tidak menikmati masa-masa S2 tapi tetap selesai
Kuliah S2 tidak pernah istri saya rencanakan. Namun, dia tetap menjalaninya tanpa gerutuan berarti. Itu semua karena dia tetap bisa mempelajari teknis dan bisnis cabai rawit meski tidak begitu maksimal. Kita sama-sama tahu kalau dinamika kuliah S2 lebih menyita waktu ketimbang S1.
Selain tetap bisa mempelajari segala hal tentang teknis dan bisnis cabai rawit, istri saya masih bisa membagi waktu untuk les privat. Mengajar anak SD dan SMP memang sudah menjadi pashion-nya sejak dulu. Bahkan ketika lulus S2, dia memilih merantau ke Surabaya untuk mengajar SD dan SMA di sebuah sekolah internasional. Istri saya tidak mau jadi dosen karena tahu betapa muramnya gaji dan beban kerjanya.
Singkat cerita, dia tidak menikmati masa-masa studi S2. Namun, karena sudah kadung membayar dan memang ingin cepat selesai, istri saya menjalaninya dengan kecepatan yang tak terduga. Istri saya ini, kalau sudah malas akan sesuatu, pasti akan lambat mengerjakan. Beda kalau melakoni apa yang dia suka. Misalnya, merantau ke Surabaya.
Setelah merantau selama empat tahun di Surabaya, istri saya pulang ke Jogja karena hamil dan akan melahirkan. Sekembalinya ke Jogja, minatnya terhadap berkebun dan cabai rawit semakin besar. Ibu mertua saya, pada akhirnya, tidak bisa berbuat banyak selain menurunkan ilmu berkebun yang berharga itu.
Cuan dari cabai rawit
Saya tidak begitu tahu secara detail tentang bisnis cabai rawit. Selain itu, saya sendiri tidak ingin terlalu fokus ke sana. Sama seperti istri saya. Kalau saya belum “ada niat”, ya selamanya saya tidak ingin mempelajarinya.
Singkat kata, bisnis cabai rawit memang menguntungkan. Cuan yang istri saya dapat, jauh di atas tukin dosen atau gaji pekerja di Jogja. Sangat jauh malahan. Makanya dia menyesal ngapain kuliah S2 segala.
Misalnya begini. Ibu mertua saya punya beberapa sawah. Sekitar tiga sawah menjadi ladang untuk cabai rawit. Ketika panen, satu sawah bisa menghasilkan beberapa kali angkatan. Satu kali angkatan, keuntungan bersih adalah Rp15 juta. Ini ketika harga cabai rawit menyentuh Rp100 ribu di petani. Artinya, di tengkulak, harganya antara Rp120 sampai Rp140 ribu.
Kita ambil rata-rata satu sawah empat angkatan. Jadi, Rp15 juta x 4 = Rp60 juta. Itu baru satu angkatan di satu sawah. Ya begitulah cuan yang ibu mertua saya dapat kalau harga sedang mahal. Rata-rata, harga cabai adalah Rp55 sampai Rp70 ribu. Oleh sebab itu, mempertimbangkan potensi cuannya, istri saya tidak pernah bersemangat untuk studi S2.
BACA JUGA: Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung
Berujung sesal karena dipaksa S2
Sebetulnya, istri saya tidak lagi merasa menyesal. Kalau dulu, dia merasa studi S2 tidak memberi hasil. Toh dengan ijazah S1, istri saya sudah bisa mengajar sebagai guru formal atau privat. Masa kuliah tiga tahun sebetulnya malah akan lebih produktif jika istri saya isi dengan belajar berkebun lebih intensif.
Bahkan pernah suatu kali istri saya berseloroh. Dulu, duit untuk S2 sebaiknya dikasih ke saya. Katanya, saya lebih cocok untuk studi S2 mengingat sebetulnya saya sudah pernah mengambil formulir untuk mendaftar. Kalau saya pikir, iya juga, sih.
Pelajarannya, kadang “berani ke orang tua” itu perlu. Tentu dalam konteks mendebat pemikiran yang kelak akan menentukan jalan hidup kita. Karena kalau mentok di tidak berani, ujungnya bisa sesal. Begitu.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Arti Sukses di Mata Pak Karjin, Petani Cabai Rawit dengan Lahan 1 Hektare: Cuan Puluhan Juta, Modalnya Bikin Jantung Copot dan kisah menarik lainnya di rubrik POJOKAN.














