Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Bayi N di Jember, Tasripin di Banyumas, Ali di Polewali Mandar

Prima Sulistya oleh Prima Sulistya
16 Agustus 2019
A A
ibu dan anak

ibu dan anak

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Semoga ia dianugerahi lupa. Semoga ia tak akan pernah ingat kejadian ini, saya berdoa untuk bayi 14 bulan berinisial N di Jember yang saya baca beritanya pagi tadi. Kehidupan di dunia sungguh sengsara, namun bayi N sudah menyalip banyak orang dengan mencicipinya selama tiga hari di umur yang baru setahun.

Semoga penderitaannya dicukupkan di tiga hari itu saja, doa saya lagi. Jangan sampai ingatan membuat peristiwa itu melukai N lagi dan lagi di masa depan.

Rabu lalu (14/8) tetangga mendobrak rumah tempat N hidup berdua dengan ayahnya. Rumah mereka ada di Perumnas Kaliwining Asri, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji, Jember, Jawa Timur.

Sebelumnya rumah itu diketuk, tapi tak ada jawaban. Tetangga curiga sesuatu terjadi. Ada bau bangkai menguar. Kemudian pintu terbuka. Anak itu, bayi 14 bulan itu, sudah lemas karena lapar. Ia ditemukan sedang menangis sambil memeluk tubuh ayahnya yang tinggal raga tanpa nyawa.

Polisi menduga sudah tiga hari Aan Junaidi alias Fauzi, 40 tahun, tak bernapas. Kulit di mayat Fauzi mengelupas, menempel di pipi dan baju balita perempuannya yang bicara saja belum bisa. Cairan dari tubuh mayat merembes, membuat kaki si bayi melepuh. Saya pernah sekali mencium bau mayat manusia. Belum ada aroma busuk yang bisa menandinginya sampai sekarang. Oleh bau busuk bangkai hewan sekalipun.

Fauzi menempati rumah itu sejak delapan bulan lalu. Tadinya mereka bertiga, pindah dari Banyuwangi ke Jember. Ada Fauzi sang ayah, Sulastri sang ibu, dan N si anak. Tiga bulan setelah pindah, Sulastri pergi menjadi TKW ke Taiwan.

Dari Rambipuji, Jember ke Taiwan, seseorang harus naik bis 4 jam ke Surabaya, lalu terbang 6,5 jam menempuh rute Surabaya-Taipei.

Tetangga panik dengan tragedi keluarga yang baru terjadi di depan mata mereka. N dibawa ke puskesmas. Dimandikan. Diberi makan. Jika ayahnya meninggal sudah tiga hari, selama itu pula anak itu tidak makan. Tetangga bersyukur, sebagaimana orang Jawa yang selalu sempat memanjatkan syukur meski ditimpa musibah, bahwa anak ini tak mati kelaparan. Jika itu sampai terjadi, bisa jadi mereka tak bisa memaafkan diri mereka.

Anak itu kemudian dirawat tetangga. Di media fotonya muncul dengan wajah disamarkan. Ia digendong. Kecil badannya, mulutnya menyedot minum dari botol susu.

Kini si bayi sudah diserahkan kepada kakak ibunya yang tinggal di Banyuwangi. Kemarin, ia masih terbangun dari tidur dan memanggil-manggil ayahnya. Ibunya yang belum bisa pulang menitip pesan kepada kakaknya, “Bojoku meninggal. Tulung openi anakku.”

Suamiku meninggal, tolong asuh anakku.

***

Namanya Muhammad Ali. Ia tinggal di Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Usianya 6 tahun ketika namanya menjadi pembicaraan. Itu tahun 2015 ketika media tahu bahwa Ali yang masih siswa PAUD harus menjadi penyangga utama keluarga. Ayahnya meninggal tiga tahun sebelumnya.

Keluarga yang harus dirawat dan diberi makan oleh anak kecil ini terdiri dari seorang ibu yang buta dan tuli, seorang kakak 12 tahun yang mengalami keterbelakangan mental, dan satu adik berusia 3 tahun.

Iklan

Sehari-hari Ali sekolah di taman pendidikan anak usia dini (Paud). Selain sekolah, ia bekerja menjadi pemetik buah langsat dengan bayaran lima sampai sepuluh ribu. Ia memasak dan mencuci pakaian untuk anggota keluarga. Ia membersihkan rumah. Ia mencari kayu bakar untuk memasak. Ia menjadi penunjuk jalan jika ibunya hendak bepergian, untuk berobat ataupun belanja.

***

Namanya Tasripin. Ia tinggal di Banyumas, Jawa Tengah. Usianya 12 tahun ketika namanya menjadi pembicaraan. Itu tahun 2013 ketika media tahu bahwa Tasripin harus putus sekolah dan menjadi buruh tani demi memberi makan dirinya dan tiga adik yang masih kecil-kecil. Tadinya di gubuk berlantai tanah mereka ada tujuh orang: satu ayah, satu ibu, satu kakak, Tasripin, dan tiga adik.

Kemudian ibunya meninggal. Mati tertimbun tanah longsor ketika sedang bekerja menambang pasir. Itu tahun 2012.

Kemudian ayah dan kakaknya merantau ke Kalimantan. Mencari nafkah. Meninggalkan Tasripin yang sehari-hari bergotong royong mempertahankan hidup bersama tiga adiknya.

***

“Semua keluarga yang bahagia, bahagia dengan cara yang sama; setiap keluarga tak bahagia, tak bahagia dengan cara masing-masing,” tulis Leo Tolstoy dalam Anna Karenina, 146 tahun lalu. Namun, dalam keluarga tak bahagia, entah karena tragedi atau karena kesalahan orang tua, ketidakbahagiaan itu secara kejam selalu ikut ditanggung anak-anak.

Tidak perlu bersyukur jika Anda lebih bahagia dan sejahtera ketimbang bayi N, Ali, atau Tasripin. Itu kejam. Kejam kalau Anda membutuhkan penderitaan orang lain agar bisa menyadari diri sendiri baik-baik saja. Atau malah sangat baik.

Dalam penderitaan-penderitaan yang dialami bayi N, Ali, maupun Tasripin, yang diperlukan dari kita adalah simpati dan  bantuan.

Dan kemudian pencerahan. Bahwa kita, jika kelak akan punya anak atau malah sudah, harus merawat kesehatan diri sendiri agar nyawa-nyawa yang kita hadirkan ke dunia tak terlantar. Agar bisa belajar menjadi orang tua yang baik bagi anak sendiri maupun anak orang lain. Agar mampu membuat diri sendiri mengerti, sesulit-sulitnya menjadi orang tua, dalam banyak kasus itu pilihan yang kita ambil, bukan pilihan yang dibuat anak kita.

Dan agar anak-anak yang dilahirkan ke dunia tidak mengutuk orang tua mereka, mempertanyakan kenapa ia dilahirkan hanya untuk menanggungkan penderitaan.

BACA JUGA: Curhat – Harus Bagaimana Jika Dianggap Beban oleh Orang Tua Sendiri

Terakhir diperbarui pada 15 September 2020 oleh

Tags: anakbalita di jembercerita sedihorang tua
Prima Sulistya

Prima Sulistya

Penulis dan penyunting, tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Jadi gembel di perantauan tapi berlagak tajir pas pulang kampung. Siasat pura-pura baik-baik saja agar orang tua tidak kepikiran MOJOK.CO
Urban

Jadi Gembel di Perantauan tapi Berlagak Tajir saat Pulang, Bohongi Ortu biar Tak Kepikiran Anaknya Remuk-remukan

21 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Perasaan duka
Catatan

Duka Dianggap Hanya Terjadi saat Menangis, padahal Perasaan Sedih Bisa Muncul secara Random dan Absurd

10 Maret 2026
lowongan kerja, kerja di kota, lebaran.MOJOK.CO
Catatan

Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong

10 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa.MOJOK.CO

Sampit, Kota yang Dianggap Tertinggal tapi Nyatanya Jauh Lebih Maju dari Kebanyakan Kabupaten di Jawa

13 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.