Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Aku Sayang Kamu, tapi Aku Belum Siap Nikah

Aprilia Kumala oleh Aprilia Kumala
12 Januari 2019
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Perasaan belum siap nikah muncul dalam berbagai bentuk kesadaran, baik yang ujug-ujug sadar atau yang perlu melewati proses kontemplasi.

Sebuah artikel di internet pernah menuliskan kegelisahan hati seorang laki-laki. Namanya Renald, sedangkan kekasihnya adalah Tiara. Setelah berpacaran selama 4 tahun, Tiara tak bisa berhenti bertanya kapan mereka akan “masuk ke jenjang berikutnya”.

Renald mencintai Tiara—itu fakta. Baginya, Tiara hanyalah satu-satunya. Tapi sialnya, ia merasa belum menemukan jawaban dari, “Kapan kamu mau melamar aku? Kapan kita akan menikah?” dekat-dekat ini.

Mencintai Tiara dan menikah adalah dua hal yang berbeda di kepala Renald. Ia tentu ingin menikah—dengan Tiara—tapi ia belum merasa ini waktunya. Di usia mereka yang baru saja melewati quarter life crisis, Renald merasa ia masih butuh waktu sedikit lagi untuk sampai ke titik yang dirasanya jauh itu: pernikahan.

Renald tidak gundah sendirian. Saya pernah merasa ingin sekali menikah—biasanya gara-gara dorongan pertanyaan “Kapan nikah?” yang bertubi-tubi dan sahabat-sahabat yang semuanya udah pada momong cucu anak—dan melakukan hal yang sama dengan apa yang Tiara lakukan pada Renald: bertanya pada pacar mengenai kapan kami akan menikah soalnya saya sudah merencanakan pernikahan bertema Harry Potter di mana saya pakai jubah asrama, bukannya gaun pengantin.

Saya, dan mungkin ratusan perempuan lainnya, melakukan hal tadi dengan frekuensi yang cukup tinggi. Tapi sebenarnya, dalam lubuk hati yang paling dalam, muncul juga pertanyaan-pertanyaan yang menampar, misalnya…

…emang saya beneran udah siap nikah, ya??? Emang saya udah siap jadi istri orang, ya??? Lagi pula, kenapa sih harus nikah cepet-cepet padahal kita lagi seru-serunya pacaran???

Ketidaksiapan menikah muncul dalam berbagai bentuk kesadaran, baik yang ujug-ujug sadar atau yang perlu melewati proses kontemplasi. Nah pertanyaannya, wajarkah perasan ini terbit, apalagi di antara dua manusia yang dimabuk cinta dalam hubungan asmara??? Kenapa harus belum siap nikah padahal kita sudah pacaran dan cukup mantap untuk hidup bersama selamanya menempuh badai dan rintangan???

Dalam berbagai survei, alasan-alasan orang belum siap nikah diketahui lewat beberapa poin. Paling sering, Renald—dan mungkin juga kamu—mempunyai alasan yang mirip dengan alasan pertama: belum siap nikah karena masih memiliki banyak target dalam hidup yang belum tercapai.

Ya, ya, ya, keinginan kita (hah, kita???) untuk jadi juara satu Lomba PUBG Dunia, kuliah di Oxford, jadi Presiden Amerika Serikat, terbang ke Planet Mars, atau target-target lainnya bisa saja menjadi ‘penghalang’ pandangan kita pada pernikahan. Di kepala kita, setelah menikah, prioritas pun harus ditujukan pada keluarga yang terbentuk setelah akad diucapkan, bukan lagi ke hal-hal dalam to-do-list buatan kita sejak 3 tahun yang lalu. Jadi, yaaaa, monmaap, nih, kalau belum siap pasang status married di Facebook cepet-cepet :(((

Kedua, perasaan belum siap nikah juga bisa muncul dari perasaan minder dan ragu-ragu karena ketidaksiapan finansial. Kalau selama pacaran saja masih sering bikin utang sama teman demi nonton film berdua sama kekasih, gimana besok abis nikah dan mau beli gas untuk masak nasi??? Terus, nih, FYI aja, tolong buang jauh-jauh pikiran bahwa kita akan menikah hanya demi mendapat subsidi untuk membeli bedak dan lipstik baru. Yah, maksud saya, kamu pikir kamu mau gabung reseller MLM kosmetik, gitu, alih-alih menikah???

Ketiga, dalam kasus Renald dan Tiara di atas, rasa belum siap nikah juga bisa muncul dari ketidakyakinan diri sendiri untuk mengatur waktu dan kehidupan. Ha gimana, kalau nongkrong sama temen-temen aja masih suka sampai lewat tengah malam, gimana besok kalau udah jadi bapak-bapak yang ditungguin anaknya buat ngerjain PR Matematika yang harus dikumpulin jam 7 pagi??? Terus, coba tengok itu kamar yang berantakan kayak kapal pecah—emangnya besok kalau udah nikah, suami/istrimu bisa fine-fine saja melihat tumpukan baju di kasur atau lipatan-lipatan di seprai, gitu???

Itu belum seberapa. Kalau diingat-ingat lagi, kita pun masih punya alasan keempat: ada banyak rahasia yang belum didiskusikan, misalnya betapa kita bisa berubah sangat boros kalau menyangkut soal komik Miiko! yang terbit di waktu-waktu tak terduga, betapa kita bisa berubah cuek sewaktu-waktu, atau bagaimana kita selalu tidur sambil jalan-jalan kalau terlalu lelah. Hal-hal semacam ini, kalau dibiarkan menumpuk, jelas bakal menjadi bukit menjadi kekhawatiran setiap kali bicara soal pernikahan.

Masih banyak sekali alasan yang sebenarnya bisa diulik. Mungkin, Renald—dan kamu-kamu sekalian—masih belum siap nikah karena ingin fokus pada kebahagiaan diri sendiri terlebih dulu. Orang tua juga bisa jadi alasan, baik sebagai prioritas utama sebelum menikah atau ketidaksiapan menerima orang tua ‘baru’ alias mertua yang bisa saja sifatnya bertolak belakang dengan kita. Duh, ngeri!

Iklan

“Tapi, kapan kita bakal nikah?” tanya Tiara, kekeuh, setelah Renald mengutarakan perasaannya: “Aku-sayang-kamu-tapi-aku-belum-siap-menikah.”

Sebenarnya, tanpa Renald menjawab sekali pun, Tiara tahu bahwa dirinya sendiri juga belum siap-siap amat menikah. Setahun belakangan ini, ia kerap bertanya pada Renald hanya karena teman-temannya terus mengirimkan seragam bridesmaid dan bertanya tak henti-henti, “Kapan kamu akan menikah?”

Like, seriously, penting banget, ya, ngojok-ngojokin orang buat nikah?

Terakhir diperbarui pada 25 September 2025 oleh

Tags: belum siap nikahbridesmaidmenikahpacaranpernikahanPUBG
Aprilia Kumala

Aprilia Kumala

Penulis lepas. Pemain tebak-tebakan. Tinggal di Cilegon, jiwa Banyumasan.

Artikel Terkait

gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Hidup setelah resign dan menikah. MOJOK.CO
Sehari-hari

Dihujat ‘Salah Pilih Suami’ usai Menikah karena Terlanjur Resign dari Pramugari, Kini Jadi Pedagang Kopi Keliling

3 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Curhat Jadi Ketua RT: Pekerjaan Kuli yang Dibalut Keikhlasan MOJOK.CO

Anak Muda Jadi Ketua RT: Antara Kerja Kuli, Keikhlasan, dan Dewasa Sebelum Waktunya

27 Februari 2026
Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
kelemahan honda beat, jupiter z.mojok.co

Menyesal Ganti Jupiter Z ke Honda BeAT: Menang “Rupa” tapi Payah, Malah Tak Bisa Dipakai Ngebut dan Terasa Boros

27 Februari 2026
Bisnis coffe shop, rumah dekat kafe, jogja.MOJOK.CO

Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur

26 Februari 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.