Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat: Ketika Lidah Lokal yang Murah Direbut oleh Lidah Wisatawan yang Dipaksa Mahal

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
11 Februari 2026
A A
3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)

3 Kuliner Jogja yang Tidak Lagi Merakyat- Mahal dan Berjarak (Wikimedia Commons)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa titik kuliner Jogja mewarnai kehidupan saya di “masa muda”. Banyak keputusan besar saya ambil ketika menghabiskan semalam suntuk, sampai menjelang subuh, di sebuah angkringan. Lalu, ketika sudah bekerja, sebuah tempat di Pakem, Sleman, juga menjadi saksi saya mengambil keputusan besar.

Oleh sebab itu, saya merasa beberapa titik kuliner Jogja seperti punya aura tersendiri. Sebuah aura yang membuat saya bisa berpikir dengan jernih, pelan, dan pasti. Saya juga merasa tempat-tempat dan makanan khas ini seakan memberi siapa saja tempat untuk bernaung. Setidaknya untuk berpikir barang sejenak.

Saya merasa memiliki tempat ini. Saya, orang biasa, yang mendapatkan tempat untuk merancang sesuatu. Maka, tidak jarang, titik-titik khusus ini mendapatkan tempat istimewa di hati banyak orang. Tak peduli status dan ketebalan dompet. Semua orang berhak “merasa memiliki”.

Namun, saat ini, banyak orang tak lagi bisa “merasa memiliki” titik-titik ini. Beberapa titik kuliner Jogja rasanya tak lagi merakyat. Kalau mau datang berkunjung, kamu harus punya “alasan khusus”. Tak bisa sekadar mau nongkrong saja atau berlama-lama untuk berpikir. 

Inilah tiga kuliner Jogja yang menurut saya, tak lagi merakyat. Mereka, pada derajat tertentu, berjarak dengan orang kecil.

Baca juga Alasan Orang Jogja Malas Kulineran di Kopi Klotok

Angkringan kopi jos, teman menepi semasa SMA

Saya tidak tahu secara pasti. Namun, angkringan kopi jos, saat masih membuka lapak di samping utara Stasiun Tugu, besar karena mitos. Katanya, kopi hitam dengan tambahan bara arang bisa mengusir masuk angin. Sebuah mitos yang mungkin tidak akurat. Namun, minimal, membuatnya menjadi jujugan anak muda pada zamannya.

Saat masih SMA, ketika alkohol sedang tak ada janji untuk mampir, saya dan beberapa teman suka berlama-lama di angkringan kopi jos. Kami suka duduk lesehan di seberang lapak kopi jos. Yang kami lakukan sebatas ngobrol. Para remaja tanggung yang saat itu belum tahu mau ngapain dalam hidup.

Saya sendiri mengambil keputusan soal mau kuliah atau tidak di salah satu kuliner Jogja favorit ini. Salah satunya, saya memutuskan kuliah Sastra Indonesia, alih-alih menuruti mau bapak untuk mengambil Pendidikan Bahasa Inggris.

Sekarang, angkringan kopi jos sudah pindah tempat. Geser beberapa meter ke seberang jalan. PT KAI melakukan relokasi demi keindahan, mungkin. Sejak saat itu, kopi jos menjadi kuliner Jogja jujugan wisatawan lebih ramai lagi. Nongkrong lama-lama di sana sudah tak senikmat dulu.

Kopi klotok, kuliner Jogja yang dulu sangat bersahaja

Saya resmi menjadi redaktur Mojok pada 2018. Sepulangnya dari Jakarta, saya berkantor di daerah Mbesi, Jalan Kaliurang kilometer 13. Salah satu kesukaan kami waktu itu adalah ngopi pagi di Kopi Klotok, daerah pakem. Saat budaya “ngopag” belum sepopuler sekarang, kami sudah melakukannya di Kopi Klotok.

Kru Mojok generasi 2017/2018 cukup sering menghabiskan waktu di salah satu titik kuliner Jogja paling hype saat ini. Cukup secangkir kopi, air putih, dan pisang goreng. Kami ngopi pagi dari pukul 7:30 sampai sekitar pukul 10. Kami anggap ini sebagai pemanasan sebelum bekerja.

Namun, seiring waktu, dan kalian para pembaca pasti tahu, Kopi Klotok menjadi begitu istimewa. Kekuatan media sosial menjadi salah satu pemicu ramainya Kopi Klotok. Seakan-akan, kalau belum ikut mengantre di Kopi Klotok, belum sah dan paripurna menikmati kuliner Jogja.

Sekarang, warga lokal saja rada enggan kalau diajak ke Kopi Klotok. Malas dengan antre adalah alasan pertama. Dan kini, soal harga, menjadi alasan kedua. Kuliner Jogja satu ini tak lagi bersahaja. Ia menjadi objek wisata dengan harga dan vibes khusus. Seakan-akan, dan sekali lagi, kalau mau berkunjung harus punya alasan tertentu.

Iklan

Baca juga Kopi Joss Lik Man dan Rasa yang Dirindukan

Gudeg, kuliner Jogja yang bisa memancing perdebatan

Inilah kuliner Jogja yang, menurut saya, paling bisa memancing perdebatan. Tema besarnya adalah, apakah gudeg memang makanan mahal?

Kita semua tahu kalau gudeg awalnya kuliner rakyat jelata. Lantaran tidak mampu membeli daging, rakyat zaman dulu mengolah nangka muda sebagai gantinya. Sudah begitu, gudeg adalah makanan yang awet. Oleh sebab itu, rakyat jelata zaman dulu bisa berhemat.

Namun, seiring zaman, gudeg menjadi kuliner Jogja yang eksotis. Semua kalangan, termasuk papan atas, menjadikannya santapan. Dan, wisatawan menyematkan label “oleh-oleh khas”. Maka, secara otomatis, gudeg menjadi kuliner Jogja yang naik kelas. Baik dari sisi bahan, sampai harga. Kalau gudeg premium, pasti mahal. Begitu adanya.

Begitulah, gudeg tak lagi merakyat. Apalagi setelah muncul cluster premium. Apalagi sekarang sudah ada gudeg kalengan juga. 

Begitula, tiga titik kuliner Jogja yang tak lagi merakyat. Ia menjadi konsumsi kelas tertentu dan hanya bisa dinikmati di kondisi tertentu. Seiring zaman, terkadang, rakyat jelata akan kehilangan banyak hal. Salah satunya soal kuliner yang sebelumnya menjadi eskapisme mereka terhadap terjalnya kehidupan.

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Selain Terlalu Manis, Gudeg Jogja Dijauhi karena Mahal, Padahal (Seharusnya) Murah dan Masih Makanan Rakyat dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 11 Februari 2026 oleh

Tags: angkringan kopi josgudegGudeg JogjaJogjakopi josKopi KlotokKulinerKuliner Jogjarekomendasi kulinerrekomendasi kuliner Jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Asriadi Cahyadi pemilik Dcell Jogja Store, toko musik analog. MOJOK.CO
Sosok

Saat Musik Analog Bukan Lagi Barang Jadul yang Bikin Malu, tapi Pintu Menuju Kenangan Masa Lalu bagi Pemuda di Jogja

4 Februari 2026
Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT MOJOK.CO
Edumojok

Tak Mau Jadi Beban Orang Tua, Mahasiswa Psikologi UGM Pilih Kuliah Sambil Ngojol untuk Bayar UKT

2 Februari 2026
Toko musik analog, Dcell Jogja Store. MOJOK.CO
Bidikan

Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog

2 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja muda hobi bikin kue

Dicap Hobi Kuno, Bikin Kue Jadi Jalan Gen Z Jakarta Tetap Waras dari Beban Kerja Usai Ibu Tiada

10 Februari 2026
Surat Wasiat dari Siswa di NTT Itu Tak Hanya Ditujukan untuk Sang Ibu, tapi Bagi Kita yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak. MOJOK.CO

Surat Wasiat Siswa di NTT Tak Hanya bikin Trauma Ibu, tapi Dosa Kita Semua yang Gagal Melindungi Korban Kekerasan Anak

7 Februari 2026
Pembeli di Pasar Jangkang, Sleman. MOJOK.CO

Salah Kaprah soal Pasar Jangkang yang Katanya Buka Setiap Wage dan Cuma Jual Hewan Ternak

9 Februari 2026
Open To Work.MOJOK.co

Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba

9 Februari 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi

11 Februari 2026
self reward.mojok.co

Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan

6 Februari 2026

Video Terbaru

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

Hutan Jawa dan Dunia yang Pernah Bertuah

7 Februari 2026
Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

Tanaman Lokal Indonesia dan Upaya Merawat yang Terlupakan

4 Februari 2026
Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

Zainal Arifin Mochtar dan Suara Kritis di Tengah Politik Hari Ini

3 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.