Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Obsesi Punya Yamaha FIZR Mengambang seperti Asap Knalpotnya

Muhajir Dono Husodo oleh Muhajir Dono Husodo
20 Januari 2018
A A
F1ZR-MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

[MOJOK.CO] “Kisah sedih tentang mimpi memiliki Yamaha F1ZR yang terkubur oleh hoax membangun.”

Enam tahun lalu, setelah kelar nyantri di pesantren salafi, keinginan untuk memiliki sepeda motor sendiri tak bisa saya tahan lagi. Sudah terbayang-bayang nikmatnya touring menggunakan sepeda motor dengan keadaan telinga disumbat earphone sambil mendendangkan musik melalui Walkman.

Iklan

Ketika pulang ke rumah, ayah saya menyambut dengan menawari motor apa yang saya inginkan. Saya tak banyak menuntut. Sebab, sewaktu di pesantren saya tak begitu banyak mendapat asupan informasi seputar sepeda motor yang lagi ngetren. Selain itu saya sepenuhnya sadar dengan kondisi perekonomian keluarga. Poin kedua ini juga yang membuat saya mafhum, sudah barang tentu motor yang dimaksud ayah saya adalah motor seken.

Hari yang ditunggu tiba juga. Ayah saya pulang membawa motor yang ia pilih. Motor itu adalah Suzuki Bravo RC100.

Mengingat itu motor pertama dalam sejarah keluarga kami, saya begitu gembira menyambutnya. Ya, meskipun itu cuma Suzuki Bravo. Motor biru yang jaman itu selalu nongkrong di kantor kecamatan. Barangkali ini berkat ajaran di pesantren untuk selalu bersyukur dan qona’ah.

***

Seiring berjalannya waktu, sikap qona’ah itu mulai berubah menjadi rasa minder. Lha ya gimana, kehidupan di rumah, berinteraksi dengan banyak informasi dan kawan-kawan penggemar Valentino Rossi, membuat pandangan saya terhadap motor berpendingin Jet Cooled ini berubah.

Saya dilema. Mau merengek minta ganti sepeda motor yang lebih mbois, kok nggak tega. Bertahan dan setia sama Bravo, malah bikin ciut nyali. Kalau boleh saya ulangi waktu Ayah membawakan Bravo dulu, saya ingin menyanyikan “Bukan Bravo Nurbaya” yang liriknya kira-kira seperti ini, “Bukan Bravo, Mama, bukan Bravo, Papa….”

Berbekal tekad kuat mengubah Bravo jadi lebih baik, sebagaimana yang dilakukan kebanyakan pemuda Lamongan, saya merantau ke negeri orang. Hasilnya, tabungan dari sisa penghasilan saya selama satu tahun cukup untuk menyulap Bravo menjadi motor impian. Mekanismenya begini: menjualnya dengan harga yang pantas, lalu hasil penjualan tersebut ditambah tabungan dipakai untuk membeli motor impian.

Ngomong-ngomong soal motor impian saya, selama di tempat perantauan, datang hasutan dari kawan agar pulang kampung nanti saya menggunakan motor baru yang keren. Saat itu keinginan terbesar saya adalah memiliki Yamaha F1ZR dengan striping merah-putih-hitam.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX

Muncul aneka pertanyaan dari kawan, saudara, bahkan ibu-ibu tetangga: kok F1ZR? Padahal saat itu sudah ada produk Yamaha yang teranyar, Jupiter. Dan barang tentu lebih irit dari F1ZR karena sudah mengusung teknologi mesin 4 tak. Kalau mau yang lebih irit lagi dan bisa bernostalgia dengan bentuk kuno Suzuki Bravo, saat itu ada yang namanya Honda Astrea Prima atau Honda Astera Grand. Kedua motor terakhir ini konon kambu bensin a ewes iso mlaku. Cium aroma bensin saja sudah bisa jalan tuh motor.

Masalahnya, saya sudah kadung terobsesi sama si F1ZR ini. Saking terobsesinya, kalau ditanya kenapa suka dengan F1ZR, saya kadang memberi jawaban yang terkesan mengada-ada. Seperti pada suatu kesempatan, saya menjawab karena nama dan penyebutannya yang keren: F1ZR (baca: ef-wan-zet-er). Bagi saya ini sangat keren dan terdengar sedikit —mengutip iklan—ada manis-manisnya.

Kalau ditanya lagi kenapa suka F1ZR padahal ia punya reputasi boros yang minta ampun, saya akan menjawab, “Lho jangan salah, itu secara nggak langsung membuktikan bahwa dompetnya yang punya motor tebal.” Ini alasan yang dibuat-buat saja, sebab aslinya, untuk rutin beli oli samping saja kudu dibarengi puasa Senin-Kamis.

Terhadap pertanyaan yang belum tersampaikan pun saya sudah ada stok jawabannya. Pokoknya, saya sudah membayangkan betapa gagah dan kerennya naik motor dengan kopling manual. Padahal, fyi aja nih, saat itu saya nggak sepenuhnya andal mengendalikan kopling manual. Ini sebenarnya salah satu salah paham saya. Nyatanya, kopling di F1ZR itu semi-otomatis, tak seperti kopling pada RX King, GL Max, atau motor kopling manual lainnya.

Iklan

Kesalahpahaman saya yang lain adalah saya belum menyadari bahayanya melayang-layang ketika memacu F1ZR dengan kecepatan tinggi. Bentuk bodi dan kerangkanya yang ramping dengan bobot hanya 95 kilogram sangat berpotensi membuat F1ZR melayang saat digeber dengan kecepatan tinggi.

Ada sisi baiknya juga sih. Naik motor ini bisa menambah pahala karena saya jadi ingat Tuhan terus. Masalahnya, saat itu saya belum menyadari hal tersebut dan bangga jika bisa naik motor sambil melayang-layang. Bagi kawan yang sering menasihati tentang hal tersebut, ucapannya langsung mental. Memang tidak berguna menasihati orang yang kadung fanatik.

***

Tahun 2006 harusnya saya sudah bisa membawa pulang F1ZR seken yang masih mulus. Saat itu saya sudah mengantongi uang sekitar 10 juta-an. Akan tetapi, saya tak langsung membeli karena (1) F1ZR sudah discontinued, (2) harganya turun drastis menjadi 4 sampai 5 jutaan. Bukannya senang, saya malah jadi khawatir.

Ini gara-gara pada 2003, Menteri Negara Lingkungan Hidup mengeluarkan aturan tentang ambang batas emos gas buang kendaraan bermotor agar setara dengan standar Euro 2. Keputusan ini berlaku bagi setiap kendaraan yang sedang diproduksi dan mulai diberlakukan pada 2005.

Sejatinya peraturan itu berlaku bagi perusahaan kendaraan bermotor saja, bukan menggasak para pemilik kendaraan bermotor. Apalagi pengendara yang kebetulan pinjam motor tetangga.

Namun, kemudian malah muncul kabar, entah dari polisi atau media saya tak ingat, bahwa di kota-kota besar seperti Surabaya sudah diterapkan perda emisi sehingga motor 2 tak dengan oli samping macam F1ZR dilarang masuk kota. Bahkan tersiar kabar di daerah saya bahwa beberapa orang pengendara FIZR yang tak sengaja menjumpai operasi lalin langsung ditilang polisi.

Saya yang taat norma, hafal Pancasila, dan suka panas dingin kalau berhadapan dengan polisi ini tentu langsung mengubur dalam-dalam impian memiliki F1ZR. Peduli setan soal cinta dan harapan, saya lebih takut uang saya masuk kas polisi gara-gara motor saya berbunyi tret-tet-tet-tet-tet dengan asap putih khasnya.

Endingnya bisa ditebak. Saya nggak jadi beli F1ZR atau motor 2 tak apa pun.

***

Dua belas tahun berlalu. Kini saya berdomisili di perbatasan Gresik-Surabaya-Sidoarjo, tepatnya di daerah Driyorejo. Keluar masuk kota Surabaya nyaris tiap hari, mudik ke Lamongan dua atau tiga bulan sekali, main ke teman yang rumahnya di Sidoarjo berkali-kali. Di jalanan yang saya lalui itu, tak satu pun pengguna motor 2 tak yang ditilang polisi.

Ealah, ingin rasanya saya mengumpat sambil merapal nyanyian jawa alias pisuhan khas suroboyoan. Juaaancoook!

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2018 oleh

Tags: emisimotor 2 takpengalamanSuzuki Bravoyamahayamaha f1zryamaha fiz-r
Muhajir Dono Husodo

Muhajir Dono Husodo

Artikel Terkait

Biar Nggak Mogok atau Korsleting, Ini 4 Hal yang Haram Dilakukan Saat Modif Motor.MOJOK.CO
Transportasi

Biar Nggak Mogok atau Korsleting, Ini 4 Hal yang Haram Dilakukan Saat Modif Motor

3 Juli 2026
Mekanik Vespa modifikasi Fazzio ramah anak. MOJOK.CO
Eksplor

Ahli Mekanik Vespa Coba Modifikasi Fazzio Kuning Bermotif Bebek dengan Modal Rp4 Juta, Berbuah Senyuman Anak dan Penghargaan

2 Juli 2026
Nasib Yamaha Byson Baru yang Dicintai Setelah Tak Bisa Dimiliki MOJOK.CO
Otomojok

Nasib Yamaha Byson dan Paradoks Benda yang Baru Dicintai Setelah Berhenti Diproduksi dan Tak Bisa Dimiliki Lagi

2 Juli 2026
Kisah pemilik Yamaha Fazzio hitam di Jogja. MOJOK.CO
Eksplor

Gelontorkan Tabungan Jutaan Rupiah demi Modifikasi Fazzio: Cara Manis Anak Muda Jogja Menghargai Kepedulian Orang Terdekat

30 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Warga makin malas bayar pajak bukan berarti membangkang, tapi karena ulah pemerintah sendiri MOJOK.CO

Makin Malas Bayar Pajak Bukan Semata Membangkang tapi Akumulasi Kekecewaan, Pemerintah Bisanya Nagih Doang

10 Juli 2026
Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menyerahkan hibah daerah ke ormas, tempat ibadah, dan para seniman MOJOK.CO

Hibah Pemkab Sleman untuk Ormas, Tempat Ibadah, dan Seniman: Serahkan Ratusan-Miliaran Juta untuk Dioptimalkan

10 Juli 2026
Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026.MOJOK.CO

Kehangatan Tuan Rumah di Penutup Prambanan Jazz 2026

6 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar MOJOK.CO

Pertamina Patra Niaga Pastikan Penyaluran BBM di Jawa Tengah dan DIY Berjalan Normal dan Lancar

8 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.