Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Gesits, Si Vario KW: Motor Listrik Impresif dan Ilusi Pahlawan Lingkungan yang Menyertainya

Si Vario KW bernama Gesits, ternyata motor listrik yang impresif. Saya sempat skeptis.

Mita Idhatul Khumaidah oleh Mita Idhatul Khumaidah
29 September 2021
A A
Gesits, Si Vario KW: Motor Listrik Impresif dan Ilusi Pahlawan Lingkungan yang Menyertainya MOJOK.CO

Gesits, Si Vario KW: Motor Listrik Impresif dan Ilusi Pahlawan Lingkungan yang Menyertainya MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Awalnya saya ragu sama motor listrik bernama Gesits, Si Vario KW yang bikin trauma itu. Namun, memang benar, cinta datang karena terbiasa.

Pengalaman saya bersama sepeda motor dalam negeri berlangsung selama separuh umur saya. Termasuk di dalamnya motor listrik Vario KW bernama Gesits. Sayangnya, saya tak bisa menyebutnya sebagai pengalaman yang menyenangkan.

Sepeda motor pertama yang Ayah miliki adalah Dayang DY 100. Dengan mahar sekitar Rp5 juta, hanya separuh dari harga Honda Supra generasi pertama yang dijiplaknya habis-habisan, Ayah sudah bisa membawa motor ini pulang dari dealer.

Tim riset Dayang berhasil mempelajari semua teknologi Honda, mengambil perintilan-perintilan menarik, lalu secara hati-hati menempatkan semua esensi yang menjadikan Honda sebagai pabrikan motor terbaik ke tong sampah. Dayang DY 100, pendeknya, adalah motor yang tidak cukup layak untuk dibicarakan.

Lelah dengan mesin Dayang yang selalu berulah, Ayah yang saat itu masih dibekap semangat patriotis, memutuskan membeli motor kedua: KTM Power Hit. Jangan salah sangka. Ini bukan pabrikan KTM Austria yang ikut MotoGP, melainkan pabrikan KTM yang menyewa Inul Daratista buat disuruh ngomong, “KTM dong, ah!”

Tidak ada yang menarik dari motor tersebut, tetapi Bapak rupanya belum lelah dikecewakan oleh motor lokal. Pada tahun-tahun berikutnya, datang Sanex dan Jialing, Tossa dan Viar. Kecenderungan patriotis tersebut baru berhenti ketika saya berkuliah dan berkata pada Ayah bahwa saya benar-benar butuh sepeda motor, bukan gelondongan besi yang ditempeli mesin.

Jupiter-Z memutus petualangan keluarga kami dengan motor lokal. Saat itu, saya pikir tidak bakal ada motor lokal lagi yang mampir di hidup saya. Namun, tentu saja, Tuhan selalu penuh kejutan.

Sepekan setelah menjual Daihatsu Ceria kami, Mas Bojo pulang dari kantornya dengan gelagat aneh: tidak ada derum suara motornya dari muka pagar. Saya berjalan menghampirinya dan mendapati dia berdiri di samping Vario, motor yang tak pernah dia sukai dengan alasan yang dibuat-buat.

“Punya siapa, Mas?” Tanya saya, sambil menunjuk Vario itu dengan dagu.

“Dikasih Pak Bos buat operasional. Bagus, ya,” sahut Mas Bojo.

“Bukannya kamu nggak suka Vario?” tanya saya dengan nada yang akan dipakai kekasih Cristiano Ronaldo ketika mendapati lelakinya itu menenggak wiski.

“Kata siapa ini Vario,” sahut Mas Bojo sembari menuding emblem besar di sayap motor tersebut. “Ini Gesits, Adinda.”

Saya tahu apa itu Gesits. Namun, di titik itu, saya sungguh tak tahu mana yang lebih membuat saya gelisah: kembali berurusan dengan pabrikan motor lokal, atau mesti kembali berbagi rumah dengan motor listrik, lokal pula.

Rasanya baru kemarin saya menjajal Viar Q1 milik sepupu, dan motor listrik tersebut berkelakuan seperti banteng ngamuk. Torsi badaknya yang instan nyaris menjungkalkan saya pada puntiran gas pertama.

Iklan

Itulah sesuatu yang tak saya sukai dari motor listrik mana saja: torsi. Tak seperti motor bermesin pembakaran-dalam yang menyediakan torsi pada putaran mesin menengah, torsi pada motor listrik sudah tersedia sejak putaran rendah. Dan sebagaimana mesin listrik normal, besaran torsinya ada di level tak masuk akal.

Gesits ini juga demikian. Dari situs resminya, saya mendapati bahwa tenaga motor ini sepadan dengan mesin Supra Fit jadul: cuma enam hp. Namun, torsinya bisa bikin pemilik motor sport berkecil hati: 30 Nm! Itu jauh lebih besar ketimbang torsinya Ninja 250 empat silinder!

Ah, buat kamu yang tidak begitu paham perbedaan antara tenaga dan torsi, analogi ini mungkin bisa membantu: tenaga adalah sesuatu yang menentukan seberapa cepat kamu menghantam dinding di depanmu, sedangkan torsi adalah sesuatu yang menentukan seberapa jauh kamu menyeret puing dinding itu bersamamu.

Torsi kelewat besar itulah yang membuat saya enggan menunggangi Gesits, si Vario KW, pada mulanya. Bersama sepeda Jemboly tua dan laba-laba, ia mendekam di garasi rumah kami selama berminggu-minggu, hanya dipakai Mas Bojo ketika merasa perlu membuat kesan positif pada bosnya. Intinya, kami tak menyukai motor ini dengan alasan yang berbeda.

Namun, saban menyapu garasi, Gesits ini seolah menatap saya dan berkata, “Ayolah, Kakak, tunggangi aku. Ajaklah aku bersamamu!”

Begitu terus setiap hari.

Ajakannya itu sedikit demi sedikit mengikis prasangka dan trauma saya. Pada minggu keenam, saya mengambil kunci kontaknya.

Meski tampangnya mirip Vario, panel indikator Gesits lebih mirip layar hape Android: cerah, penuh warna, informatif, dan beresolusi lumayan. Menariknya, ada semacam sensor cahaya yang bakal mengubah latar belakang panel menjadi hitam saat malam, mirip ambient light sensor pada hape kiwari. Dan lampu seinnya sudah sekuensial, persis kayak lampu sein mobil mahal.

Baru pada keesokan harinya, ketika hendak berbelanja ke warung, saya berani menunggangi Gesits. Warung tujuan saya itu cuma dekat gapura kampung, tapi saya berdandan seolah hendak touring ke Madagaskar. Saya memakai helm full face, pelindung siku dan dengkul, dan menyelipkan kotak P3K di tas belanja.

Kunci sudah saya puntir, tombol starter sudah saya tekan, dan segala doa sudah saya rapalkan. Gas sudah saya putar sedikit, dan… tidak terjadi kecelakaan! Gesits mengentak sehalus sepeda listrik, dan puntiran gasnya mudah diprediksi. Saya bersorak selantang pemenang togel dan memutuskan untuk melupakan urusan berbelanja. Gesits ini harus mengelilingi Cepu!

Ternyata ada tiga pilihan mode berkendara yang bisa saya tentukan tanpa harus berhenti: Eco, Urban, dan Sport. Mode berkendara itu akan membatasi respons gas dan kecepatan puncak. Di mode Eco, top speed yang bisa dicapai hanya 30an km/jam, Urban pada 50an km/jam, dan Sport pada 80-an km/jam.

Kecepatan puncaknya memang cuma segitu, tapi ingatlah bahwa tenaga Gesits hanya enam hp. Lagipula, ini motor listrik; tidak ada engine brake untuk membantu pengereman. Gesits bakal menggelinding seperti sepeda, yang membuat saya sudah merasa ngeri ketika kecepatannya baru mencapai 30 km/jam.

Sebagaimana motor listrik, Gesits sehening peserta upacara ketika mengheningkan cipta. Dan jujur saja, ini adalah bagian yang benar-benar mengerikan. Saya dipelototi bocah-bocah kampung karena berkali-kali nyaris menabraknya. Ketiadaan suara mesin membuat pengguna jalan lengah dalam mendeteksi keberadaan saya.

Baterai Gesits mampu bertahan hingga jarak kira-kira 50 kilometer. Tidak impresif, sih, tapi pengguna bisa menambah baterai lagi dan memasangnya pada slot yang sudah tersedia. Harga baterainya sekitar Rp7 juta, dan itu sepadan dengan kualitas pengerjaannya yang baik dan garansinya yang mencapai tiga tahun.

Kesimpulan awal saya mengenai Gesits adalah ini: dengan harganya yang berada di bawah Rp30 juta, Gesits adalah motor listrik terbaik saat ini. Suspensinya nyaman, fiturnya tumpah-tumpah, handling-nya mantap, dan ekonomis pula. Poin plus tambahan: ia motor karya anak bangsa, entah siapa anak bangsa yang dimaksud. Kapan lagi kita bisa beli motor sambil merasa sebagai patriot sejati?

Kekurangannya, andai bisa disebut kekurangan, cuma dua. Pertama, tidak ada yang tahu durabilitas Gesits. Ia baru diproduksi massal dua tahun lalu, dan strategi pemasarannya pun akan membuat marketing Suzuki terkesan. Sedikit orang yang punya Gesits, sehingga informasi mengenai durabilitas motor ini juga terbatas.

Kedua, Gesits dan motor listrik lainnya akan memberi sindrom bernama “ilusi pahlawan lingkungan” kepada penggunanya. Cuma pakai memakai Gesits saja, saya sudah merasa sudah berkontribusi besar terhadap pencegahan global warming dan semacamnya.

Padahal saya juga tahu bahwa selama pengisian baterainya memakai listrik PLN, yang notabene kebanyakan ditenagai oleh batu bara, saya sekadar memindahkan masalah dari hilir ke hulu.

Saya percaya bahwa mengganti mesin pembakaran-dalam ke mesin listrik adalah strategi naif untuk mengatasi pemanasan global. Bumi kian remuk bukan karena kendaraan kita menenggak bensin, bukannya token, melainkan karena tidak ada strategi pengintegrasian transportasi umum yang benar-benar masuk akal sehingga kebanyakan orang mau tak mau membeli kendaraan pribadi.

Begitulah kira-kira. Bismillah, menteri perhubungan.

BACA JUGA Kelebihan Sepeda Motor Suzuki yang Membunuh Bengkel Resminya Sendiri dan ulasan motor listrik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 29 September 2021 oleh

Tags: GesitsHonda Supramotor listrikrekomendasi motorsuzukivario
Mita Idhatul Khumaidah

Mita Idhatul Khumaidah

Staf pengajar dan pelapak daring paruh waktu, ibu rumah tangga penuh waktu.

Artikel Terkait

Ilustrasi Honda Vario Sumber Derita dan Bikin Gila di Jalanan Surabaya (Wikimedia Commons)
Pojokan

Honda Vario Adalah Motor yang Paling Menderita di Surabaya: Mesin Loyo Itu Sengsara Dihajar Jalan Rusak

6 Maret 2026
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125
Pojokan

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

28 Februari 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO
Otomojok

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Jangan Remehkan Supra X 125, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang Mojok.co
Pojokan

Jangan Remehkan Supra X 125 Lawas, Usianya Boleh 16 Tahun, tapi Masih Kuat Diajak Mudik Bali-Semarang

25 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dosen Poltani Kupang sekaligus Ahli Peternakan dapat dana LPDP. MOJOK.CO

Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

18 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
Selalu royal ke teman saat butuh bantuan karena kesusahan. Giliran diri sendiri hidup susah eh diacuhkan pertemanan MOJOK.CO

Kapok Terlalu Royal ke Teman: Teman Datang karena Ada Butuhnya, Giliran Diri Sendiri Kesusahan Eh Diacuhkan meski Mengiba-iba

17 Maret 2026
Pedagang sate kere di Kampung Ramadan Masjid Mlinjon Klaten. MOJOK.CO

Sate Kere Merbung di Klaten: Warisan Terakhir Ibu yang Menyelamatkan Saya dan Keluarga dari Jurang PHK

16 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.