MOJOK.COBagi pegawai bengkel resmi, mesin Suzuki jelas mimpi buruk. Perpaduan antara populasi yang sedikit dan mesinnya yang terlalu tokcer membuat mekanik bengkel kami lebih sering memegang sulak ketimbang kunci pas.

Angin PHK akhirnya berembus ke bengkel tempat saya bekerja. Seto, lelaki tambun yang menjadi satu-satunya montir yang tersisa di situ, memasang muka cemberut sepanjang hari sekalipun dia telah meramalkan nasib kami sejak pandemi menggulung bengkel-bengkel gurem lain.

Bengkel tempat saya bekerja ini bukan bengkel kacangan. Namun, pandemi membuat semua bengkel memikirkan ulang alasan keberadaannya. Dan semuanya semakin buruk karena saya bekerja di bengkel resmi sepeda motor pabrikan Jepang yang cuma bagus di MotoGP dan tidak di pasaran: Suzuki.

Suzuki jelas bukan merek kaleng-kaleng. Sebagaimana pabrikan Jepang pada umumnya, produk Suzuki dirancang oleh orang-orang visioner yang penasaran dengan pertanyaan berikut: bilamana umur suatu produk melampaui umur pemiliknya?

Namun, satu dasawarsa yang lalu, di hari pertama saya bekerja sebagai tenaga admin bengkel Suzuki, bulik saya mengelus punggung saya dan bertanya, “Kenapa ndak di bengkel Honda aja toh, Nduk?”

Saya lupa menjawab apa. Tapi, mimik wajah bulik membuat saya merasa seolah sedang bekerja di bengkel rahasia di pedalaman Korea Utara.

Begitulah citra motor Suzuki di keluarga besar saya yang masih menyebut semua motor dengan panggilan sayang “Honda”. Tapi, kayaknya, begitu pula citra motor Suzuki di masyarakat pada umumnya. Ia dianggap motor Jepang yang “nggak nJepang blas” karena desain produknya yang nyeleneh.

Tidak heran kalau hanya ada satu dealer motor Suzuki di kota saya, terkepung tujuh dealer Honda dan empat Yamaha. Sebiji dealer sekaligus bengkel resmi ini begitu sepinya sampai-sampai bos saya menyelipkan berbagai produk furniture di etalase. Rasa-rasanya, cuma di dealer kami kamu bisa melihat Satria FU dipajang di sebelah spring bed.

Sektor desain membuat dealer kami sesepi pos ronda di malam Jumat. Sektor mesin berimbas pada nasib bengkel resmi kami. Alih-alih berjibaku dengan oli dan baut dan suara printer yang merintih-rintih, saban hari Seto dan saya, lebih sering berurusan dengan mengelap kasur dan sofa di etalase. Dan ini semua adalah kesalahan Suzuki yang timbul dari kelebihan produk mereka.

Entah apa yang merasuki pikiran para pegawai R&D Suzuki. Sadar bahwa hal paling esensial dari sepeda motor adalah mesin, mereka mencurahkan semuanya ke sektor ini sambil menutup mata pada sektor lain. Hasilnya, muncul sepeda motor berdesain janggal yang tampaknya sanggup melaju hingga akhir zaman kelak. Mesin motor Suzuki, asal tidak dimodifikasi, susah banget rusaknya.

Hal ini sudah terbukti sejak era Shogun 110 dirilis. Saat itu, demi membuktikan kehebatan mesinnya, Suzuki menggelar tes ketahanan ekstrem dengan menggeber motornya berhari-hari di Sirkuit Sentul. Seolah masih belum cukup, Suzuki juga sempat mengadakan touring akbar bertajuk “Suzuki Jelajah Negeri” kala merilis Smash. Dan hasilnya, saya tidak mendengar kabar ada Suzuki Smash yang mesinnya ngadat saat pengujian.

Mereka yang skeptis tentu bakal bilang kalau motor-motor Suzuki yang mengikuti tes ekstrem tersebut sudah dioprek sedemikian rupa agar kuat menjalani berbagai cobaan. Saya juga sempat mikir begitu, tapi anggapan tersebut rontok ketika saya punya motor Suzuki sendiri.

Karena kasihan sama bos, di tahun ketiga bekerja, saya meminang sebiji Suzuki Titan meskipun sudah punya Yamaha Jupiter Z sebagai tunggangan sehari-hari. Tidak seperti Jupiter Z yang bertampang cakep dengan desain lampunya yang mirip mata burung hantu, saya gagal menemukan letak kegantengan Titan sekalipun saya sudah melonggarkan standar penilaian di sana-sini. Tidak heran kalau Titan tersebut lebih sering mengukur lantai garasi rumah saya ketimbang mengukur jalan.

Tapi, semuanya berubah setahun kemudian. Gara-gara lupa servis rutin dan ganti oli, Jupiter Z ganteng itu mogok di suatu sore karena setang pistonnya bengkok. 

Saya membawanya ke bengkel resmi dan mengganti onderdil. Namun, nggak sampai setahun untuknya mengalami nasib serupa karena alasan yang sama. Si ganteng itu ternyata nggak kuat hidup susah, dan itu sudah cukup menjadi alasan buat saya melegonya.

Maka, Titan keluar dari “pertapaannya”. Saya, sementara itu, masih orang teledor dalam urusan merawat motor. Sejak menghuni rumah saya 7 tahun lalu, Titan itu baru 5 kali diservis dan 8 kali ganti oli. Ia juga sudah menerjang banjir berkali-kali dan menempuh jarak lebih dari 70 ribu kilometer.

Sampai hari ini, mesinnya masih sebugar atlet Olimpiade.

Saya sudah ge-er karena berpikir cuma motor saya yang begitu. Tapi, motor Suzuki teman-teman kerja saya juga demikian, dan mereka hampir sama teledornya seperti saya.

Shogun SP kepunyaan Mas Pram, marketing senior, masih prima seolah baru keluar dari dealer seminggu lalu. Ratna, bagian legal, bahkan lupa kapan terakhir kali dia menyervis Hayate-nya. Cuma Seto yang rajin menyervis Satria miliknya. Itu pun karena tidak ada motor lain yang menyambangi bengkel tenteram ini padahal dia butuh sesuatu yang lebih seru ketimbang menyulaki almari dagangan.

Cerita mengenai kebandelan mesin motor Suzuki juga saya peroleh dari Pak Deni, satu dari segelintir pelanggan setia bengkel kami. Dia adalah penunggang Smash NR yang mematuhi semua saran yang ada di buku petunjuk pemilik setelah ditimpa nasib buruk ketika berkendara ke luar kota.

Saat itu, Pak Deni belumlah setaat sekarang. Dia amat ceroboh sampai-sampai kehabisan oli. Motornya mogok. Tahu bahwa tak ada bengkel yang buka sampai dini hari, dia mendorong motornya ke minimarket 24 jam dan membeli minyak goreng kemasan isi ulang. Dituangnya minyak goreng itu ke ruang oli, dan sungguh ajaib, motornya nyala kembali.

Pak Deni begitu cerobohnya sehingga lupa mengganti oli dadakan itu sampai seminggu berlalu. Smash NR tersebut pun terpaksa dibawa ke bengkel saya. Hebatnya, dengan perlakuan seceroboh itu, Suzuki Smash NR itu tak sampai harus mengalami turun mesin.

Semua cerita di atas mungkin terdengar ganjil bagi kamu yang nggak pernah punya motor Suzuki, dan saya pun tak menganggap hal itu sebagai sebuah prestasi. Sudah sewajarnya bagi pabrikan motor untuk menciptakan mesin terbaik seperti yang Suzuki lakukan. Andaipun banyak orang menyebutnya sebagai kelebihan Suzuki, itu hanya karena pabrikan Jepang lain menciptakan mesin payah yang luar biasa laris sehingga menjadi standar penilaian.

Bagi pegawai bengkel resmi seperti kami, mesin Suzuki jelas mimpi buruk. Perpaduan antara populasi motornya yang sedikit dan mesinnya yang tokcer membuat mekanik bengkel kami lebih sering memegang sulak ketimbang kunci pas.

Dan pandemi membuat bengkel kami yang kesepian itu tutup permanen. Kami tak perlu membersihkan furniture lagi saat ini, dan hal itu sejujurnya agak menyenangkan.

Tapi, Suzuki jelas perlu berbenah agar nasib suram bengkel kami tak menular ke bengkel resmi lainnya. Dan satu-satunya hal yang perlu Suzuki lakukan setelah menyewa desainer yang benar-benar mampu mendesain dan bukannya membadut adalah memperbaiki sektor mesin lewat falsafah Jawa: jangan terlalu bagus, jangan terlalu buruk, samadya wae

BACA JUGA Suzuki Satria, Legenda Penghancur Hubungan Orang Lain dan curhatan pegawai bengkel resmi lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Baca juga:  Yamaha Aerox Matik Keren, tapi Sobat SPBU Banget dan Nggak Nyaman Buat Penumpang