Pada keseringan ke Yogyakarta sama Jakarta sih ya? Paling-paling kalau mau agak kvlt (baca: jauhan) ke Bekasi.

Eh, tapi sekarang banyak sekali anak Jakarta yang kuliah di Malang. Terakhir saya cek, 8 dari 10 anak yang saya temui di kampus fasih ngomong “lu-gua”. Padahal, kalau dilihat-lihat wajahnya Lamongan. Wajah soto ayam: berminyak, agak kuning, dan kental koya. Saya ragu juga jadinya dia Jakmania atau LA Mania. Waduh, statistik 8 dari 10 itu jadi tak valid. Tapi, ya sudah. Saya tak terlalu permasalahkan. Yang penting mereka paham kalau negaranya ini sedang butuh rayuan agar kembali mesra dan jarang bertengkar. Soal bahasa, sama seperti agama, urusan masing-masing dengan ibunya.

Malang, dibanding Yogyakarta dan Jakarta, menang soal suhu udara. Di bulan-bulan Agustus sampai Desember, Malang adalah surga. Dinginnya sejuk, bikin ndusel di kasur tambah nyaman dan tahan lama. Terakhir, saya cek suhunya mencapai 18 derajat celcius. Tak perlu pakai AC, udara sudah dingin-dingin gemes. Memang udaranya kering, tapi hujan kadang sesekali datang untuk membasahkan. Biasanya gerimis limis-limis. Sekadar agar tanahnya lembab saja. Jadi, jangan khawatir.

Malang memang duuuh aduhai. Gabungkan dingin sejuk tadi dengan makanan-makanan pedas di Malang yang namanya bikin geleng-geleng ngguyu. Maka, akan didapatkan komposisi suasana yang begitu klop seperti jomblo dengan ritual mbribiknya: sakit pas dinajisin, tapi nagihin, minta tambah, hingga akhirnya cari-cari korban baru. Apa saja makanan pedasnya? Ada Tahu Mlotot, Mie Buto Ijo, Mie Setan, Ceker Setan, Mie Tomcat, Mie Iblis, Mie Serdadu, sampai Mie Galau.

Nah, lho. Selain jadi tempat berkumpulnya para metalhead, Malang ternyata juga tempat gathering-nya kaum lelembut. Bukan hanya gathering, mereka bahkan jualan makanan. “Kakak mie kuntilanaknya kakaaak.. mampir sini. Jangan takut.” Aneh ini. Kuntilanak kok jualan mie. Cocoknya jualan sate. Piye toh? Ya sudah lah. Pokoknya begitu kira-kira suasananya.

Jadi, monggo nikmati keringat yang mengalir ke segala arah saat menyantap masakan pedas dari para lelembut. Semoga bisa menyaingi pedasnya kenyataan kalau pacar ternyata punya pacar lagi di kota lain. Tak perlu takut bau saat berkeringat. Kenapa? karena sebelum bertemu dengan bakteri di badan, angin dingin Malang akan mengubahnya jadi butir-butir es. Meredakan perih luka yang sudah terlampau busuk.

Itu untuk pecinta kuliner.

Bagi para musisi, Malang adalah sebuah after party. Karena, selayaknya after party, Malang bisa jadi sangat gila karena niat mereka untuk senang-senang melebihi niat Prabowo untuk jadi presiden. Teman-teman di Malang adalah penyambut tamu yang ramah, loyal, dan royal soal bir. Teman saya, Donny, pemilik Houtenhand adalah salah satunya. Saat SORE main di Malang, ia melemparkan banyak kaleng bir dari atas panggung karena gemas melihat penonton yang diam saja, kurang joget. Setelah bir dibagikan gratis, penonton meliar. Dia tahu cara memperlakukan teman. SORE senang, Donny dan sebagian besar penonton, mabuk. Lalu saya? Merangkak mencari udara segar. Orang mabuk baunya.. ugh!

Tak hanya itu. Menyangkut pertunjukkan musik, teman-teman di Malang adalah perancang visual handal. Saya sebut nama saja: MalangSubPop, salah satu organizer pertunjukkan musik di Malang. Mereka ini pintar mendekor panggung. Mereka tahu cara memilih tempat yang pas untuk merancang sebuah pertunjukkan musik biar maksimal menyihir penonton, hingga lupa tadi mau pegangan tangan apa mau ciuman. Mereka sadar kalau pemilihan tempat, pemilihan background panggung, pemilihan waktu (siang, sore, atau malam), berefek besar pada bagaimana penonton menikmati gigs. Anak-anaknya juga woles, tapi bukan berarti tak profesional. Mereka adalah anak muda yang tahu caranya tenang saat panik menyerang.

Kalau ada teman-teman situ yang mau main di Malang, hubungi saja MalangSubPop. Mereka punya twitter kok. Cari saja sendiri.

Apa Malang hanya memanjakan pecinta kuliner dan musisi? Oh, tentu tidak. Malang juga memanjakan mereka yang suka jajan rock. Itu lho yang demen jajan vynil mahal sampai sering diprotes istri dan terancam tidur di luar. Kalau soal ini, saya tak terlalu paham tempatnya dimana saja. Biasanya Mas Samack yang menemani berkeliling.

Eh, tahu kan Mas Samack? Ah, masa gak tahu? Dia ini penulis musik senior (baca: old dan jomblo) yang santun dan senang memberi nasehat pada juniornya yang malas menulis, seperti saya, tentang kebijakan Mahabharata. Tunggu. Itu Mas Samack atau Koko Giman ya. Saya lupa. Pokoknya, Mas Samack orangnya baik dan bertanggungjawab. Mungkin ada mbak-mbak yang mau? Kalau mbak-mbak, tak perlu suka jajan rock, pasti diajak berkeliling Malang kok. Hubungi saja lewat twitter. Mas Samack punya juga. Search: @samacksamakk

Nah, itu beberapa hal yang patut disesali oleh mereka yang belum pernah ke Malang. Sebenarnya, masih banyak yang lain lagi. Tapi, saya tak mau buka semua. Nanti kalau dibuka semua, jadi enggak penasaran lalu pergi meninggalkan saya sebelum kasih nomer telepon. Kan saya yang repot carinya. Jadi, entar ya sisanya. Kita kontak-kontakan lewat whatsapp nanti malam. Atau malah mau ketemuan di Kemang?

Akhir kata. Ulang tahun Malang sih sudah lewat, 1 April kemarin. Tapi, bukan berarti perayaan tentangnya hanya terasa di waktu tiup lilinnya. Teman-teman yang sedang di Malang merayakan keindahannya setiap hari, sementara saya hanya bisa mengenangnya lewat mimpi.

Malang, teruslah baik hati ya. Seperti berita yang tahun lalu aku baca tentang takmir Masjid Agung di Malang yang meminta maaf pada pihak gereja GPIB karena kegiatan salat Idul Adha mengganggu jadwal misa mereka. Aku mencintaimu dengan terang-terangan dari Jakarta.

 

  • slamet gundono mc quin

    malang se[erti kebanyakan kota – kota di nkri dengan label kota pelajar invasi para imigran nkri pengen pinter ke malang dan beranak pinak kerja di malang dsb, celah kapitalnya menjadikan malang menjadi bukan hanya makoru ( malang kota ruko ) tapi ( makoka ) malang kota karaoke, tempat angkringangaya kafe yang di datangi mahasiswa tanggung pakaian klimis skiny yang terkadang keliatan celah silitnya seperti anakonda cekaka cekiki, ada juga yang syariah akibat ke syariahan sampai2 ketangkap karena pengikut hti kentir malah ikut isis ( tapi kebanyakan pendatang ) iya para manusia migran seperti kota jogja dan bandung dari berbagai etnis dan bergumul yang malang parahnya akut tingkat 666 selain identitas malangan yang lenyap begitu juga urban area eperti ijen. samack dan doni mungkin hanya salah satu spesies yang masih bertahan di habitat malang, udin pun minggat melihat manuk di bali dan afril yang memang juga pendatang lebih nyaman jadi pns di kota sebelah demikian malang hilang akar kota dan manusiannya —-keat

    • Ian Pratama

      Hahaha. —-keat. Setuju mas slamet. Gak hanya positif tapi negatifnya juga banyak yang masuk Invasi nya udah mulai keliatan. Akar ke-malang-annya udah mulai tergerus…

      Ini juga mungkin akibat dari pemerintah setempat yang mungkin tergiur akan pemasukan y̶a̶n̶g̶ ̶j̶u̶g̶a̶ ̶m̶a̶m̶p̶i̶r̶ ̶m̶a̶s̶u̶k̶ ̶k̶e̶ ̶k̶a̶n̶t̶u̶n̶g̶n̶y̶a̶, tapi gak diimbangi dengan usaha bagaimana supaya tuan rumah tidak menjadi tamu di rumahnya sendiri.

  • Jangan lupa juga nyicipi Jahe Kraton (Asli Malang) rasanya warbiasa.. 🙂

    • Risky Maulana

      Itik Itik Itikkkk…

  • walah omingpu ada disini
    juga. penulis yang serbabisa dari Malang. Malang selain tempe gorengnya yang
    yahud juga jangan lupakan kenikmatan rujak petis, tahu telor mBareng, STMJ dan
    lezatnya bakso. setelah pindah ke Jogja kuliner2 itu nggak ada lagi, berasa ada
    yang kosong di hati, eh di lambung ini, kurang lengkap. Seperti malam
    mingguan tanpa pasangan.

    Selebihnya Malang selain penuh serbuan kimcil gemes dan mahasiswa luar kota
    sekarang juga semakin dipenuhi kafe. Siap-siaplah bagi siapapun insan di Malang
    untuk menipiskan isi dompet! Tangames ker! 😀

  • Hasta BernadSatriani

    belum pernah ke pelosok bantul dan gunung kidul? kasian 🙂

  • Wahyu Khrisna

    minggu lalu dapat libur enam hari yang saya pakai buat pulang ke malang. malang makin jahad. mbelgedes kabeh. malang kok dadi ngene? menyadur dan menambahkan kesimpulan yang mas slamet gundono ucapkan di atas: —keat cok

No more articles