Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Malang yang Terbuat dari Dingin, Makanan Pedas, dan Metalhead

Oming Putri oleh Oming Putri
5 April 2015
A A
Belum Pernah ke Malang? Kasihan..

Belum Pernah ke Malang? Kasihan..

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada keseringan ke Yogyakarta sama Jakarta sih ya? Paling-paling kalau mau agak kvlt (baca: jauhan) ke Bekasi.

Eh, tapi sekarang banyak sekali anak Jakarta yang kuliah di Malang. Terakhir saya cek, 8 dari 10 anak yang saya temui di kampus fasih ngomong “lu-gua”. Padahal, kalau dilihat-lihat wajahnya Lamongan. Wajah soto ayam: berminyak, agak kuning, dan kental koya. Saya ragu juga jadinya dia Jakmania atau LA Mania. Waduh, statistik 8 dari 10 itu jadi tak valid. Tapi, ya sudah. Saya tak terlalu permasalahkan. Yang penting mereka paham kalau negaranya ini sedang butuh rayuan agar kembali mesra dan jarang bertengkar. Soal bahasa, sama seperti agama, urusan masing-masing dengan ibunya.

Malang, dibanding Yogyakarta dan Jakarta, menang soal suhu udara. Di bulan-bulan Agustus sampai Desember, Malang adalah surga. Dinginnya sejuk, bikin ndusel di kasur tambah nyaman dan tahan lama. Terakhir, saya cek suhunya mencapai 18 derajat celcius. Tak perlu pakai AC, udara sudah dingin-dingin gemes. Memang udaranya kering, tapi hujan kadang sesekali datang untuk membasahkan. Biasanya gerimis limis-limis. Sekadar agar tanahnya lembab saja. Jadi, jangan khawatir.

Malang memang duuuh aduhai. Gabungkan dingin sejuk tadi dengan makanan-makanan pedas di Malang yang namanya bikin geleng-geleng ngguyu. Maka, akan didapatkan komposisi suasana yang begitu klop seperti jomblo dengan ritual mbribiknya: sakit pas dinajisin, tapi nagihin, minta tambah, hingga akhirnya cari-cari korban baru. Apa saja makanan pedasnya? Ada Tahu Mlotot, Mie Buto Ijo, Mie Setan, Ceker Setan, Mie Tomcat, Mie Iblis, Mie Serdadu, sampai Mie Galau.

Nah, lho. Selain jadi tempat berkumpulnya para metalhead, Malang ternyata juga tempat gathering-nya kaum lelembut. Bukan hanya gathering, mereka bahkan jualan makanan. “Kakak mie kuntilanaknya kakaaak.. mampir sini. Jangan takut.” Aneh ini. Kuntilanak kok jualan mie. Cocoknya jualan sate. Piye toh? Ya sudah lah. Pokoknya begitu kira-kira suasananya.

Jadi, monggo nikmati keringat yang mengalir ke segala arah saat menyantap masakan pedas dari para lelembut. Semoga bisa menyaingi pedasnya kenyataan kalau pacar ternyata punya pacar lagi di kota lain. Tak perlu takut bau saat berkeringat. Kenapa? karena sebelum bertemu dengan bakteri di badan, angin dingin Malang akan mengubahnya jadi butir-butir es. Meredakan perih luka yang sudah terlampau busuk.

Itu untuk pecinta kuliner.

Bagi para musisi, Malang adalah sebuah after party. Karena, selayaknya after party, Malang bisa jadi sangat gila karena niat mereka untuk senang-senang melebihi niat Prabowo untuk jadi presiden. Teman-teman di Malang adalah penyambut tamu yang ramah, loyal, dan royal soal bir. Teman saya, Donny, pemilik Houtenhand adalah salah satunya. Saat SORE main di Malang, ia melemparkan banyak kaleng bir dari atas panggung karena gemas melihat penonton yang diam saja, kurang joget. Setelah bir dibagikan gratis, penonton meliar. Dia tahu cara memperlakukan teman. SORE senang, Donny dan sebagian besar penonton, mabuk. Lalu saya? Merangkak mencari udara segar. Orang mabuk baunya.. ugh!

Tak hanya itu. Menyangkut pertunjukkan musik, teman-teman di Malang adalah perancang visual handal. Saya sebut nama saja: MalangSubPop, salah satu organizer pertunjukkan musik di Malang. Mereka ini pintar mendekor panggung. Mereka tahu cara memilih tempat yang pas untuk merancang sebuah pertunjukkan musik biar maksimal menyihir penonton, hingga lupa tadi mau pegangan tangan apa mau ciuman. Mereka sadar kalau pemilihan tempat, pemilihan background panggung, pemilihan waktu (siang, sore, atau malam), berefek besar pada bagaimana penonton menikmati gigs. Anak-anaknya juga woles, tapi bukan berarti tak profesional. Mereka adalah anak muda yang tahu caranya tenang saat panik menyerang.

Kalau ada teman-teman situ yang mau main di Malang, hubungi saja MalangSubPop. Mereka punya twitter kok. Cari saja sendiri.

Apa Malang hanya memanjakan pecinta kuliner dan musisi? Oh, tentu tidak. Malang juga memanjakan mereka yang suka jajan rock. Itu lho yang demen jajan vynil mahal sampai sering diprotes istri dan terancam tidur di luar. Kalau soal ini, saya tak terlalu paham tempatnya dimana saja. Biasanya Mas Samack yang menemani berkeliling.

Eh, tahu kan Mas Samack? Ah, masa gak tahu? Dia ini penulis musik senior (baca: old dan jomblo) yang santun dan senang memberi nasehat pada juniornya yang malas menulis, seperti saya, tentang kebijakan Mahabharata. Tunggu. Itu Mas Samack atau Koko Giman ya. Saya lupa. Pokoknya, Mas Samack orangnya baik dan bertanggungjawab. Mungkin ada mbak-mbak yang mau? Kalau mbak-mbak, tak perlu suka jajan rock, pasti diajak berkeliling Malang kok. Hubungi saja lewat twitter. Mas Samack punya juga. Search: @samacksamakk

Nah, itu beberapa hal yang patut disesali oleh mereka yang belum pernah ke Malang. Sebenarnya, masih banyak yang lain lagi. Tapi, saya tak mau buka semua. Nanti kalau dibuka semua, jadi enggak penasaran lalu pergi meninggalkan saya sebelum kasih nomer telepon. Kan saya yang repot carinya. Jadi, entar ya sisanya. Kita kontak-kontakan lewat whatsapp nanti malam. Atau malah mau ketemuan di Kemang?

Akhir kata. Ulang tahun Malang sih sudah lewat, 1 April kemarin. Tapi, bukan berarti perayaan tentangnya hanya terasa di waktu tiup lilinnya. Teman-teman yang sedang di Malang merayakan keindahannya setiap hari, sementara saya hanya bisa mengenangnya lewat mimpi.

Iklan

Malang, teruslah baik hati ya. Seperti berita yang tahun lalu aku baca tentang takmir Masjid Agung di Malang yang meminta maaf pada pihak gereja GPIB karena kegiatan salat Idul Adha mengganggu jadwal misa mereka. Aku mencintaimu dengan terang-terangan dari Jakarta.

 

Terakhir diperbarui pada 6 November 2018 oleh

Tags: jakartaMalangYogyakata
Oming Putri

Oming Putri

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
Mall Kokas di Jakarta Selatan (Jaksel) macet
Urban

Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite

20 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala 'Big Tech' MOJOK.CO

Sisi Gelap AI dan Ancaman Imperialisme Digital ala ‘Big Tech’

25 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
orang tua.MOJOK.CO

35 Tahun Bekerja Keras demi Anak, tapi Kesepian di Masa Tua karena Dianggap Tak Pernah Hadir untuk Keluarga

24 Februari 2026
Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.