MOJOK.COJangan remehkan anak sejarah ketika ngomongin soal asmara. Ngerawat prasasti saja kami telaten. Kalau cuma ngerawat hatimu itu pekerjaan gampang. Kami adalah pacar ideal, tauk.

Mahasiswa itu nggak jauh-jauh sama stigma. Contohnya anak psikologi yang dianggap bisa baca pikiran. Anak pertanian dianggap cuma jadi petani setelah lulus. Anak teknik elektro dianggap tangan kanannya PLN. Anak perpustakaan disiapkan jadi penjaga perpustakaan. Tidak luput pula anak sejarah seperti saya ini. Parah, kami dibilang muka artefak dan besok kerjanya jaga museum.

“Masuk jurusan apa, lif? Loh, sejarah? Nanti jadi apa? Jaga museum yaaa.”

atau,

Lohhh, masa lalu kok dibahas, ndak visioner sekali!”

 Yang paling parah:

Jangan pacaran sama anak sejarah. Masa lalu dibahas terus, gimana mau menjalani hidup ke masa depan???

Gusti nu Agung, kenapa mesti begitu, sih.

Kenapa tiba-tiba belok ke masalah percintaan. Tolong banget, apa salah kami sebagai anak sejarah dalam masalah asmara? Bukankah hak setiap orang, dan anak sejarah tentunya, untuk jatuh dan membangun cinta? Ya ampun, cinta itu tidak memandang prodi dan jurusan. Cinta itu adalah hak segala bangsa ya, bangsat!

Asal kalian tahu ya, sejarah itu adalah pohon! Ia adalah sumber utama dari cabang ilmu lain seperti sastra, politik, sosial, dan sebagainya. Jadi, mestinya kami yang lebih ahli.

Anak jurusan lain belum tentu belajar sejarah, kan? Nah, kami sebagai anak sejarah juga belajar soal sastra, budaya, antropologi, politik, sosial, sampai ekonomi bahkan! Kenapa kesannya kami cemen sekali, bahkan di urusan percintaan.

Baca juga:  Kenapa Gajah Mada Lebih Terkenal daripada Hayam Wuruk?

Padahal, asal kamu tahu, jika dipandang menggunakan kaca mata asmara, kami tidak kalah saing sama anak jurusan lain. Boleh saja anak komunikasi dianggap paling stylist dalam romansa, anak sastra dianggap paling puitis ketika menceritakan asmara, anak pendidikan berbekal gombalan seperti ini: “Menjadi pengajar kehidupan bagi anak-anakmu kelak.” Haesh!

Baiklah, ini tidak bisa dibiarkan. Saya akan jelaskan ke kamu semua beberapa alasan kenapa anak sejarah adalah pacar yang ideal!

Anak sejarah tidak akan mengulangi kesalahan

Yang ini paling utama! Kalian tahu, kan, guna sejarah? Supaya mengetahui masa lalu, sekaligus menjadi pelajaran untuk masa depan! Makanya, karena tahu pola-pola dalam sejarah itu sering terulang, kami mencoba mempelajari hal buruk supaya tidak terulang. Anak sastra yang cuma jago nulis puisi tolong mundur dulu! Mandi dulu sana!

Kisah cinta melintasi waktu

Sebagai anak sejarah, pastinya kami memiliki pengetahuan berbagai kebudayaan dan peradaban manusia dari zaman baheula hingga modern. Kamu ingin merasakan kisah asmara abad pertengahan? Bisa. Ingin merasakan rasanya kisah romansa masa revolusi Indonesia? Bisa! Ingin merasakan kerja rodi kisah-kasih zaman pendudukan Jepang? Pokoknya bisa.

Cinta yang awet seperti catatan sejarah

Kami itu sangat telaten mencatat. Gimana nggak dicatat. Kamu pikir mengingat tahun-tahun penting itu gampang. Biar nggak gampang lupa, maka kami mencatat.

Orang bijak berkata: “Verba volant scripta manent!” Kata-kata lisan bakal terbang, sementara tulisan menetap. Kalimat-kalimat gombal basi anak sastra dan bahasa itu bakal hilang. Sementara itu, anak sejarah sudah berdedikasi sejak dalam kata-kata. Kami bakal memasukkan namamu, menjadi abadi dalam catatan sejarah anak sejarah. Tsaaah!

Baca juga:  Tere Liye yang Tertukar dengan Pelepah Pisang

Pengingat yang baik

Karena memegang teguh verba volant scripta manent, kami menjadi pengingat yang baik. Menghafal? Gampang! Lha wong sudah dicatat. Kalau lupa tinggal buka catatan. Oleh sebab itu, kami, anak sejarah menjadi orang-orang dengan ingatan yang bagus.

Kami nggak akan bikin berantem sama pacar karena lupa tanggal ulang tahun. Kami akan selalu mengingat masa-masa romantis, tanggal jadian, tanggal ulang tahunmu, tanggal lahir ibumu, tanggal lahir tetanggamu, bahkan kalau perlu tanggal lahir rektor. Kami memang berbakat jadi reminder.

Jika beruntung akan dibuatkan prasasti

Kami adalah pencinta yang berdedikasi. Kalau sudah cinta, bakal awet kayak batu candi. Gimana nggak awet, kami ini telaten banget merawat batu candi yang usianya sudah ratusan tahun dan terkubur lama. Cuma merawat hatimu itu pekerjaan mudah.

Siapa tahu, saking cintanya, kami akan bikinkan prasasti untuk memperingati kisah cinta kita berdua. Dipajang di ruang tamu. Disandingkan dengan vas berisi bunga cantik. Lumayan, kan, buat pamer.

Lumayan mantap bukan penjabaran saya di atas? Jangan salah, sebenarnya masih banyak alasan anak sejarah itu pacar ideal. Tapi saya sengaja cuma bikin 5 alasan saja. Kalau masih mau tahu, ya sana coba pacaran sama anak sejarah. Usaha dong!

BACA JUGA Mahasiswa Jurusan Sejarah adalah Kunci Kehidupan Hakiki atau tulisan-tulisa greget lainnya di rubrik ESAI.