Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Bidikan

Menapaki Minaret Pertama di Indonesia untuk Mendalami Pesan Tersirat Sunan Kudus

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
19 Februari 2026
A A
Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus. MOJOK.CO

Masjid Menara Kudus yang dibangun Sunan Kudus jadi simbol toleransi. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Membidik Cerita: Masjid Menara Kudus (Masjid Al-Aqsa) yang memiliki corak akulturasi antara Hindu-Buddha dan Islam, sekaligus menjadi ikon toleransi antar umat beragama yang dibuat oleh Sunan Kudus.

***

Awalnya, saya hanya ingin singgah sebentar di Masjid Menara Kudus untuk salat sekaligus istirahat sebentar setelah menelusuri stand-stand makanan di Festival Dandangan 2026. Namun, makin lama saya menapaki bagian dalam bangunan, rasanya seperti ditarik ke masa lalu. Saya terkesima dengan arsitektur dan ornamen Masjid Menara Kudus yang sarat akan makna.

Konon, sebelum adanya menara, masyarakat setempat percaya bahwa di Masjid Menara Kudus (Sayyid Ja’far Shadiq) terdapat sumur sebagai sumber kehidupan. Namun, berkembang sebuah mitos, bahwa air di dalamnya bisa menyembuhkan segala macam penyakit. 

Salat. MOJOK.CO
Wisatawan salat di dalam Masjid Menara Kudus. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sejak Sunan Kudus menyebarkan ajaran Islam usai keruntuhan Majapahit, masyarakat mulai menutup sumur itu menjadi bangunan menara agar tak berujung syirik. Ada pula yang menyebut bahwa bangunan menara berfungsi untuk mempercepat laju ajaran Islam dengan mengubur kitab-kitab agama Hindu dalam menara.

Dengan begitu, warga tak bisa mempelajari agama Hindu dan tetap merawat bangunan tersebut karena di dalamnya terdapat kitab suci. Meski begitu, Sunan Kudus menyebarkan ajaran Islam dengan cara halus yakni dengan prinsip dakwah bil hikmah dan tepo seliro (empati).

candi dalam masjid. MOJOK.CO
Warga berdoa di dalam bangunan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Guna melancarkan dakwahnya, Sunan Kudus melarang pengikutnya agar tak pernah menyembelih sapi saat Ramadan. Sebab, penduduk di sana yang mayoritas beragama Hindu masih percaya bahwa sapi adalah hewan suci alias kendaraan dari Dewa Siwa.

Alih-alih, memaksa pengikutnya untuk menyembelih sapi, Sunan Kudus menganjurkan mereka untuk menyembelih kerbau atau kambing demi menjaga toleransi. Hingga kini, ajaran tersebut masih berlaku dan terinternalisasi sebagai identitas kultural masyarakat Kudus.

Ikon Masjid Menara Kudus. MOJOK.CO
Menara Masjid Kudus berbata merah dengan hiasan keramik. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Berdasarkan jurnal berjudul “Menara Masjid Al-Aqsha Kudus: Antara Situs Hindu atau Islam”, Masjid Menara Kudus dibangun tahun 1540 Masehi. Dalam perkembangan arsitektur masjid di Jawa, bangunannya merupakan minaret pertama alias menara tinggi yang melengkapi sebuah masjid.

Alasan corak Hindu-Islam dari Masjid Menara Kudus masih dipertahankan

Semula, menara itu berupa candi. Ada pula yang berpendapat jika bentuknya mirip dengan Bale Kulkul di Bali yang mayoritas warganya beragama Hindu. Fungsinya sebagai tempat kulkul atau kentongan untuk menyebarluaskan informasi dari jauh ke desa-desa. 

peziarah unik. MOJOK.CO
Para peziarah beristirahat di pelataran Masjid Menara Kudus. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Seiring berkembangnya waktu, bagian atas menara dijadikan tempat memukul beduk sebagai penanda salat tiap lima waktu. Sebagai bentuk merawat cagar budaya tersebut, peziarah maupun wisatawan tidak diperkenankan naik. 

Biasanya, mereka lebih memilih berziarah ke makam Sunan Kudus yang berada di balik masjid. Sementara, bangunan utamanya tetap dipakai untuk salat berjamaah dan wisata religi. 

Makam sunan. MOJOK.CO
Makam-makam di samping tempat salat perempuan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Saking menariknya bangunan tersebut, dua orang pria dari Jepang, Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi datang ke Masjid Menara Kudus untuk menelusuri asal mula hiasan keramik yang menempel pada dinding menara di antara bata merah.

Hasilnya, para arkeolog itu menemukan produk keramik dari pabrik Vietnam. Cirinya bisa dilihat dari dominasi warna biru dengan motif bunga yang bernuansa Islam, seperti ornamen bangunan di Istanbul Turki. 

Iklan
Peziarah di luar masjid. MOJOK.CO
Suasana di luar Masjid Menara Kudus banyak toko yang menjual berbagai barang. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Hal ini menunjukkan betapa cerdasnya Sunan Kudus sebagai pendakwah sekaligus arsitek ulung yang memasukkan nilai kedamaian melalui corak masjid. Tak ada perseteruan, tak ada paksaan, melainkan tempat nyaman untuk orang-orang berserah kepada sang ilah.

Fotografer & Kurator: Aisyah Amira Wakang
Redaktur: Muchamad Aly Reza

LIHAT JUGA: Juru Selamat “Walkman” di Bantul yang Menolak Punah Musik Analog atau konten Membidik Cerita (foto jurnalistik) Mojok lainnya di rubrik Bidikan

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2026 oleh

Tags: bangunan bersejarahmasjid menara kudusminaretsejarahsejarah masjid menaraSunan KudusToleransi antarumat beragama
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat MOJOK.CO
Esai

3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat

23 Maret 2026
Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar.MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (7): Membaca Ajaran Sunan Kudus dari Sebungkus Garang Asem yang Pedas, Kecut, dan Segar

16 Maret 2026
Rekomendasi penginapan di Lasem, Rembang. MOJOK.CO
Sehari-hari

5 Penginapan di Lasem: Dari Megahnya Bangunan Tionghoa hingga Sunyinya Pengunjung

3 Februari 2026
PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah
Video

PKI dan Politik Ingatan: Dari Demonisasi hingga Penghapusan Sejarah

27 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Sebat Bareng menjadi upaya sederhana merespons kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS). Berlangsung di 16 daerah MOJOK.CO

Sebat Bareng di 16 Kabupaten/Kota: Cara Sederhana Tolak Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Pengingat Industri Kretek Masih Dibutuhkan Indonesia

31 Mei 2026
Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius Mengenal Perjuangan Rakyat Prancis MOJOK,CO

Instruksi Belajar Bahasa Prancis: Taktik Genius untuk Mengenal Perlawanan Rakyat Prancis

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.