Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Tak Menyakiti atau Membunuh Alam, Prinsip Hidup yang Membuat Warga Japan Kudus Bisa Hidup dari Kebun Sendiri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 September 2025
A A
Warga Desa Japan Kudus bisa hidup dari kebun sendiri berkat tak menyakiti alam MOJOK.CO

Ilustrasi - Warga Desa Japan Kudus bisa hidup dari kebun sendiri berkat tak menyakiti alam. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, adalah representasi nyata dari konsep “Swasembada Pangan”. Warganya tak takut kelaparan sekalipun tidak memiliki uang.

Tanah di sini begitu subur. Beragam jenis tanaman bisa tumbuh dan menghidupi. Semua itu bisa terjadi lantaran kesadaran kolektif warga setempat untuk hidup selaras dengan alam—dengan lingkungan.

***

Udara sejuk menyentuh halus kulit saya saat memasuki Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Padahal waktu itu sudah menjelang Zuhur. Hamparan hijau pepohonan membuat jalanan menjadi sangat teduh, hanya percik-percik kecil sinar matahari yang menyelusup.

Saya datang ke Japan pada awalnya karena desa ini dikenal sebagai salah satu sentra kopi di Kudus. Namun, setiba di sana, saya baru tahu bahwa kopi bukan satu-satunya komoditas yang tumbuh. Ada banyak tumbuhan lain. Misalnya yang tak kalah terkenal dari kopi: jeruk pamelo.

Sepanjang jalan memasuki Japan, saya mendapati pohon-pohon jeruk pamelo tumbuh rindang dan menjulang nyaris di setiap halaman rumah warga. Selain memberi hawa teduh, juga membuat saya agak kemecer melihat buah-buah jeruk berukuran sebesar bola voli pating grandul—kalau pakai istilah Kudusan.

Lamun siro mandi ojo mateni…

“Lamun siro landhep ojo natoni. Lamun siro mandi ojo mateni.” Papan bertuliskan slogan Jawa itu terpampang di kantor BUMDes Tunggak Jati, Desa Japan—tempat saya singgah. Konon merupakan pesan dari para sesepuh dari Desa Japan.

Secara harfiah artinya kurang lebih begini: Walau kamu tajam jangan menyakiti. Walau kamu ampuh jangan membunuh. Tapi apa makna sebenarnya?

Semboyan luluhur untuk warga Desa Japan, Kudus MOJOK.CO
Semboyan luluhur untuk warga Desa Japan, Kudus. (Aly Reza/Mojok.co)

Jawabannya saya dapat ketika bertemu dengan Restu (30), pemuda setempat yang sehari-hari berprofesi sebagai petani kopi. Bukannya kebun kopi, hal pertama yang Restu tunjukkan kepada saya justru salah satu sumber mata air yang mengaliri tanah Japan.

“Di sini ada beberapa sumber mata air, Mas. Kenapa tanah di sini subur, karena kami nggak kekurangan air,” ujar Resto.

Dari situlah saya akhirnya tahu makna dari “Lamun siro landhep ojo natoni. Lamun siro mandi ojo mateni.” Sekalipun punya kuasa, manusia tidak boleh semena-mena merusak lingkungan.

Di Japan tumbuhan dan mata air dijaga dengan baik. Tidak ada yang membabat pohon sembarangan. Terutama di kawasan sumber mata air. Sebab, dari akar-akar pepohonan itulah mata air terus terjaga. Alam lestari, manusia pun akan hidup.

Hutan tempat salah satu sumber mata air di Desa Japan, Kudus memancar dan terus dijaga MOJOK.CO
Hutan tempat salah satu sumber mata air di Desa Japan, Kudus memancar dan terus dijaga. (Eko Susanto/Mojok.co)

Pandemi tak berpengaruh apapun bagi warga Japan, Kudus

Hal senada diungkapkan oleh Sri Widodo (56), juga seorang petani kopi di Japan, Kudus. Kata Wid—sapaan akrabnya—rata-rata warga Japan, Kudus, memang mendaku diri sebagai petani kopi. Hanya saja, kopi bukan satu-satunya tanaman yang dirawat di sana. Ada jeruk pamelo, alpukat, nangka, pisang, dan beragam jenis sayuran.

Ada yang dijual, ada juga yang dikonsumsi sendiri. Artinya, warga Desa Japan bisa hidup dari dua sisi: hidup dari menjual hasil kebun dan menikmati hasil kebun sendiri.

Iklan

“Dulu waktu pandemi Covid-19, itu warga desa lain kelimpungan, di sini nggak pengaruh sama sekali. Karena kalau makan nggak bingung, ada pisang, ada nangka, sayur tinggal petik,” ujar Wid.

Warga Japan, Kudus merawat alam dengan sepenuh hati

Wid mengaku sejak kecil sudah akrab dengan kebun dan urusan tanam-menanam. Terutama kopi. Karena sejak SD kecil dia kerap diajak orangtuanya ke kebun.

Kebiasaan itu lantas membuat Wid tumbuh sebagai petani. Kata Wid, kebanyakan warga Japan, Kudus juga begitu. Lulus SMP maupun SMA, tidak banyak yang memilih kerja di luar. Tapi memilih menjadi petani. Hidup dari hasil bumi desa sendiri.

Ada nilai turun-temurun dipegang oleh Wid, dari orangtua hingga simbah-simbahnya. Yakni, merawat alam atau tanaman sebagaimana merawat anak sendiri. Dirawat dengan sepenuh hati.

Itulah yang kemudian membuat alam di Japan, Kudus, selalu memberi timbal balik melimpah bagi warga setempat. “Selain bisa untuk hidup sehari-hari, hasil kebun itu juga bisa untuk menyekolahkan hingga menguliahkan anak,” ucap Wid.

Sri Widodo, salah satu warga Japan, Kudus, yang hidup dari menanam MOJOK.CO
Sri Widodo, salah satu warga Japan, Kudus, yang hidup dari menanam. (Eko Susanto/Mojok.co)

Penghijauan Muria

Kesadaran atas pentingnya merawat alam dan lingkungan bisa dibilang memang sudah mandarah daging di kalangan warga Japan, Kudus. Di sisi lain, Kudus beruntung memiliki Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF). Keberadaan BLDF tentu membuat warga Japan tak merasa “berjalan sendiri” dalam upaya melestarikan lingkungan.

Japan barangkali hanya satu titik saja di Kudus yang dikenal subur dan warganya makmur berkat merawat alam dan lingkungan. Tapi, ada titik-titik lain yang tidak lebih beruntung.

Oleh karena itu, Bakti Lingkungan Djarum Foundation menggagas program konservasi lereng Muria untuk penghijauan kembali sekaligus menanam kesadaran pada masyarakat, bahwa jika menghidup-hidupi alam dan lingkungan, maka alam dan lingkungan akan menghidupi masyarakat, seperti yang terjadi di Japan, Kudus.

Untuk diketahui, Konservasi lereng Muria dimulai sejak 2006 dan Perbukitan Patiayam pada tahun 2020. Program tersebut berkolaborasi dengan masyarakat, petani, dan para pemangku kepentingan yang diharapkan dapat mempertahankan dan menjaga ekosistem di kedua kawasan tersebut.

Rasa manis yang tersisa

Petualangan saya di Japan, Kudus berakhir menjelang Magrib. Saya beruntung sempat ikut warga lain, Kasbun, memetik sekaligus mencicipi jeruk pamelo langsung dari pohonnya.

Kasbun dan istrinya sebenarnya sedang memetik kopi. Tapi di ladang Kasbun, ada sejumlah pohon jeruk pamelo yang juga siap petik. Kasbun dengan senang hati memetikkan dua buah untuk saya cicipi.

Kasbun, petani kopi dan jeruk pamelo MOJOK.CO
Kasbun, petani kopi dan jeruk pamelo. (Eko Susanto/Mojok.co)

Saat kulit dikupas, bulir-bulir merah ranum sudah membuat saya ngiler. Lalu saat saya cuil dan gigit satu potong, sensasi segar berair dengan rasa manis membuat lidah saya kaget.

Saya tentu sudah pernah mencicipi jeruk pamelo–umumnya disebut jeruk bali. Beli dari tokok buah. Tapi kerap kali mendapat rasa yang sepat bahkan pahit. Tapi untuk jeruk pamelo di Japan, benar-benar manis.

Di situlah saya menyadari sepenuhnya apa yang dimaksud “Lamun landhep ojo natoni. Lamun mandi ojo mateni.”

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Di Kudus, Sampah Tak Berharga Bisa Diubah Menjadi Uang dan Emas atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 3 Februari 2026 oleh

Tags: desa japanjapan kuduskopi japankopi kuduskuduspilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Purwokerto .MOJOK.CO
Urban

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android
Catatan

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO
Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

16 April 2026
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alfath, mahasiswa berprestasi UGM Jogja lulusan SMK di Klaten

Sempat Banting Tulang Jadi Kuli Bangunan saat SMK, Kini Pemuda Asal Klaten Dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi UGM

11 April 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Mahasiswa berkuliah S2 UGM. PTN terbaik, tapi pakai AI

Mahasiswa S2 UGM Nggak Menjamin Mutu, Kuliahnya Malas Mikir dan Ketergantungan AI

15 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.