Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat

Muhidin M. Dahlan oleh Muhidin M. Dahlan
23 Maret 2026
A A
3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat MOJOK.CO

Ilustrasi 3 Legenda Penunggang Motor Honda Astrea dan Yamaha Aerox Melawan 3 Setan Jahat. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK– Tiga orang pengendara motor Honda Astrea hitam, Astrea 800, dan skuter matic Yamaha Aerox mengalami teror, dua meninggal, satu orang wajah rusak kena air keras.

Dalam sejarah Republik, terutama sekali pada seperempat awal abad XXI ini, saya mencatat terdapat tiga penunggang motor legendaris yang dengan segala kisah di baliknya, menjadi karbu mengalirkan tungku energi untuk berkata “TIDAK!” kepada tiga setan jahat.

Ketiga penunggang motor ini, dengan nyali yang dilatih oleh tiap hari percikan api busi menjaga publik agar tetap berisik tanpa mesti gaya-gayaan pakai knalpot blombongan. Berisik tidak harus custom knalpot. Sebab, buzzer dan spion kekuasaan pun tahu knalpot blombongan adalah siasat mereka menguasai layar kaca dan linimasa media sosial dan algoritma video-video semenit.

Penunggang Honda Astrea hitam: Munir Said Thalib

Sejatinya, namanya pendek saja: Munir. Atau, jurnalis semasa menuliskannya dengan “Munir SH”. Yang khas dari Munir adalah kendaraannya saat ia bekerja menjadi pengacara publik probono; menjadi advokat pembela manusia dari segala lapisan tanpa pembatas suku, agama, dan ras yang dijahati setan berseragam ksatria.

Pasangan helm full face seperti ini umumnya motor-motor bermesin besar, seperti Binter atau Honda GL Pro. Tapi, Munir “agak laen”. Ia memasangkan helm “balap” itu dengan Astrea dengan speed “malas lari” yang kalau dipaksa ngegas pol, si motor berontak.

Dalam sebuah wawancara khusus dengan koran ibu kota beroplah paling besar se-Indonesia pada pekan pertama Januari 1999, Munir ditanya perkara “godaan ekonomi”. 

Pertanyaan itu tidak biasa karena faktanya, Munir adalah superstar. Majalah berita mingguan Ummat menobatkannya sebagai Man of The Year 1998 mengalahkan sejumlah nama beken seperti Amien Rais dan Abdurrahman Wahid.

 Munir tidak datang sebagai pemimpin dari organisasi dengan pengikut besar. Ia hanya pemimpin firma hukum kecil dengan kantor yang (masih) gitu-gitu aja saat esai ini dipublikasikan. 

Sudah pemimpin lembaga kecil berstatus nirlaba dengan kantor yang gitu-gitu aja di Ibu Kota, Munir yang menjadi pemimpinnya sehari-harinya menjadi penunggang motor Honda Astrea hitam tua dengan helm yang tidak match.

Tetapi, Munir penunggang motor berkarbu halus dengan jaket kulit tua yang menjadi kerikil dalam sepatu pasukan khusus terbaik Republik. Tidak sekadar kerikil kecil, Munir adalah kerikil tajam dalam sepatu pemimpin tertinggi pasukan elite Angkatan Darat bernama Komando Pasukan Khusus (Kopassus). 

Munir adalah mimpi buruk karier sang rising star Prabowo Subianto yang sudah hampir dipastikan menjadi pemimpin tertinggi institusi militer di tahun-tahun ketika Munir menjelajahi aspal Jakarta dengan motor bebek tua. 

Baca saja profil Prabowo: selepas komandan Kopassus, ia langsung ditunjuk memimpin Kostrad di bulan Maret 1998. Persis di bulan dan tahun yang sama Munir, sosok lelaki kurus cungkring, pendek, berambut dan berkumis kemerahan, mendirikan lembaga kecil dengan nama KontraS yang berarti pembeda.

Munir seperti mengirim pesan bahwa ia berbeda dengan Prabowo Subianto. Munir mengirim pesan kontras antara sipil dan militer itu harus diperjelas; wewenang dan gugus tugasnya pun harus hitam-putih, nggak boleh abu-abu, gak boleh dwifungsi, nggak boleh multifungsi. 

Tidak seperti anak motor vintage yang biasa atau geng motor bebek yang pada malam tertentu berkumpul dan menjejerkan motor mereka bermesin yang sama dengan standar ganda. 

Iklan

Motor Munir diparkir dengan “standar satu”. Sejarah hidup yang dipilihnya dengan sadar membuatnya mencopot dan membuang “standar ganda”. Ia tidak mau hidup di dua alam yang saling memunggungi. Menjadikan profesi advokasinya sebagai jalan memperkaya diri. 

Munir dan godaan ekonomi

Ia bukan perisai hukum bagi firma-firma maupun maatschappij. Munir dan lembaganya adalah selimut hangat bagi keluarga yang terluka luar-dalam oleh setan-setan yang tiap hari memanggul “toys” mematikan bernama bedil. 

Pilihan jenis guardian hukum seperti inilah yang membuat frase “godaan ekonomi” menjadi pertanyaan paling eksistensial. Seorang superstar dengan outfit tak ubahnya pencari rosok yang hilir mudik di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat, adalah ironi yang bikin ngilu hati. 

Jiwa yang tipis pastilah meronta-ronta; paling tidak segera membuang jaket kulit hitam tua yang salah sandang itu, motor tua najis bagi aspal bunderan HI yang high class itu, dan bersegera mencampakkan helm full face yang kaca mikanya sudah blur itu ke Pasar Hitam Jatinegara. 

Tapi, dengarkan jawaban Munir yang saya kutipkan secara verbatim dalam dua paragraf: 

“Godaan ekonomi itu saya melihatnya ada simpati masyarakat yang melihatnya secara tidak tepat. Misalnya, orang melihat saya ini kok tidak pantas menggunakan sepeda motor. 

Sebetulnya kalau saya terima juga bisa, tanpa konsesi apa-apa. tetapi justru lebih banyak orang yang menunggu untuk memaki-mami, kalau saya menerima itu. Saya sadar benar tentang itu.

Setiap perubahan diri kita akan diamati orang sangat besar. Jadi, sensitif, meskipun banyak orang bersimpati, ada yang menawari rumah gratis, ada dealer mobil yang menawari mobilnya dengan harga yang terserah saya menentukan, seribu rupiah pun tidak apa-apa asal ada syarat jual beli.

“Saya tidak mau menerima karena itu nanti menjadikan bias terhadap saya dan tim. Saya merasa harus menjaga moralitas tim. Kalau moralitas timnya kacau, disorientasi menguber yang begitu-begituan, hancur organisasi ini. 

Termasuk penghargaan-penghargaan ini, sama mewahnya dengan hal yang bersifat materiil itu. Makanya, saya lebih senang kalau yang dihadiahi itu KontraS daripada saya sendiri”. (Kompas, Minggu, 3 Januari 1999, hlm. 2) 

Garis bawahi istilah yang dipakai Munir ini: “bias”. Dari atas sadel motor bebeknya yang barangkali memalukan bagi para advokat Jakarta, Munir dan KontraS mengajarkan sikap hidup dengan “standar tunggal”. 

Dari puncak mercusuar paling sunyi di pulau terpencil dengan lampu kecil berkedip-kedip seperti laron, Munir memberitahu garis tebal integritas yang tak boleh digeser-geser.

Baca halaman selanjutnya

Munir di atas sadel motor tua Honda Astrea dan setan yang ingin membelinya

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 23 Maret 2026 oleh

Tags: esaihonda astreakontrasMunirsejarahYamaha Aerox
Muhidin M. Dahlan

Muhidin M. Dahlan

Dokumentator partikelir dan tukang kliping amatir di Indonesia. Salah satu host video sejarah #Jasmerah. Tinggal di Yogyakarta

Artikel Terkait

Astrea Grand, Motor Honda yang Menjadi Mitos MOJOK.CO
Otomojok

Astrea Grand, Motor Honda Penuh Dusta yang Celakanya Pernah Menjadi Mitos dan Membuatnya Dikagumi karena Motor Ini Memang Meyakinkan

5 April 2026
Alasan Kita Perlu Bersama Andrie Yunus di Tengah Pejabat Korup. MOJOK.CO
Aktual

ICW: Usut Tuntas Kekerasan “Brutal” terhadap Andrie Yunus, Indikator Bahaya untuk Pemberantasan Korupsi

14 Maret 2026
Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa Membuat Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja MOJOK.CO
Esai

Orang Minang Merantau ke Jogja: Iman Kuliner Saya Runtuh karena Gula Jawa, Rendang Asli jadi Terasa Asin Saja

13 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO
Sehari-hari

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.