MOJOK.COSejarah harusnya mencatat Donald Trump sebagai manusia tersakti abad ini. Lha nggak sakti gimana, dia melakukan banyak sekali kesalahan, tapi entah pakai ajian apa, kesalahan itu selalu bisa dimaafkan.

Saya sebenarnya bosen ngomongin Donald Trump, tapi ya dia kok anehnya ngasih bahan omongan terus hadehhh.

Kemarin, Trump diberitakan selamat dari percobaan pemakzulan yang digagas oleh DPR-nya Amerika Serikat setelah dinyatakan tidak bersalah atas dua tuduhan yang dituduhkan padanya: (1) melakukan penyalahgunaan kekuasaan dengan menahan bantuan militer yang hendak dikirim AS ke Ukraina. Trump diduga melakukan ini untuk menekan Presiden Ukraina Voldymyr Zelensky agar membantunya memenangkan pemilu 2020; (2) Trump didiuga menghalang-halangi upaya-upaya untuk menyelidiki hal ini.

Tuduhan penyalahgunaan kekuasaan yang diberikan DPR kepadanya jelas bukan tanpa bukti. Semua bermula ketika ada yang mengadukan dirinya setelah dia diketahui melakukan panggilan telepon kepada Presiden Ukraina yang mana, dari kesaksian beberapa orang, dia terlihat meminta Presiden Ukraina itu buat nyari informasi yang bisa memberatkan mantan wakil presiden AS yang akan menjadi sainganya, yaitu Joe Biden dan putranya, Hunter Biden.

Oh iya, kalau kalian bingung pemakzulan atau impeachment itu apa, sederhananya, itu tuh proses pengajuan tuntutan terhadap pejabat sipil dan pemerintah yang diduga melakukan pelanggaran, ini semua tertulis di konstitusnya AS.

Impeachment bisa dipahami seperti kita mengajukan gugatan terhadap seseorang di pengadilan. Bedanya, yang bisa mengajukan adalah DPR, dan yang nantinya melakukan pengadilan dan memutuskan apakah seseorang itu bersalah termasuk ngasih vonis, adalah Senat.

Well, kongres (yang isinya DPR dan senat) di Amerika memang punya punya keistimewaan level tinggi. Mereka bisa memakzulkan atau mencopot presiden, wapres, dan semua pejabat sipil Amerika (kalau perlu) ketika mereka terbukti bersalah atas pengkhianatan, penyuapan, atau kejahatan, dan pelanggaran lainnya.

Nah, keputusan apakah dia dinyatakan bersalah tergantung suara mayoritas (2/3 dari total 100 kursi di senat).

Dasar emang beruntung, si Trump ini berhasil lolos dari pemakzulan karena partai yang mengusungnya (Republik) memang partai mayoritas di Senat, jadi ya dari awal usaha DPR yang isinya orang-orang Demokrat sebenarnya sudah pasti sia-sia.

Dan Donald Trump tentu saja berperilaku seperti Donald Trump, dengan bilang kalau sejak awal, tuduhan-tuduhan itu emang upaya buat menggulingkan dia. Dia sama sekali nggak ngerasa bersalah padahal udah jelas ada bukti kalau dia salah. Takjub saya. Tapi hikmahnya, di sini kita tahu bagaimana kualitas demokrasi Amerika.

Baca juga:  Danny Oei Wirianto: Kalau Donald Trump Pakai Twitter, Jokowi Pakai Kaskus Dong

Ini bukan pertama kalinya Donald Trump bertindak seperti Donald Trump sih. Dan semua kegilaan yang dia lakukan, selalu berakhir dengan dia bebas dari tuduhan-tuduhan itu. Seakan-akan, orang-orang di sekitarnya memang sengaja menutup mata.

Saking jagonya melarikan diri, saya pikir Trump cocok buat ikut main film Now You Can See Me. Eh serius! Kalau nggak percaya, saya coba paparkan apa saja kegilaan yang pernah dia lakukan:

Pertama, tingkah lakunya nggak sopan. Baru aja kemarin dia nolak salaman sama Ketua DPR AS, Nancy Pelosi (orang yang berusaha memakzulkan dia). Ya marah sih marah, tapi nggak kenakan-kanakan gitu juga dong.

Kedua, dari kebijakan, dia suka bikin kebijakan yang nggak etis kayak misahin anak dan orang tua para imigran yang ketangkap di perbatasan AS dan Meksiko. Bayangin deh, masa orang tuanya dideportasi, tapi anak-anaknya dibiarin tetap di fasilitas penahanan! Mana banyak yang diterlantarkan lagi di sana….

Ketiga, dia bikin AS mundur dari Paris Agreement, perjanjian sejumlah negara untuk membatasi kenaikan suhu Bumi maksimal 2 derajat Celsius di atas suhu Bumi pada masa pra-Revolusi Industri. Trump ini emang rintangan besar buat perjuangan melawan perubahan iklim.

Keempat, dia suka melanggar kode etik dan konstitusi AS. Ngumumin pengin perang lewat Twitter kemarin contohnya, atau ngasih-ngasih perintah tanpa nunggu persetujuan kongres dulu.

Kelima, dia suka melakukan hal mencurigakan kayak melakukan pembicaraan dengan Putin tanpa ditemani pendamping. Coba kalian pikir apa yang bisa dibicarakan dua pemimpin negara ketika nggak ada yang bisa mendengarkan mereka.

Keenam, dia juga nggak transparan dengan pendapatan, dengan tidak merilis laporan pajaknya. Namanya banyak disebut di skandal yang dibeberkan Wikileaks, tapi dia diem aja

Ketujuh, rasis, rasis parah. Dan dia melakukan tindakan rasisme dengan terang-terangan. Dia memosisikan orang kulit putih jadi ras tertinggi di atas orang Asia, dan orang latin dan berkulit hitam disebut dari shithole alias lubang piiiiiip. Di eranya Trump ini, Make America Great Again dibaca Make Amerika White Again.

Kedelapan, dia juga misoginis, selain punya skandal seks, dia juga sering memperlakukan wanita secara tidak pantas.

Baca juga:  Apa Salah Setya Novanto, Apa Dosa Fadli Zon?

Kesembilan, dia homofobik. Dia pernah mau ngeluarin tentara transgender dari kesatuan militer Amerika.

Kesepuluh, dia nggak punya respek sama negaranya sendiri. Masak lagu kebangsaan AS dibercandain?? Orang lain aja disuruh berdiri tegak dan nyanyi serius, eh dianya malah berlagak jadi dirigen.

Kesebelas, dia suka menghina negara lain. Yang kocak nih, Trump pernah ngecein Kim Jong Un pendek dan gendut, lalu menyebutnya little rocket man. Dia juga pernah ngancem bakal menekan tombol nuklir kalau Korea Utara mecem-macem. Eh tapiii, pas ketemu sama orangnya, dia malah muji Kim Jong Un!

Kedua belas, dia juga suka muji-muji pemimpin otoriter yang punya masalah pelanggaran HAM akut kayak Erdogan, Putin, dan Durtete. Lalu melihat Presiden China Xi Jin Ping sebagai panutan.

Ketiga belas, tidak melihat demokrasi sebagai sesuatu yang dia idamkan. Buktinya, dia hobi banget ngomentarin pemilu AS, padahal ya dia dipilih lewat pemilu itu sendiri (dengan kecurigaan dibantu Rusia biar menang pemilu).

Keempat belas, dia juga menyerang kebebasan berpendapat di AS dengan bilang kalau media suka bikin hoaks tentang dirinya. Padahal dia sendiri yang suka ngomong dilebih-lebihkan, dan kadang mengada-ngada. Kalau avatar bisa mengendalikan air, api, tanah, udara, Trump di AS ini bisa mengendalikan kebenaran semua-maunya dia.

Kelima belas, dia juga nggak ngerti konsep pembagian kekuasaan. Segala pengin dia kerjain sendiri. Bahkan dengan pede dia bilang kalau Amerika cuma butuh dia seorang. Terus masuk-masukin keluarganya ke dalam pemerintahan.

Sebenarnya masih ada 35 dosa lagi, tapi saya udah capek. Intinya, Donald Trump nih udah kayak Thanos aja,  he is inevitable, tidak bisa tersentuh. Dengan banyaknya kontroversi yang dia buat, tapi dia bisa melenggang begitu saja, ajian apa yang dia gunakan? Apakah dia melakukan gendam kepada seluruh warga Amerika?

Kayaknya emang Trump aja deh yang bisa menormalisasi pelanggaran. Melihat ini saya jadi sadar kalau Setya Novanto mah nggak ada apa-apanya!

BACA JUGA Donald Trump-Kim Jong Un: Dulu Saling Ejek, Sekarang Udah Baikan atau artikel lainnya di POJOKAN.