Tragis betul Bu Mega ini. Dandhy si anak drone yang bikin status di medsos, Bu Mega yang dimaki netijen. Abdi Edison si tukang lapor guru polisi karena Dandhy yang memang dandi, pintar, dan ganteng maksi itu lebih banyak main drone ketimbang belajar di kelas dan mengerjakan LKS, Bu Mega yang kena gempor. Padahal Pak Jokowi yang presiden RI dan Pak Wira yang menkopol-nya.

Apa salah Bu Mega? Mengapa Bu Mega yang harus menanggung semua kenakalan dan keisengan kalian? Tidak bisakah Bu Mega hidup lebih tenang dan berfoto-foto saja penuh puja saat hari-hari kenegaraan tiba? Mengapa urusan cemen anak medsos mesti jadi urusan Bu Mega juga?

“Kami bela marwah Ketua Umum kami,” teriak lantang si Abdi Edison pencari makan muka berkop demokrasi.

Woi, Bu Mega nggak usah kau bela-bela pun marwahnya tetap harum mewangi. Kau masih belum jadi, maaf, spermatozoid pun belum, marwah Bu Mega itu sudah megah. Dia itu anak Pak Karno. Dia itu darah biru Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bapaknya yang menggali Pancasila dan baca Proklamasi, mamanya yang bikin bendera pusaka kepunyaan Republik. Kurang apa coba.

Kaukira mainnya Bu Mega di tempat-tempat jorok dan mesum? Dia itu main tali dan petak umpetnya di taman-taman asri antara Istana Negara dan Istana Merdeka. Hidupnya kalis dari segala yang sembrono di bawah lindungan tentara yang patriotik macam Tjakra. Senyumnya yang menawan dan mata kecilnya yang bening melihat semua yang megah-megah: tamu-tamu negara di bawah kolong langit yang megah, pesta yang megah, makanan yang megah, rumah tinggal yang megah, lautan manusia yang jumlahnya megah saat bapaknya memberi tausiah.

“Anak manja, dong, Bu Mega itu?”

Woi, si jempol nyinyir, tukang kliping ini memberitahumu, ya: Mega dan megah itu beda sehuruf belaka, seperti halnya megah dan mewah. Hidup Bu Mega memang megah, tapi sekaligus dipenuhi mega-mega hitam yang tebal. Hidupnya megah, tapi belum tentu mewah.

“Woi, Dandhy, minta maaf sono dengan Bu Mega,” mulut Masinton Pasaribu nyerocos. Ceile, abangnya dedek-dedek aktivis ini, dikiranya Bu Mega tumbang hanya dengan mainan medsos kek gini?

Masinton masih pakai celana pendek biru di SMP Negeri Labuhan Deli sana, Bu Mega sudah menapaki jalan gahar di medan politik yang pelik, kasar, dan bertabur ranjau di mana-mana.

Masinton, Abdi Edison, dan ribuan duplikat keduanya yang berkerumun di PDIP saat ini, saat ortu mereka bahkan belum ketemu, Bu Mega bersama papi, mami, dan saudara-saudarinya sudah menjadi eksil dalam negara yang mereka dirikan. Oleh jenderal-jenderal ultras, Pak Karno menjadi tapol tanpa uang pensiun.

Bu Mega bertanya kepada papinya saat mereka keluar (diusir) dari Istana Negara/Merdeka, “Pak, kalau nanti saya mengambil pensiun Bapak di mana?”

“Saya nggak tahu,” jawab Pak Karno.

Bu Mega tentu saja kaget. “Saya nggak punya uang, Bapak nggak tahu pensiunnya berapa, di mana nyarinya. Kita makannya pakai apa, kita menyekolahkan adik-adik pakai apa,” tutur Bu Mega.

Nirharta saja Bu Mega tegak, eh ini ada yang seakan-akan melakukan pembelaan, tapi sejatinya, maaf-maaf saja, carmuk sih.

Kalau mau carmuk, jangan kasar begitu dong caranya. Lebih elegan, lebih soft. Baca riwayat hidupnya lebih tekun, lebih detail, lebih rinci. Kalau carmuk begitu nggak digubris Bu Mega karena memang niatnya sudah nggak baik, tapi paling nggak sudah merasakan bagaimana asyiknya membaca.

Bu Mega itu kedap bully, Sodara. Sudah kenyang. Dikatai bodoh dan nggak punya otak aja pernah, hanya karena ia memutuskan drop out dari Jurusan Psikologi Universitas Indonesia. Pem-bullly Bu Mega itu kelasnya Jenderal Besar dengan cara menutup pintu pendidikannya. Bu Mega kepengin sih kuliah di luar, tapi dibisiki jangan ambil karena itu jebakan betmen; sekali keluar, nggak bisa lagi masuk Indonesia. Kek orang-orang Kiri yang kuliah dan gentayangan di negeri orang.

Ya sudah, Bu Mega pasrah. “Pokoknya saya tahu otak saya tidak bodoh. Jadi, saya putuskan berhenti kuliah. Nggak ada biaya, saya mesti menyekolahkan anak.”

Bu Mega itu menyerap semua kekuatan suka-duka semesta politik Indonesia. Bu Mega itu banyak diam bukan karena cemen. Bu Mega itu sejak dahulu seperti spons yang diam dan menyerap semua energi yang sedang berkecamuk dalam politik nasional. Sejak naik ke panggung politik tahun 1986, karakter Bu Mega nggak kek toa yang bikin pekak.

BACA JUGA:  Kalau Bu Mega Tak Mau Berbaris Bela HAM ’65, Kalian Mau Apa?

Bu Mega itu lautan teduh, tenang, tapi penuh jebakan palung. Nggak ada dalam kamus Bu Mega demam panggung. Sejak remaja ia sudah jadi penari; dan panggung besarnya, ia bersama saudari-saudarinya, Rachma dan Sukma, menari di hadapan hampir 100 ribu massa pada upacara pembukaan Ganefo di Gelora Bung Karno, 10 November 1963.

Mental Bu Mega itu, saya beri tahu, ya, Bung dan Nona, bukan seperti remah rempeyek. Saat naik panggung politik pertama kali tahun 1986 itu, Bu Mega sudah diimajinasikan masa depan politiknya serupa Cory Aquino di Manila yang jadi pimpinan puncak pada bulan Februari di tahun yang sama. Ketika orang-orang dewasa masa itu dihebohkan Piala Dunia di Meksiko dengan mengelu-elukan Maradona; saat empat tokoh PKI (Njoto, Sjam Kamaruzzaman, Pono, dan Bono) ditembak mati dan Jim Supangkat masih hilir mudik keliling seantero Jakarta dengan status reporter bidang kesehatan; ketika MUI marah dengan sandiwara radio Saur Sepuh karena dikhawatirkan merampas waktu mulia dedek-dedek untuk mengaji dan menyebarkan konten porno (mesti karena desahannya Lasmini nih); dan saat tabloid kuning mengipas-ngipasi pernikahan beda agama Jamal Mirdad dan Lydia Kandou, Bu Mega sudah disibukkan dengan konsolidasi partai se-seantero Jakarta.

Ketimbang Guntur dan Rachmawati yang memang aktif dan sudah punya nama sejak Pemilu 1971, nama Bu Mega seperti tenggelam. Tapi, Bu Mega bukan batu. Ia spons, sekali lagi. Bu Mega itu spons kuning seperti SpongeBob.

Sebagai pembelajar politik yang alamiah, Bu Mega melejit dan surut kembali ke titik nol. Serupa nama Ellyas Pical membubung ke mana-mana setelah menang melawan Cesar Polanco. Bu Mega naik bukan dengan omongan dan sesumbar, melainkan dengan karakter dan perwatakan natural yang memang seperti mega: tenang, nggak banyak gerak dan berisik, tapi bikin pilot mana pun waswas menerobosnya.

Bu Mega juga nggak banyak menebar tawa yang bikin petani Kendeng mau muntah seperti Ganjar Pranowo yang saat Bu Mega menapaki politik riil masih berstatus akil balig.

Kongres Luar Biasa pada 2—6 Desember 1993 di Surabaya memang gagal mendudukkannya sebagai orang nomor satu di PDI. Namun, itu tak terlalu lama.

Ibu Kota Jakarta kemudian jadi saksi, tepat pada Hari Ibu, pukul 9.20 malam, tanggal 22, bulan Desember, tahun 1993, Bu Mega menjadi Ketua Umum DPP PDI hingga 1998.

Apa Mega larut dalam pesta? Tentu saja tidak. Bu Mega tidak di tengah arena. Ia selalu ada di kamar; baik di Surabaya maupun Jakarta. Ia memenangkan pertempuran politik yang sengit dari kamar. Politik kamar Bu Mega itu mistis, Sodara!

Mulai saat itu, Bu Mega menjadi pembangkang yang liat; pembangkang yang tak mudah disentuh siapa pun. Si dukun peramal politik Golkar Suhardiman boleh ngoceh apa saja: soal aksi yang menamakan diri mirip band cadas, sepultura (sepuluh tuntutan rakyat), yakni SDSB, tanah, HAM, peristiwa Haur Koneng, tragedi Nipa, kasus Lampung, kasus Dili, Aceh, konglomerasi, dan perburuhan. KLB PDI yang mana Bu Mega di sana bahkan dituding sebagai usaha pembusukan citrawi pemerintah. Tak langsung menudingnya sebagai PKI sih, tapi diseret-seret sebagai cara-cara PKI.

Jika Bu Mega politisi kacangan, sudah dibui tuh doi saat kerusuhan Kudatuli 27 Juli 1996 meletus di Ibu Kota. Nyatanya tidak. Bu Mega pembangkang yang liat dan tak mudah disentuh. Alih-alih Bu Mega yang sibuk, malah yang diburu Budiman Sudjatmiko dan para pimpinan teras Partai Rakyat Demokratik (PRD). Sampai-sampai dengan gagah Andi Arief mengeluarkan statemen yang saya kutip dari kulit muka majalah Balairung UGM di tahun 1997: “Kami berdiri di belakang kepemimpinan Budiman dari balik penjara.” Wow, pemuda pejuwang yang loyal. Sekarang? Masih kok kangen-kangenan lewat twitwar.

Bu Mega nyaris sempurna mereguk buah politik yang sudah dibangunnya secara spartan saat PDIP keluar sebagai pemenang Pemilu 1999. Pengumuman pemenang yang berlarut-larut ini sempat membuat Bu Mega sebal dan, tidak seperti biasanya, ia menggunakan momentum 27 Juli (1999) itu naik mimbar di Istora Senayan Jakarta dan berpidato: “Sudah lama rakyat dibuat menderita karena aspirasinya tak pernah didengar oleh wakil rakyat di MPR. Rakyat menginginkan terjadi perubahan kepemimpinan nasional. Insyaallah, fajar timur akan menyingsing.”

BACA JUGA:  Kalau Opung Luhut Panjaitan Adalah Supersub, Apa Posisi Mbak Puan Maharani?

Dan, Anda tahu sendiri, cahaya fajar itu dibelokkan oleh, siapa lagi kalau bukan pemilik sah matahari (logo Muhammadiyah), ya, Ketua Muhammadiyah Amien Rais. Amien yang punya matahari nggak rela fajar jatuh ke tangan perempuan pembangkang liat yang nggak banyak sesumbar itu.

Bangkrut jiwa Bu Mega ditelikung macam begitu? Tidak, Sodara. Seperti halnya Timnas yang berulang-ulang ditelikung untuk jadi juara di Asia Tenggara oleh Malaysia, Thailand, dan Singapura, tetap ikut kompetisi sesuai dengan aturan main.

Kesabaran Bu Mega menunggu akhirnya berbuah saat Gus Dur ditekel dengan kasar oleh Amien Rais cs dari tampuk kepresidenan dan membawa Bu Mega menjadi presiden perempuan pertama di Indonesia.

“Kalau saya ini bodoh atau tidak berpikir dengan baik, kok saya bisa menjadi presiden? Untuk punya leadership, kan tidak bisa kalau otaknya bego. Mana mungkin bisa ngomong sama orang kalau kita bego dan melongo? (Hanya orang bego yang) bisa disetir,” kata Bu Mega.

Termasuk, nah, yang ini, tepat 659 hari menjabat presiden, Bu Mega mengeluarkan maklumat perang atas Gerakan Aceh Merdeka yang di saat bersamaan perang antara Inul Daratista vs Bang Haji Oma Irama masih basah-basahnya melontarkan ludah debat di infotenmen.

Maklumat bernomor 28/2003 itu dibacakan Pak Beye sebagai Menkopolkam di kantor Menkopolkam disaksikan lambang garuda besar yang tergantung di dinding dan tetap melek hingga dini hari. Maklumat perang ini diteken Bu Mega setelah perundingan RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Tokyo Meeting gagal. GAM lebih memilih merdeka ketimbang menerima otonomi khusus dan meletakkan senjata.

Bu Mega tak mau itu. Dan, lahirlah jargon yang nyaris menjadi tagline para ultras nasional kekinian: NKRI Harga Mati. Tahun 2017, jargon itu diterjemahkan ke bahasa Inggeris menjadi: Dead Price NKRI.

Mengagetkan, sih. Para penonton Sheila On 7 di Parkir Timur Senayan Jakarta bertajuk Konser Simfoni Merah Putih juga tak menduga bahwa malamnya perang diumumkan Pak Beye atas restu Bu Mega.

Sebelum kalian semua menggosok-gosok dua sosok ini, mereka pernah bekerja bersama dalam sebuah aksi perang di era Reformasi hingga alam turun tangan menghentikannya dengan membawa malapetaka tsunami di bumi Serambi Aceh.

Tapi, Bu Mega tak sendirian mengambil tindakan perang atas GAM. Bahkan sosok sehumanis Nurcholish Madjid, alih-alih melakukan protes justru menyatakan, “Dari dulu saya katakan, GAM itu ilegal. Selain ingin memisahkan diri, mereka juga memiliki senjata ilegal.”

Begitu. Bu Mega itu sudah mengarungi kehidupan politik yang terjal saat semua pembelanya yang paling sengak teriakannya masih polosan.

Jadi, kalau mau membela Bu Mega, nggak usah jadi tukang ngadu, mau jaga nama ini, nama itu. Apalagi menyeretnya ke temlen medsos. Lelaki lemah. Hadapi saja Dandhy si anak drone itu secara cerdas dan cermat, bukan dengan cara-cara tukang ngadu. Ngadunya ke polisi lagi. Eneg dan cemen betul jadi lakik.

Barangkali yang diperlukan Bu Mega untuk mengabadikan setiap amal baik dan bakti politiknya bagi Ilmu Politik adalah pajak dan royalti seorang penulis yang kredibel dan berwibawa untuk menuliskan secara detail garis hidup perempuan pembangkang yang tak banyak omong ini.

Presiden Sukarno punya otobiografi yang otoritatif (Cindy Adams). Presiden Soeharto juga (Ramadhan K.H.). Begitu pula Presiden Habibie (Bilveer Singh). Presiden Gus Dur tentu saja punya (Greg Barton). Lah, Bu Mega?

Di tahun 2014 saya mengira buku Megawati Anak Putra Sang Fajar adalah buku biografi otoritatif untuk Bu Mega. Semua toko buku di semua mal di sepanjang Sudirman-Thamrin Jakarta Pusat sudah saya masuki. Nihil. Satu-satunya harapan saya adalah Toko Buku Gramedia Pusat di Matraman. Jika tak ada, wasalam. Hampir sepuluh kali pelayan toko bolak-balik antara gudang dan rak hingga tangannya mengangsurkan seeksemplar buku, DAN SAYA KUCIWA.

Ini mah lebih tepat sejarah ludah. Dari 463 halaman, hanya 50 halaman yang menarik, termasuk cerita uang pensiun yang saya kutip di bagian awal esai ini. Sisanya komentar orang. Bu Mega itu nggak banyak bicara, eh, disodorkan buku, maaf, malah buku berkategori ludah (kutipan mulut orang-orang tentang Bu Mega).

No more articles