MOJOK.CO – Peluang setiap hamba, laki dan perempuan, masuk neraka itu sebenarnya sama, 50:50, tapi kalau di mulut banyak ustaz perbandingannya kok bisa jadi 85:15 ya?

Penghuni neraka terbanyak berasal dari kaum perempuan. Konon karena mereka suka bergunjing, sering mengeluh, dan durhaka terhadap suami. Nah, poin ketiga itu yang paling sering dijadikan alasan kenapa objek dakwah lebih banyak diprioritaskan kepada perempuan.

Ketika acara kawinan lalu sesi sampai khotbah pernikahan, sangat sering saya dengar pencemarah akan membahas serta membandingkan hak suami dengan kewajiban istri. Seolah-olah suami yang hanya bertugas memberi nafkah lahir dan batin, kemudian wajib dilayani sepenuhnya.

Contoh-contoh kelakuan buruk selalu saja berasal dari istri, misalnya ketika suami pulang kerja terus disambut istri yang masih beraroma bawang. Sementara suami boleh-boleh saja pulang dengan bau apek. Istri protes? Heh, masuk neraka ancamannya.

Kalau suami selingkuh katanya karena istri tidak pandai memijit. Kalau suami lebih suka jajan di luar karena layanan istri tidak memuaskan. Kalau suami lebih suka bercengkrama dengan perempuan lain, karena istri di rumah bawel.

Jadi kelakuan suami tergantung perlakuan istri di rumah. Suami betah di rumah, jika istri siap memenuhi segala kebutuhan suami. Perempuan suka keluyuran, bukan kesalahan suami tidak memanjakan istrinya di rumah tetapi karena istri memang perempuan tidak tahu diri.

Yapps, begitulah yang terjadi. Kesenjangan-kesenjangan ini terpelihara dengan sangat rapi di masyarakat.

Perempuan yang paling baik menurut konstruksi yang dibentuk ustaz laki-laki adalah yang patuh, bisa diatur ke arah mana saja maunya suami. Kalau diibaratkan laki-laki adalah supir sementara perempuan adalah kendaraannya.

Ditancap, ia maju. Direm, ia berhenti. Dibelokkan, ia manut. Kalau sering mogok, tinggal diganti dengan yang baru. Bagaimana bisa menenangkan hati apalagi memuaskan kalau sering mogok?

Perempuan merupakan kendaraan yang harus siap ke mana saja setelah diberi materi berupa bahan bakar dan lebih harus giat lagi setelah diberi perawatan.

Baca juga:  Perceraian dan Feminisme

Sayangnya, perempuan bukan benda yang tidak punya pendirian atas dirinya sendiri. Individu yang secara anatomi ini meskipun berbeda dari jenis kelamin lain, bukan berarti makhluk yang tidak lengkap.

Karena sering dianggap kurang baik dari segi pemikiran yang tidak logis apalagi tingkah laku kadang tidak terkontrol, perempuan pun banyak mendapat aturan khusus dari lingkungannya.

Yang sebenarnya terjadi adalah karena perempuan tidak mengikuti kemauan dari pikiran laki-laki, dan masyarakat pada umumnya tidak menyadari bahwa perempuan punya pikiran sendiri yang sesuai dengan gendernya.

Sepertinya, laki-laki selalu menyimpan tipe pasangan ideal dalam pikirannya sehingga jika memiliki pasangan yang tidak sama dengan khayalannya itu akan dianggap tidak sempurna dan tentu saja butuh perbaikan.

Jadi yang sebetulanya perlu direkonstruksi, si perempuan sebagai makhluk nyata atau makhluk imajinasi di kepala laki-laki?

Materi dakwah yang paling laris selanjutnya adalah batasan aurat. Perempuan itu harus tertutup dan tidak boleh lebih atraktif dalam gerakannya. Menutup bukan berarti membungkus semata. Fungsinya melindungi jadi kalau kainnya tipis, masih bisa digigit nyamuk.

Lagi-lagi sebenarnya melindungi yang sering dijelaskan pendakwah bukan melindungi kaum perempuan dari ancaman yang lain. Sampai sekarang saya belum pernah dengar ada ustaz yang menjelaskan fungsi menutup aurat dari segi selain demi membentengi diri dari nafsu laki-laki terhadapnya.

Katanya, otak mesum laki-laki itu berada di jidat—garis terdepan dari tubuhnya. Jika mata sudah melihat, sinyal-sinyal yang dikirimkan ke pusat mesum itu sangat susah terkontrol.

Dan karena hasrat bersetubuh bukan pada pasangan sah itu adalah dosa maka mereka harus mengatur sedemikian rupa sehingga terhindar dari marabahaya libido.

Tetapi anehnya, sumber libido dilimpahkan kepada bukan dari tubuhnya sendiri melainkan menyeberang ke tubuh perempuan. Itulah kenapa tubuh perempuan mesti diatur sesuai kemauan mereka sebab jika libido laki-laki tidak terkendali, perempuan yang salah, yang masuk neraka. Waduh gini-gini amat ya?

Baca juga:  Memahami Pemikiran “Akhi-Akhi Cupet” yang Ogah Menikahi Perempuan Berpendidikan Tinggi

Barangkali ke depan, kalau seandainya hewan kayak sapi bisa menimbulkan libido, mungkin ia pun perlu memakai baju.

Atau coba kita balik barang sejenak saja.

“Wahai kau, laki-laki tampan. Lengan bajumu kependekan, otot-ototmu menggoda.” Atau “Hai ganteng, kok celananya ketat gitu, bikin kami nafsu.” “Hey, kau makhluk tak tahu berpikir matang, kau biarkan celanamu robek dan memperlihatkan kekuatan pahamu. Tutup. Tutup. Segera tutup.” “Jangan gerak macam-macam, nanti perut sixpack-mu kelihatan.” “Pakai baju longgar sayang, entar tante sebelah ganggu.” “Boksermu nerawang, bahaya.” “Pakai baju yang ini, lebih kelihatan jantan.” “Oohhhh baju itu warnannya mencolok. Haram.”

Gimana? Nyaman nggak digituin, Ustaz?

Dan katanya, perempuan adalah makhluk yang tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Hal yang kemudian dipakai sebagai analogi bahwa perempuan itu “bengkok” karena berasal dari tulang rusuk. Lalu analogi ini diarahkan untuk mengatakan bahwa karakter perempuan pada dasarnya sulit di-“lurus”-kan.

Paling sering kita mendengar mereka bilang, “Jangan paksa meluruskan tulang rusuk, bisa-bisa mereka patah, perempuan sudah ditakdirkan demikian.”

Emang kenapa sih tidak memakai analogi dengan pemaknaan yang lebih baik?

Misalnya, seperti tulang rusuk yang tidak lurus sebenarnya secara anatomi menyesuaikan organ-organ yang dilindunginya. Ibarat sebuah pelukan yang menjaga mereka tetap pada tempatnya dan menjalankan fungsinya dengan baik.

Dan sebagaimana tulang rusuk yang melindungi alat-alat vital penunjang hidup kayak jantung dan paru-paru, seorang perempuan pun rela retak dan patah demi anak, keluarga, dan orang-orang yang dicintainya bisa tetap selamat.

Meski di seberang sana selalu dinyinyirin sebagai ahli neraka. Selalu diingatkan kewajiban-kewajibannya oleh ustaz-ustaz yang di sisi lain lebih gemar menuntut hak-haknya sebagai manusia.

Sampai lupa, bahwa si ustaz pun dilahirkan dari rahim perempuan dengan mempertaruhkan nyawa. Masa iya, perempuan disebut lebih mudah jadi ahli neraka ketika di telapak kakinya terdapat surga?