MOJOK.CO – Betapa nikmatnya jadi orang Kristen. Begitu mualaf, langsung jadi pakar perbandingan agama. Jadi ustaz mualaf dengan ratusan sampai ribuan umat.

Ngelihat banyak berita tentang penolakan renovasi gereja di Karimun, Kepulaua Riau, sama penolakan pelaksanaan perayaan Rabu Abu di Cilegon, kamu sedih nggak sih?

Kalau saya sih nggak sedih, biasa aja.

Hawong perkara penolakan pendirian gereja kan sudah biasa, sama kayak penolakan acara-acara yang berkaitan dengan acara orang Kristen, sudah jadi “makanan” wajib umat Kristiani. Jadi nggak kaget-kaget amat, apalagi pake acara marah-marah. Ngapain?

Bukan, bukan karena saya ini masih Katolik ber-KTP Islam dan masih males-malesan ke gereja. Saya nggak kaget-kaget amat, ya karena hal semacam ini sudah biyasaaaa banget terjadi, di negeri yang tinggi sekali tingkat toleransinya ini.

Makae, mau marah-marah juga percuma. Ngajak berantem apalagi, kayak berantem sama anak kecil. Menang malu, kalah malu-maluin. Nggak bisa dibanggain sama sekali.

Makanya, timbang marah-marah mending disenyumin aja, diketawain aja, sambil nanya sama Yesus.

“Sus, becandanya gini amat sih? Mbok bantuin gitu lho. Mosok mau bikin gereja biar bisa beribadah bareng-bareng aja susah. Katanya, ‘Mintalah, maka Aku akan memberi,’ lha itu, minta tolong biar gampang ngediriin gereja aja, kok nggak mau bantu sih?”

Etapi, ngomong kaya gitu sama Tuhan Yesus, kok malah jadi kepikiran yha, mau dijawab apa, jangan-jangan malah jawab gini;

“Halah, kayak gitu aja bingung. Memangnya di Kitab Suci, ada gitu, saya nyuruh kalian-kalian bikin gereja? Nggak ada kan? Katanya percaya kalau Roh Kudus itu ada di hati kalian, makae kalian mau jadi orang Kristen, kenapa harus susah-susah bikin gereja, wong berdoa di mana aja kan sama saja, yang penting Roh Kudus mengurapi kalian semua.”

Blaik to? Ambyar tenan.

Jadi kepikiran, itu, para ustaz mualaf, yang terkenal, kaya raya, dan banyak umatnya, jangan-jangan yha mereka murtad dari umatnya Yesus, karena kebanyakan ‘ngobrol’ sama Yesus? Terus dapet jawaban-jawaban selow semacam itu.

Secara, banyak banget jew, dari mereka, yang kasih penjelasan selow, tentang perjalanan mereka menjadi mualaf.

Tentang sejarah mereka menemukan panggilan, calling-calling dari agama lain, tanpa mikir, itu segala premis yang mereka pakai, hasilnya cuma zonk, kalau dicocokologikan dengan kenyataan kehidupan seorang Kristen.

Kayak Ustaz mualaf Steven Indra Wibowo yang lagi ngehits ini, yang ternyata seumuran saya (nggak penting banget). Si kokoh ustaz mualaf, yang sebelas dua belas sama Ustaz Felix Siauw ini, ngakunya anak seorang aktivis Gereja GKI alias Gereja Kristen Indonesia, juga aktivis Gereja Bethel.

Ini aneh lho, bisa gitu, ada yang aktivis Gereja Protestan (GKI), sekaligus gereja Karismatik (GBI/Gereja Bethel Indonesia). Aneh bin ajaib banget pokoknya wes.

Tahu nggak anehnya di mana?

Baca juga:  Semudah Itu kah Seorang Muslim Kamu Bilang Murtad?

Aktivis gereja Protestan, adalah orang-orang yang ditunjuk oleh yayasan pengelola gereja. Yang mana biasanya, berasal dari sekolah-sekolah teologia, alias sekolah agama. Sementara, yang namanya gereja Karismatik, semacam Gereja Bethel ini, biasanya, gerejanya adalah gereja milik pribadi, tidak dikelola oleh yayasan.

Pengurusnya, ya orang-orang yang masih ada hubungan keluarga, dengan pemilik gereja.

Ibaratnya, Gereja Karismatik itu bisa dianalogikan sama dengan sebuah pesantren keluarga, yang pemilik serta pengurusnya, ya orang-orang yang masih ada hubungan darah, dengan si pemilik pesantren.

Nah, hubungan semacam ini juga, biasanya amat sangat kuat, satu sama lain, bakal sibuk mencari dan merekrut jemaat, agar gereja menjadi besar dan kuat.

Makae, nggak mungkin banget ada aktivis gereja Karismatik, bakal ndobel jadi aktivis juga, di gereja Protestan. Karena boleh dibilang juga, hubungan gereja Protestan, dengan gereja Karismatik itu. Mungkin kayak pengurus Fatayat dobel jadi pengurus Aisyiyah. Emejing kan?

Nah, dengan cerita kronologi awal seselow itu, saya ndlongob dong. Itu ceritanya gimana yak, pas ngobrol-ngobrol sama Tuhan Yesus? Njuk kepikiran gitu, bikin prolog pengenalan diri jadi mualaf kok seajaib itu?

Apalagi pake acara pengenalan tambahan, bahwa dirinya itu, sebelum putus iman dengan Yesus, pernah juga jadi bruder, plus sekolah misdinar, biar jadi pastor. Duh, itu obrolannya gimana yak? Sampai diurapi Roh Kudus? Dikasih kecerdasan tingkat neraka ketujuh? Bisa mikir cerita seruwet sapu ijuk.

Gini loh say, cyn, wahai kelen-kelen yang ngaku habis putus iman sama Yesus, trus ngaku sekolah misdinar biar jadi pastor… mbok ya tolong, nyempetin gugling dulu sebentar sebelum nggedabrus.

Hawong gugling bentar aja, ngetik kata “misdinar” bakal keluar, arti kata misdinar itu apa.

Misdinar atau Akolit, itu sebutan buat para putra-putri altar. Itu lho, bocah-bocah yang kadang ada yang unyu kadang nggak, yang bantuin romo, alias pastur, melaksanakan liturgi.

Mereka ini, yang biasanya melayani pemimpin liturgi (dalam hal ini romo atau pastor), bawa tongkat gembala di depan arak-arakan para petugas liturgi. Terus, mereka-mereka juga yang biasanya membawa stribul, bejana untuk air berkat, plus lonceng di dalam sebuah liturgi.

Terus apa iya, perlu sekolah misdinar dulu, biar jadi pastor? Hawong misdinar ini ya ditunjuk, atau mengajukan diri secara sukarela, hanya diberi pelatihan bagaimana menjadi seorang misdinar doang. Artinya nggak ada itu acara sekolah-sekolahan.

Lagian, ini bocahnya putra dan putri lho, masa iya, terus ada calon pastor perempuan gitu?

Wadoooh, bisa guncang tuh tahta Vatikan.

Nah, kalau perkara bruder, ini ya jelas beda lagi acaranya dengan frater, alias calon pastor. Seorang bruder, itu biarawan, layaknya suster, mereka hidup selibat, tapi tidak menerima tahbisan imam.

Mereka memilih hidup selibat, mengikat diri dengan sebuah tarekat, tapi lebih banyak mengabdikan diri untuk melayani sesame. Di bidang sosial, pendidikan, atau administrasi yang berkaitan dengan agama Katolik, tapi tidak mempunyai kewenangan memimpin atau mengadakan sebuah liturgi.

Baca juga:  30 September Sebaiknya Jadi Hari Libur Nasional

Sementara frater, bakal menerima tahbisan imam dan kemudian menjadi seorang pastor.

See? Seruwet itu lho cerita yang didongengkan oleh Ustaz Steven Indra Wibowo, yang ngaku anak seorang aktivis gereja Protestan dan gereja  Karismatik, tapi diarahkan oleh ayahnya, agar menjadi seorang pastor.

Itu ibaratnya ada seorang Rabi Yahudi, yang mengajari anaknya, agar menjadi seorang pastor. Nggak mungkin banget lah. Ini sama kayak nunggu virus corona bisa sembuh pakai Fatigon, eh, Hemaviton.

Duh, kalian puyeng ngga sih baca fakta segambreng begitu? Kalau saya sih terus terang aja mumet. Padahal itu baru ngekroscek seuprit fakta dari bualan sang ustaz yang mendadak jadi selebritis ini lho.

Tapi herannya, banyak bohong kaya gitu kok laku yha?

Banyak gitu, yang terkagum-kagum sampai ngepens. Terus mendaulat diri jadi umat ustaz atau ustazah mualaf rasa selebritas, yang demen banget jualan cerita perjalanan putus imannya dari Yesus, lalu mendapat pencerahan, dengan cara menjelek-jelekan agama lamanya kemudian jadi mualaf.

Padahal, nggak cerah-cerah amat gitu. Wong kebanyakan, cerita bohongnya ruwet semua.

Jadi mikir, ternyata jadi orang Kristen enak juga yha? Nggak menderita-menderita banget lah.

Nyatanya kesempatan untuk meraup segala kemewahan, gampang banget didapat. Hanya dengan satu kata, jadi ”mualaf” terus banyak jalan menuju surga dunia.

Bayangin aja. Bakal banyak fans, banyak yang mencintai dan menyayangi, membuka tangan, pelukan, sampai harta bendanya, demi bisa berceloteh meski nggak ada isinya.

Padahal, kalau masih ngaku Kristen, bakal dicap kafir, diperlakukan sebagai minoritas, yang harus bin wajib tahu diri, nggak boleh rewel atau banyak bacot di mana-mana. Jangankan pengen ngebangun gereja, komen di sosmed aja, auto ditanya, situ agamanya apa? Kafir yha?

Giliran ngaku mualaf, lalu jualan mantan agama, duh, yang beli bejibun. Antusias antriannya bakal panjang, kayak antri sembako di pasar murah menjelang lebaran.

Coba gitu, posisinya dibalik, yang tadinya muslim, pindah menjadi Kristen. Boro-boro bakal laku jadi PaGem atau BuGem, ngasih kesaksian di gereja-gereja Karismatik aja, belum tentu ada yang mau ndengerin. Belum lagi bakal panen hujatan dari sana-sini.

Makae, kalian-kalian yang senengnya memandang orang Kristen dengan sebelah mata, nggak usah pada nggaya deh. Nggak usah sok ribat bin ribet ngelarang acara ini-itu dengan alasan takut ada pelemahan iman.

Kalau di situ jebul ada acara mualaf massal gimana coba? Dapat tambahan stok pakar pembanding agama ya kan?

BACA JUGA Pindah Agama Lantas Mengejek Keyakinan Terdahulu itu Buat Apaan Sih? atau tulisan Margaretha Diana lainnya.