MOJOK.CO – Haters dan fans Anies Baswedan ini sama aja kalau udah ngomongin banjir Jakarta. Tiba-tiba rumah kebanjiran jadi perkara tarung angka elektabilitas.

Politik adalah taktik. Orang dengan pandangan paling sempit sekalipun, saya yakin, memegang teguh kredo itu.

Seno Gumira Ajidarma, di koran Tempo edisi 21 Juli 2015, menulis begini, “Sudah sering strategi politik dikaji, dipadankan, dan dibandingkan dengan strategi perang dan tarung, dari Sun Tzu sampai Musashi, bahkan juga dengan strategi dan taktik dalam pertandingan sepak bola.” 

Tak ingin kalah, Seno kemudian mengaitkan politik dengan strategi dan taktik dalam olahraga catur.

Tentu saja Seno bukan orang pertama—atau satu-satunya—yang berpikir demikian. Dalam Kura-Kura Berjanggut (Banana: 2018) misalnya, kita bisa melihat bagaimana Anak Haram bisa menggencarkan pemberontakan terhadap Sultan Maliksyah dan melancarkan pembasmian terhadap para pedagang merica setelah mendapat kursus politik melalui papan catur dari Asoekaya—sang Bromocorah nomor wahid di Penjara Jalan Lurus.

Hal semacam itu, di mana politik disilang-pautkan dengan siasat dan strategi di luar “dirinya”, adalah urusan yang benar-benar menyenangkan.

Pernah terlintas di benak saya untuk membuat telaah gerak-gerik konten TikTok dan siasat kelompok haters dan fans Anies Baswedan dalam medan laga. Tetapi ternyata itu bukan pekerjaan mudah.

Sampai kemudian, setelah Jakarta kebanjiran—untuk ke sekian kalinya—saya mendapat ilham. Bahwa strategi politik haters dan fans Anies Baswedan ini adalah… 

tidak ada strategi.

Ya. Saya ulangi, tidak ada strategi!

Lalu saya berpikir lagi. Merenung. Sampai menemukan kesimpulan bahwa pada dasarnya, tidak ada strategi itu sebenarnya adalah strategi juga.

Hm, memang dibutuhkan kecerdasan tertentu untuk memahami ini, sebagaimana kita mengerutkan kening saat mendengar Biksu Tong mengatakan bahwa kosong adalah isi, dan isi adalah kosong.

Keduanya bertumpu pada naluri dan intuisi. Tak berpijak pada satu siasat yang benar-benar tok dan rigid. Atau, dalam ungkapan remaja mudah patah hati, jalan Ninja yang ditempuh adalah “Jalani saja dulu, Zheyeng!” Begitu ringkasnya.

Baca juga:  Prabowo Subianto Bikin Satire Cadas, Bilang Elite Suka Menipu Rakyat

Kalau masih bingung, kamu bisa membuktikan bualan saya dalam kasus banjir Jakarta baru-baru ini.

Sedikitnya ada 55 kelurahan—yang tersebar di 25 kecamatan di Jakarta, pada Minggu 23 Februari 2020, yang terkena dampak banjir, menurut catatan yang diumumkan oleh BNPB. Untuk memanfaatkan bencana ini, keduanya membincangkan tentang elektabilitas Anies Baswedan.

Setelah tim haters Anies gagal membedah perbedaan penanganan banjir di era kepemimpinan sebelumnya, dan tim fans Anies kelelahan menenteng poster “Banjir air membawa berkah, banjir utang membawa musibah” di depan Balai Kota, maka alternatif ini akhirnya dipilih.

Dan sebagaimana alternatif, kadang-kadang ia dianggap sebelah mata tetapi punya dampak yang signifikan.

Anies Baswedan, kita tahu, adalah politikus yang digadang-gadang akan maju dalam bursa Pilpres periode mendatang.  Maka, menaruh isu “elektabilitas” dalam kasus bencana semacam ini adalah siasat ganda-pat-gulipat bagi kedua kubu.

Jika berhasil, ia tidak saja akan membawa pengaruh di masa kini, tetapi juga menoreh sejarah gilang-gemilang di masa mendatang. Jika gagal, ya lupakan, lha yha bisanya juga cuma begitu, kok. Serius amat. Kayak nggak ada calon lain aja.

Hasil survei Indo Barometer—misalnya, nama Anies Baswedan unggul dengan raihan 31,7 suara dalam kategori capres terkuat untuk Pilpres 2024 dari kalangan kepala daerah. Setelah Anies, disusul sejumlah nama lain seperti Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil.

Padahal ketiganya sudah akur main Tiktok di acara Talkshow Televisi, tetapi politik adalah politik. Di panggung hiburan haha-hihi, di panggung politik sikut-sikutan.

Meski begitu, bagi kubu fans Anies Baswedan hasil survei ini adalah angin segar.

Mereka, dengan senang hati bisa memparodikan puisi Sapardi Djoko Damono bahwa; “Survei adalah isyarat yang tak sempat disampaikan Anies kepada hujan yang menjadikannya sebagai pemimpin.”

Sedangkan menurut survei yang dilakukan oleh Parameter Politik Indonesia (PPI) dan Politika Research and Consulting (PRC) dalam kategori calon presiden untuk Pilpres 2024, sepanjang Februari justru Anies Baswedan menukik turun di posisi empat. Hanya meraih angka 7,8 persen.

Baca juga:  Betapa Enaknya Jadi Pribumi

Bagi kubu haters Anies Baswedan, ini angin segar pula.

Mereka meyakini bahwa merosotnya tingkat kepercayaan publik disebabkan tak lain dan tak bukan oleh banjir. Double kill, sudah elektabilitas menukik, Anies juga bisa dirisak karena tak becus menangani banjir.

Alhasil, keduanya melancarkan serangan alias tubir!1!1!1!

Toh, tanpa strategi, tanpa siasat, pertarungan tetap terlaksana ya kan?

Lalu perdebatan yang riuh ini terus terjadi. Mulai dari…

…apakah bencana banjir punya pengaruh besar terhadap tingkat kepercayaan publik di lembaga survei, sampai lembaga mana yang lebih bisa diakui keabsahan dan kebenarannya? Padahal kan kebenaran hanya milik Allah semata. Maaf, yang ini no debat.

Pada kenyataannya dasar perdebatan soal elektabilitas Anies ini luput seluput-luputnya kalau dijadikan senjata. Soalnya dua survei tersebut diselenggarakan dalam konteks yang berbeda.

Ibarat yang satu main bola di lapangan sepak bola, yang satu main bola di arena sepak takraw. Nggak nyambung.

Kok bisa gitu?

Lha iya dong. Survei pertama memasukkan Anies ke dalam kategori Kepala Daerah. Di mana Anies disandingkan dengan Risma, Ganjar, Ridwan Kamil, Khofifah Indar Parawansa, dan Nurdin Abdullah.

Sedangkan survei yang satunya lagi, Anies disandingkan dengan beberapa tokoh nasional. Siapapun dia tanpa melihat background-nya. Maka, wajar kalau nama-nama macam Prabowo dan Sandiaga Uno muncul jadi kompetitor Anies pula.

Ealah, udah ngotot-ngotot lha kok ternyata beda kolam, beda goa, dan beda lapangan main.

Tapi omong-omong, dari segala macam perdebatan yang bising di antara kasur-kasur kami yang basah dan hanyut, sebenarnya ada satu kesamaan yang mempersatukan kedua kelompok ini: sama-sama melihat elektabilitas suara dalam banjir Jakarta.

Hm, tidak salah juga sih. Barangkali karena korban banjir kayak kami ini lebih terlihat seperti kertas suara ketimbang manusia.

BACA JUGA Jakarta Terendam Lagi, Anies Dinilai Tak Serius Antisipasi Banjir atau tulisan Muhammad Nanda Fauzan lainnya.