Mundur kena
Maju pun apalagi lebih kena
Semuanya kena
Semakin lama semakin terasa
….

Saya sering merasa hanya saya yang hapal lagu buruk ini. Tapi, seharusnya, anggapan itu tak benar. Koes Plus adalah salah satu, jika bukan nomor satu, khazanah musik Indonesia paling dikenal. Penggemarnya bejibun, mungkin hanya kalah dari Soneta dan Iwan Fals. Di antara mereka pasti ada yang terlalu fanatik, dan tak mungkin melepas apa pun yang berkait Koes Plus, semisal proyek-proyek solo para (bekas) anggotanya. Di luar itu, di akhir delapan puluhan, jelas bukan hanya saya yang nonton Album Minggu Kita-nya TVRI. Satu-dua orang yang mungkin sedikit agak gila merekam lagu tersebut di kaset Betamax dan kemudian, setelah berpuluh tahun, mengunggahnya di YouTube, dan karena itulah hari ini kita masih bisa menemukannya di internet.

Saya mengingat nama Nomo (saja) sebagai penyanyi di lagu ini—meskipun, setelah saya cek ulang, yang tercetak di kredit video klip yang masih bisa dijumpai di YouTube justru agak sedikit ganjil sekaligus menarik: No Koes 88. Judulnya “Layar Tancap”. Karena Nomo dan lagu inilah saya kemudian diberi tahu Bapak tentang Koes Plus, yang diklaimnya berasal dari Tuban, kota yang berjarak hanya belasan kilometer saja dari desa kami. Dan itu benar. Saya gagal menjadi penggemar Koes Plus dan tak banyak menghapal lagu-lagu mereka (dan itu mudah ditebak sebabnya), tapi saya tahu bahwa ini lagu yang sedikit terlalu rumit dibanding kebanyakan lagu Koes Plus yang biasa sederhana. Mungkin karena itu, Nomo Koeswoyo memilih nama No Koes untuk lagu ini.

Ada banyak percakapan di depan dan di antara lirik, khas lagu-lagu tahun tahun ‘80-an. Dan itu mengganggu, setidaknya jika dibanding lagu-lagu sejenisnya di masa itu. Liriknya terlalu panjang dari standar lagu-lagu Koes Plus. Lagi pula janggal. Dulu saya tak tahu bagian mana yang janggal. Setelah saya dengarkan ulang, kini menjadi jelas: lagu ini dimulai dengan sudut pandang orang ketiga dan berakhir di sudut pandang orang pertama. Pada akhirnya, saya mesti mengulangi apa yang di depan saya tulis: ini lagu yang buruk.

Tapi saya hapal lagu ini. Di luar kepala. (Dan, jika saja Anda melihat, Anda akan mendapati rona geli-tapi-bahagia terpendar-pendar dari mata saya, saat menemukan lagu ini dalam video satu episode Album Minggu Kita TVRI di YouTube.) Dan saya tahu betul kenapa saya hapal lagu itu dan kenapa begitu berbahagia. Ada, setidaknya, tiga peristiwa yang menjadi alasannya.

1) Saat di kelas dua atau tiga MI, saya pernah menyanyikan lagu ini dalam sebuah lomba menyanyi di sekolah, dan pastilah kalah.

2) Pada waktu yang kurang lebih sama, saya berdebat dengan sepupu saya yang tukang rundung, apakah kata di lirik lagu tersebut bakiak atau gapyak; saya bersikukuh bahwa kata itu jelas-jelas terdengar sebagai bakiak, yang merupakan kata Indonesia untuk “sandal kayu”, apalagi kata itu diikuti dengan keterangan “sandal Jawa” di lirik; sepupu saya ngotot dengan kata gapyak, karena menurutnya, tak ada itu kata bakiak; dan karena saya begitu yakin bahwa saya benar, sementara sepupu saya tak mau kalah, kami pun berkelahi.

Saya begitu yakin dengan kata bakiak karena, 3) saya mencatat lirik lagu itu secara lengkap di buku tulis saya—bersama beberapa lagu pop lain.

Dan keseluruhan tulisan ini sebenarnya mau bicara tentang hal terakhir ini.

***

Saya sudah bisa menulis sebelum masuk SD, dan di kelas dua tulisan saya sudah sangat baik. Itu juga yang membuat saya bosan dengan pelajaran I-N-I-I-B-U-B-U-D-I, sehingga mencoba melakukan hal lain dengan buku tulis ketika guru kami, Bu Djem, sedang menghajar papan tulis dan menghardiki murid-murid bebal seperti Zaenuri dan Suyatno. Saya kemudian menulis ulang lirik lagu-lagu yang saya simak dari radio maupun tonton di televisi.

Mungkin ada sekitar enam sampai sepuluhan lagu yang saya salin liriknya di buku tulis itu. Saya tak ingat semua, tapi tiga di antaranya jelas sekali: “Suratan” dari Tommy J. Pisa, “Maria” dari Julius Sitanggang, dan tentu saja lagu jelek Nomo di atas. Lagu lain yang mungkin masuk daftar, meskipun saya tidak begitu yakin, adalah “Antara Hitam dan Putih” dari Helen Sparingga, yang sampai saat ini saya anggap sebagai lagu cengeng ‘80-an dengan lirik terbaik; baris “ibarat tangkai aku t’lah patah, ibarat gurun aku tandus, ibarat sungai aku kering” barangkali adalah metafor pertama yang saya dengar. Dari semua lagu di buku tulis itu, “Suratan” dan “Maria” adalah favorit saya.

Baca juga:  Kolom: Buku Panduan tentang Jenis-jenis Kakus

Suara Tommy J. Pisa sudah saya dengar lamat-lamat di masa TK, setidaknya sejak “Biarkan Aku Menangis”, yang saya kenal sebagai lagu “Kemarin”. Lalu muncullah lagu “Suratan”, dan saya pun mabuk kepayang. Saya saat itu tak tahu apa arti kata suratan, tapi saya benar-benar kasihan dengan si aku yang digambarkan buta di lagu itu, sampai-sampai ia menjerit: “Bahkan ku tak pernah tahu cantiknya raut wajahmu, duhai kekasih.” Lagu “Suratan” saya nyanyikan di mana pun dan saat sedang apa pun. Mungkin itu membuat teman-teman bermain saya jengkel. Saya pernah dirundung karena lagu tersebut.

“Maria”-nya Julius Sitanggang juga lagu yang menerbitkan rasa iba. Tak diragukan, lagu ratapan seorang lelaki untuk kekasihnya yang jatuh sakit dan kemudian meninggal itu adalah lagu pop paling populer di akhir ‘80-an, setidaknya di tangga lagu versi desa kami. Tapi saya mengenang “Maria”, dan karena itu merasa perlu mencatat liriknya di buku tulis, lebih dari itu.

Ada dua hal yang menimbulkan pertanyaan besar berkait lagu itu begitu ia muncul di radio dan televisi dan membuat kami semua terpana: 1) Betapa anehnya nama Julius Sitanggang, apakah dia non-Islam? 2) Apakah Maria di lagu tersebut adalah Bunda Maria? Di kala sandiwara radio yang bercerita tentang raja-raja Hindu diisukan sebagai pendangkalan iman, dan DJARUM dipercaya sebagai kepanjangan dari Demi Jesus Aku Rela Untuk Mati, pertanyaan-pertanyaan macam itu tak bisa dianggap remeh. Tapi, pertanyaan-pertanyaan itu, yang kemudian jadi obrolan para kanak-kanak di sela-sela khotbah Jumat, dengan hasil simpulan bermacam-macam, tampaknya tak menghentikan kegandrungan kami kepada suara Julius Sitanggang yang sebenarnya tak istimewa benar.

Baiklah, dua pertanyaan awal sudah terlewati, atau lebih tepatnya terabaikan. Lalu muncullah dua pertanyaan berikutnya: 1) Apakah Maria benar-benar meninggal di lagu itu? 2) Karena ada baris “tiada janda-mu seperti yang dulu”, apa status Maria? Sebagian meyakini bahwa Maria meninggal, tapi yang tak percaya membantah dengan menunjukkan bahwa orang mati tak akan “mimpi indah”, dan ini membuat yang sebelumnya yakin dengan kematian Maria menjadi goyah. Pertanyaan kedua seharusnya tak perlu muncul jika kami cukup mengerti apa itu kata candamu, atau jika saja salah satu di antara kami ada yang memiliki kaset Julius Sitanggang yang dilengkapi lirik. Kaset itu tak ada—kami semua menyimak dan menonton lagu itu dari radio atau televisi. Juga tak ada guru bahasa Indonesia yang cukup bijak yang mau menjelaskan bahwa kematian Maria digambarkan cukup gamblang di seluruh lagu tersebut, meskipun kata yang dipakai adalah tiada, tidur panjang, dan pergi untuk selamanya. Tapi, mungkin karena “misteri” tak terpecahkan itu, “Maria” adalah salah satu lagu paling menonjol di era itu dan tinggal abadi dalam kenangan generasi kami.

Saat lomba nyanyi yang sempat saya sebut di atas, saya ingin menyanyikan lagu “Maria”. Sialnya saya mendapat giliran tampil belakangan. Rofik, siswa kelas lima, yang mendapat giliran lebih awal, kemudian menyanyikan “Maria”. Suara Rofik bagus, salah satu qari’ berbakat kami, tapi saya kira saya tidak akan kalah kalau menyanyikan lagu yang sama. Saya tidak mau sama dengan Rofik, juga tak ingin menyanyikan “Suratan”-nya Tommy J. Pisa yang telah membuat saya dirundung. Di detik-detik akhir, ketika menjadi lebih gugup karena tak kunjung menemukan lagu yang meyakinkan, saya membuat pilihan buruk, dengan menyanyikan lagu buruk, hanya karena saya hapal seluruh liriknya. (Tolong, jangan dibayangkan seorang pemalu macam saya menyanyikan baris-baris berkonotasi jorok seperti yang saya tulis di awal esai ini—di sebuah lomba nyanyi untuk memperingati hari besar Islam.)

Rofik, dengan “Maria”-nya, tak perlu diperdebatkan, memenangkan lomba itu. Saya tahu itu sejak awal. Saya kenal salah satu jurinya. Ia punya selera musik yang baik. Juga suara yang tidak buruk. Dan darinyalah saya meniru menyalin lirik-lirik lagu kesukaan: Bapak.

Baca juga:  Kolom: Pola

***

Lirik-lirik lagu itu ditulis dalam sebuah buku tulis batik berukuran tanggung. Dan buku tulis itu hanya berisi lirik lagu. Saya tak ingat berapa lagu di buku itu, tapi rasa-rasanya seluruh buku penuh dengan lirik lagu. Mungkin tak sampai seratus, tapi lima puluh sepertinya ada.

Buku lirik itu berisi lagu-lagu Melayu ‘60-‘70-an. Yang dominan adalah lagu-lagu dari OM Sinar Kemala dan OM Awara, khususnya lagu-lagu yang dinyanyikan Ida Laila. Lagu klasik sejuta umat dangdut macam “Keagungan Tuhan” dan “Ibu Tiri” saya temukan di sini. Dan tentu saja Oma Irama (sebelum ada tambahan “Rh”), baik lagu-lagu pra-Soneta maupun Soneta awal. Beberapa lagu cinta milik Oma di periode-periode awal karirnya sudah saya hapal liriknya bahkan sebelum mendengar lagunya dari tape tetangga—ya, kami tak punya tape di rumah, hanya radio. Nama Elya Kadam, Elvie Sukaesih, Juhana Sattar, A. Rafiq, Muchsin Alatas, Mansyur S. dan Meggy Z. saya kira saya dapatkan dari buku itu juga. Selain satu-dua lagu Koes Plus berbahasa Jawa atau lagu pop Melayu macam “Kudaku Lari” dari Fantastic Group, saya tak ingat ada lagu pop bercorak Barat atau Mandarin, meskipun saya tahu betul Bapak menyukai lagu macam “Telaga Sunyi” Koes Plus dan “Sepanjang Jalan Kenangan” dari Rachmat Kartolo.

Ditulis tangan dengan pena bertinta botolan, dalam tulisan halus, buku itu saya baca begitu saya bisa membaca tulisan halus. Lirik-lirik lagu ditulis sebagaimana kelak saya mengenalinya sebagai cara penulisan standar sebuah puisi; tanpa akord, tanpa kunci. Karena saya tak mengingat nama-nama yang terlalu aneh, saya kira lirik-lirik lagu itu hanya diberi keterangan tambahan penyanyi, tanpa pencipta, yang namanya diletakkan di bawah judul.

Bapak jelas bisa menyanyi, sebagaimana ia cukup bagus untuk mengaji dan menjadi muazin. Saya sering mendapatinya berdendang, baik dulu saat saya masih kecil maupun belum lama ini. Ibu mungkin menyanyikan nina bobo untuk mengantar tidur, tapi Bapak menyanyikan nina bobo dan banyak lagu lain. Saya juga mengingat ada dua harmonika di rumah, satu kecil dan satu besar. Juga sebuah seruling. Di luar itu, ia banyak bercerita tentang para penyanyi dan musisi kesukaan, selain juga bercerita bagaimana ia berusaha keras mendapatkan rekaman lagu-lagu ketika toko-toko elektronik milik orang Tionghoa di Tuban hanya menyimpan kaset master saja. Meski demikian, sangat sulit dipercaya bahwa ia pernah menjadi biduan, artinya menyanyi dengan diiringi orkes, walaupun banyak cerita yang sampai ke saya tentang itu.

Apa pun yang terjadi di balik buku tulis batik berisi lirik lagu itu, buku itu adalah salah satu bacaan penting masa kanak-kanak saya. Di antara sangat terbatasnya buku yang ada di rumah, ia—memakai istilah para pegiat literasi—menjadi jendela untuk melihat dunia yang lebih luas dan lebih indah. Lirik lagu itu, juga lagu-lagunya yang kemudian saya simak, membawa saya ke tempat-tempat tak terduga, cerita-cerita ganjil, dan kosakata-kosakata yang tak mungkin saya jumpai di sepanjang enam tahun sekolah dasar. Tak ada buku kumpulan dongeng gelap Grimm Bersaudara di kotak mainan saya, tapi lirik dan lagu “Ibu Tiri” yang dinyanyikan Ida Laila begitu mencekam. Tak ada buku-buku roman di rak (kami bahkan tak punya rak), tapi lagu-lagu cinta awal Oma-Elvy (“Pantun Cinta”, “Cinta Abadi”, “Patah Hati”, “Kegagalan Cinta”, “Malam Terakhir”, dan masih banyak lagi) lebih dari cukup untuk menggantikannya. Dan kosakata… ah, sudahlah. Pantun jenaka di buku ajar Bahasa Indonesia SD kelas 1-2 jelas tak jenaka lagi jika dibandingkan “Pantun Cinta”-nya Oma-Elvy. Saya menemukan dan mengerti kata semacam mandul, cerai, rujuk, perawan, janda, ternoda, dicampakkan, bahkan frasa putus asa dan bunuh diri, jauh lebih awal dari usia seharusnya, tapi saya pikir itulah kenapa saya ada di sini, di kolom ini.

Yang paling jelas, dan kenapa saya merasa perlu menceritakan ini, buku tulis sampul batik berisi lirik itu memberi pengaruh paling kuat bagi “kepengarangan” saya di bentuknya yang paling awal. Yaitu saat saya menyalin lirik-lirik “Suratan”, “Maria”, dan “Layar Tancap” di buku tulis sendiri.

Hey… apa jadinya
Gagal semuanya
….

BACA JUGA TV Rusak dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.