Petang itu saya sampai kampung dan menemukan Bapak dan Pakde Ngas, tetangga kami, mengobrol di beranda rumah dengan radio gantung berantena berdiri tepat di tengah meja. Pemandangan itu, tentu saja, segera melontarkan saya ke masa lalu, sekira tiga puluhan tahun lalu, saat pemandangan macam itu adalah sebuah kelaziman di setiap beranda rumah di desa kami di sore hari. Dan itu membuat saya tersenyum. Tapi, pertama-tama, yang segera saya sadari, berarti tak ada televisi di dalam rumah.

“Benar-benar rusak TV-nya, Pak?” tanya saya, sembari meletakkan tas.

“Sama sekali!” jawabnya. Mungkin dirasanya tak cukup, ia mengacungkan ujung remote ke arah layar televisi yang menghitam. “Remotenya juga mati.”

TV itu kami beli sekitar lima atau enam tahun lalu. Jelas rekon. Seorang teman, mungkin dengan sedikit tekanan dan ancaman, mendapatkannya untuk kami dengan harga sangat murah—entah dari mana. Tentu saja barang itu dengan segera menjadi bobrok. Ada saja yang rusak. Ada masa warnanya hilang. Masa lain tombol power-nya jadi sangat keras dan karena itu ia tak bisa dinyalakan. Pada waktu lain lagi colokan antenanya lepas. Dan masih banyak lagi. Dan semakin lama semakin buruk saja. Bapak, yang tinggal sendiri di rumah, dan menjadikan TV buruk itu sebagai teman di sebagian besar waktunya, sering dibuat sebal oleh TV buruk yang merepotkan ini. Namun, mungkin agar tak tampak menggerutui saya yang membelinya, ia akan bilang, terutama untuk dirinya sendiri, “Ya, TV murah, mau bagaimana lagi.”

Untuk teman setianya itu, Bapak kadang mengupayakan hampir apa pun. Ia keluarkan alat-alat reparasi elektronik lamanya yang dulu sering dipakainya di zaman radio, juga sisa-sisa ketelatenan seorang tukang solder yang telah lama ditinggalkannya. Tak selalu berhasil gemilang, tapi setidaknya ia selalu menemukan masalahnya dan memaksa TV bulukan itu bertahan. Sampai akhirnya, setelah bertahun-tahun, benda itu, juga Bapak, benar-benar menyerah.

“Ya sudah, tak usah dipaksa,” kata saya sok bijak kepada Bapak, seakan saya adalah seorang bapak yang menasihati anaknya yang baru saja kehilangan mainan kesayangan. “Nanti, kalau sempat, coba aku cari tahu harga yang baru,” sambung saya.

Bapak kembali ke radionya, menyambung pembicaraannya dengan Pakde Ngas tentang obat tetes untuk segala penyakit, yang kata iklan di radio “sekarang bisa didapatkan di Apotek Pambon,” apotek di desa sebelah kami. Saya, sembari melirik ke kotak TV yang bobrok itu masih nongkrong, membayangkan sebuah televisi layar datar 21 inci dari jenama yang tak terlalu asing tapi juga tak terlalu terkenal menggantikan tempatnya. Saya belum tahu harganya. Tapi, entah kenapa, saya tiba-tiba menghitung berapa jumlah tulisan yang sudah saya buat untuk kolom ini. Tentu saja juga jumlah honornya.

***

TV adalah benda penting dalam hidup saya; itu kenapa saya, terutama di novel pertama saya Ulid, (berusaha) menulis soal masuknya televisi ke desa saya sesyahdu Marquez menulis masuknya es batu ke Macondo. Boleh dibilang, saya mencintai salah satu penemuan abad ke-20 yang paling disesali ini. Dan itu saya katakan dengan bangga.

Televisi memberi saya kesenangan atas pengetahuan yang tidak diberikan oleh buku dan perpustakaan yang memang tak ada. Televisi memberi saya musik, yang anak-anak orang kaya dapatkan dari kaset-kaset yang mereka beli dari sisa uang saku sekolahnya. Televisi adalah bioskop, taman kota, pasar malam, kebun binatang, dan nyaris apa pun hal menyenangkan yang berhak didapatkan oleh seorang anak kecil, tapi, terutama, ia adalah stadion untuk saya. (Tiga hal yang hari ini menghidupi saya dan saya hidupi, yaitu cerita-cerita, film, dan sepakbola, semua diberikan televisi.) Saya membaca kalimat-kalimat pahit Neil Postman tentang televisi—bahwa guna televisi untuk tradisi literasi hanya dua, yaitu jadi lampu cadangan jika lampu belajarmu mati dan jadi rak tambahan jika rak bukumu penuh. Tentu saja saya bersepakat dengannya; mana bisa tidak! Tapi, lidah tajam Postman tak kuasa membuat saya membenci televisi.

Dan, tak seperti hal-hal berharga dan menyenangkan yang saya dapatkan di masa kecil lainnya, nyaris semua hal berkait televisi tak pernah saya miliki sendiri. Layar TV, dalam lemari memori saya, adalah TV milik Bude, milik tetangga, milik Pak Lurah, milik Pak Wandi, milik Barto, milik Miyatun, milik Kaseri, dst.. TV, dan pengalaman bersamanya, bagi saya, selalu berasosiasi dengan frasa atau kata “kesempatan langka”, “mumpung”, “selagi nonton”, dan hal-hal semacam itu, dan karena itu beberapa pengalaman paling berharga saya genggam erat-erat, saya camkan dalam kepala dalam-dalam, karena boleh jadi saya “tak akan mengalaminya lagi”, dan memang itulah yang kerap terjadi. Postman, orang Amerika nyinyir itu, saya yakin, pasti tak tahu apa-apa tentang hubungan rumit seorang bocah dengan benda yang sangat dibutuhkannya namun tak pernah berani dipikirkan untuk termiliki itu.

Baca juga:  Jatuh Penasaran pada “Dawuk”

TV pertama saya adalah milik bude saya, sebuah tabung dalam kotak kayu berukir dengan kaki-kaki meja. Unyil, Aneka Ria Safari, Album Minggu Kita, dan serial Jendela Rumah Kita saya kenali di layar TV ini. Di layar TV ini juga saya menyaksikan Ruud Gullit bersama PSV bermain di Senayan. TV itu pernah menjadi satu-satunya di desa, dan status itu membuat pemiliknya jadi keluarga istimewa. Karena dinding rumah kami berimpitan, saya kadang merasakan bahwa status istimewa itu milik keluarga kami juga. Tapi, tentu saja itu tak pernah terjadi. Dan itu menjadi jelas ketika pada suatu siang tanpa sengaja saya membuat TV satu-satunya di desa itu nyaris terguling. Saya yang panik mencoba menyangganya sekuat tenaga, dan saya masih bisa menjaganya tetap di atas kaki-kakinya. Tapi, saya tak sepenuhnya berhasil. Ada tape kaset di atas kotak TV itu. Benda itu terpelanting jatuh, pecah berantakan. Dan untuk itulah saya dihajar Bapak. Alasannya jelas: kesembronoan saya membuat saya merusak barang orang lain.

Sepakbola diperkenalkan kepada saya lewat radio. Tapi, layar TV-lah yang membuat saya tergila-gila dengannya. Dan itu adalah serangkaian penderitaan dan perjuangan—dan, dalam banyak sekali kesempatan, betul-betul kegilaan. Saya dalam keadaan kena tifus ketika Piala Dunia 1994 dimulai. Saya bisa tahan dari muntaber dan badan demam, juga makan bubur dengan tahu putih tawar, tapi saya tidak sanggup melewatkan lebih banyak pertandingan tanpa menontonnya. Di hari ketika Argentina melakukan pertandingan pertamanya melawan Yunani, di babak penyisihan Grup D, saya lari dari rumah dan bersembunyi di rumah Pak Modin, salah seorang pemilik televisi. Hal-hal hebat dari Piala Dunia yang berakhir antiklimaks ini (pelototan “mata iblis” Maradona di depan layar televisi sesaat setelah mencetak golnya ke gawang Yunani, perayaan gol Yekini dari balik jaring gawang untuk gol pertama Nigeria atas Bulgaria, perayaan menimang bayi dari Bebeto-Romario yang kelak jadi masyhur, gol bunuh diri Escobar yang membunuh dirinya, liukan Sutter yang mengawali gol pertama Swiss ke gawang Rumania, tandukan berdarah Tossati ke hidung Enrique, tandukan mematikan Letkov ke gawang Jerman, kaki pincang Maldini dan gol-gol penting Baggio, dan tendangan penalti menembus langit Il Codino yang memberikan Brazilnya Parreira yang bermain buruk gelar juara) akan tinggal bersama saya selamanya. Ketika Piala Dunia 1994 selesai, saya sehat walafiat dan tak pernah lagi kena tifus, tapi pada saat yang sama kutukan berbentuk bulat belang-belang itu tak pernah sanggup saya sembuhkan. TV Pak Modin, lebih belakangan, kemudian memberikan kutukan lain bernama film India.

TV dan sepakbola kemudian menjadi masalah berat bagi saya selama tiga tahun di pesantren, terutama karena keduanya terlarang. Dan saya menambah rumit relasi itu ketika mulai menemukan kesenangan aneh dengan menonton film-film tengah malam, terutama di masa-masa tak pasti antara kelulusan SMA dan ujian masuk universitas. Kesenangan aneh ini menciptakan kebiasaan aneh yang tercipta dari seorang siswa SMA yang di satu sisi ingin lolos ujian masuk PTN namun di sisi lain begitu haus tontonan. Saya datang ke rumah pemilik televisi di atas jam sepuluh malam, setelah usai berusaha menghafal trik-trik cepat menyelesaikan soal Matematika Dasar ala lembaga bimbingan belajar yang tak pernah saya masuki, lalu menunggu film apa yang diberikan RCTI atau SCTV setelah Berita Terakhir. Banyak film Hollywood busuk dan kungfu Hongkong ketengan di jam-jam ini, tapi di saat ini juga saya menemukan Before Sunrise-nya Linklater, dan mulai membangun rasa ingin tahu saya pada sisi serius film. Jam tak normal dan kurang ajar untuk menonton televisi ini hanya bisa terjadi karena kebaikan Mak Ti, seorang famili yang memilih diam atas ulah nyeleneh keponakan jauhnya.

Televisi—dan sepakbola—lagi-lagi jadi hal gawat di tahun-tahun awal saya di Jogja. Saya tinggal di sebuah loteng di samping masjid kecil di tepian Sungai Code. Pengurus masjid memperlakukan saya dengan sangat baik; bukan saja menggratiskan kamar yang saya huni, memberikan saya uang bulanan, tapi juga memberikan saya sebuah pesawat radio. Radio itu memberi saya lagu-lagu Iwan Fals dari GCD FM saat siang dan rock klasik saat malam dari Retjo Boentoeng, dan keduanya memberi jejak dalam bagi minat musik saya yang tak lengkap di masa kecil. Tapi itu tak cukup. Saya membutuhkan sepakbola. Lebih jelasnya, saya membutuhkan televisi yang menyiarkan sepakbola. Milan-nya Zaccheroni memang buruk, tapi ini adalah tim paling kuat di sepanjang tahun-tahun transisi pasca-Capello. Bierhoff hanya bisa mencetak gol dengan kepala, dan Guglielminpietro yang jadi rekannya di sayap bukan hanya sulit dieja namanya tapi juga sulit mencerna bagaimana ia bisa dibeli Milan. Tapi Guly, demikian nama sulit itu disingkat, yang akhirnya memberikan Milan scudetto—meski cedera hamstring yang membuat Batistuta ambruk dan Fiorentina, yang awalnya menjadi kandidat kuat juara, limbung juga mesti dianggap faktor penting lain. Dan saya menyaksikan semua itu di televisi. Yang jadi masalah, sebagai merbot masjid, saya bukan saja seharusnya tak menonton televisi terlalu larut, tapi mestinya tak menonton sepakbola di televisi milik seorang veteran tua yang baik hati namun terlalu njawani untuk mengusir secara langsung seorang pendatang tak tahu diri dari depan televisinya. Ia mengadu kepada ketua takmir dan itu membuat saya nyaris diusir dari masjid—dan dari kamar gratis saya.

Baca juga:  Kolom: Bonsai

Saya baru (bisa) membeli TV untuk diri sendiri bertahun-tahun setelah peristiwa itu, ketika untuk pertama kalinya saya memutuskan mengontrak rumah di Jogja. Itu sebuah tv tunner yang dicolokkan ke monitor komputer yang besar dan gemuk dan tua dan sangat berat. Dan setelah lewat 20 tahun menonton TV milik orang lain, punya TV sendiri memang enak, lebih-lebih jika kamu adalah karyawan yang bekerja di tempat yang tidak kamu sukai. Pada saat yang sama, setelah tak sabar menunggu anaknya (yang sudah bekerja) membelikan TV untuk rumah di kampung, ibu saya memaksa membeli sebuah televisi sangat besar yang belakangan terbukti bermerek palsu. TV palsu itu adalah TV pertama di rumah—rumah paling akhir di desa kami yang baru bisa membeli TV. TV itu tak banyak memberi kenangan kepada saya. Bukan saja karena saya tak sering memakainya karena tidak terlalu sering berada di rumah, namun, seperti yang diperkirakan, TV palsu itu tak menunggu waktu lama untuk rusak.

Untuk mengganti TV palsu itulah saya kemudian mendapatkan TV sangat murah yang tentu saja lebih palsu dan lebih buruk. Dan TV itulah yang sore itu, kata Bapak, sama sekali rusak.

***

Kepada seorang teman di warung kopi saya sudah meminta tolong agar pagi berikutnya diantar mencari TV baru ke pasar kecamatan. Saya masih belum juga mendapatkan gambaran lebih gamblang berapa harga TV layar datar dari jenama semenjana. Saya masih berharap hasil honor dari kolom ini mencukupi. Tapi, jika pun tidak, soal TV rusak dan pembelian TV baru ini, yang sepertinya akan menjadi pembelian TV baru pertama bagi saya, telah siap untuk dikolomkan, dan dengan demikian bisa diharap menambah kekurangannya. Jika masih saja tak cukup, saya sudah siap menulis tentang sulitnya membeli TV baru dengan menulis. (Lihat, tak ada yang terlalu sulit untuk penulis, bukan?)

Namun, siaran wayang kulit yang diputar semalam suntuk dari sound kecil radio gantung bertenaga baterai, yang mengiringi tidur saya sepanjang malam itu, juga malam berikutnya, mengubah keputusan saya. Atau setidaknya menundanya.

Sebagai orang Pantura yang santri, Bapak tidak sama sekali asing dengan siaran wayang kulit, meskipun tak terlalu banyak bicara soal tokoh dan ceritanya, lebih-lebih menjadikannya sebagai acuan hidup. Dulu, di masa jayanya radio, ia sesekali memutar wayang kulit, meskipun ludruk dan musik Melayulah kesukaannya untuk pengantar tidur. Siaran wayang kulit bukan juga sesuatu yang terlalu drastis dan mesti ditanggapi terlalu antusias; ia hanya pergeseran yang gampang dipahami dari seorang penonton fanatik sinetron laga lama yang baru saja kehilangan TV-nya. Meski demikian, bolehlah saya anggap ini perkembangan menarik.

Wayang, bagi saya, baik sebagai pertunjukkan, atau sebagai cerita yang ditutur-tuliskan, tak pernah melampau fungsinya sebagai hiburan. Pandangan ini tentu saja personal dan subjektif, meskipun bisa saya pertanggungjawabkan secara objektif. Dan saya berpandangan seperti itu tanpa bermaksud merendahkan orang-orang yang memandang wayang dengan cara yang sangat bersungguh-sungguh, bahkan dalam. Dan, sekali lagi, tanpa bermaksud merendahkan pandangan orang yang bersungguh-sungguh dengan wayang, setelah melewatkan tidur dengan iringan siaran wayang kulit semalam suntuk itu, saya sepertinya menemukan fungsi lain wayang, yang lebih praktis, lebih aplikatif. Wayang, di radio, sejauh ini, saya kira, bisa membuat saya menunda membeli TV baru.

Setidaknya sampai saya benar-benar yakin, tanpa tanya sana-sini lagi, bahwa honor dari kolom ini benar-benar cukup untuk menebusnya.

BACA JUGA Perjalanan dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.