Saya pasti akan suka traveling jika saja tak ada “traveling” dalam traveling.

Saya suka tempat-tempat baru, saya senang menambah teman, tapi saya ingin langsung ada di tempat tujuan. Jika tidak, saya selalu merasa akan lebih baik tak ke mana-mana. Dalam khazanah sandiwara radio, dibanding belajar naik kuda, saya mungkin jenis orang yang akan memilih menguasai ilmu Halimun, yang bisa membuat saya hilang dan nongol di tempat yang saya hendaki, dengan tebusan apa pun.

Perjalanan, meski tak semenyedihkan dendang Ebiet dalam lagu “Berita kepada Kawan”, agak sulit saya kenang sebagai sesuatu yang menyenangkan. Tidak secara keseluruhan, tentu saja—nanti Anda bahkan bisa saya kasih cerita tentang beberapa perjalanan yang terasa menyenangkan, atau malah ajaib.

Saya tak punya trauma apa pun berkait perjalanan. Satu-satunya kecelakaan yang pernah saya alami saat berkendara adalah ketika truk yang kami tumpangi sebagai suporter sepakbola tarkam melindas seseorang; saya mengingat nama korban, tapi saya bahkan tak sempat melihat keadaannya, lagi pula itu terjadi saat saya berusia kurang dari delapan tahun. Jika ingin ditambahkan, saya pernah membonceng Vespa yang lepas roda belakangnya. Tapi alih-alih mengerikan, kejadian itu saya kenang sebagai kekonyolan. Kekonyolan lain adalah ketika saya ditinggal kereta yang selama nyaris sejam saya tongkrongi tanpa tahu bahwa itu adalah kereta yang saya tunggu.

Saya juga tak punya persoalan mabuk perjalanan, seperti yang dipunyai beberapa sepupu. Seingat saya, saya hanya muntah tiga kali seumur hidup saya di atas kendaraan, salah satunya di truk yang berjajal suporter sepakbola, dan kesemuanya karena kondisi saya sedang drop atau karena keracunan makanan.

Pernah kepikiran saya punya fobia ketinggian. Namun, begitu naik pesawat, dan saya bersiap untuk ketakutan, ternyata saya tidak cukup takut; setidaknya ketakutan itu tak ada apa-apanya dibanding ketakutan di atas bus Sumber Kencono, yang “menjamin keamanan barang-barang Anda, tapi tidak nyawa Anda”.

Kekerasan beberapa kali mungkin saya alami, tapi tak pernah dalam tingkat yang membahayakan. Pada kepulangan pertama saya dari Jogja, saya ditantang kelahi oleh penjual koran di Terminal Tirtonadi karena menawar harga korannya, dan saya nyaris meladeninya sebab saya bersama sepuluh teman SMA yang baru saja suntuk usai ujian UMPTN. Di Terminal Bojonegoro, saya pernah dimaki-maki oleh penjual koran lain, ketika ia memaksa saya membeli Jawa Pos sementara saya dengan angkuh mengacungkan Kompas yang sudah saya beli sejak dari Jogja. “Koran apa itu! Komando pastur!” rutuknya. Sementara, satu-satunya “penodongan” yang saya ingat saya alami di bus kota Jogja Jalur 4, ketika seorang lelaki kuyu naik di Jln. Suroto Kotabaru, duduk di kursi kosong di samping saya, dan segera memepet saya ke jendela, dan merengek “kasih uang untuk makan, Bos”; ia pergi dan melompat turun sebelum Bundaran UGM begitu saya menyodorinya uang seribu rupiah.

Di luar itu, saya malah punya beberapa cerita menarik yang saya dapat di perjalanan. Mau dengar yang ajaib? Simak yang berikut ini.

Dalam salah satu keberangkatan saya ke Jakarta dengan kereta bisnis, pada kisaran 2005, saya pernah bertemu seorang lelaki tua dengan profil menarik: rambut panjang memutih, ketampanan masa muda yang belum pudar, dan keramahan luar biasa. Dimulai dari sapaan seorang rekan seperjalanan, obrolan atas buku yang kebetulan sedang saya baca saat itu, lalu tukar cerita tentang diri masing-masing, makan malam yang nikmat namun kikuk, dan berakhir dengan pembagian tempat tidur yang tegas olehnya bahwa saya harus di atas kursi dan ia di lantai dengan beralas koran. Pagi harinya, saya yang sempat menyangka akan bangun dalam kondisi habis terbius dan kehilangan dompet dan identitas diri, turun di Jatinegara dengan kepala pening karena dipenuhi cerita-cerita luar biasa, dan balik ke kos di Utan Kayu dengan tetap bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang bersama saya semalaman. Jika diringkas riwayat hidupnya, orang itu kira-kira sebagai berikut: ia besar di Stasiun Tugu karena bapaknya pernah jadi kepala stasiun di sana, dan karena itu ia mengenal nyaris semua orang di gerbong kereta, dari petugas, pedagang asongan, juga sebagian penumpang; ia mengaku sebaya dan mengenal secara pribadi beberapa penulis Jogja yang buku-bukunya saya baca sebagai mahasiswa sastra, terkhusus Motinggo Busye, dan ia kemudian bicara banyak tentang Sanu Infinita Kembar, novel Busye yang paling rumit dan paling enigmatik sekaligus yang dianggap paling sastrawi; kuliah di Arsitektur ITB, namun lebih nyaman sebagai pelukis, dan sempat memacari juara 1 Mojang Bandung meski cinta kandas karena tak direstui; lanjut kuliah teknik ke Jerman, di universitas dan jurusan yang sama dengan Romo Mangun, dan ia kenal baik dengan yang disebut terakhir; pernah belajar keramik di Jepang, jatuh cinta dengan gadis Jepang yang disebutnya sebagai “putrinya yang punya Honda”, mereka menikah tapi mesti pisah karena si gadis Jepang tak bersedia dibawanya ke Indonesia sementara ia tak mungkin tinggal seterusnya di Jepang; kini (maksudnya saat itu) tinggal damai dengan istrinya yang terakhir di Jogja, sesekali ke Jakarta untuk “menengok” perusahaan jasa tempat ia menjadi komisarisnya.

Baca juga:  Kolom: Pulang

Hanya sekali itu saja pertemuan kami. Saya tak yakin semua ceritanya benar, ada beberapa lobang, juga beberapa kontradiksi, namun itu tak penting-penting amat; yang terpenting, cerita itu luar biasa, dan diceritakannya dengan sangat meyakinkan. Dan karena itulah sebagian cerita itu tetap tinggal di kepala saya.

Setelah lewat 15 tahun, saya tak tahu apa yang terjadi dengannya—saya berharap ia masih sehat dan masih bisa tersenyum, atau memaki, saat membaca tulisan ini. Yang jelas, di kereta Senja Utama Jogja-Jakarta itu, dalam semalam ia mengajarkan kepada saya secara utuh prinsip-prinsip fiksi yang saya dapatkan secara terpatah-patah di kampus selama lima tahun.

Masih ada cerita macam ini dalam beberapa perjalanan yang istimewa. Namun, rasa-rasanya, saya tetap merasa bahwa beberapa perjalanan mestinya tak perlu dilakukan. Dan, lagi-lagi, jika mau dipukul rata, saya tetap adalah pejalan yang enggan.

***

Perjalanan jauh pertama saya adalah ke RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Saya mungkin belum masuk SD saat itu. Bapak mengajak saya mengunjungi Pakde Lan yang dirawat di sana. Itu adalah perjalanan sekitar tiga jam dengan bus yang saya pakai semaksimal mungkin untuk menanyakan nyaris semua tulisan dan papan iklan yang saya lihat sepanjang jalan. Juga saya dengan rewel bertanya apakah bus yang kami tumpangi akan lewat di Jalan Ngagel Jaya Utara IV, alamat Radio Carolina Surabaya, saluran tempat saya mendengarkan sandiwara radio sejak usia lima tahun. Namun, dari waktu ke waktu menyimak betapa seringnya perjalanan itu diceritakan ulang oleh Bapak kepada orang lain, saya tahu itu adalah perjalanan Bapak, bukan perjalanan saya.

Pada akhir SMP, kami melakukan darmawisata ke Jogja. Selain replika nekara dan kapak batu di Museum Sonobudoyo, yang membuat saya nyaris tertinggal rombongan, tak ada yang bisa saya ingat dari perjalanan yang membosankan itu. Saya ingin berlama-lama melihat candi-candi yang selama ini hanya bisa saya temukan di buku ajar sejarah, tapi kami hanya naik ke Borobudur untuk segera dipanggil turun. Yang paling konyol, di parkiran Borobudur saya membeli cendera mata dari bilah bambu bergurat kaligrafi syahadat. Tapi, tak ada yang lebih konyol saat orang Pantura macam kami jauh-jauh ke Jogja hanya untuk melihat Parangtritis.

Karena pengalaman buruk di Jogja, saya sudah sejak sangat awal tak akan ikut darmawisata SMA ke Bali, meskipun itu berarti sebagian tabungan wajib yang saya angsur sejak kelas satu untuk perjalanan itu mesti hangus. Resistensi kecil dan personal itu kemudian jadi pemberontakan yang sedikit lebih besar ketika teman sebangku dan empat teman lain di dua bangku di depan saya bergabung bersama saya. Dan penolakan untuk tak ikut ke Bali itu justru kemudian menjadi liburan panjang paling menyenangkan dan terkenang lebih lama dari liburan mana pun manakala kelima teman saya menyatakan ikut pulang ke rumah saya. Apalagi, liburan itu kemudian menjadi perjumpaan terakhir saya dengan beberapa teman dekat, hingga hari ini.

Keberangkatan ke Jogja untuk tes UMPTN, yang kemudian menjadi awal dari perjalanan bolak-balik Jogja-Lamongan yang sudah tak terhitung jumlahnya, bisa saya sebut sebagai perjalanan rutin, bahkan wajib; beberapa adalah perjalanan yang paling tak ingin saya lakukan: entah karena ada hal buruk di ujung tujuan sana, entah karena saya bahkan tak tahu untuk apa perjalanan itu. Di tubir jendela bus Puspa Indah jurusan Tuban-Jombang, atau di bus Cendana jurusan Bojonegoro-Ngawi, atau di bus Sumber Kencono atau Mira jurusan Jogja-Surabaya, saya menemukan ide beberapa cerpen saya, memikirkan banyak plot dan tokoh untuk memberi perkembangan signifikan bagi novel-novel saya, juga menyusun draf awal untuk tulisan-tulisan nonfiksi saya yang paling berhasil. Tapi saya merasa, itu tetap tak sepadan dengan kebosanan, kegundahan, dan rasa tak nyaman yang saya dapat dalam sebagian besar perjalanan itu.

Baca juga:  Kolom: Ayam di Beranda

Di dompet, saya masih menyimpan dua karcis kereta ekonomi warna merah yang saya pakai untuk berangkat pertama kali dan pulang terakhir kali ke Jakarta, di antara dua tahun masa “mengadu nasib di Ibukota” itu. Saya ingin menyimpannya sebagai semacam lambang perjuangan yang pernah saya lewati. Namun, setiap saya melihat lagi dua kertas kartun warna merah itu, yang saya lihat justru adalah kekalahan. Saya sudah berkali-kali ke Jakarta sejak itu, sebagian dengan tiket kereta yang jauh lebih mahal, sebagian malah dengan pesawat, tapi itu semua tak bisa menebus kekalahan yang melekat pada dua lembar tiket itu.

Beberapa perjalanan setelahnya boleh dibilang adalah perjalanan untuk kemenangan, atau setidaknya demikianlah orang-orang menganggapnya. Tapi saya masih mengingat malam yang tak mengesankan itu. Pesawat telat, dan itu adalah untuk pertama kalinya saya naik pesawat sendirian. Tapi itu bukan penjelasan atas rasa gundah yang saya tanggung sepanjang dan setelah turun dari pesawat. Padahal, di dalam tas punggung saya ada uang hadiah dengan jumlah yang tak pernah saya dapatkan dari buku-buku yang pernah saya tulis dan terbitkan, juga selembar piagam yang mungkin diimpikan banyak pengarang. Saat itu, jarak bandara dan rumah sewa saya tak terlalu, namun saya menolak semua tawaran tukang ojek karena menganggap harga yang mereka ajukan terdengar sebagai pemerasan. Saya memilih menunggu Trans Jogja selama lewat setengah jam untuk perjalanan yang tak sampai sepuluh menit, yang kemudian mesti saya sambung berjalan tak kurang dari satu setengah kilo, yang kemudian terasa berjam-jam. Di malam ketika untuk pertama kalinya saya disebut orang-orang sebagai pengarang, setelah bertahun-tahun menjadi pengarang tak dikenal, saya justru penat oleh perjalanan panjang yang berawal dari angkot di Ciputat hingga jalan kaki di ujung timur Berbah.

Tungkai kaki saya pendek. Dulu saya selalu berpikir itu terjadi karena di waktu kecil, selama bertahun-tahun, saya mesti memikul beban yang tak sebanding dengan bobot tubuh saya. Tapi, saya pikir, boleh jadi karena kaki itu diciptakan untuk selonjoran.

***

Begitu menghidupkan ponsel setelah sesaat sebelumnya mendarat dari Makassar, saya membaca pesan tersebar di beberapa grup WA bahwa mulai bulan depan semua aktivitas penerbangan dari dan menuju Jogja akan dipusatkan di bandar udara baru di Kulonprogo. Dijelaskan di situ gambaran yang rumit dan berbelit tentang cara menuju ke bandara baru dan tips agar tidak terlambat. Tak lupa, disampaikan pesan untuk foto-foto di bandara baru itu. “Bandarane uuwapik!” tulis pesan itu, yang sedikit agak jauh dari langgam Jogja.

Saya tidak terlalu sering memakai jasa pesawat. Perjalanan ke Makassar kemarin adalah yang pertama setelah lewat dua tahun. Karena itu, saya tak merasa perlu memancang pantangan, sebagaimana yang dilakukan beberapa aktivis, untuk tak pernah menginjak bandara baru yang didirikan di atas bekas pemukiman warga Temon itu. Bukan hanya akan terdengar sok gagah, saya juga akan merasa ge-er, seolah-olah akan sering melakukan perjalanan dengan pesawat. Lagi pula, tak seperti beberapa teman yang saya kenal, saya tak ikut apa-apa di seputar penolakan pembangunan bandara itu dulu. Saya manusia yang daif saja. Jika pun pada awalnya enggan, pada akhirnya toh menyerah juga, kemudian menyesuaikan diri, dan menjadi yang paling keras merayakannya ketika telah sama sekali lupa. Itu yang saya alami dengan teknologi, juga dengan barang konsumsi.

Saya pasti akan memakai bandara itu, jika kesempatan itu datang—seenggan apa pun. Saat itu mungkin saya tidak ingat bahwa saya pernah bermalam di salah satu rumah terakhir di Temon yang mencoba tidak menyerah, meski listrik telah diputus dan setiap aktivitas di sana terus diawasi aparat. Saya mungkin akan berak dengan nyaman di sebuah toilet paling canggih yang boleh jadi didirikan tepat di tempat dulu saya bicara berbusa-busa tentang betapa rentannya desa dan orang desa menghadapi gerak maju modal dan keserakahan yang diciptakan uang, di tengah kerumunan mahasiswa yang mendengarnya.

Saat itu, boleh jadi sembari selfie, saya mungkin hanya akan menyebutnya sebagai kegelisahan yang tak terjelaskan.

BACA JUGA Menumis Itu Gampang atau esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.