Saya akhirnya melakukannya. Lagi. Ah, sebenarnya tak mesti pakai “lagi”, sebab, sejujurnya, hal ini tak pernah benar-benar saya lakukan, terutama dengan sedikit komitmen macam ini. Ya, saya memang punya sedikit persoalan dengan komitmen, tapi ini sepertinya beda. Jadi, bisa dibilang, ini akan jadi yang pertama. Maka, saya ulangi lagi, saya akhirnya melakukannya: masak.

Dapur dan wastafel memang membuat saya memikirkannya. Tapi, yang benar-benar membuat saya tak bisa mundur lagi dari “hidup baru” ini adalah segembol berkat yang saya bawa pulang dari dua upacara kematian.

Ada dua berita duka hanya beberapa hari setelah saya pindah dan menempati rumah baru. Beruntun, hanya berselang jam saja. Dua rumah duka saling berimpitan. Dan rumah-rumah itu hanya berjarak tiga-empat rumah dari rumah baru saya.

“Mau ikut tahlil?” tanya induk semang saya. Saya orang baru di kampung ini, maka saya mengangguk. Malam itu saya menghadiri dua tahlil. Yang pertama setelah Magrib, yang kedua setelah Isya. Ketika pulang, saya membawa dua bungkus besar makanan siap makan dan berbagai jenis sembako. Paling berat sepertinya beras, tak kurang dari setengah kilo.

Saya dididik untuk tak memakan “nasi orang mati”, demikian kami menyebut. Saya tumbuh dengan meyakini itu. Setidaknya sampai di pesantren. Di Jogja, saya melanggarnya. Pertama, karena waktu itu saya adalah seorang merbot masjid; kedua, saya anak kos miskin yang puasa Senin-Kamis hanya agar bisa ngirit. “Nasi orang mati” dilarang persyarikatan, sementara bersikap mubazir dilarang agama. Saya pilih yang kedua. Meskipun demikian, sampai sejauh ini, seingat saya, saya belum pernah masak beras tahlil. Kalau mi instan-nya pernah, demikian juga dengan teh dan gulanya, tapi beras belum.

Dan saya memang tak berniat memasaknya. Sampai malam kelaparan itu datang.

Rumah ini jauh dari angkringan dan burjo. Juga sudah terlalu malam untuk pesan makanan lewat layan antar. Tak ada apa-apa pula di kulkas. Hanya telur. Dua bungkus mi instan di dalam besek tahlil sudah tandas. Di sana cuma tinggal beras. Saya menatap beras tahlil itu dengan pandangan dilema. Belum lama ini, ketika membongkar barang-barang untuk pindahan rumah, saya mendapati dua-tiga kantong beras aus tak terpakai, dan mesti membuangnya. Itu adalah beras-beras yang sama. Tak ada pengemis yang menerima beras sekarang. Memberikannya langsung ke ayam juga kurang sopan. Dan saya sedang lapar malam itu, saat itu juga, di rumah yang jauh dari mana-mana ini. Tapi, pada saat yang sama, saya memasaknya pakai apa?

Kami–saya dan mantan teman-teman kontrakan–dulu punya panci listrik ukuran besar. Tapi, karena lebih sering dipakai untuk masak hal-hal lain yang bukan nasi, ia sudah tak bisa dipakai lagi, dan saya membuangnya. Yang ada di cantelan, persis di atas wastafel, hanya panci bergagang yang biasa dipakai memasak mi instan. Sembari terus berpikir, menimbang-nimbang, juga menahan suara kerucuk di lambung, tangan saya menimang alat dapur paling berguna bagi hidup saya selama bertahun-tahun itu. Dan tiba-tiba saja tangan saya sudah membuka kantong beras, menciduknya sekitar setengah penuh gelas, lalu mencucinya. Beras itu saya masukkan panci bergagang, saya beri air secukupnya. Saya ngeliwet. Akhirnya, saya benar-benar memasak “beras orang mati” itu.

Beberapa saat kemudian saya merasa melupakan detil kecil namun penting. Saya mengukur jumlah air di atas beras dengan standar panci listrik, yaitu seruas jari telunjuk. Saya lalai kalau yang saya pakai adalah panci yang biasa untuk masak mie, yang diameternya berbeda dengan panci listrik. Ketika kemudian panci saya buka tutupnya, saya sudah terlambat. Air penanak mengering, sementara beras masih keras. Pada saat yang sama, saya sudah mencium bau hangus di dasar panci. Seperti orang memijak tahi dan kemudian mencium baunya, saya mencoba menebus kesalahan dengan tindakan yang lebih konyol: saya tambahkan air baru ke nasi liwet yang sudah pasti gagal itu. Hasilnya rusak-rusakan: beras itu gagal jadi nasi, tak juga sanggup jadi bubur.

Baca juga:  Wawancara Eka Kurniawan: Aku Berkali-kali Mencoba Berhenti Menulis

Malam yang malang itu akhirnya hanya bisa saya selamatkan dengan sebuah telur ceplok yang darurat dan kedodoran. Dan karena masih marah dengan kegagalan yang barusan, saya bahkan lupa menambahkan garam.

Esok paginya, saya membawa proyek ngeliwet saya yang gagal ke halaman. Akhirnya, ayam juga yang memakannya. Saya simpulkan, saya memang ahlinya melakukan tindakan sia-sia dengan cara yang rumit. Saya, seperti yang pernah saya bayangkan di umur 21 dulu, adalah Santiago-nya Coelho!

***

Di supermarket terdekat yang sedikit agak jauh dari rumah, saya langsung menuju rak perlengkapan dapur. Tak terlalu lama, saya sudah berjalan ke arah meja kasir dengan membawa penanak nasi listrik ukuran kecil, sebuah wajan, dan sebatang sutil penggorengan. Seorang pramuniaga mencegat saya. “Mas, dicek dulu!” katanya, sembari meminta kembali penanak listrik di gendongan saya. Saya tidak tahu apa yang hendak dilakukannya. Ini bukan hanya untuk pertama kalinya saya masuk supermarket itu, tetapi juga untuk pertama kalinya beli penanak nasi listrik. Namun, lebih bingung lagi ketika saya diminta untuk mengikutinya. Saya mengira akan menunggui sebuah prosesi demo masak, ternyata cuma untuk mengecek apakah power supply-nya jalan atau tidak, apakah elemen pemanasnya bekerja atau tidak. “Coba dipegang, apakah panas?” pinta sang pramuniaga. Saya memegangnya dengan hati-hati dan sedikit geli. “Panas, Mbak,” jawab saya sembari senyum-senyum.

Saya pakai penanak listrik itu keesokan harinya. Saya campur “beras orang mati” yang masih tersisa dengan “beras orang nulis” yang baru saya beli. Masih akan ada pergulatan fikih di kepala saya, dan biarkanlah begitu, tapi kali ini setidaknya saya ingin nasi ini jadi, dan saya yang makan, bukan ayam. Saya mencermati kadar airnya, mengukurnya dengan saksama, memastikan tombol merah sudah cooking, dan mengeceknya nyaris setiap menit. Dulu ada larangan untuk membuka periuk nasi terlalu sering, mungkin karena kami punya cerita tentang Jaka Tarub. Tapi, di rumah saya sedang tak ada Nawang Wulan. Saya tak mempertaruhkan apa-apa selain beras berikutnya. Dan upaya itu berhasil. Atau, setidaknya, relatif berhasil. Masih sedikit agak lembek, tapi jelas layak makan.

Untuk nasi pertama yang relatif sukses, saya siapkan seperiuk sayur asem. Dan sedikit pemberontakan. Saya membeli sepaket komplit sayur untuk bahan sayur asem di warung sayur terdekat. Saya dulu pernah membelinya untuk dimasak orang lain, tapi tetap saja menatap heran apa isi paket itu. Jipang tak begitu dikenal di tempat kami, tapi dilihat teksturnya ia memang sudah tepat disayur asem. Pucuk daun dan kulit melinjo bisa ditemukan di mana pun dalam olahan sayur orang Jogja, dan saya terus mengupayakan berkompromi dengannya. Tapi terong seharusnya tak di sini; ia mesti ditugaskan di kompartemen lodeh, atau dibakar dan diuleg dalam kubangan sambal. Tak apalah, “Wong ora mlayu wae kok,” kata orang tempat saya. Dan seupil asam matang itu! Ya Allah… ini benar-benar seupil. Saya menatapnya dengan geli sekaligus terharu. Saat itu juga saya benar-benar merindukan segenggam besar asam jawa yang gemuk dan hijau dan kecut. Lalu, masukkan sebungkus bumbu racik Indofood! (Ya, Anda jangan berharap ada adegan drama di bagian ini; saya sudah terlalu berumit-rumit dengan terlalu banyak urusan, jadi soal sayur biar yang instan saja.) Karena saya lupa membeli cabe, saya tuangkan saus pedas banyak-banyak.

Baca juga:  Kolom: Bonsai

Dua potong ikan pindang keranjang saya tunjuk untuk menjadi lauk. Dengan kulit mengkilap dan badan kaku menggembung, mereka mungkin tampak memesona di depan ibu-ibu di kawasan Pantai Selatan sini. Tapi saya ini orang Pantura, hai Ikan! “Saya tahu apa yang sudah kalian alami sebelum sampai ke sini,” kata saya kepada keduanya, sebelum melempar mereka ke penggorengan. Saya goreng mereka kering-kering.

Apakah enak?

Hmmm… Habis!

***

Setelah beberapa hari masak, saya bisa mengambil beberapa hikmah.

1) Seperti banyak hal, semisal bersepeda dan berenang, juga menjadi pembunuh bayaran, memasak punya banyak kemiripan dengan menulis. Ia punya kaidah-kaidah. Ada tahap-tahap yang mesti diikuti. Mesti dikuasai bahan-bahan dasarnya dulu. Namun, pada saat yang sama, ia terbuka lebar bagi improvisasi. Ideologi menulis Putu Wijaya, “Bertolak dari yang ada”, bisa saya terapkan di dapur dengan sempurna. Misalnya, suatu hari, saya masih menyisakan banyak bahan sop, namun bumbu instan yang tersisa tinggal bumbu racik nasi goreng. Digabung dengan sedikit sisa nasi dari hari sebelumnya, kentang, wortel, kembang kubis, dan sedikit makarone segera saya sulap jadi sop goreng bernasi.

2) Karena kemiripannya dengan menulis, jargon para penulis hebat yang sering diulang-ulang di acara-acara literasi, “Teruslah menulis”, saya kira bisa sedikit digubah menjadi “Teruslah memasak!” Hanya itu satu-satunya cara. Dan, jangan lupa, sedikit branding juga penting.

3) Memasak dengan bumbu racik instan mungkin terdengar tidak keren, jauh dari yang pernah dilakukan seorang teman yang mendirikan warung dan memasang jargon: “Makan adalah melawan.” Tidak, saya tak mau menyulitkan diri di usia segini. Bumbu racik instan mewakili sesuatu yang massal, kompromistis, dan gampangan; mirip film India, bukan? Jadi, tak apa, malah itu mewakili sisi lain saya, dan saya tak perlu menyembunyikannya. Tapi, seperti saya temukan di tulisan, film, juga hidup, yang massal dan gampangan ini justru kadang bisa lebih menjelaskan dan mencerminkan masyarakatnya dibanding yang rumit dan dakik-dakik. Ia lebih jujur, barangkali. Atau setidaknya begitu, sejauh ini. Dan itulah yang saya dapatkan: kejujuran. Begitu mencoba rasa sayur asem dan sop instan itu, saya tersenyum lebar. Bukan karena rasanya benar-benar enak, tapi karena saya baru saja membongkar sebagian kecil, sangat kecil, rahasia kuliner Jogja: warung A, kafe B, kantin C, yang biasa saya kunjungi, rupanya memakai bumbu yang sama; bumbu instan yang sama.

4) Menumis itu gampang. Menulis tidak.

BACA JUGA Buku Panduan tentang Jenis-jenis Kakus atau esai MAHFUD IKHWAN lainnya di kolom REBAHAN.