Diawali dari membaca, baru kemudian menulis; penulis yang baik biasanya lahir dari pembaca yang baik. Begitulah orang-orang mengidealkan. Itu juga yang saya idealkan. Terutama karena hal itu tak terjadi pada saya.

Saya bisa katakan: dari mendengar, saya menulis. Ya, saya mungkin pendengar yang berisik, tapi saya sangat mudah tertarik dengan kisah yang dituturkan, dan saya pengingat yang cukup baik. Itu saya mulai dengan cerita nabi-nabi dari Bapak, dari satu sandiwara radio ke sandiwara radio lain, dari corong-corong orang hajatan yang memutar lagu-lagu Rhoma Irama dan Ida Laila (simaklah lagu-lagu mereka, dan Anda akan menemukan cerita yang saya maksud), lalu obrolan orang-orang. Sebagian saya lakukan saat masih kecil. Tapi, sampai setua ini, saya masih melakukan sebagian yang lain. Dan saya tak membayangkan bisa menulis novel tanpa melakukan itu.

(Ulid adalah sebuah tribut yang berbuih-buih atas Brama Kumbara dkk., lebih khusus lagi kepada Ferry Fadli, pahlawan masa kecil saya, tapi terutama kepada radio dan tradisi mendengarkan radio. Sebagian cerita yang saya susun dan kocok ulang di Kambing dan Hujan saya dapat di beranda-beranda masjid, dari para orang tua yang mencoba memamerkan kebesaran masa lalunya. Warto Kemplung bersama kebiasaan ngopi dan berbualnya dalam Dawuk, Anda pasti bisa menebak saya pungut dari mana.)

Itu mungkin memberi sedikit corak berbeda atas cerita-cerita saya, tapi saya merasa itu tetap tidak ideal. Setidaknya, saya selalu membayangkan awal yang lebih baik.

Saya selalu iri dengan teman, lebih-lebih para penulis, yang bisa bercerita tentang judul-judul buku dan nama-nama penulis kondang di masa kecilnya; mereka yang bisa menyusun kembali kisah-kisah membaca pertamanya bersama bapak atau ibu atau kakek-neneknya; mereka yang sudah membaca buku-buku sastra keren di masa remajanya; mereka yang di usia SMA sudah bisa mencanangkan hendak jadi penulis karena mengidolakan seorang penulis, atau, sebaliknya, yang tidak ingin menulis karena sudah cukup tahu seluk-beluk dunia menulis. Betapa menyenangkan hidup para bocah yang melewati masa kecilnya bersama Karl May dan Enyd Blyton. Betapa hebatnya masa kecil di rumah penuh buku seperti yang dialami Sartre atau Pamuk atau Rushdie. Kalau mesti mati berkali-kali untuk bisa lahir kembali di rumah penuh buku seperti mereka, saya pikir itu bukan hal yang terlalu buruk.

Saya ingin seperti mereka. Tapi, tentu saja, saya tidak bisa. Saya sudah kadung besar—dan menua. Saya mungkin bisa memburu dan membaca buku-buku yang seharusnya dibaca di masa pertumbuhan itu, dan kadang saya memang mencoba melakukannya. Tapi, saya tahu, itu tak akan mengganti pengalaman yang tak pernah saya lewati.

Nama Amir Hamzah atau Chairil atau Rendra, atau nyaris semua nama yang disebut di buku ajar dan ditanyakan dalam ujian bahasa Indonesia, memang tak asing bagi saya setidaknya setelah SMP. Tapi itu bukan karena saya pembaca buku yang rakus, lebih-lebih pencinta sastra sejak dalam kandungan. Saya hanya penghafal yang cukup baik, dan karena itulah saya bahkan hafal nama-nama tak cukup dikenal yang karya-karyanya mungkin hanya pernah dibaca H.B. Jassin dan Maman Mahayana. Dengan membayangkan buruknya sistem perpustakaan kita dan ketersebaran buku-buku sastra kita, mungkin saja di SMP-SMP paling maju sekalipun, dengan perpustakaan-perpustakaan paling bagus, yang tersedia hanya buku-buku dari nama tertentu saja. Tapi, di SMP saya bahkan tak ada perpustakaan. Koreksi: SMP saya bukan hanya tak memiliki perpustakaan, tapi juga tak punya kakus.

Ketika akhirnya masuk ke SMA dengan perpustakaan yang megah, dengan koleksi majalah Prisma yang berderet-deret, itu tak membuat banyak perubahan. Di satu sisi, sekolah itu sangat bagus, dan untuk menjadi lebih bagus mereka mesti meloloskan sebanyak mungkin siswanya ke perguruan tinggi negeri; dan semua hal yang tak berhubungan dengan soal-soal Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, misalnya membaca roman, tak terlalu dianjurkan. Di sisi lain, itu adalah masa ketika sepakbola benar-benar merusak hidup saya; begitu banyak waktu dan keseriusan saya habiskan untuk bermain, menonton, dan memikirkan—dan membaca—sepakbola. Maka, sampai saya lulus, kemudian kuliah Sastra Indonesia, satu-satunya roman yang pernah saya rampung baca adalah Perawan di Sarang Penyamun-nya Sutan Takdir Alisjahbana—dan percaya atau tidak, sampai saat ini, itu adalah satu-satunya roman Takdir yang rampung saya baca.

Baca juga:  Melihat Penulis Bekerja

Tapi, tidak ideal bukan berarti sama sekali tak ada. Setidaknya, Bapak dulu menyimpan beberapa buku seri BUTSI.

***

BUTSI, hanya itu kata kunci yang saya pegang. Saya coba ingat-ingat apa kepanjangannya, tapi tak menemukan sedikit pun jembatan keledai yang bisa menolong. Ketika mencarinya di mesin pelacak, saya temukan kepanjangan yang asing dan aneh: BADAN URUSAN TENAGA KERJA SUKARELA INDONESIA. Saya sulit menghubungkan kepanjangan itu dengan buku-buku yang pernah mengisi masa kecil saya. Namun, kutipan berikut saya pikir cukup membantu.

“Rabu, 28 September 1977, Presiden Soeharto mengikuti secara seksama perkembangan dan kegiatan yang dilakukan para tenaga kerja sukarela BUTSI di daerah-daerah. Hal ini disampaikan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Subroto pada rapat kerja nasional TKS BUTSI angkatan ke-7 dan ke-8 yang berlangsung di Semarang,” demikian ditulis admin Soeharto.co.

Buku-buku itu ada banyak, berseri. Mungkin sekitar dua puluhan judul. Tipis-tipis. Tak ada yang bisa saya ceritakan lebih kecuali bahwa saya lahir dan menemukan buku-buku itu ada di lemari buku Bapak, di antara buku-buku ajar MI dan buku-buku agama yang tak banyak. Konon, Bapak mendapatkannya ketika ditunjuk jadi ketua Kontak Tani desa kami, sebuah cerita yang terus saja membuat saya tersenyum mengingat kami tak pernah punya sawah.

Mungkin karena itu adalah pengalaman di masa balita, yang sebagian saya lewati dalam kondisi sakit-sakitan, ingatan atas buku-buku tersebut berkabut. Namun, boleh jadi juga, karena saya tak pernah benar-benar membacanya. Saya bayangkan, seperti kebanyakan bocah di usia itu, saya hanya membuka-bukanya, melihat gambar ilustrasinya, atau mungkin sekadar mendapat keasyikan dengan memberantakkan buku yang sudah ditata rapi. Sebagai bocah yang tak melewatkan masa kanak-kanaknya dengan membaca komik dan cergam (kecuali komik surga-neraka, beberapa cerita nabi-nabi, dan wayang umbul), level paling serius mungkin adalah menjadikan buku petunjuk teknis ala Orde Baru itu sebagai buku bergambar, meskipun buku itu tak cukup menarik juga ilustrasinya. Oleh karena itu, saya tak mengingat satu pun judul buku seri itu, juga tentang apa buku-buku itu. Kecuali mungkin sebagian sangat kecil.

Salah satu buku seri BUTSI yang saya ingat adalah petunjuk teknis mengawetkan pakan ternak. Saya masih bisa mengingat diagram-diagram dan panel-panelnya, dari mulai adegan menyabit rumput, menggali lubang penyimpanan, memasukkan rumput ke dalam lubang, mengambil kembali, dan diakhir dengan memberikannya kepada sapi. Saya kira, sabit yang dipegang si petani di gambar ilustrasi sedikit terlihat aneh.

Namun, yang paling saya ingat adalah buku tentang petunjuk kakus. Berisi antara lain pentingnya kakus bagi rumah tangga, jenis-jenis kakus, cara membuat kakus, dan tentu saja cara menggunakannya. Berbeda dengan kebanyakan buku lain, saya sepertinya benar-benar membaca buku ini, meskipun boleh jadi hal itu saya lakukan lebih belakangan. Hal ini terlihat dari ingatan saya yang gamblang tentang jenis-jenis kakus, yang saya yakin saya dapatkan dari buku tersebut.

Baca juga:  "Kerja di Mana?" dan Cara-Cara Menjawabnya

Di buku ini diterangkan tentang dua jenis kakus, yaitu kakus cemplung dan kakus leher angsa. Kakus cemplung berlubang lurus, tanpa penampung kotoran sementara, sehingga kotoran langsung jatuh ke saluran pembuangan atau tangki. Sementara itu, kakus leher angsa punya lubang berkelok seperti bagaimana ia disebut, dengan penampung kotoran sementara, dan lobang pembuangan yang lebih tinggi dari penampung sementara itu. Buku itu sangat jelas menganjurkan kakus jenis kedua dan meninggalkan kakus jenis pertama. Selain dianggap tidak sehat, kakus cemplung juga lebih bau. Tak cukup sampai di situ, kakus jenis cemplung itu juga berbahaya. Hal itu digambarkan dengan ilustrasi orang buang air yang tercebur ke jamban.

Ada beberapa hal di luar buku yang membuat ingatan saya tentang buku panduan jenis-jenis kakus ini lebih kuat dari buku BUTSI seri lain. Saat itu kira-kira hanya ada tiga kakus di seluruh desa. Dua kakus pertama ada di dua masjid (beruntungnya desa kami punya NU dan Muhammadiyah), sementara kakus ketiga ada di belakang balai desa, yang berada tepat di antara dua masjid. Kesemuanya cemplung. Dan tak menyenangkan, sebagaimana bayangan kami tentang lazimnya kakus. Ketiganya kakus-kakus yang seram, meski kakus di belakang balai desa adalah yang paling seram. Kakus itu jambannya berwarna krem tua dan bak mandinya menghijau oleh lumut karena tak beratap, sementara di atasnya mencangkung salah satu dahan dari pohon sukun yang katanya dihuni jin. Jangankan malam, nangkring siang pun tetap bikin gentar.

Tapi seramnya kakus-kakus cemplung itu bukan semata karena dianggap berhantu. Mereka terhubung langsung dengan gorong-gorong kampung yang satu sama lain bersambung. Bahwa gorong-gorong itu adalah jalan raya para jin, mungkin itu mitos; yang fakta, ia adalah habitat yang menyenangkan bagi biawak dan ular dan tikus untuk tinggal. Memang tak banyak kejadian orang-orang berak yang pantatnya disundul biawak, tapi bukan berarti hal itu tak pernah terjadi. Dan satu-dua kejadian cukup untuk membuat orang-orang, terutama anak-anak laki-laki, berak sembari menatap khawatir ke dalam lobang cemplung itu dan dengan waspada menjaga tititnya.

Lalu, masjid NU membongkar kakus lawasnya. Dan itu adalah untuk pertama kali saya melihat—secara nyata—kakus leher angsa.

***

Sejak kakus leher angsa pertama itu masuk ke desa, kakus-kakus kemudian muncul di rumah-rumah—kecuali di sekolah SMP saya. Dan kesemuanya pasti jenis leher angsa. Tentu saja, bukan karena kami semua membaca buku panduan jenis-jenis kakus seri BUTSI itu.

Seperti yang selama ini diyakini orang-orang yang tak membaca buku, buku-buku memang tak banyak berperan bagi perubahan. Tapi, tak banyak bukan berarti sama sekali tidak. Buku itu, saya kira, dalam kadar sekecil apa pun, menentukan siapa saya sekarang. Saya tetap yakin, jika tak membaca buku-buku seri BUTSI itu, mungkin saja saya akan membangun kakus-kakus di penjara di Malaysia. Dan di kemudian hari memakainya. Seperti yang dialami seorang teman.

Tapi, tetap, alangkah menyenangkannya jika yang saya baca di masa kanak-kanak adalah Karl May dan Enyd Blyton. Mungkin akan sedikit agak sulit mengeja nama mereka dibanding mengeja akronim BUTSI dalam huruf kapital, tapi membaca karya-karya mereka pastilah keren.

BACA JUGA Kolom: Pulang atau esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN