Saya akhirnya menghuni rumah yang ada wastafelnya. Untuk pertama kalinya. Maksudnya, tidak saja untuk rumah yang saya sewa, tapi juga rumah yang pernah saya tinggali. Setidaknya ada tujuh rumah yang pernah saya tinggali di Jogja, dan tak satu pun ada wastafelnya. Beberapa bahkan tak ada dapurnya, atau kalau ada kondisinya sangat buruk. Saya senang. Atau, bolehlah dibilang, sangat senang.

Sejujurnya, salah satu pertimbangan memilih rumah yang sekarang saya huni, selain harga lebih murah dan tak terlalu jauh dari terminal, adalah wastafel itu. Wastafel mengingatkan saya dengan Ibu. Ia sangat menginginkan bak cuci ala Barat itu ada di dapurnya, dan sampai hari ini hal itu tak didapatnya. Dan saya adalah orang yang mencegahnya. (Penjelasannya panjang, tapi singkatnya desa kami tak punya cukup air untuk membuat wastafel benar-benar berfungsi jadi wastafel.) Dengan wastafel itu, saya ingin sedikit menyenangkan Ibu saya ketika berkunjung ke Jogja karena kesenangan lebih besar yang diinginkannya belum bisa saya berikan.

Lihat, wastafel itu sudah bikin saya melankolis bahkan sebelum memakainya. Dan, begitu memakainya, saya kemudian diliputi visi-visi yang sebelumnya tak terbayangkan.

Wastafel adalah penanda secara keseluruhan kondisi dapur itu cukup baik—atau mungkin lebih dari itu. Ruangan dapur didominasi cat biru, sementara sekira satu setengah meter ke bawah dinding dikeramik warna putih semu ungu. Terasa segar. Dan mungil. Tapi, justru karena itu terasa pas. Ketika kulkas saya masukkan, pintunya terjangkau dari depan kompor. Ada tempat untuk tatakan gelas dan piring, juga hanya sejangkauan tangan dari wastafel. Dengan tambahan rak kayu yang dipaku di dinding, bahan yang tak cocok tertampung di kulkas macam mi instan, juga pernak-pernik dapur, bisa ditampung. Alat-alat masak berukuran agak besar saya gantung di sisi lain, lagi-lagi terjangkau tangan. Sebuah jendela besar di ujung ruang dapur, menghadap ke arah barat, membuatnya sempurna.

Dengan dapur macam itu, tak ada cara terbaik memanfaatkannya kecuali dengan memakainya. Saya harus mulai masak. Dan karena di sekitar rumah baru ini tak terlalu banyak pilihan warung makan, saya memang harus masak. Membeli makan pakai jasa antar boleh sesekali, tapi jangan sampai jadi kebiasaan; manja. Saya lama tak masak, dan tak banyak mewarisi resep Ibu, tapi saya tahu saya pernah bisa masak—anak dari orang tua perantau harus bisa masak. Mungkin yang rumit-rumit tak akan bisa saya kejar, tapi yang sederhana saya kira bisa, atau akan cepat bisa. Tapi, mengingat terbatasnya alat masak, juga perlunya waktu membangun kebiasaan baru, atau membangkitkan kebiasaan lama, mungkin tak bisa segera. Butuh waktu. Mesti disiapkan satu-satu. Pelan-pelan dulu. Tak apa Go-Food dulu.

Yang bisa segera dilakukan, dan karena itu segera saja saya lakukan, adalah membuat minuman. Dapur yang nyaman, dengan wastafel, wastafel pertama yang saya punya, membuat keinginan untuk memasak air dan mengaduk kopi atau meramu teh lebih keras bahkan dibanding meminumnya. Di rumah terdahulu saya bisa malas membikin kopi karena mesti mencuci gelas dan cangkir kotor, dan itu sering tak menyenangkan; di rumah baru, dengan dapur berwastafel, saya bahkan harus mengendalikan keinginan untuk segera mencuci gelas dan cangkir agar tak lagi membuat minuman baru. Dalam beberapa hari saja, saya merasa angka konsumsi kopi dan teh saya meningkat tajam.

Tentu saya mesti mewaspadai naiknya konsumsi gula saya. Namun, yang segera saja terasa menjadi masalah adalah ampas kopi dan teh itu. Ingat, dapur ini berwastafel, dan wastafel dan ampas minuman tak bisa disandingkan—saya cukup tahu itu meskipun tak pernah punya wastafel sebelumnya. Sebelum ini, saya sembarang saja membuang ampas kopi atau teh, sebab tak ada lobang wastafel yang mesti saya jaga. Ini tak bisa diteruskan. Membuangnya ke toilet atau membuangnya ke luar jendela bisa dilakukan sesekali sebagai kejorokan kecil yang bisa ditoleransi, tapi melakukan itu secara berulang-ulang dan untuk waktu lama tak bisa diterima. Saya tak seburuk itu. Saya mesti mencari solusinya.

Lalu saya menjumpai gambar-gambar desain interior dapur yang lewat di lini masa media sosial: green kithen, dapur hijau. Saya kemudian membayangkan pot-pot bergelantungan di dinding-dinding kosong dapur saya. Ampas kopi dan teh bisa ditaruh di sana. Di bawah bunga-bunga. Cita rasa Putri Marino dengan kebijaksanaan Kuntowijoyo. Wastafel sehat, dapur hijau. Boleh juga dicoba.

***

Dengan ukuran orang-orang kota saat ini, saya kira, tak ada yang lebih hijau dari dapur kami di desa dulu. Coba saya ingat-ingat.

Dapur itu sepertinya tak direncanakan sejak awal. Ia menempel di rumah pokok. Atapnya yang ilalang berbeda dengan keseluruhan rumah yang beratap genting. Pembuatannya disusulkan beberapa waktu setelah rumah kami dibangun ulang—kami memutuskan pindah tak lama setelah Ibu bertengkar hebat dengan kakaknya, bude saya, setelah saya berkelahi dengan sepupu saya. Bapak menganyam sendiri dinding bambu untuk dapur itu. Ia juga mencari daun ilalang ke hutan, menjemurnya, dan me-melit-nya sendiri. Saya ingat, Ibu mesti masak di luar rumah sebelum dapur itu benar-benar jadi.

Baca juga:  Kolom: Ideal dan Ironi

Hanya sedikit lebih besar dari kamar yang sekarang saya tinggali di Bantul, saya rasa saya masih bisa mengingat satu-satu isinya, menjejernya dengan urutan yang rapi. Ruangan berlantai tanah itu, sebagaimana juga seluruh rumah, terjepit di antara dinding belakang rumah dan tebing setinggi genting yang membatasi pekarangan kami dengan pekarangan tetangga yang letaknya lebih tinggi. Memanjang dari utara ke selatan, dapur itu punya dua pintu: pintu ke barat menyambungkannya dengan keseluruhan rumah, pintu ke selatan menyambungkan dapur dengan kebun, jalan setapak menuju sendang tempat kami mengambil air, dan kamar mandi yang lebih belakangan dibangun.

Di sisi paling utara, sebuah meja tua melintang mengisi nyaris seperlima ruangan itu, tempat Ibu menaruh nyaris semua bumbu dapurnya, juga menyembunyikan lembar cicilannya dari bank plecit. Di sampingnya, menempel di dinding sebelah barat, ada lemari piring sederhana yang dibuat sendiri oleh Bapak. Masih sedikit agak di sisi utara, dua tungku tanah liat alias pawon diletakkan berdampingan; tentu dengan abu dapur dan sisa arang kayu yang luber di mulutnya. Ini adalah pusat dapur. Tepat di atas tempat biasa Ibu jongkok untuk masak, tergantung salang, tempat menyimpan piring lauk, agar tak dijangkau kucing. Tepat di tengah ruangan, namun dipepetkan ke dinding sebelah timur, sejangkauan dari tungku, diletakkan sebuah gentong air dengan gayung batok kelapa menyilang di atasnya.

Masih ada ruang tersisa setelah benda-benda itu, namun, seingat saya, diisi oleh barang atau hal yang tak permanen, tergantung kebutuhan, tergantung keadaan. Jika musim panen, sisa ruangan dapur itu jadi tempat menyimpan satu-dua sak jagung atau kacang. Ketika ibu saya berdagang ketela, ia menumpuk umbi-umbi mentahnya di situ. Saat awal memelihara kambing, sementara kandang di luar rumah belum dibikin, sisa ruang dapur tersebut untuk sementara jadi kandang. (Ketika menulis tentang hubungan yang rumit antara si gembala kolokan dan kambingnya yang jelek di cerpen “Belajar Mencintai Kambing” bertahun-tahun kemudian, inilah tempat yang selalu saya bayangkan dalam cerita itu.)

Sampai sejauh ini, gambaran betapa hijaunya dapur tersebut saya kira sudah bisa dibayangkan. Namun, jika belum tertangkap, mari kita mulai dari yang paling esensial dan kekinian: dapur itu nyaris terbebas dari bahan bakar berbahan fosil. Tungku itu hanya butuh sangat sedikit minyak tanah untuk membuat api, dengan sedikit bantuan tiupan napas tentu saja, lalu kayu bakarlah yang menyelesaikan sisanya. Sedikit lagi minyak tanah dibutuhkan untuk lampu teplok, yang hanya dinyalakan saat malam saja, itu pun di waktu yang sangat pendek.

Di luar pintu, dapur itu dikelilingi oleh pekarangan yang penuh bahan pangan: pepaya tumbuh semaunya, sukun berdiri rimbun dan berbuah tak kenal musim, pagar pekarangan dari pohon kelor (yang kini dengan rumit kita sebut moringa) selalu menghijau bahkan saat kemarau, bayam dan tomat (baik yang ditanam maupun yang liar, yang hijau maupun yang merah), labu (yang bulat atau yang lonjong), juga kara (yang tak hanya sebatang), dan masih banyak lagi. Dapur itu tak memerlukan lemari pendingin untuk membuat sayur tetap segar, sebab tak ada sayur tak segar. Lagi pula tak ada listrik saat itu.

Kalau itu semua terdengar agak terlalu serius, seperti iklan Greenpeace, mari kita lihat yang lebih dekoratif, yang bisa segera dilihat mata. Dapur itu mencakup kandang kambing, jadi percayalah, kita akan selalu menemukan dedaunan hijau segar di sana. Dedaunan itu menyelamatkan kami dari embikan kambing saat malam, dan memberi aroma kuat rerumputan di pagi hari. Tapi mari anggap itu sebagai anasir luar, lagi pula itu juga sementara, sebab dedaunan itu akhirnya tak lagi ditemukan di situ ketika si kambing dibuatkan kandang sendiri. Perhatikan sekitaran gentong air, kehijauan yang lebih integral dengan dapur ada di situ.

Gentong dari gerabah itu tak selalu terisi penuh, tapi jelas selalu ada air—“kalau kelamaan kosong, nanti diisi ular,” begitu hardikan Ibu ketika saya malas ambil air ke sendang. Dengan demikian, gentong itu, dan tempat di sekitar gentong, adalah tempat paling sejuk di seantero dapur. (Dan jika mengingat betapa ia adalah tempat yang dituju sepulang bermain, apalagi di hari yang panas, maka gentong itu adalah juga tempat yang paling memberi pengharapan dan kesegaran.) Karena kesejukannya, kalau agak rikuh disebut lembap apalagi becek, area sekitar gentong menjadi tempat ditaruhnya umbi-umbian, baik yang belum diolah maupun yang sisa. Kesejukan bokong gentong membuat kesegaran umbi ketela pohon atau gembili atau talas tetap terjaga sampai ia menunggu dikukus. Tempat yang sama juga adalah ekosistem yang cocok bagi umbi-umbi tak terpakai untuk bertunas atau bersiung, yang pada saat yang tepat tinggal dipindah ke kebun saja untuk dibiarkan tumbuh. Adalah pemandangan yang jamak saat itu, di banyak dapur, kita menemukan tunas ubi atau gembili atau batang talas muda muncul di sekitaran gentong air. Jadi, kalau para pencipta lagu Melayu perlu pergi ke kebun untuk mendapat gambaran tentang “air di daun talas”, saya hanya perlu ke dapur. Inspiratif, kan?

Baca juga:  Kolom: Buku Panduan tentang Jenis-jenis Kakus

Tapi, dapur itu bahkan tak hanya ramah untuk tumbuh-tumbuhan. Tidak, saya tidak sedang bicara tentang kambing. Dapur kami adalah tempat terhangat di seantero rumah saat musim hujan. Atap ilalang adalah alasannya. Mungkin karena itu, ketika pintu dapur yang menghadap kebun lupa ditutup saat hujan, saya bisa menemukan seekor biawak mendongak ke arah saya. Di dapur. Dan itu tak hanya sekali.

***

Selain bahwa ia adalah tempat terbaik untuk mendengar sandiwara radio (sembari pura-pura menjaga api atau memastikan nasi tanak, sementara Ibu keluar untuk membeli lauk-pauk atau mandi ke pemandian umum di masjid), saya tak merindukan dapur “hijau” itu. Kambing memberi pengalaman singkat yang mendalam di ingatan, tapi saya tak ingin jadi gembala lagi. Mengambil air untuk gentong baru-baru ini saja saya sudahi, dan itu tak terlalu menyenangkan. Saya juga tak ingin punya dapur yang dimasuki biawak. Saya menceritakannya ulang bukan karena melankolis. Saya hanya mau berolok-olok kepada orang-orang kota yang mendambakan hidup “kembali ke alam”. Mereka pasti tak pernah punya pengalaman tumbuh dan besar bersama dapur yang begitu bersahabat dengan alam seperti yang saya alami. Kasihan sekali mereka.

Saya suka dengan dapur saya yang sekarang: minimalis dan praktis. Semuanya tampak sempurna, terutama wastafelnya. Saya suka wastafel itu. Ibu saya, kalau ke Jogja, pasti juga akan suka. Saya bayangkan, ia bahkan akan mencuci piring-piring yang sudah bersih hanya agar bisa memakai wastafel itu lebih banyak dan lebih sering. Maka, saya bertekad untuk menjaganya. Saya ingin dapur ini menjadi dapur ternyaman yang pernah saya punya, meski radio kini hanya menyiarkan laporan lalu lintas dan semua acara musik memutar lagu campursari yang dikoplokan. Saya menginginkan “dapur hijau” dengan sedikit cita rasa kekinian.

Saya memikirkan satu-dua pot kaktus. Setidaknya segitu dulu. Belum pasti di mana kira-kira akan saya letakkan, tapi tentu saja tak boleh jauh-jauh dari wastafel. Sisa teh dan kopi akan bagus untuk tambahan humus. Konon tumbuhan tangguh ini tak perlu disiram, jadi cocok; cocok juga bagi pemalas lalai macam saya. Mungkin nanti akan dibutuhkan pot-pot berikutnya. Itu malah bagus.

Tapi, tunggu… tidakkah kaktus akan mengingatkan kepada duri entong-entongan yang bertebaran di bukit-bukit kapur di belakang rumah? Kaktus-kaktus yang dijual di pinggir-pinggir jalan di Jogja pasti lebih mungil dan lebih lembut, tidak besar dan mengancam seperti yang biasa tumbuh di belakang rumah. Tapi, tetap saja, mereka kaktus, kan? Saya bayangkan Bapak akan mengernyitkan kening melihat anaknya membawa perdu paling dihindari perambah semak itu ke dalam dapur; mungkin ia akan menyangka dirinya tidak cukup baik mewariskan pengetahuannya soal semak belukar kepada anak sulungnya. Bagaimana kalau sawi saja?

Rumah ini cukup jauh dari kios sayur, dan mereka biasanya hanya menyisakan sawi layu. Nanti potnya bisa dibuat sendiri dari bahan-bahan bekas. Lebih murah malah. Saya kira saya bisa tanya kepada Mas Rudi, teman serumah, seorang aktivis pertanian organik. Ia pasti tahu di mana saya bisa dapat bibit sawi yang baik. Juga, media apa yang pas untuk tanaman sawi dalam ruangan.

Sebentar. Bukankah di kamar Mas Rudi ada sebuah sak yang berisi aneka bibit? Saya ingat ia punya bibit unggul kecipir. Kecipir enak sekali kalau dikukus dan dimakan dengan sambal. Dan kecipir agak jarang ditemukan di kios-kios sayur di Bantul.

Kecipir di dapur, kenapa tidak? Mungkin sedikit agak di luar kebiasaan, tapi saya bisa bayangkan betapa rimbunnya dapur saya. Bayangkan sulur-sulur kecipir membelit keran lengkung wastafel. Alangkah indahnya.

BACA JUGA Kolom: Ayam di Beranda atau esai MAHFUD IKHWAN lainnya.