Ketika pulang kampung kemarin, teman saya Wahab bercerita bahwa ia sedang keranjingan hal baru: bonsai. Ia ceritakan hal itu dengan bersemangat, juga berulang kali. Salah satunya di suatu sore di sepanjang perjalanan dengan sepeda motor sepulang dari warung kopi miliknya di dekat kantor kecamatan.

Di akhir Februari, pemandangan di sepanjang Solo Valley (kami menjawakannya menjadi Solopali), muara dari sebuah sungai hasil sudetan Bengawan Solo yang membelah kecamatan kami, sore itu sedang bagus-bagusnya. Sungai sedang penuh air. Gelegak arusnya terdengar bahkan dari kejauhan. Musim tanam masih belum sepenuhnya usai. Di sepanjang jalan, kita bisa saksikan petak-petak sawah yang baru diolah, dengan benih padi yang sudah dicemplungkan namun masih dalam ikatan-ikatan dan belum ditanam, juga para petani yang terduduk di pematang dengan badan berlepotan lumpur, mungkin sedang bersiap pulang. Ladang-ladang yang lebih awal ditanami dijejali batang-batang jagung umur sebulanan yang gemuk dan nyaris menghitam saking hijaunya. Di bagian lain, batang-batang lombok yang lebih awal lagi ditanam terlihat telah berwarna kuning pekat oleh buah mudanya yang rimbun. Lembah sungai yang tak terlalu luas ini adalah daerah tersubur di sekujur kecamatan, setidaknya sepanjang sungai tidak sedang benar-benar kering. Namun, atas semua hal itu, teman seperjalanan saya justru menggebu berbicara tentang pohon-pohon yang dikerdilkan.

Dan persis keranjingan jenis lain, ia mencipta halusinasi. Wahab melihat bonsai ada di mana-mana. Pada pohon asam yang tua meranggas, dengan sedikit pangkasan di sana-sini, ia bilang bisa membayangkan versi kecilnya yang indah. Pada pohon kejaran yang batangnya berlubang dan menghitam oleh getah, dengan cabang-cabang kurus yang enggan, ia bisa membayangkan pot yang cocok jika saja bentuknya sedikit lebih mungil. Bahkan pada pohon-pohon mangga yang bertebaran di sepanjang area tegalan, ia bisa temukan bentuk kerdilnya yang menyenangkan.

Saya dongkol, namun bisa mengerti jenis keranjingan macam ini.

Saya pernah tahu rasanya. Mungkin sekitar usia awal SMP, ketika para perantau awal mulai pada balik dari Malaysia, mereka pulang dengan membawa kesan mendalam terhadap seni mengerdilkan tanaman ala Jepang itu. Kampung kami penuh bukit batu. Tumbuhan yang kerdil secara alami karena nemplok di atas cadas adalah pemandangan sehari-hari. Maka, berbondong-bondong kami naik bukit dan masuk hutan, untuk membawa pulang batang-batang kawis, serut, beringin, asam, yang kami bayangkan akan bagus (dan mudah) untuk dikerdilkan. Beberapa tahun kemudian beberapa rumah punya pohon asam dan beringin yang tinggi besar. Salah satunya adalah rumah saya.

Tapi, sebelum itu, halusinasi jenis itu juga cukup familier. Ketika untuk pertama kalinya tergila-gila dengan catur di umur 9-10 tahun, saya melihat tegel masjid dan jamaah salat yang berbaris sebagai papan catur dan bidak-bidak yang siap dimainkan. Di usia yang sama, ketika obsesi terhadap sepakbola dan mimpi menjadi Ricky Yakobi dimulai, semua palang yang renggang tampak seperti gawang.

Sejujurnya, ketika Wahab tengah melamunkan bonsai-bonsai khayalannya, hal yang kurang lebih sama sebenarnya juga sedang mengisi kepala saya. Saya sedang memikirkan beranda depan rumah di Bantul. Saya bayangkan bagaimana jika ayam-ayam yang berteduh menggigil menunggu hujan reda itu adalah orang-orang yang berkumpul untuk ngobrol, membahas sesuatu, berdiskusi. Jika biasanya tahi ayam yang teronggok basah di atas meja bambu, bagaimana kalau sesekali di atas meja itu adalah teh hangat dan gorengan ala kadarnya, mungkin juga kaki bersandal jepit butut yang nangkring milik seorang penyair pemula yang sedang angkuh-angkuhnya.

Yang agak lucu, dan ini yang membedakan saya dengan Wahab, saya berhalusinasi saat orang lain keranjingan.

***

Sebelum ada yang komplain, saya memang tak seharusnya menyandingkan kata “diskusi” dengan “keranjingan” yang cenderung peyoratif, setidaknya untuk dua alasan. Pertama, “diskusi” adalah nama tengah Yogyakarta. Begitu masuk kota ini, saya segera mendengar cerita-cerita hebat tentang forum-forum hebat di masa lalu yang melahirkan orang-orang hebat. Saya hidup dan berproses di sebuah lingkaran perkawanan yang memuja cerita-cerita dan orang-orang hebat itu dan selalu bercita-cita mereplikanya, apalagi pasca-’98 ketika demo dan turun ke jalan sudah mulai terlihat klise dan dangkal. Yang kedua, tentu saja saya tak boleh berkata-kata buruk berkait hal mulia macam diskusi. Tapi, izinkan saya memberi sedikit perspektif.

Diskusi adalah tameng aman dan nyaman bagi orang-orang yang tak bisa berbuat lebih dari itu. Dan Jogja adalah gudangnya—saya adalah salah satu contoh ekstremnya. Rapat-rapat yang panjang berbulan-bulan, meskipun tak berujung apa pun, akan dinyatakan dengan bangga lagi angkuh dalam kalimat klise semacam: “Proses lebih penting dari hasil.” Tak ada yang sia-sia dengan “diskusi”, meski yang sebenarnya dilakukan adalah obrolan ngalor-ngidul tak jelas, dan sejujurnya sebagian besar tak berguna.

Bilik-bilik himpunan mahasiswa, emperan-emperan gedung kampus, bangku-bangku taman, kantin-kantin jorok yang riuh, juga tikar plastik buluk angkringan di tengah malam yang ngelangut adalah tempat tradisi ini tumbuh. Sebagian kecil diskusi-diskusi itu mendapatkan gemanya, kelak, di ruang-ruang perkuliahan, di gedung-gedung seminar, di ruang rapat sebuah pusat studi, di pendopo-pendopo kantor LSM, juga di buku-buku yang dicetak dengan sedikit terburu-buru; namun kebanyakan tidak jadi apa pun, menguap bersama kantuk yang datang telat, dan bahkan dilupakan oleh orang yang memikirkannya begitu bangun saat sore. Dengan hasil akhir yang kira-kira sama, tradisi itu kemudian beralih ke warung-warung kopi, dan lebih belakangan lagi kafe-kafe, di pertengahan dekade pertama 2000-an.

Baca juga:  Berburu Mie Ayam Enak di Jogja (Part 2) #MeatAndGreat

Saya tak benar-benar menyaksikan dari dekat perubahan itu—meski hanya berjarak 30 km dari Jogja, saat itu saya adalah seorang buruh percetakan di sebuah kota kecil, yang tak punya kemewahan untuk nongkrong berlama-lama. Ketika di tahun 2009 saya keluar dari pekerjaan, punya waktu berlimpah untuk ngopi dan punya sedikit tabungan untuk bersantai, saya menemukan warung-warung kopi yang telah riuh oleh para mahasiswa, dengan obrolan-obrolan berat, dengan laptop menyala dan buku-buku terbuka. Mereka tampak sebagai orang-orang yang siap menyelesaikan semua persoalan bangsa, mulai dari macetnya Reformasi hingga bobroknya dunia literasi.

Sebagai tukang ejek bermulut nyinyir, juga karena merasa pernah melewatinya, saya tentu saja mengejek bocah-bocah itu. Tapi, saya dengan segera mengikuti mereka, menjadikannya semacam kenikmatan yang dulu tak tuntas direguk di masa kuliah. Saya pernah menghabiskan nyaris seluruh malam Ramadan di sebuah warung kopi di Jogja, dengan orang-orang yang sama, dengan obrolan yang tak banyak berubah dari malam ke malam. Di tempat yang sama, saya mengerjakan buku-buku pesanan dan dengan itu bisa membayar kontrakan. Di tempat yang sama pula, saya dan dua teman menghabiskan waktu bermalam-malam berdiskusi hanya untuk menggodok sebuah blog sepakbola yang tak cukup mendapat pembaca, seakan itu rapat maraton untuk menumbangkan PSSI sekaligus menyaingi tabloid Bola. Saya ingat betul, novel pertama saya yang diabaikan penerbitnya, tak didengar bahkan oleh almamater saya sendiri, mendapat kehidupan keduanya di warung kopi, terutama dalam obrolan-obrolan tak resmi. Draf novel kedua saya telah diobrolkan, bahkan dilakonkan, juga di warung kopi, jauh hari sebelum terbit.

Saya bahkan menjadi bagian dari bocah-bocah sok serius itu ketika menyepakati bergabung dalam sebuah gerakan literasi yang terlalu bersemangat. Kami menggodoknya berminggu-minggu, seakan hendak mendirikan negara baru, dan itu semua dilakukan di warung kopi. Saya ikut mengasuh sebuah kelas menulis berbasis warung kopi. Kurang lebih dua tahun kemudian, saya telah keluar masuk puluhan warung kopi, menghabiskan ratusan gelas kopi, ratusan jam obrolan tentang menulis, dan mungkin ribuan jam obrolan yang tidak tentang apa-apa. Gerakan itu segera jadi kenangan hanya dalam beberapa tahun saja, seperti yang saya perkirakan. Tapi, beberapa ajakan yang jauh lebih belakangan datang kepada saya untuk mengisi diskusi-diskusi sederhana atau kelas-kelas menulis kecil, kebanyakan dari kelompok sangat kecil oleh anak-anak dari kampus yang tak terlalu dikenal, menyadarkan saya bahwa apa yang dulu tampak sia-sia itu rupanya meninggalkan jejaknya.

Tanpa perlu meremehkan apa yang dulu ikut saya kerjakan, tentu saja upaya itu salah satu saja—jika tak sampai hati menyebutnya sebagai upaya terkecil dan terlemah—dari banyak upaya lain oleh kelompok atau orang lain di warung kopi lain, juga di tempat-tempat lain. Lagi pula, di tengah menurun-drastisnya diskusi-diskusi kecil mahasiswa akibat diberlakukannya jam malam di nyaris semua kampus di Jogja, juga semakin mahalnya biaya kuliah, denyut itu masih ada dan bertahan dan terus bertahan, setidaknya di kampus-kampus yang lebih kecil—sebagaimana yang dulu kami saksikan dan kini makin kelihatan. LSM-LSM bangun dan jatuh, tergantung kelihaian mereka menyesuaikan diri dengan agenda penyandang dana, tapi diskusi-diskusi yang mereka selenggarakan terus berlanjut. Sementara itu, kelompok-kelompok seni dan kebudayaan terus bekerja meski dalam diam.

Kini, tak ada warung kopi atau kafe yang ingin dianggap keren yang tak menyelenggarakan diskusi. Bahkan, untuk beberapa kasus konyol namun heroik, ada warung-warung kopi yang didirikan hanya untuk dipakai tempat diskusi. Penerbit kecil maupun besar mengecambah, semua berlomba menyelenggarakan diskusi, sebagian dengan tempat yang mereka bangun sendiri. Event-event pameran buku, yang dulu dipenuhi pertunjukan standen dan lomba busana muslim, kini dipenuhi acara diskusi. Para penulis tiba-tiba jadi biduan laris serupa Tasya Rosmala dan Jihan Audi.

Dan ketika beberapa malam lalu, saat hendak ke stasiun untuk berangkat ke Blitar, membaca beberapa pesan ajakan, juga status undangan di media sosial, dan menghitung tak kurang dari enam acara di waktu yang bersamaan—semuanya diselenggarakan atau dihadiri oleh orang-orang yang saya kenal baik atau sangat baik—saya, entah kenapa, tiba-tiba mengingat sepuluhan tahun lalu dari malam itu. Ini belum panen, pastinya; ini jelas bukan puncaknya. Ini, boleh jadi, adalah jagung umur sebulan yang daunnya menghitam saking hijaunya; ia bahkan belum kembang.

Baca juga:  Kolom: MZ

Anehnya, saya melihat beberapa acara diskusi jadi terlalu megah, terlalu besar, terlalu ramai, terlalu rimbun. Lebih aneh lagi, saya merindukan yang lebih kecil; yang sepi tapi bersemangat, kurus tapi liat, rapuh sekaligus kokoh. Seperti… bonsai yang dipikirkan Wahab.

***

Ketika sore itu Wahab mengirim pesan sedang masuk hutan untuk berburu batang serut atau kawis atau asam untuk dikerdilkan, saya duduk di beranda rumah saya di Bantul dengan penuh rencana. Tiga dari empat rumah yang sebelumnya saya huni berfungsi menjadi tempat diskusi. Sebagian besar secara insidental, namun ada juga yang sejak awal direncanakan. Semua memiliki ruang tengah cukup luas. Rumah saya saat ini kecil saja, dengan ruang tengah adalah juga ruang depan, dan tak ada rencana untuk dijadikan apa pun selain sebagai tujuan untuk pulang, kamar untuk tidur, dan ruang tengah yang cukup untuk selonjoran nonton bola atau nonton India. Beranda yang mungil di depan, mau saya apakan bagaimanapun, sepertinya akan dikuasai oleh ayam-ayam itu.

Tapi saya sedikit berubah pikiran sore itu.

Mas Zul, pemilik rumah yang pematung, baru selesai menegel bidang halaman yang sebelumnya diplot sebagai parkiran mobil. Saya yang memintanya, karena tampaknya tak akan ada mobil yang diparkir di situ. Tidak terlalu rapi, karena ia kerjakan sendiri, di sisa-sisa waktu mematungnya. Tapi, mungkin karena itu terasa ada seninya—ya, hasil kerja para tukang yang kurang sempurna, itulah seni. Ia bahkan mengganti atap asbesnya dengan galvalum, menjadikannya terasa lebih cocok untuk orang dibanding mobil.

Dari balai bambu yang bau tahi ayam kering, saya memandangi parkiran yang baru bertegel itu, dan membayangkan salah satu balai bambu di depan pintu saya pindah ke sana. Ada tembok belum rampung yang memisahkannya dengan tanah kosong dan kuburan di sisi baratnya. Saya akan menata balai bambu itu memunggungi tembok, memunggungi kuburan. Hmm… sebuah diskusi yang memunggungi kematian, konsep yang tak buruk-buruk amat. “Obrolan Timur Kuburan”, yup, bercanda tapi juga serius. Tak perlu ada baner atau spanduk acara. Seunggun pasir sisa, gerobak dorong, alat-alat tukang yang masih ditinggal, juga sekop dan cangkul, jika sedikit ditata akan jadi latar belakang yang sempurna.

Dulu kami punya banyak kursi untuk diskusi. Karena merasa tak punya tempat untuk menyimpannya, saya berikan kepada teman yang secara rutin bikin acara. Tapi, setidaknya saya masih menyimpan lima biji bangku plastik. Saya kira itu cukup. Mungkin selembar tikar perlu ditambahkan, mengantisipasi jika itu kurang.

Saya membayangkan, di balai bambu itu, Tere Liye menanti dengan gelisah diskusi yang akan diisinya segera dimulai. Belum ada yang datang selain tuan rumah, moderator, dan pembicara kedua, jadi kami mengundurnya barang setengah jam. Sambil menunggu, novelis kita berbasa-basi dengan pembicara lain itu, seorang penyair tak terkenal jebolan universitas yang kini sudah berganti nama, yang akan membedah karya-karyanya dari aspek politik dan sejarah. Tak lupa, di sela basa-basi itu, ia sampaikan kekaguman soal koleksi buku tentang ’65 dan agraria di dalam rumah yang tadi sempat ditengoknya. “Tak semua punya saya,” demikian saya akan menjawabnya.

Di lain hari, Rintik Sedu boleh jadi ada di situ, menyampaikan makalahnya tentang “Sastra Indonesia Terkini dan Angkatan Paling Akhir”. Mari bayangkan ia sedikit gugup, mikrofon dan makalah di tangannya bergetar, dan suara cempreng dan putus-putus son jinjing memperburuknya. Ini jelas tak seperti yang biasa didapatnya, tapi ia besikukuh mengalaminya. Tak banyak yang hadir, hanya beberapa orang saja, di antaranya adalah dua penulis dari Angkatan 2000 versi Korrie Layun Rampan yang paling tidak menonjol, yang sepertinya sejak awal tak akan terima ada angkatan sastra baru setelah mereka.

Di waktu lain lagi, seorang penulis yang sudah cukup telat untuk terkenal, yang tak kunjung mendapat penerbit, yang tak pernah berhasil mencuri perhatian juri meskipun berkali-kali ikut lomba novel DKJ, sedang bersemangat menjelaskan draf novelnya sembari menumpahkan amarahnya kepada dunia yang salah mengerti dengan karyanya. Dua orang hadirin, yang kebetulan adalah teman-temannya, menyimak dengan sikap hikmat bercampur rasa prihatin. Dan hujan deras yang menghajar atap galvalum di atasnya membuatnya lebih bersemangat dan lebih marah lagi.

Saya senang membayangkan hal itu. Jangan salah, saya bahagia melihat diskusi-diskusi dengan ratusan hadirin, di Jogja maupun di banyak kota lain, tapi kadang saya merindukan jenis diskusi yang macam itu, yang angkuh dengan kesunyiannya, yang garang mesti diabaikan. Saya senang dengan jenis orang yang, meminjam Prima Sulistya, “bahagia mengerjakan hal sia-sia”.

Kurang lebih seperti orang-orang yang memelihara pohon hanya untuk dikerdilkan.

BACA JUGA Kolom: Lagu di Buku dan Buku Lagu dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.