Sejak sangat dini, saya percaya bahwa saya berbeda. Orang-orang mengatakannya demikian, dan itu menolong saya untuk tahu; tapi, terutama, karena dalam banyak kesempatan saya memang mengupayakannya. Tak heran seorang teman sampai menyebut, lebih tepatnya menuduh, apa pun yang saya lakukan (memilih bacaan, tontonan, musik kesukaan, pekerjaan, preferensi politik, atau bahkan jalan hidup), saya lakukan agar tampak berbeda—ia mungkin benar, tapi coba lihat betapa mainstream cara pandangnya.

Tapi, sekali lagi, teman saya itu mungkin benar. Coba pikir, semua orang yang tumbuh di generasi saya mendengarkan sandiwara radio (siapa yang tidak?), memuja Brama atau Sembara atau Kamandanu, tapi saya pikir hanya saya yang dikutuk tuli karena saking sulitnya dilerai; bocah-bocah di akhir delapan puluhan menyanyikan “Maria”-nya Julius Sitanggang atau “Hati yang Luka”-nya Betharia Sonata atau “Di Puncak Bukit Hijau”-nya Jayanthi Mandasari, tapi lagu saya—di usia delapan—adalah “Pondok Cinta” dari Nani Sugianto, yang nyaris erotis itu; kebanyakan anak membawa teman ke rumah untuk ditunjukinya mobil-mobilan baru atau televisi atau radio baru (atau lama, namun yang orang lain tak punya), sementara saya membawa teman ke rumah untuk saya pameri buku sejarah nabi-nabi tanpa gambar, hanya tulisan; sangat mudah menyukai sepakbola di awal ‘90-an, ketika Liga Italia menggila dan Liga Indonesia baru saja mulai dan langsung digilai, tapi hanya saya yang gilanya mengkhawatirkan—dan kemudian menular; yang keranjingan film India tak sedikit, tapi keranjingannya berkepanjangan tidaklah banyak, dan saya lagi-lagi menjadi salah satunya. (Dan saya kira saya akan mengisi terlalu banyak kolom ini dengan kalimat senada jika saya merinci kesemuanya.)

Pengalaman mengatakan, jadi berbeda itu banyak tak enaknya, dan oleh karena itu tentu saja saya pernah, dan boleh dibilang berulang-ulang, berusaha untuk menjadi bagian dari arus utama: membeli losyen dan sabun wajah dan pakai pasta gigi Closeup saat SMA, ikut ospek dan jadi aktivis mahasiswa dan lulus cepat saat kuliah, menjadi karyawan saat sudah lulus, mencari relasi dan bukannya teman ketika hidup di Jakarta, itu beberapa contoh saja. Tapi, hidup dalam kerumunan—ketika kamu adalah jagoan di antara sekian ribu jagoan (yang itu membuatmu sama sekali bukan jagoan), atau jadi pecundang di antara puluhan juta pecundang (yang menjadikanmu pecundang kebanyakan)—itu juga tak ada enaknya. Jika sama-sama tak enak, kenapa mesti sama dengan orang lain? Dan karena hidup yang biasa-biasa dan rata-rata selalu saja membawamu ke arah yang kebanyakan, kenapa tidak hidupmu yang biasa dan rata-rata itu sedikit diupayakan berbeda?

Menulis dan menyukai sepakbola sangat menolong saya untuk mempertegas penanda keberbedaan saya—meskipun, bagi saya, menulis sepakbola itu terlalu mainstream (apalagi jika menulis sepakbola dengan cara mainstream). Namun, tak ada titik ekstrem keberbedaan yang saya rasakan melebihi saat mesti menulis ketika seharusnya saya menonton sepakbola. Dan itu mesti saya alami ketika saya harus menulis di malam Minggu.

***

Malam Minggu sudah kadung disakralkan kebanyakan orang sebagai saatnya senang-senang: remaja ngapel dan pacaran, mereka yang berkeluarga keluar nonton atau makan, atau semacam itu. Dan hal itu saya kira masih bertahan hingga sekarang.

Saya tak pernah cocok dengan cara pandang itu pertama-tama tentu saja karena konsep itu dilahirkan dalam masyarakat yang jelas-jelas urban, yang punya konsepsi tentang hari kerja dan hari libur, dikotomi kerja vs rekreasi, dan terutama rumah yang membosankan vs luar rumah yang menyenangkan; saya, sementara itu, lahir dan besar di desa yang libur kerjanya adalah Jumatan (dan karena itu, Malam Minggu bahkan tak eksis di situ), yang rekreasinya nyaris hanya setahun sekali (yaitu saat Hari Raya, plus kalau layar tancap datang, atau orang berhajat menanggap tayuban atau memutar video di tengah jalan), sementara soal liburan adalah konsep yang diangankan semata karena kami pernah mendengarnya dari lagu Rhoma Irama atau dibicarakan di film Roy Marten. (Apakah remaja desa tak ngapel dan pacaran? Tentu saja, kenapa tidak! Anak desa bisa sama atau boleh jadi lebih liar dibanding anak kota. Tapi, mereka tak memerlukan malam Minggu selama mengaji masih diselenggarakan, dan jalan di belakang musala masih cukup gelap untuk bisa membuat janjian.) Yang berikutnya tentu saja karena saya segera menemukan sepakbola. Dan ini penjelasannya sudah pasti tak akan sederhana.

Di SMA, saya punya dua teman yang punya kisah serupa tapi tak sama. Seorang teman sekamar di pesantren mengalami fase buruk dalam hidupnya ketika ia jatuh cinta dengan gadis sebelah kelas, dan berusaha terlalu keras untuk mendapatkannya; ia kerap menghilang di malam-malam seharusnya ia ikut salat berjamaah dan mengaji, prestasi di sekolahnya melorot, dan semua teman dekatnya mengkhawatirkannya karena perubahan tingkah lakunya yang drastis. Teman sekamar lain pulang ke pondok dengan wajah bonyok; konon ia ditonjok seseorang yang mengaku pacar dari gadis sekelas yang sedang dekat dengannya. Lepas dari kesialan keduanya, karena pada akhirnya keduanya berujung menjadi pecundang asmara, saya rasa pengalaman mereka adalah pengalaman universal, jika bukan malah alamiah, di usia tengah belasan—yang oleh seorang bijak mungkin saja disarankan untuk dilalui semua orang. Yang tidak alamiah, dan karena itu aneh, justru adalah apa yang menimpa saya; alih-alih terinspirasi atau mengambil hikmah, saya hanya bisa menertawakan mereka. Menurut saya, jika hanya ingin menderita, kenapa tidak menjadi pendukung AC Milan pasca-Capello? Dan itulah yang persis saya lakukan.

Sepanjang masa SMA, menjadi milanisti tak ada enaknya. Sudah tak bisa menontonnya tiap akhir pekan, dan ini kemudian menjadi penyebab obsesi atasnya menjadi tak terperi, saya juga menjatuhkan pilihan kepada tim yang sedang bobrok-bobroknya. Mereka keok di semua jenis kompetisi, gagal total dengan pemain-pemain baru dan mahal, dan memainkan sepakbola yang sangat buruk. Ditambah ketakutan terhadap soal-soal Fisika dan PR Kimia, juga kegamangan akan apa yang hendak saya lakukan setelah menyelesaikan jenjang sekolah menengah, saya pikir saya tak memiliki imajinasi dan energi lebih untuk menderita dengan cara lainnya. Apalagi jika mengingat bahwa itu adalah tahun-tahun ketika timnas Indonesia terbaik yang pernah saya lihat keok di final Sea Games 1997 dan Argentina hancur di tangan Belanda di Piala Dunia 1998… sudahlah, saya tak sanggup menanggung derita yang lain lagi.

Milan akhirnya kembali juara di tahun pertama saya kuliah (sebuah gol langka Maldini di musim itu membuat saya berlinangan air mata karena terharu), dan tentu saja saya bahagia. Tapi jalan hidup saya mengambil arah yang membuat malam Minggu menjadi tampak tak mungkin: saya jadi merbot masjid. Yang lebih krusial lagi, dan pasti memperburuk situasi, saya mulai menulis. Dan seperti tak cukup, saya mulai mendukung Liverpool untuk terus bisa menyakiti diri sendiri.

Milan menjadi lebih kuat, lalu kembali menjadi juara Eropa. Liverpool memberikan kesenangan yang menyengsarakan bahkan untuk sebuah gelar Piala UEFA, melawan tim antah-berantah bernama Alaves, sementara di liga mereka belum juga ke mana-mana. Di luar kegagalan mengerikan Argentina di Piala Dunia 2002, sepakbola saya kira sedang sedikit berbaik hati kepada saya di masa-masa itu. Mungkin karena itu, lembah derita saya untuk saat itu adalah cerpen-cerpen awal yang gagal, yang disusul oleh cerpen-cerpen yang mulai berkembang namun tetap gagal, dan kemudian cerpen-cerpen yang tak bisa lagi berkembang dan telah jelas-jelas gagal. Dan tentu saja sebuah gelembung besar penuh arak memabukkan sekaligus racun mematikan bernama dunia aktivisme.

Dan ketika kawan dekat saya dibuat lintang-pukang hidupnya karena berurusan dengan lebih dari satu perempuan, sementara kawan dekat lain memperebutkan cinta gadis aktivis yang itu-itu juga dengan kawan dekat lainnya, saya justru sedang menumbuhkan kecenderungan untuk mengejek orang lain dan dunia. KKN saya pasti lebih buruk dari KKN Desa Penari, terutama dalam hal bahwa kami telah mulai saling bertengkar sejak pekan kedua, saling membenci sepanjang nyaris tiga bulan sisanya, dan tampaknya memilih untuk saling melupakan ketika berpisah—sementara di unit-unit lain, orang-orang saling pacaran, putus, selingkuh, jadian, putus lagi, dan kawin; di saat yang sama, saya justru begitu khawatir Jerman menjadi juara Piala Dunia.

Kemudian, tiba-tiba saja—jika kita sepakati bahwa start awalnya adalah kelas 1 SMA—saya mulai menghitung bahwa saya telah melewatkan sepuluh tahun malam Minggu tidak sebagaimana kebanyakan orang. Masih dengan sepakbola dan menulis, saya kemudian melewatkan sepuluh tahun berikutnya. Lalu, bersamaan dengan semakin tak relevannya konsep malam Minggu itu, boleh jadi, saya sedang menuju ke sepuluh tahun berikutnya lagi.

***

Dua teman SMA saya sudah jadi orang sekarang. Yang pertama jadi pemilik butik. Satunya lagi jadi bankir yang saleh. Mereka kawin-mawin (tentu tidak dengan gadis yang mereka taksir di masa SMA) dan beranak-pinak. Dan saya masih bersama hal yang dulu, yang nyaris 25 tahun lalu, membuat saya sama menderitanya dengan mereka meski saya tak ditolak, tak juga ditonjok.

Teman di masa kuliah yang lintang pukang sekarang tampaknya sudah jauh lebih tenang: beristri cantik, beranak banyak, dan memiliki pekerjaan yang dicintainya. Dua teman lain sama-sama gagal mendapatkan gadis yang diperebutkan, dan mungkin karena itu keduanya pada akhirnya hidup dengan jalan dan pilihan yang sangat jauh berbeda. Sementara saya, meski dengan amarah yang lebih teredam, masih menulis dengan cara yang sama, hanya berpindah nama kolom dan media saja.

Soal teman-teman KKN, saya tak tahu kabar mereka. Tapi saya kira, dan saya harap, mereka semua hidup berbahagia—dan mereka pasti berbahagia ketika kampus tempat mereka lulus, meski dengan pengalaman KKN yang tak menyenangkan, sedang berulang tahun. Saya? Saya belum akan betul-betul berbahagia sampai Argentina kembali menjadi juara Piala Dunia.

Tapi dengan demikian, dengan segala tapi, kecuali, dan sementara, benarkah itu membuat saya berbeda? Saya pikir begitu. Jika pun tidak demikian, dan kemungkinan itu bukannya sama sekali tak bisa terjadi, saya rasa saya sedang mengupayakannya. Dan saya benar-benar mengupayakannya ketika saya mesti menulis di malam Minggu.

BACA JUGA Gelap dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN

Baca juga:  Kolom: Belajar Sastra