Dia seorang budak perempuan berkulit hitam milik Firaun yang dihadiahkan kepada Siti Sarah, istri pertama Nabi Ibrahim a.s.

Setelah Firaun berkali-kali gagal “menjamah” Siti Sarah, sebagai bentuk penghormatan dan takjubnya pada “karamah” Siti Sarah, Firaun kemudian membebaskan Siti Sarah dan menghadiahinya budak bernama Siti Hajar itu. Sejak itu dimulailah kisah Siti Hajar yang luar biasa.

Dalam status sebagai budak Siti Sarah, Siti Hajar mendapat kabar bahwa Nabi Ibrahim a.s. menerima wahyu dari Allah Swt. untuk menikahinya. Disertai syarat dari Siti Sarah: jika Siti Hajar hamil lebih dulu, ia harus rela dibuang ke tempat terpencil yang tidak ada manusia.

Maka, terjadilah kisah yang umumnya kita sudah tahu. Penderitaan Siti Hajar sendirian bersama bayinya Ismail di padang pasir terpencil yang tidak ada sumber air dan tidak ada manusia seorang pun. Semua itu dia jalani semata-mata karena menuruti kata-kata suaminya, Nabi Ibrahim yang mendapat perintah Allah. Perintah yang sesungguhnya Allah tujukan kepada Nabi Ibrahim, tetapi penderitaan terberatnya harus ditanggung Siti Hajar.

Dengan kesusahan yang luar biasa, Siti Hajar membesarkan sendiri bayinya.

Setelah Ismail tumbuh besar dengan jerih payahnya sendiri di tempat yang terpencil itu, Nabi Ibrahim datang menjenguk mereka, kali ini dengan membawa wahyu yang lebih “gila” dari Tuhan. Wahyu yang memerintahkan supaya Nabi Ibrahim menyembelih bayinya: Ismail, yang saat itu masih kanak-kanak tak berdosa.

Baca juga:  Ikhlas Tidak Bisa Berkurban pada Hari Agung Pengurbanan

Ada ulama yang berani berkata: “Bayangkanlah penderitaan Siti Hajar saat itu, sebagai seorang ibu, yang ‘dibuang’ saat mengandung Ismail dan berhasil membesarkannya sendiri. Kini ia harus rela bayinya yang tak berdosa disembelih. Ia tidak pernah diajak berdialog, dimintai pertimbangan, atau diberi wahyu oleh Tuhan Ibrahim, walau sesungguhnya ialah yang paling menderita karena ‘konspirasi suci’ antara suami dan Tuhannya.”

Ulama ini mengatakan, Siti Hajar adalah seorang perempuan, seorang manusia biasa, yang kemuliaannya melebihi nabi dan rasul. Tuhan pun malu kepadanya sehingga memerintahkan Nabi Ibrahim menghadapkan rumah-Nya, baitullah, ke pangkuan Siti Hajar (Hijir Ismail).

Pangkuan Siti Hajar adalah simbol dari luasnya hati seorang manusia biasa yang bersedia menampung dan menanggung segala skenario ilahiah. Sehingga tertulislah dalam sejarah umat manusia, salah satu kisah kemuliaan dan kebesaran hati ada pada seorang perempuan biasa, yang bukanlah seorang nabi ataupun rasul, melainkan seorang istri dan ibu yang bersedia dengan tabah menanggung semua skenario Allah.

Inilah kisah Siti Hajar, seorang istri, seorang ibu, seorang manusia biasa.

Bisa kita simpulkan, Idul Adha/Idul Kurban adalah hari yang memperingatkan kita mengenai kemuliaan, kebesaran dan keluasan hati, dan ketabahan perempuan sebagai ibu. Idul Adha bukan sekadar hari raya hewan gembala yang dikurbankan, seperti yang diterangkan oleh beberapa pemuka agama kita. (Maaf, mungkin karena mereka korban juga. Korban dari pemahaman dangkal, yang tidak mampu menangkap inti hakikat ajaran mulia dari agama suci sehingga tergelincir hanya mampu meniru budaya kulit luar saja.)

Baca juga:  Jelita Mengalihkan Jelata

Selamat Hari Raya Idul Adha. Hormati perempuan, sebagai istri, sebagai manusia biasa, sebagai ibunda … ibunda kemanusiaan kita semua.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles