Lahir dari keluarga Pegawai Negeri Sipil (PNS) di era Soeharto, membuat saya terbiasa mendengar dan sepertinya juga “dicekoki” pandangan yang mendewakan Soeharto. Bapak pembangunan, presiden rakyat, penolong kaum papa, kepala keluarga yang bijak, dan berbagai sebutan lain yang tentu amat tidak biasa-biasa saja. Namun, keadaan itu rasanya tidak terlalu masif terjadi, mengingat masa kanak saya pada pertengahan sampai menjelang akhir1990-an adalah masa-masa yang berat bagi kekuasaan Soeharto yang mulai menurun.

Bagi ketiga kakak saya yang lahir dan menjalani masa kanak pada dekade 1980-an sampai awal 1990-an, menaruh Soeharto dalam list cita-cita adalah sebuah keharusan. Untuk anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar, antusiasme menonton berita tentang presiden atau malah pidatonya, sama besar dengan antusiasme mereka menonton film kartun “Saint Seiya” atau pertandingan All England yang selalu mendebarkan saat wakil Indonesia beraksi. Para orang tua pada masa itu ─apalagi yang PNS─lazim mengarahkan anaknya untuk jadi orang besar yang sukses dan lovable dengan senyum ramah yang meneduhkan. Sebagai tolok ukur, Soeharto tidak bisa tidak dijadikan ada di urutan teratas.

Citra yang demikian luhur tidak nampak secara eksplisit dalam Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto karya O.G Roeder. Alih-alih menempelkan kata sempurna pada Soeharto, Roeder justru hendak menyingkirkan kata itu jauh-jauh. Bahkan hidup Soeharto sejak bayi diceritakan bukan kisah yang mengundang tawa dan riang.
Belum sampai 40 hari usianya, secara tiba-tiba Soeharto bayi ditinggal pergi sang ibu, Sukirah, yang menghilang entah ke mana. Beberapa saat kemudian, Sukirah ditemukan sedang berada dalam kamar tengah sebuah rumah joglo yang besar. Tubuh Sukirah amat lemah, tak ada kekuatan sama sekali karena tidak ada makanan dan minuman yang ia telan. Praktis kewajibannya menyusui anak sulungnya pun tak terlaksana.
Roeder menggunakan kata “ngebleng” untuk menyebut kepergian mendadak Sukirah itu.

Bisa jadi Sukirah mengalami baby blues syndrome, yang memang umum dialami ibu-ibu pasca melahirkan. Sukirah adalah perempuan muda yang pastinya sangat rentan terkena sindrom ini di kali pertamanya melahirkan bayi. Jika hari ini sangat mudah mencari informasi untuk menangani baby blue syndrome, lalu bagaimana seorang ibu baru pada tahun 1921 melewati masa sulit macam ini?

Selanjutnya, bayi Sukirah yang di kemudian hari menjadi presiden Republik Indonesia yang paling lama berkuasa, disusui oleh salah seorang bibinya, Mbok Amat  Idris. Apa yang terjadi berikutnya pada Sukirah tidak diceritakan. Apakah kemudian dia dibawa ke dukun untuk dijampi-jampi atau diobati dengan ramuan-ramuan herbal, tidak Roeder jelaskan lebih jauh.

Bagian ini jelas bukan cerita indah untuk dikenang-kenang, walau kemudian kita bisa menangkap pesannya; hidup Soeharto sudah getir sejak lahir, tapi ia kuat. Dan masa kecil Soeharto berikutnya diuraikan Roeder sebagai riwayat yang biasa-biasa saja. Sederhana sekali.

Soeharto hanyalah anak desa yang lahir tanpa keriuhan tanda-tanda alam yang kudus di langit atau gunung yang meletus meluluhlantahkan hidup orang-orang. Proses menyusuinya tidak lancar. Ayahnya hanya seorang ulu-ulu, tidak kaya dan bukan bangsawan.

Kampung Kemusuk yang sepi tidak menjadi lebih meriah saat Soeharto datang ke dunia. Sungguh, ia hanya anak desa yang tidak istimewa, setidaknya dalam buku ini.

Anak Desa: Biografi Presiden Soeharto terbit pada 1990, cetakan kelima dari buku yang awalnya berjudul Soeharto dari Prajurit Sampai Presiden.

Kabarnya, Soeharto sendiri yang mengehendaki judul seperti itu untuk menampilkan citra sebagai rakyat Indonesia pada umumnya, tanpa keistimewaan yang terberi.

Dalam kata pengantarnya, Roeder mengemukakan, judul asli buku ini terlalu menonjolkan “faktor militer”. Setidaknya, yang bisa saya tangkap adalah cetakan kelima ini dimaksudkan untuk melepas citra Soeharto dari “faktor militer” tersebut. Ia hendak digambarkan sebagai orang biasa.

Apa untungnya menggambarkan diri sebagai anak desa, orang biasa seperti yang lain padahal rakyat sudah menganggapnya serupa dewa? Jelas Soeharto hendak mengatakan bahwa tidak harus jadi anak bangsawan untuk jadi  presiden. Tidak perlu latar belakang pendidikan yang gilang gemilang untuk jadi orang besar.

Ya, Soeharto sang presiden, bapak pembangunan yang inspiratif itu adalah anak desa dan akan selalu begitu. Ada satu pernyataan yang secara gamblang mengungkapkan kecintaan Soeharto pada desa, tempat ia berasal.

“Saya merasa berhutang budi yang di zaman revolusi fisik telah membantu para prajurit-prajurit TNI dalam perjuangannya dengan uang, telah melindungi mereka, dan selalu menyediakan apa-apa yang mereka perlukan. Adalah wajar bila saya menaruh lebih besar perhatian pada masalah pembangunan pembangunan pedesaan. Di samping itu saya sendiri adalah anak petani.” (hal.217-218)

Roeder mengakui, dalam kata pengantarnya, “untuk dapat menyelami kepribadiannya (Soeharto) secara lebih mendalam, perlu membandingkannya dengan kepribadian orang yang digantikannya, yaitu Soekarno.” Di sinilah pentingnya menampilkan sosok yang sederhana dan biasa-biasa saja.

Jika Soekarno dikenal sebagai Bung Besar, Bapak Revolusi yang masyhur, Soeharto harus ditempatkan pada posisi yang berseberangan. Soeharto tidak seperti pendahulunya yang sedari muda sudah resah dengan keadaan bangsa dan merasa terpanggil untuk sebuah “tugas suci”. Soeharto pun “tidak pernah menyisipkan romantisme revolusioner dalam pidato-pidatonya untuk mendapatkan persetujuan sinis dari kaum intelek progresif ataupun untuk merangsang emosi histeris dari massa”.

Kurang lebih ini memang menjadi salah satu alasan kuat kenapa si ‘Anak Desa’ masih dicintai rakyat Indonesia sampai sekarang. Prestasi yang jelas sulit disamai oleh si ‘Anak Kampung’ apalagi ‘Anak Singkong’.

No more articles