Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Kafe Terkenal di Yogyakarta jadi Tempat Pertama Saya Mengusir Jin

Modal pasrah, saya cuma berusaha membantu mengusir jin di sebuah kafe. Gila betul.

Anwar Kurniawan oleh Anwar Kurniawan
18 November 2021
A A
Pengalaman Pertama Orang Desa Nongkrong di Kafe, Bingung Cara Order dan Merasa Malu karena Memesan Espresso.MOJOK.CO

Pengalaman Pertama Orang Desa Nongkrong di Kafe, Bingung Cara Order dan Merasa Malu karena Memesan Espresso (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Mengusir jin? Jangan bercanda. Atas nama nggak enak dan pengin bantu, kafe terkenal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, jadi saksi.

“Mas, bisa mengusir jin nggak?”

(((NGUSIR JIN)))

Pertanyaan itu nggak cuma terdengar asing, tetapi juga menghentak nurani seorang manusia nir-takwa seperti saya. Kok bisa saya dimintai tolong kayak gitu waktu asik nongkrong di sebuah kafe terkenal di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pertama, saya nggak punya pengalaman apalagi kemampuan mengusir jin. Kedua, jangankan merukiah orang atau mengusir Jin, nonton trailer The Medium sama teman-teman waktu ngumpul di sebuah kafe di Yogyakarta saja saya matiin volumenya kok. Padahal siang hari. Itu saja pake akun YouTube teman. Semata biar nggak merusak algoritma YouTube saya.

Kan nggak lucu. Lagi enak dengerin musik pakai YouTube sambil nugas atau kerja, lalu tiba-tiba suggestion-nya bergenre horor dan celakanya malah keputer.

Tapi baiklah. Barangkali, malam itu adalah ujian yang suram sekaligus terdengar agak lucu.

Ceritanya, dua minggu lalu, saya lagi ngopi di salah satu kafe di bilangan Condong Catur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekitar pukul satu dini hari, saya sudah mau pulang ke kontrakan.

Sebelum benar-benar pulang, saya memutuskan untuk sembahyang Isya di kafe itu. Harapannya, ketika sampai di kontrakan, saya bisa segara landing ke kasur.

Walakin, semua rencana itu segera pupus ketika salah satu karyawan kafe mengajukan pertanyaan absurd itu. Dia, lagi bersama seorang temannya yang, jika saya perhatikan, sedang duduk lesu sambil terus-terusan menatap ke bawah.

Awalnya, saya merasa masygul karena kafe tersebut jelas tidak layak disebut angker. Lha gimana, saya tahu betul kalau di kafe tersebut bertebaran banyak ayat suci, kaligrafi, dan anggitan doa yang, menurut pemiliknya, telah disuwuk oleh Kiai Bahauddin Nur Salim (Gus Baha).

Lebih dari itu, kafe tersebut terhitung sering dibacakan salawat. Bahkan, kafe yang cabangnya di Daerah Istimewa Yogyakarta itu sangat banyak pernah kedatangan cucunda Nabi Muhammad bernama Habib Hussein Ja’far al-Hadar.

Rupanya, kemasygulan saya terkonfirmasi. Bukan kafe itu yang angker, tetapi ada salah satu rekan dari karyawan yang, menurutnya, telah ditempeli jin sejak dari kosan. Dia boleh saja menyebut makhluk gaib itu sebagai setan. Namun, untuk sebuah alasan yang insyaallah bisa dipertanggungjawakan, di sini saya memilih diksi jin saja. Jadi, di malam yang gerah di Yogyakarta, intinya, saya diminta mengusir jin.

Terus terang, saya bukan orang pintar untuk mengidentifikasi seseorang sedang kesurupan atau enggak. Tapi, melihat secara langsung ekspresi dan gerak-gerik orang yang bersangkutan, kesimpulannya adalah situasi kali ini memang nggak biasa.

Iklan

Di situ, saya hanya bisa bicara apa adanya. Jam terbang saya untuk urusan mengusir jin, bahkan rendah saja belum. Lha wong belum pernah. Ringkasnya, saya memang merasa nggak punya otoritas atau latar belakang di bidang itu.

“Anu, bukannya nggak mau bantu, tapi terus terang, aku belum pernah mengusir jin,” tukas saya.

“Masak beneran nggak bisa, Mas?”

Mimik wajah yang melas dan nada putus asa dari kalimatnya bikin saya luluh. Paling nggak saya udah berusaha ketika meniatkan diri untuk membantu mengusir jin. Saya agak berharap kafe terkenal di Daerah Istimewa Yogyakarta yang sudah disalawati ini sedikit bisa membantu ngasih energi positif.

“Sebentar, aku coba usahakan ya,” balas saya lebih lanjut.

Kebetulan saya punya semacam wirid salawat dari pesantren tempat saya mondok yang subhanallah rutin saya baca tiap bakda sembahyang Maghrib. Kebetulan juga, di hari itu, saya bolong karena suatu udzur.

Dan, kalo selepas Maghrib absen membaca wirid, saya biasanya menggantinya di lain waktu, yaitu sehabis sembahyang Isya. Jadi, saya berpikir bahwa barangkali ini bisa jadi jalan tengah untuk menyapu mendung kekecewaan itu.

Setelah merenung sejenak, saya meminta nama lengkap dan nama ayah dari orang yang, katanya, ketempelan jin tersebut. Sejurus setelah mendapat secarik kertas sesuai permintaan, saya segera mengambil posisi di salah satu sudut kafe dan berwirid sekiranya lima sampai sepuluh menit.

Bedanya, kali ini hanya ketambahan satu bacaan al-Fatihah, diniatkan untuk orang yang namanya dan nama bapaknya telah tertulis di atas kertas. Biar proses mengusir jin berjalan lancar. Sebetulnya saya cuma bisa pasrah, sih.

….bi barakatil faatihah…

Masyaallah, belum katam saya membaca tujuh ayat dari ummul Qur’an, karyawan kafe yang tadi minta tolong tiba-tiba menghampiri saya dan bilang kalau temannya sudah sembuh dan merasa baikan. Persis di titik ini saya merasa dilema. Mau merespons tapi kok nanggung, kalo tidak merespons kok ya aneh.

Walhasil, saya yang terlanjur khusyu muter tasbih pun memutuskan tetap melanjutkan ritual rutin yang sudah saya mulai. Dan, karyawan kafe tersebut rupanya memahami apa yang sedang saya kerjakan.

Baru setelah semuanya benar-benar pungkasan, saya menghampiri orang yang bersangkutan.

“Emang ngekos di Yogyakarta bagian mana?”

“Di Jalan Kaliurang, Mas. Daerah Gentan.”

“Oh, kos-kosan baru di Sleman, ya?”

“Iya, Mas.”

“Hoalah, ya sudah. Besok lagi, kalau mau masuk ke tempat baru, pastikan beri salam dulu. Nggak harus pake Bahasa Arab. Minimal salam itu diniatkan sebagai iktikad baik bahwa kita semua sama-sama hidup dan punya kehidupan sendiri-sendiri.”

Setelah ngomong gitu, saya malah heran sendiri. Kok bisa-bisanya saya menyemburkan kalimat bijak kayak gitu. apakah mengusir jin di sebuah kafe terkenal di Daerah Istimewa Yogyakarta itu bikin saya jadi agak “dewasa”?

Saya juga heran kok ya saya bisa mengusir jin. Perlu kamu ketahui, nggak semua yang pernah nyantri pasti memiliki kemampuan ilmu primbon atau ilmu supranatural, wa akhwatuha.

Bahwa saat itu saya ternyata (kebetulan) bisa mengusir jin, ini bukan karena saya yang sakti. Tapi sebaliknya, saya kok yakin jika besar kemungkinan jinnya adalah jin magang. Soalnya, sebelum merapal al-Fatihah, saya benar-benar meniatkan hati dalam hati, begini:

“Jin, aku sebenere udah sangat ngantuk dan nggak tega kalau mau nelfon temen yang bisa komunikasi sama kamu. Jadi, kalo benar teman saya ini sedang ketempelan dirimu, mbok ya jangan sekarang. Sesama makhluknya Gusti Allah, kita damai aja lah, ya. Ntar kalau ada acara maulidan, datang kemari nggak papa, biar sekalian dapet duit dari yang punya kafe. Syaratnya cuma salawatan ke Kanjeng Nabi.”

Teruntuk dua kalimat terakhir, kamu boleh percaya atau nggak. Tapi soal maulidan, perduitan, dan salawatan, sebaiknya kamu percaya saja. Beneran deh.

BACA JUGA Drama Pengusiran Setan di Sebuah Sekolah Menengah Pertama dan kisah unik bersama jin di rubrik MALAM JUMAT.

Terakhir diperbarui pada 18 November 2021 oleh

Tags: basabasiJinkafemaulidanmengusir jinPesantrensalawatsantrislemanwiridYogyakarta
Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan

Anwar Kurniawan, atlet ketik di bidang media and cultural studies; tertarik sama isu dan konten receh, apalagi dolar; dosen di kampus paling kalcer se-Solo Raya, ISI Surakarta.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat” MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Pasang WiFi IndiHome di kos. MOJOK.CO

Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri

22 April 2026
3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Suzuki Satria FU, motor yang pernah bikin penunggangnya merasa paling tampan tapi kini memalukan MOJOK.CO

Suzuki Satria FU: Dulu Motor yang Bikin Tampan dan Idaman Pasangan, Tapi Kini Terasa Jamet dan Memalukan

22 April 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.