Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Malam Jumat

Jurit Malam dan Kejutan Pocong Jadi-Jadian

Redaksi oleh Redaksi
25 Oktober 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Angin berhembus, meniup hantu pocong-pocongan yang sudah kuikat sampai bergoyang-goyang. Sunyi. Entah kenapa, jurit malam ini rasanya mengerikan.

Perkemahan Sabtu-Minggu, atau Persami, atau pelantikan anggota ekstrakurikuler dan organisasi manapun, kadang-kadang membuatku merinding tak karuan. Bukan apa-apa, tapi acara bermalam begitu biasanya dilakukan dengan tenda di lapangan yang luas; biasanya bumi perkemahan atau daerah-daerah hutan yang gelap dan seolah tak terjangkau penduduk.

Sialnya, kedudukanku sebagai senior di sebuah UKM menjadikanku ‘wajib ikut’ ketika acara pelantikan anggota baru digelar. Kenapa aku menyebutnya ‘sial’? Pasalnya, acara pelantikan ini diadakan di bumi perkemahan yang lebih mirip hutan dan, kata beberapa orang, tempat ini punya cerita-cerita angker di baliknya.

“Nanti akan ada acara semacam jurit malam. Anak-anak baru akan diberi rute keliling daerah sini,” kata Gusti, seorang kawan yang kini menjabat sebagai Ketua Organisasi, saat kami akhirnya tiba di lokasi perkemahan.

Aku terhenyak, karena langsung tahu apa yang selanjutnya akan Gusti katakan.

“Jadi nanti tolong kalian-kalian sediain gimmick hantu-hantuan gitu, ya, biar seru.”

“Kenapa, sih,” potongku, “harus dikasih gimmick? Biar aja gitu mereka jalan-jalan sendiri malem-malem, kan udah serem?”

Andre dan Roni yang daritadi sibuk memasang patok hanya terkikik, tapi jelas aku punya pendukung. Beberapa kawan yang lebih memilih diam saja tampaknya memandang penuh harap pada Gusti untuk meniadakan keharusan gimmick hantu jadi-jadian. Namun harapan tinggal harapan: Gusti tetap kekeuh pada keputusannya.

Maka dibagilah kami dalam kelompok-kelompok kecil—minimal satu kelompok berisi dua orang dan harus menyiapkan hantu-hantuan untuk dipasang sepanjang rute jurit malam nanti. Aku berpasangan dengan Roni dan memutuskan membuat pocong-pocongan. Alasannya?

“Gampang, cuma pakai guling, dibungkus kain putih. Bisa pinjam kerudung anak-anak cewek, kan?” tukas Roni sambil mengikat kain di sekujur guling tidurnya.

Berangkatlah kami pada sebuah pohon besar di tengah hutan yang bakal menjadi pos kami berdua. Dari hasil diskusi kilat, Roni memutuskan bahwa salah seorang dari kami harus naik ke pohon bersama si hantu pocong jadi-jadian, mengikatnya dengan tali tipis, dan bertugas untuk menarik talinya perlahan-lahan hingga si pocong-pocongan ini akan tampak bergerak-gerak dan kian mengerikan. Sementara itu, satu orang lainnya menunggu di bawah pohon untuk berjaga-jaga, sekaligus sebagai teman mengobrol, tentu saja.

“Aku di bawah saja,” putusku, sambil mencari posisi berjaga di bawah pohon. Roni tampak cemberut, lalu berkata, “Mana bisa? Kamu yang naik ke atas. Aku tidak bisa memanjat.”

“Tidak bisa?” tanyaku kaget.

Roni berdeham, “Aku tidak bisa—aku tidak bisa tahan pada ketinggian. Pohon ini sedikit terlalu tinggi.”

Iklan

Sial (lagi), aku pun terpaksa naik. Tali-tali kupasang seperlunya, menyisakan untaian panjang yang hanya perlu kutarik untuk membuat hantu pocong-pocongan ini bergerak, menyempurnakan pengalaman jurit malam anak-anak baru nanti. Sedikit mengerikan sebenarnya melihatnya: apalagi Roni membuat sisi guling yang terbuka benar-benar tampak seperti wajah mengerikan berwarna hitam.

Sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Belum ada satu pun peserta jurit malam yang tampak lewat ke area kami. Mungkin memang wajar, mengingat area tempat kami berjaga adalah area terjauh dari lokasi tenda. Tapi lama-lama, mengerikan juga.

“Jangan ketawa, Nin!” tiba-tiba Roni meneriakiku dari bawah. Wajahnya kesal. Aku menoleh dan protes, “Siapa yang ketawa?” Kupikir, Roni hanya asal bicara, ketika dia tiba-tiba mengubah raut wajahnya, “Lah barusan yang hihihi kamu, kan?”

“Bukan, Ron. Please nggak usah nakut-nakutin.”

“Nggak, sumpah, tadi suaranya dari atas, makanya kukira kamu.”

Angin berhembus, meniup hantu pocong-pocongan yang sudah kuikat sampai bergoyang-goyang. Sunyi. Entah kenapa, rasanya mengerikan.

“Balik aja, yuk, Ron.”

“Ini kan belum mulai, Nin.”

“Aku takut. Tukeran posisi, mau?” tawarku sambil memasang muka memelas. Roni tidak menjawab, ia tampak bingung. Namun, 15 detik kemudian, ia menyerah, “Ya udah, aku coba. Kalau nanti nggak kuat, jangan diketawain, ya.”

Aku mengangguk dan bermaksud turun. Saat itulah, angin lagi-lagi bertiup cukup kencang. Pocong jadi-jadian kami bergoyang lagi—kali ini cukup signifikan. Mendadak, sesuatu terjadi yang seakan-akan mencopot jantungku dalam sekejap.

Sebuah wajah menoleh ke arahku dari rupa pocong buatan itu. Bahkan kalau boleh kusebut, ia bukan lagi sekadar guling tidur yang dilapisi pasmina putih—ia adalah pocong yang asli, muncul entah dari mana!

Wajahnya penuh pasir, sedikit terlihat seperti luka. Semua detailnya tak bisa aku sebutkan, karena seingatku, semuanya mendadak gelap. Badanku sakit luar biasa.

Besok paginya, Roni memberitahuku: aku langsung jatuh pingsan dari atas pohon dan menampar tanah keras-keras. (A/K)

Terakhir diperbarui pada 25 Oktober 2018 oleh

Tags: bumi perkemahancerita hororjurit malamPersamipocong
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan.MOJOK.CO
Seni

Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan?

25 Mei 2026
Toko Buah Horor di Sudut Kota Jogja MOJOK.CO
Malam Jumat

Toko Buah Horor di Sudut Kota Jogja: Tentang Sosok Hantu Perempuan yang Muncul dari Tempat yang Tidak Terduga

22 Mei 2025
Asrama Horor di Sudut Magelang MOJOK.CO
Malam Jumat

Asrama Horor di Sudut Magelang: Tentang Bisikan Dingin yang Tidak Terjawab

6 Maret 2025
Horor di Stasiun Tugu Jogja: Semakin Dicari Sisi Logisnya, Semakin Seram Ceritanya.MOJOK.CO
Ragam

Horor di Stasiun Tugu Jogja: Semakin Dicari Sisi Logisnya, Semakin Seram Ceritanya

14 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten. MOJOK.CO

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan MOJOK.CO

Di Balik Pintu Toilet Masjid: Tempat Bersuci, tapi Berisiko bagi Perempuan

14 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit MOJOK.CO

Yang Melelahkan bagi Disabilitas Tak Tampak Bukan Penyakitnya, tetapi Harus Terus Membuktikan Diri Sakit

13 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Cerita Pencari Kerja Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’.MOJOK.CO

Cerita Jobseeker Difabel datang ke Job Fair Ditemani Ibu: ‘Semua Orang Punya Kemampuan asal Diberi Kesempatan’

17 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.