Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Horor di Stasiun Tugu Jogja: Semakin Dicari Sisi Logisnya, Semakin Seram Ceritanya

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
14 Januari 2025
A A
Horor di Stasiun Tugu Jogja: Semakin Dicari Sisi Logisnya, Semakin Seram Ceritanya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Horor di Stasiun Tugu Jogja: Semakin Dicari Sisi Logisnya, Semakin Seram Ceritanya (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa orang mengaku memiliki cerita horor di Stasiun Tugu Jogja. Sialnya, semakin mencari penjelasan logisnya, malah kisah mistis lain yang mereka dapatkan.

***

Iklan

Akhir 2020 lalu, Jogja sedang kacau-kacaunya. Pandemi tiba-tiba datang. Orang-orang pun mulai berbondong kembali ke kampung halaman sebelum ada larangan.

Namun, sial bagi Arfan (bukan nama sebenarnya). Pekerjaan yang tak bisa ditinggal membuatnya terjebak kekacauan di kota orang. Harapan pulang tentu ada; orang tua dan adik-adiknya, terus menanyakannya. 

Tapi apa daya, pekerjaannya sebagai wartawan salah satu media lokal di Jogja bikin dia tak bisa pulang. Raungan ambulans, jerit kekacauan, dan angka-angka kasus yang terus alami kenaikan, adalah sumber nafkah yang tak bisa dia lewatkan.

Barulah, di penghujung tahun, momen itu tiba. Kantor memberinya kabar buruk, tapi sekaligus bahagia. Kabar pertama, yang buruk baginya, dia harus “dirumahkan” karena kantor hendak melakukan efisiensi karyawan. Dia dibebastugaskan tanpa bayaran sampai waktu yang tak ditentukan.

Kabar baiknya, Arfan punya kesempatan pulang. Setidaknya, di situasi yang makin tak karuan, dia bisa berkumpul bersama keluarga. Apalagi, situasi Jogja sudah sangat mencekam.

“Mungkin awal Desember 2020. Aku mutusin buat pulang ke Jabar. Kantor ngurus segala keperluan, termasuk rapid test dan segala macamnya,” jelas Arfan, menceritakan pengalamannya empat tahun lalu itu.

Sunyi di Stasiun Tugu

Beda dengan hari-hari biasa yang ramai, malam itu Stasiun Tugu sepi nyenyet. Pembatasan aktivitas dan pemangkasan jam operasional beberapa kereta bikin lalu lalang manusia tak kelihatan di sana.

Sejauh mata memandang, Arfan bahkan menghitung cuma ada tiga calon penumpang bermasker yang duduk saling berjauhan. Serta beberapa petugas yang berkeliling, lengkap dengan face shield yang melindungi muka.

Waktu baru menunjukkan pukul 22.00. Keretanya tiba sekitar dua jam lagi. Namun malam itu, Arfan merasa ada yang ganjil. Perasaan tak biasa menghampirinya. Bagaimana tidak, Stasiun Tugu Jogja yang biasanya ramai oleh manusia, malam itu nyaris tak ada suara.

“Aku lagi bayangin sebuah distopia. Benar-benar itu mirip hari menjelang kiamat gitu. Auranya beda yang bikin aku nggak tahu kenapa pengen menangis aja,” jelasnya.

Perasaannya kian tak menentu. Arfan mengaku bukan orang alim. Tapi malam itu, bibirnya berkali-kali menyebut nama Tuhannya. 

“Bayangin aja kamu lagi di ruang kosong, nggak ada siapa-siapa dan nggak tahu mau ngapain. Nah, itu yang aku rasain. Aku gelisah bukan karena takut atau apa, tapi lebih ke perasaan yang kosong aja.”

Iklan

Dibangunkan sosok misterius

Malam semakin larut. Kedua matanya juga mulai diserang kantuk. Arfan pun memutuskan untuk cuci muka di westafel dan rebahan di musala Stasiun Tugu, sekaligus melepas rasa lelah di badannya.

“Masih satu setengah jam. Nggak ada salahnya rebahan bentar sambil Youtube-an,” kata Arfan.

Dia terus menahan matanya untuk tetap terjaga. Namun apa daya, dia akhirnya tertidur juga. Arfan mengaku tak tahu berapa lama dia tertidur. Yang jelas, dia akhirnya terbangun karena tiba-tiba ada yang membangunkannya.

“‘Mas, Mas, keretanya sudah akan tiba. Tolong bangun’,” ujar Arfan, mengingat kalimat yang keluar dari lelaki yang membangunkannya.

Arfan terbangun dengan setengah sadar. Tapi yang jelas, dirinya ingat betul kalau lelaki yang membangunkannya beranjak ke tempat wudhu.

“Mungkin mau salat,” pikirnya waktu itu, menebak.

Ketika melihat jam di ponselnya, ternyata waktu baru menunjukkan angka 23.00. Artinya, dia baru tertidur kurang lebih 15 menit. Kereta yang ditunggu pun baru akan tiba sejam lagi.

Dia pun jadi penasaran, siapa lelaki yang membangunkannya kala tengah tertidur tadi. Di satu sisi, dia berterima kasih karena tak tidur terlalu lama. Tapi di sisi lain, aneh juga ada orang iseng–yang mungkin tak paham dia mau naik kereta ke mana–tiba-tiba membangunkannya.

Karena masih terdengar suara kran menyala, Arfan pun menunggu. Tapi lelaki tadi tak kunjung menunjukkan batang hidungnya. 10 menit, 15 menit, sampai setengah jam menunggu, tak ada orang muncul. 

Sebelum beranjak ke peron keberangkatannya, dengan sisa-sisa rasa penasarannya Arfan berjalan ke kamar mandi. Hasilnya, semua pintu terbuka. Di tempat wudhu pun kering kerontang, menunjukkan tak ada orang yang sempat menyalakan airnya.

“Waktu itu dadaku langsung dheg rasanya.”

Mencari penjelasan, malah ketemu cerita horor lain

Setelah keretanya datang, Arfan meninggalkan Stasiun Tugu Jogja dengan sisa-sisa pertanyaan: siapa lelaki yang membangunkannya tadi? Cerita ini terus dia simpan. Bahkan setelah dua tahun bertahan dari serangan Covid-19 dan memutuskan kembali ke Jogja, dia baru berani menceritakan kisah ini ke teman-temannya.

Dia berharap menemukan penjelasan masuk akal atas kejadian ganjil di malam dua tahun lalu. Namun, sialnya, apa yang dia dapat? Ya, cerita horor lain yang malah lebih tak masuk akal.

“Ketika aku cerita ke teman-teman, mereka malah cerita juga pernah ngalamin ini itu di Stasiun Tugu Jogja. Jadi, bukan nenangin, tapi jatuhnya malah memvalidasi cerita horor punyaku,” ungkapnya.

Arfan mengingat, ada salah satu temannya yang pernah melihat orang menari di depan pintu masuk pada malam hari. Temannya mengira memang itu semacam pengamen atau penari selamat datang. Tapi begitu dia bercerita ke temannya yang lain, tak ada yang melihat penari itu.

Atau, ada juga temannya yang melihat sosok perempuan tua ikut dalam sebuah rombongan. Anehnya, ketika rombongan itu masuk kereta, perempuan itu hanya diam dan melambaikan tangan saat kereta melaju. Beberapa saat kemudian, dia menghilang.

“Bangke ‘kan? Bukannya aku nemu penjelasan logisnya, malah cerita mereka makin nggak logis. Hahaha.”

Hingga cerita ini dituliskan, lelaki yang membangunkan Arfan masih menjadi misteri.

Stasiun Tugu Jogja dan misteri yang menyelimutinya

Karena penasaran, saya pun mencoba bertanya ke beberapa kawan, apakah mereka pernah mengalami kejadian horor di Stasiun Tugu Jogja? Jawaban mereka kompak: tidak pernah. Namun, kalau stasiun-stasiun kecil lain yang lebih sepi, mereka pernah mengalaminya. Misalnya di salah satu stasiun kawasan Klaten atau Stasiun Alastua Semarang.

Saya pun mencoba mencarinya di internet. Ternyata, jarang yang pernah menuliskan kisah serupa Arfan. Kebanyakan dari mereka cuma membahas sisi mistis Stasiun Tugu Jogja pada saat pendiriannya. Termasuk Kisah Tanah Jawa yang menyebut ada “tumbal manusia” saat pembangunannya.

Benar atau tidak, dalam catatan historis jujur saya belum menemukannya. Jika pun ingin membuktikan kisahnya, kini sudah sangat sulit. Sebab, Stasiun Tugu selalu ramai. Pun, saya juga jarang memakai kereta malam, sehingga pengalaman serupa Arfan sangat kecil kemungkinannya saya rasakan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Drama Kesialan di Stasiun Lempuyangan: HP “Hilang” hingga Harus Minta Maaf pada Satpam atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 15 Januari 2025 oleh

Tags: cerita hororcerita horor Jogjacerita horor stasiun tugu jogjaJogjaStasiun TuguStasiun Tugu Jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kerja, lulusan SMA di keluarga penuh sarjana.MOJOK.CO
Sehari-hari

Cerita Lulusan SMA yang Berhasil Mapan Tanpa Ijazah S1, tapi Diam-Diam Menyesalinya dan Merasa Iri pada Sarjana

21 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO
Kabar

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO
Sehari-hari

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co
Hiburan

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
cari kerja, UGM.MOJOK.CO

300 Lamaran Kerja Ditolak, Lulusan UGM Pilih “Turunkan Standard”: Sadar Bursa Kerja Sedang Tak Baik-Baik Saja

15 Juli 2026
Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia MOJOK.CO

Kesepian Membuat Remaja Memilih AI sebagai Teman Curhat, Lalu Perlahan Menjauhi Manusia

15 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.