Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Esai

Jika Anak Saya Minta Izin Ikut Demo Tolak Omnibus Law

Lya Fahmi oleh Lya Fahmi
12 Oktober 2020
A A
Jika Anak Saya Minta Izin Ikut Demo Tolak Omnibus Law

Jika Anak Saya Minta Izin Ikut Demo Tolak Omnibus Law

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Seberapa mau orang tua percaya proses belajar anaknya? Dalam tahap tertentu, bisa saja sampai melarang anaknya ikut demo tolak Omnibus Law.

Secara tak sengaja, saya membaca komentar seseorang di status Facebook teman saya, Kalis Mardiasih.

“Mbak Kalis, kelak kalo sampeyan jadi orang tua akan merasakan kekhawatiran para orang tuanya…”

Saya tertegun sejenak membaca komentar itu. Sekaligus geregatan ingin sedikit menjelaskan konteks komentar di atas.

Kalis Mardiasih sendiri merupakan salah satu aktivis yang kencang menyuarakan penolakan terhadap Omnibus Law UU Cipta Kerja. Sesuai dengan sikapnya, unggahan-unggahannya dalam puluhan jam terakhir setelah demo tolak Omnibus Law berlangsung, secara tersurat mendukung aksi mahasiswa.

Kalis juga membela para remaja yang turun ke jalan, yang dinilai banyak orang hanya untuk gagah-gagahan. Ketika ia mengunggah pembelaannya itu, salah seorang komentator menggunakan alasan perasaan orang tua untuk mematahkan narasinya.

Komentar itu memang layak untuk direnungkan. Setidaknya, beberapa jam sebelum membaca komentar itu, saya juga bertanya-tanya pada diri sendiri, jika hari itu anak saya sudah dewasa dan meminta izin untuk pergi berdemonstrasi, apakah saya akan mengizinkannya pergi?

Bagi sebagian orang tua, ini mungkin bukan pertanyaan yang sulit diputuskan jawabannya. Sudah menjadi naluri orang tua untuk menjauhkan anak dari ancaman bahaya. Siapa yang dapat menjamin keselamatan anak selama mengikuti demonstrasi? Jujur saja, sebagai orang tua tak ada hal yang lebih menyebalkan daripada cemas memikirkan keselamatan anaknya.

Saya jadi ingat salah satu episode dalam drama Korea yang berjudul Reply 1988. Meskipun Sung Dong Il bersimpati pada demonstrasi mahasiswa, dia marah besar saat mengetahui Sung Bo Ra, anaknya sendiri, mengikuti demonstrasi itu.

Sung Dong Il sampai mengurung anaknya di kamar agar anaknya tak pergi berdemonstrasi. Sung Dong Il menjadi gambaran umum bagaimana orang tua menjadi sangat sensitif dengan segala hal yang berkaitan dengan keamanan dan keselamatan anaknya.

Ada ketegangan psikologis yang harus dialami orang tua ketika keselamatan anaknya dalam ketidakpastian. Tertuama dalam demo tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja yang berakhir ricuh kemarin. Jika anak diizinkan untuk mengikuti demonstrasi, maka akan ada banyak pikiran “jangan-jangan” berseliweran di kepalanya.

Jangan-jangan nanti rusuh, jangan-jangan nanti matanya pedih kena gas air mata, jangan-jangan nanti ia terluka, dan seterusnya. Maka dari itu, tidak mengizinkan anak pergi demonstrasi adalah pilihan yang paling efektif untuk menghindarkan orang tua dari ketegangan psikologis semacam ini.

Persoalannya, ketentraman hati orang tua bukan satu-satunya hal yang paling penting dalam merajut relasi dengan anak. Kenyataannya, tak hanya orang tua yang memiliki perasaan dan pikiran, anak juga memilikinya.

Seorang bijak mengatakan, “Perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan.” Nasihat ini tak terkecuali bagi hubungan antara orang tua dan anak.

Iklan

Apakah kita senang dilarang-larang untuk sesuatu hal yang kita yakini benar? Apakah kita suka bila keputusan kita dibajak dan dianggap tak valid karena posisi kita sebagai anak?

Ada hal-hal alami dalam diri anak yang sebaiknya tak diingkari oleh orang tua. Sama seperti orang tua, anak juga seorang individu yang ingin didengarkan pendapatnya dan dihormati pilihan-pilihannya. Termasuk dengan pilihannya saat meyakini ikut aksi demo tolak Omnibus Law adalah jalan ninjanya.

Seiring bertambahnya usia, anak mengembangkan kemampuan kognitif, emosi, dan sosial di dalam dirinya. Dengan modal kemampuan tersebut anak melalui proses belajar. Terlepas dari keterbatasan yang dimiliki oleh anak, tapi mereka memang mampu mengolah informasi dan menarik kesimpulan.

Pertanyaannya, seberapa mau orang tua mempercayai dan menghargai proses belajar anaknya?

Harus diakui, mempercayai dan menghargai proses belajar anak tidak pernah menjadi perkara yang mudah bagi orang tua. Sebagai orang yang merasa lebih berpengalaman dan lebih mengetahui kebenaran, orang tua cenderung merasa cemas anaknya akan melakukan kesalahan.

Akibatnya, orang tua sibuk mengantisipasi kesalahan anak dengan langsung menunjukkan A, B, C, dan D. Bahkan, kadang tanpa sadar memaksakan apa yang menurutnya benar, sehingga lupa memberikan anak kesempatan belajar, termasuk kesempatan belajar dari kesalahan.

Hal ini bertentangan dengan apa yang dibutuhkan anak pada usia mudanya. Anak membutuhkan eksplorasi dan kontrol atas dirinya sendiri. Anak butuh diterima dan diakui. Dan, sebaik-baiknya penerimaan dan pengakuan adalah yang berasal dari orang tuanya sendiri.

Penolakan tanpa empati hanya akan membuat anak merasa tidak dipahami, lalu akhirnya menarik diri. Sedihnya, banyak orang tua yang merasa tak cukup hanya dengan berbeda pendapat, mereka merasa perlu mengolok-olok apa yang menjadi pilihan anak.

Apalagi sampai bikin video, bahwa si anak dianggap tidak paham Omnibus Law UU Cipta Kerja. Lalu mempermalukan di muka umum, bahwa nggak paham isu kok mau ikut-ikutan demo. Dan melakukan generalisasi bahwa mereka yang ikut sama-sama tidak pahamnya.

Melihat fenomena itu, saya tak habis pikir. Apa sih yang didapat dari mengolok-olok anak selain memperdalam jurang perbedaan? Apa yang didapat dari perilaku demikian kecuali semakin menjauhkan generasi orang tua dengan generasi anak muda?

Saya tidak mengatakan orang tua harus selalu mengiyakan keinginan anak. Orang tua sangat boleh berbeda pendapat dengan anak, seperti anak juga boleh berbeda pendapat dari orang tua. Namun, ketidaksetujuan terhadap anak tidak berarti membuat orang tua punya hak untuk mencemooh dan meniadakan buah pikiran anak.

Saat perbedaan pendapat terjadi, yang kita butuhkan adalah ruang diskusi dan berbicara dari hati ke hati, bukan menekan dan menyalahkan. Kita semua ingin dimengerti dan dipahami. Agar bisa seperti itu, harus ada yang memulainya lebih dulu.

Lalu, siapa yang memulainya lebih dulu? Kira-kira, mana yang lebih cocok, orang tua menjadi contoh bagi anak atau anak menjadi contoh bagi orang tua?

Itu tergantung siapa yang membaca tulisan ini. Jika kamu orang tua, mulailah pahami anakmu. Jangan pakai standar kemampuanmu yang sekarang untuk menghukumi pengetahuan anakmu. Itu tidak adil. Pada usia yang sama, belum tentu juga kamu lebih cerdas dan terbuka ketimbang anakmu.

Sebaliknya, jika kamu anak-anak, tolong peduli juga kekhawatiran orang tuamu. Perlakuan lebaynya itu harus kamu yakinkan dengan sikap-sikapmu yang bertanggung jawab. Jika kamu masih bersikap kayak bocah belum akil-balig, wajar kalau orang tuamu belum percaya sepenuhnya dengan pilihanmu.

Nah, balik lagi ke pertanyaan awal, apakah saya akan memberi izin jika anak minta izin pergi berdemonstrasi?

Jujur, saya tak bisa memastikan jawabannya. Saya hanya ingin selalu berusaha menghargai proses belajar anak dan menghormati otonominya dalam mengambil keputusan.

Seperti yang sering saya katakan pada suami, saya tidak menginginkan anak yang patuh, saya ingin anak yang berani mengambil sikap dan mampu bertanggung jawab terhadap pilihannya sendiri.

Bahkan ketika pilihan itu barangkali berseberangan dengan orang tuanya.

BACA JUGA A-Z Omnibus Law: Panduan Memahami Omnibus Law Secara Sederhana dan tulisan Lya Fahmi lainnya.

Terakhir diperbarui pada 12 Oktober 2020 oleh

Tags: Mahasiswaomnibus lawuu ciptaker
Lya Fahmi

Lya Fahmi

Psikolog, tinggal di Yogyakarta.

Artikel Terkait

Mahasiswa gen Z kuliah malas baca jadi brain rot
Sekolahan

Mahasiswa Gen Z Bukan Tak Bisa Membaca, tapi “Brain Rot” karena Sering Disuapi dan Kecanduan AI

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO
Esai

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026
Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elit dan Realitas yang Sulit MOJOK.CO
Esai

Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

10 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO
Esai

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Purwokerto .MOJOK.CO

Purwokerto Tempat Pensiun Terbaik, tapi Bukan untuk Semua Orang: Kamu Butuh 4 Skill Ini Buat “Survive”

18 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.