Culture shock saat berpindah di sebuah daerah adalah situasi yang tidak terhindarkan. Apalagi dalam konteks orang daerah/kabupaten yang merantau untuk kerja di Jakarta.
Namun, yang tidak diperkirakan sebelumnya, beberapa perbedaan ternyata bisa menjadi bahan ceng-cengan. Begitu yang dirasakan Regi (28), pemuda asal Jember yang merantau ke Jakarta pada 2024 silam.
Regi sebenarnya sudah berupaya agar bisa “ngota banget”, sebagaimana umumnya anak-anak di kantor swasta tempatnya bekerja. Tidak lain agar ia bisa membaur tanpa dianggap berbeda.
“Karena kerasa banget memang, cara pandang orang-orang di Jakarta ke orang daerah sepertiku yang dari Jember ini kayak beda. Kayak, Jember itu daerah yang jauh dari peradaban kota dan modernitas,” ungkap Regi, Selasa (14/4/2026).
Regi pada akhirnya memang bisa membaur, bisa diterima di tongkrongan. Hanya saja, tetap saja, hal-hal yang melekat dalam dirinya sebagai orang Jember membuat dirinya diposisikan seolah-olah seperti makhluk dari planet lain-antah berantah.
Logat medok Jember (Jawa Timuran) jadi candaan tongkrongan Jakarta
Dialek atau logat orang daerah memang menjadi hal paling basic dan umum yang seolah menjadi semacam “jurang pemisah”. Di telinga orang Jakarta, entah kenapa logat orang Jawa Timuran terdengar aneh.
Misalnya yang terjadi pada Regi. Meski berbahasa Indonesia, tapi karena logat Jember yang medok, akhirnya cara Regi ngomong sering ditirukan beberapa teman kerja di Jakarta.
“Contohnya ya, aku pernah nonton clip Marapthon. Pas Tepe bilang, ‘Kan di mobil, di dalem mall juga’, itu kan Reza Arap langsung niru-niruin dengan ngeceng-ngecengin, ‘Di mobbel, di ddalem mall juggakk’. Terus yang lain ketawa,” beber Regi.
Regi sebenarnya paham, barangkali candaan semacam itu menjadi simbol keakraban. Namun, kadang-kadang ia juga merasa terisolir. Karena ia merasa berbeda dengan teman-temannya.
Orang Jember kerja di Jakarta dianggap seolah-solah tidak tersentuh pendidikan
Makin dianggap aneh lagi ketika Regi mencoba meniru gaya komunikasi ala tongkrongan di Jakarta. Misalnya dengan mencoba menyelipkan kalimat-kalimat bahasa Inggris atau istilah-istilah populer ala pekerja Jakarta-an.
“Dibilangnya, ‘udah, elu nggak pantes ngomong gitu. Jawa ya Jawa udah’. Kan bikin kena mental ya,” kata Regi.
Begitu juga ketika di tengah obrolan, saat sedang membincangkan hal-hal serius, teman-teman Regi di Jakarta tiba-tiba syok ketika Regi melontarkan diksi-diksi ilmiah.
Respons teman kerja Regi kira-kira begini: Ternyata Regi tahu diksi-diksi ilmiah yang kerap diasosiasikan dengan orang terpelajar.
Regi tentu bertanya-tanya, apa yang salah dengan ia melontarkan diksi ilmiah? Apa dikiranya orang daerah seperti Jember tidak tersentuh pendidikan dan bodoh?
“Itu kukonfirmasi loh. Karena kalau aku ditanya dulu kuliah di mana, aku kan jawab di sebuah PTN di Jember. Langsung syok mereka, ‘Emang di Jember ada kampus?’. Berarti mereka ngira di Jember nggak terakses pendidikan tinggi,” beber Regi.
“Pas aku nyebut beberapa nama kampus di Jember, makin syok mereka,” sambung pekerja di Jakarta tersebut.
Anggapan tertinggal dan pilihan gaya berpakaian yang keliru
Selaras dengan anggapan “tidak ada kampus di Jember”, anggapan sebagai daerah tertinggal dan pelosok juga tersemat pada Jember. Teman-teman Regi di Jakarta mengira kalau di Jember tidak ada coffee shop, ritel modern, bahkan outlet brand hp ternama pun dikira tidak ada.
“Mangkanya, pas habis lebaran lalu aku ganti hp, teman kerja di Jakarta kan nanya, itu beli di outlet mana? Dikiranya di Jakarta kan. Pas aku jawab aku belinya di Jember, langsung syok, emang di Jember ada ya? Hadeh tenan,” kata Regi.
“Misalnya lagi, pas awal-awal. Aku kan diajak WFC di sebuah coffee shop elite. Kata mereka, nyoba lah ngopi di coffee shop elite, di Jember nggak ada kan?. Sumpah, masa hal-hal modern yang ada di Jakarta seolah nggak ada di Jember,” sambungnya.
Belum lagi gaya berpakaian. Kata Regi, perbedaan itu membuat seolah ia berbeda sama sekali dari teman-teman kerja di Jakarta.
Kebanyakan teman-teman kerja Regi di Jakarta memang mengikuti tren outfit kekinian. Kalau laki-laki ya coba meniru gaya Hindia. Skena lah.
Dianggap nggak gaul karena nggak terbiasa kelab malam
Regi juga merasa teralienasi gara-gara persoalan kelab malam. Sejak di Jember, ia memang asing dengan dunia malam. Tidak biasa party-party.
Habit tersebut terbawa sampai saat kerja di Jakarta. Sehingga, ketika teman-temannya mengajaknya party, Regi memilih skip dulu.
“Lebih ke, nggak ah ngeluarin uang buat hal nggak produktif. Walaupun dalih mereka, party itu cara stress release dari pekerjaan. Tapi aku sih sayang duitku aja ya. Kalau stresku bisa hilang dengan hanya nonton Netflix, ya cukup aja,” tutur Regi.
Pilihan itu membuat Regi semakin teralienasi karena dicap “nggak gaul” dan nggak asyik. Tapi ya sudahlah, memang nasib jadi orang daerah yang kerja di Jakarta sepertinya memang harus siap-siap terus-menerus dianggap begitu.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














