Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Orang Jember Kerja di Jakarta: Mencoba Berbaur tapi “Tersisihkan”, Dianggap Tertinggal dan Tak Tersentuh Pendidikan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 April 2026
A A
Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita orang Jember kerja di Jakarta: teralienasi karena dianggap tertinggal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Culture shock saat berpindah di sebuah daerah adalah situasi yang tidak terhindarkan. Apalagi dalam konteks orang daerah/kabupaten yang merantau untuk kerja di Jakarta. 

Namun, yang tidak diperkirakan sebelumnya, beberapa perbedaan ternyata bisa menjadi bahan ceng-cengan. Begitu yang dirasakan Regi (28), pemuda asal Jember yang merantau ke Jakarta pada 2024 silam. 

Iklan

Regi sebenarnya sudah berupaya agar bisa “ngota banget”, sebagaimana umumnya anak-anak di kantor swasta tempatnya bekerja. Tidak lain agar ia bisa membaur tanpa dianggap berbeda. 

“Karena kerasa banget memang, cara pandang orang-orang di Jakarta ke orang daerah sepertiku yang dari Jember ini kayak beda. Kayak, Jember itu daerah yang jauh dari peradaban kota dan modernitas,” ungkap Regi, Selasa (14/4/2026). 

Regi pada akhirnya memang bisa membaur, bisa diterima di tongkrongan. Hanya saja, tetap saja, hal-hal yang melekat dalam dirinya sebagai orang Jember membuat dirinya diposisikan seolah-olah seperti makhluk dari planet lain-antah berantah. 

Logat medok Jember (Jawa Timuran) jadi candaan tongkrongan Jakarta

Dialek atau logat orang daerah memang menjadi hal paling basic dan umum yang seolah menjadi semacam “jurang pemisah”. Di telinga orang Jakarta, entah kenapa logat orang Jawa Timuran terdengar aneh. 

Misalnya yang terjadi pada Regi. Meski berbahasa Indonesia, tapi karena logat Jember yang medok, akhirnya cara Regi ngomong sering ditirukan beberapa teman kerja di Jakarta. 

“Contohnya ya, aku pernah nonton clip Marapthon. Pas Tepe bilang, ‘Kan di mobil, di dalem mall juga’, itu kan Reza Arap langsung niru-niruin dengan ngeceng-ngecengin, ‘Di mobbel, di ddalem mall juggakk’. Terus yang lain ketawa,” beber Regi. 

Regi sebenarnya paham, barangkali candaan semacam itu menjadi simbol keakraban. Namun, kadang-kadang ia juga merasa terisolir. Karena ia merasa berbeda dengan teman-temannya. 

Orang Jember kerja di Jakarta dianggap seolah-solah tidak tersentuh pendidikan

Makin dianggap aneh lagi ketika Regi mencoba meniru gaya komunikasi ala tongkrongan di Jakarta. Misalnya dengan mencoba menyelipkan kalimat-kalimat bahasa Inggris atau istilah-istilah populer ala pekerja Jakarta-an. 

“Dibilangnya, ‘udah, elu nggak pantes ngomong gitu. Jawa ya Jawa udah’. Kan bikin kena mental ya,” kata Regi. 

Begitu juga ketika di tengah obrolan, saat sedang membincangkan hal-hal serius, teman-teman Regi di Jakarta tiba-tiba syok ketika Regi melontarkan diksi-diksi ilmiah. 

Respons teman kerja Regi kira-kira begini: Ternyata Regi tahu diksi-diksi ilmiah yang kerap diasosiasikan dengan orang terpelajar. 

Regi tentu bertanya-tanya, apa yang salah dengan ia melontarkan diksi ilmiah? Apa dikiranya orang daerah seperti Jember tidak tersentuh pendidikan dan bodoh? 

Iklan

“Itu kukonfirmasi loh. Karena kalau aku ditanya dulu kuliah di mana, aku kan jawab di sebuah PTN di Jember. Langsung syok mereka, ‘Emang di Jember ada kampus?’. Berarti mereka ngira di Jember nggak terakses pendidikan tinggi,” beber Regi. 

“Pas aku nyebut beberapa nama kampus di Jember, makin syok mereka,” sambung pekerja di Jakarta tersebut. 

Anggapan tertinggal dan pilihan gaya berpakaian yang keliru

Selaras dengan anggapan “tidak ada kampus di Jember”, anggapan sebagai daerah tertinggal dan pelosok juga tersemat pada Jember. Teman-teman Regi di Jakarta mengira kalau di Jember tidak ada coffee shop, ritel modern, bahkan outlet brand hp ternama pun dikira tidak ada. 

“Mangkanya, pas habis lebaran lalu aku ganti hp, teman kerja di Jakarta kan nanya, itu beli di outlet mana? Dikiranya di Jakarta kan. Pas aku jawab aku belinya di Jember, langsung syok, emang di Jember ada ya? Hadeh tenan,” kata Regi. 

“Misalnya lagi, pas awal-awal. Aku kan diajak WFC di sebuah coffee shop elite. Kata mereka, nyoba lah ngopi di coffee shop elite, di Jember nggak ada kan?. Sumpah, masa hal-hal modern yang ada di Jakarta seolah nggak ada di Jember,” sambungnya. 

Belum lagi gaya berpakaian. Kata Regi, perbedaan itu membuat seolah ia berbeda sama sekali dari teman-teman kerja di Jakarta. 

Kebanyakan teman-teman kerja Regi di Jakarta memang mengikuti tren outfit kekinian. Kalau laki-laki ya coba meniru gaya Hindia. Skena lah.

Dianggap nggak gaul karena nggak terbiasa kelab malam

Regi juga merasa teralienasi gara-gara persoalan kelab malam. Sejak di Jember, ia memang asing dengan dunia malam. Tidak biasa party-party. 

Habit tersebut terbawa sampai saat kerja di Jakarta. Sehingga, ketika teman-temannya mengajaknya party, Regi memilih skip dulu. 

“Lebih ke, nggak ah ngeluarin uang buat hal nggak produktif. Walaupun dalih mereka, party itu cara stress release dari pekerjaan. Tapi aku sih sayang duitku aja ya. Kalau stresku bisa hilang dengan hanya nonton Netflix, ya cukup aja,” tutur Regi. 

Pilihan itu membuat Regi semakin teralienasi karena dicap “nggak gaul” dan nggak asyik. Tapi ya sudahlah, memang nasib jadi orang daerah yang kerja di Jakarta sepertinya memang harus siap-siap terus-menerus dianggap begitu. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 April 2026 oleh

Tags: culture shock jakartajakartaJemberkerja di jakartamerantau ke jakartaorang jember di jakartaperantau jakartapilihan redaksi
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Persaingan bisnis atau usaha di desa kabupaten kejam: cara kotor saling menjatuhkan hingga jebakan pelanggan loyal MOJOK.CO
Sehari-hari

Kejamnya Persaingan Bisnis di Desa Kabupaten: Cara Kotor Saling Menjatuhkan hingga Jebakan Pelanggan Loyal

20 Juni 2026
Orang desa tidak mengenal konsep pensiun dan menua dengan tenang (slow living). Itu hanya konsep orang kota MOJOK.CO
Catatan

Pensiun Ala Orang Desa Tak Seperti Bayangan Orang Kota: Bukan karena Rencana Slow Living tapi Dipaksa Keadaan Getir

19 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung MOJOK.CO
Esai

Membaca Serial Upin Ipin Lewat Kacamata Karl Marx: Kenapa Mulut Fizi Pengen Ditabok dan Ehsan Adalah Borjuis Kampung

17 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cuti haid: hak pekerja perempuan saat menstruasi tapi diabaikan perusahaan MOJOK.CO

Cuti Haid Jadi Hak Penting Pekerja Perempuan yang Disepelekan Perusahaan: Izinnya Ribet dengan Ancaman SP, Nyeri Mens Dicap Lebay

15 Juni 2026
Perjalanan Kopikina menjadi kedai kopi populer di Jakarta yang dirintis oleh alumni Beasiswa LPDP MOJOK.CO

Jalan Kopikina dari Kedai Kopi Kecil dan Bukan untuk Bisnis Serius Jadi Brand Besar di Jakarta, Terapkan Ilmu dari Inggris

19 Juni 2026
Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur MOJOK.CO

Catatan Dokter tentang Jalan Lintas Sumatera: Jangan Jadikan Jalinsum Jalur Cepat Menuju Liang Kubur

15 Juni 2026
papua.MOJOK.CO

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Percepatan sertifikasi tanah wakaf di Jawa Tengah (Jateng): kesadaran pentingnya tanah dengan sertifikat MOJOK.CO

Kesadaran Sertifikasi Tanah Wakaf Warga Jateng Tertinggi Nasional, Karena Sertifikat Tempat Ibadah Penting agar Tak Jadi Masalah

16 Juni 2026
Punya rumah dengan gazebo di halaman: tempat terbaik untuk me time hingga deep talk MOJOK.CO

Punya Gazebo di Halaman: Meski Rumah Tak Megah tapi Bikin Betah karena Jadi Spot Terbaik Relaksasi dan Macam-macam Fungsi

18 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.