Kena mental diburu-buru untuk punya anak
Kalau urusan salah paham pekerjaan masih bisa Dimas tertawakan, teror berikutnya justru membuat istri Dimas benar-benar stres. Sebagai pasangan yang baru merintis kemandirian, mereka memang bersepakat menunda momongan demi fokus menstabilkan usaha. Sayangnya, warga desa tidak bisa menerima dan memahami alasan tersebut.
Setiap kali istrinya keluar, misalnya, untuk berbelanja atau jajan, pertanyaan “kapan isi?” selalu ditembakkan padanya. Awalnya hanya basa-basi, tapi lama-lama berubah seperti menghakimi.
“Lebih ekstrem, ada yang mulai merekomendasikan aneka jamu agar cepat hamil. Kayak, mereka ngebet banget kami punya anak. Padahal ini pilihan masing-masing,” kata Dimas.
Stres karena merasa diintervensi, bahkan untuk urusan privat, mereka akhirnya melakukan “ironi”. Bagaimana tidak, dulu mereka pindah ke desa untuk mencari healing dari sumpeknya kehidupan kota. Namun, sekarang, setiap akhir pekan, pelarian mereka justru menyetir mobil berjam-jam untuk pergi ke mal di pusat kota.
“Menjadi orang asing di tengah keramaian, tanpa ada yang peduli, ternyata lebih baik.”
Tak semua desa bisa buat slow living
Kelelahan batin yang menumpuk ini akhirnya mengubah rencana masa depan mereka secara drastis. Padahal, Dimas awalnya sudah menyisihkan sebagian tabungan untuk investasi fisik di desa tersebut.
Melihat banyak warga desa yang hobi memancing, Dimas sudah meriset lahan kosong dan berencana membangun kolam pemancingan ikan. Ia ingin berbaur dan menciptakan perputaran ekonomi baru bagi tetangganya.
Namun, wacana itu dibatalkan. Dimas sudah tak nyaman. Jangankan membuka bisnis yang mengharuskan dia melayani warga desa setiap hari, tinggal di dalam rumahnya sendiri saja ia sudah merasa risih.
Setelah bertahan lebih dari setahun, Dimas dan Risa akhirnya angkat tangan. Uang tabungan yang awalnya disiapkan untuk modal membuat kolam pemancingan, akhirnya mereka pakai untuk membayar uang muka sebuah rumah di kompleks perumahan pinggiran kota Solo pada 2024 lalu.
Bagi mereka, perumahan adalah jalan keluar yang paling logis. Di kompleks perumahan, ia tak perlu memikirkan penilaian orang lain. Tetangga sibuk dengan urusan rumah tangganya masing-masing dan tidak ada yang peduli urusan Dimas dan istrinya.
“Tapi jujur aku nggak pernah merasa gimana-gimana sama warga desa. Mungkin itu budaya mereka, kan yang namanya orang beda-beda. Hanya saja, ya, aku nggak bisa cocok dengan budaya kayak begitu,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













