Bayangkan, kamu menghabiskan waktu empat tahun di bangku kuliah, begadang demi mengerjakan skripsi, hingga akhirnya berhasil mendapatkan gelar sarjana.
Dengan ijazah S1, harapanmu di dunia kerja pasti besar. Misalnya, bisa kerja kantoran, kerja sesuai passion, atau kerja dengan gaji yang besar.
Sialnya, bagi Nadya Grisczenkow (25), realitas tak seindah harapan. Bukannya kerja di gedung-gedung tinggi, ia justru harus kerja di rumah-rumah orang kaya untuk mengawasi para balita.
Ya, Nadya adalah satu dari sekian banyak lulusan perguruan tinggi yang harus berhadapan dengan kerasnya dunia kerja. Ketika pintu-pintu kantor seolah tertutup rapat bagi para fresh graduate, ia mengambil sebuah langkah yang bagi sebagian orang dianggap agak lain, yakni menjadi seorang pengasuh anak atau nanny.
“Awalnya saya merasa seperti kegagalan total. Saya punya gelar sarjana, tapi saya malah menyeka ingus anak orang lain di taman bermain,” ujarnya, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (5/2/2026).
Gengsi nggak bikin kenyang para sarjana
Setelah lulus kuliah di Monclair State University pada 2024 lalu, Nadya merasa dirinya mampu bersaing di dunia kerja. Setidaknya dengan bekal ijazah sarjana, ia bakal mendapatkan pekerjaan yang sesuai.
Sialnya, banyak lamaran kerja mengendap di email tanpa ada satupun balasan. Dalam situasi itu, ia menyadari bahwa untuk bisa kerja kantoran di kota besar seperti Boston tidaklah mudah.
Sementara itu, ia juga terus dihantui oleh utang pinjaman pendidikan (student loan) yang menumpuk dan biaya hidup yang terus melonjak.
“Saya harus melakukan apa saja untuk mendapatkan pekerjaan tetap,” ungkapnya.
Dalam situasi mendesak itu, ia melihat celah. Di kompleks perumahan mewah kota Boston, ia menyebutnya rumah-rumah “kaum 1 persen”, ada lowongan pekerjaan untuk pengasih anak. Upah yang ditawarkan pun cukup besar.
Awalnya, ia ragu buat melamar. Ada rasa canggung, bahkan sedikit malu, saat ia harus menceritakan pekerjaannya kepada teman-teman sejawatnya yang mulai bekerja sebagai karyawan kantoran di kotanya.
“Untuk apa kuliah tinggi jika akhirnya kembali ke urusan popok dan botol susu?” pikirnya kala itu.
Namun, lulusan sarjana ini sadar, gengsi tak bisa mengisi perut yang lapar. Nadya pun memantapkan hati untuk melamar kerja sebagai nanny.
Upahnya tak main-main, nyaris Rp500 ribu per jam
Satu hal yang paling mengejutkan dari profesi ini adalah upahnya. Di saat teman-temannya yang bekerja di kantor harus puas dengan gaji yang pas-pasan–bahkan terkadang harus lembur demi bayaran tambahan–Nadya justru mendapatkan upah yang sangat tak masuk akal.
Bayaran sebesar 30 dolar AS per jam (sekitar Rp470 ribu) bukanlah angka yang kecil. Dalam satu minggu, pendapatannya bisa jauh melampaui gaji karyawan kantoran di kotanya.
Belum lagi fasilitas tambahan yang sering ia dapatkan. Seperti jaminan makan hingga kesempatan bepergian bersama keluarga pemberi kerja.
Secara logika, pilihan Nadya ini sangat masuk akal. Lulusan sarjana ini tak lagi harus pusing memikirkan bagaimana cara melunasi cicilan utang pendidikannya. Stabilitas finansial yang selama ini ia idamkan justru datang dari pekerjaan yang awalnya ia pandang sebelah mata.
“Pekerjaan ini tidak masuk akal untuk ditolak. Saya dibayar 30 dolar per jam untuk melakukan sesuatu yang saya kuasai, sementara teman-teman saya di kantor hanya dibayar separuhnya untuk bekerja dua kali lebih lama,” jelasnya.
Gelar sarjana sangat membantu proses pengasuhan
Seiring berjalannya waktu, Nadya menyadari bahwa pekerjaannya bukan sekadar menjaga anak. Bekerja sebagai nanny, ia juga belajar tentang psikologi perkembangan anak, manajemen waktu, hingga keterampilan berkomunikasi yang sangat kompleks.
Ia menjadi saksi mata bagaimana seorang anak belajar mengucapkan kata pertamanya, atau bagaimana seorang balita belajar berani menghadapi rasa takutnya.
Nadya menemukan bahwa gelar sarjananya ternyata sangat membantu. Pola pikir kritis, kemampuan berbahasa yang baik, dan wawasannya yang luas membuatnya menjadi pengasuh yang disukai oleh keluarga-keluarga kaya tersebut.
Mereka tidak hanya mencari seseorang untuk menjaga anak, tetapi mencari sosok pendamping yang terdidik bagi buah hati mereka.
Ada kepuasan emosional yang tak terduga. Hubungan yang terjalin antara dirinya dan anak-anak asuhnya menjadi sangat erat. Di dunia yang serba cepat, dan seringkali jahat, ia menemukan kehangatan dalam pelukan kecil seorang balita yang merasa aman di dekatnya.
“Ada sesuatu yang sangat istimewa saat seorang anak berlari ke arahmu dan memelukmu seolah-olah kamu adalah pusat semesta mereka. Itu adalah jenis validasi kerja yang tidak akan pernah kamu dapatkan dari email atasan di kantor.”
Kata “sukses” terkadang harus dimaknai ulang
Kisah Nadya membuka mata kita tentang apa arti sukses yang sebenarnya di zaman sekarang. Apakah sukses itu harus berarti memiliki jabatan mentereng di sebuah kantor, atau berjalan di jalur lain seperti Nadya? Kalian yang menentukkan.
Yang jelas, Nadya kini telah berdamai dengan pilihannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai sarjana yang gagal masuk ke dunia kerja. Sebaliknya, ia melihat dirinya sebagai perempuan cerdas yang mampu melihat peluang di tengah kesempitan.
Ia membuktikan bahwa profesi pengasuh anak adalah profesi yang mulia dan profesional, yang jika ditekuni dengan serius, mampu memberikan kualitas hidup yang sangat layak.
“Dulu saya pikir pekerjaan ini hanyalah ‘batu loncatan’, tapi kemudian saya sadar bahwa ini adalah karier yang sah, menantang, dan sangat dihargai oleh orang-orang yang tepat.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA: Putus Asa usai Ditolak Kerja Ratusan Kali, Sampai Dihina Saudara karena Hanya Jadi Sarjana Nganggur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













