Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

10 Tahun Merantau Bikin Sadar, Kita Benar-benar Sendiri di Kota Orang: Adanya Teman “Benalu” dan Kalau Susah pun Haram Diketahui Ortu

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Agustus 2026
A A
kekerasan di matraman, kos di jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi - dihajar realitas Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Sebanyak apapun teman sekampung kita di Jakarta, kalau kehabisan uang, atau amit-amit jatuh sakit ujung-ujungnya bakalan sadar kalau kita itu cuma sendirian.” 

Kalimat itu meluncur dari mulut Adnan (28), saat membagikan ceritanya, Minggu (2/8/2026). Baginya, pembuktian bahwa ia benar-benar sendirian di Jakarta justru terjadi saat ia jatuh sakit. 

Iklan

Bulan lalu, badannya ambruk karena demam. Ia terbaring lemas di kamar kosnya. Dari ratusan kontak WhatsApp tak satu pun yang ia hubungi. Ketimbang merepotkan orang yang punya kesibukannya masing-masing, Adnan memilih memesan obat dan makanan lewat aplikasi ojek online. 

Pemuda asal Jawa Tengah ini sama sekali tidak sedang mendramatisir nasib. Sepuluh tahun merantau telah mengajarinya realitas hidup di ibu kota. 

Lulus SMA langsung merantau ke Sumatra hingga Jakarta

Perjalanannya Adnan dimulai tepat setelah lulus SMA, sepuluh tahun lalu. Berbekal nekat, ia mencicipi kerasnya tanah Sumatra selama kurang lebih setahun. 

“Ikut saudara, coba-coba jaga toko di sana,” kata dia.

Tak menemukan apa yang dicari, ia menantang beringasnya Jakarta selama lebih dari lima tahun. Fase kelelahan mental yang akut sempat membuatnya menyerah. Adnan pernah mengemasi barangnya dan pulang ke desa, berharap menemukan kembali kewarasan dan ketenangan batin. 

Namun, realitas kampung halaman tak seindah bayangan. Kedamaian tak bisa ditukar dengan gaji. Minimnya lapangan kerja memaksanya menelan ludah sendiri, membunuh gengsi di hadapan tetangga yang mencibir, lalu kembali lagi ke Jakarta.

“Selama sepuluh tahun itu saya sudah tiga kali ganti tempat kerja. Dulu saya pikir, makin sering ganti lingkungan, makin banyak teman-teman baru. Ternyata saya salah besar. Ujung-ujungnya, di kota orang, kita ini nggak punya siapa-siapa, Mas,” ceritanya.

Omong kosong solidaritas teman sekampung halaman

Dulu, saat awal-awal menginjakkan kaki di perantauan, Adnan punya pemikiran yang sangat naif. Ia mengira keberadaan “orang sekampung”–tetangga desa yang sama-sama merantau ke kota–akan bikin dia merasa nyaman. 

Logikanya, sesama orang daerah pasti akan saling menjaga di tanah rantau.

Realitasnya malah jauh panggang dari api. Bagi Adnan, solidaritas kedaerahan di kota besar sering kali hanyalah ilusi.

Adnan merasakan sendiri bagaimana kedekatan di kampung halaman justru disalahgunakan saat berada di perantauan. Di kota, orang bisa berubah wujud menjadi siapa saja, termasuk menjadi benalu.

Ia teringat kejadian tahun lalu, saat seorang teman sekampungnya tiba-tiba mengetuk pintu kosnya malam-malam. Sambil menangis sesenggukan, teman itu meminjam uang dengan dalih untuk membayar uang pinjaman orang tuanya di desa.

Iklan

Merasa iba dan mengingat keakraban keluarga mereka di desa, Adnan memberikan sebagian besar sisa gajinya yang sebenarnya sudah mepet. 

“Tapi apa balasannya? Sebulan kemudian dia menghilang tanpa jejak. Nomor WhatsApp diblokir,” ujarnya. 

Belakangan ia tahu dari kawan yang lain, uang pinjaman itu ternyata dipakai untuk judi online. Sejak saat itu, Adnan sadar, kawan akrab di desa bisa menjadi lawan yang paling tega saat terhimpit kerasnya biaya hidup Jakarta.

Kepedulian bisa saja terbentur kerasnya Jakarta

Tentu saja, tidak semua orang sekampung berubah menjadi benalu. Adnan masih memiliki beberapa teman rantau yang sifatnya tetap baik dan peduli. Namun, di kota yang ritmenya secepat Jakarta, niat baik saja tidak pernah cukup. Kepedulian sering kali terbentur oleh penderitaan masing-masing.

Adnan menceritakan sebuah momen ketika motor tuanya turun mesin, tepat di tanggal tua. Ia berniat menelepon teman satu desanya yang juga merantau di daerah yang berdekatan.

Namun, Adnan teringat cerita temannya minggu lalu. Temannya itu sedang stres berat karena terancam PHK. Bagaimana mungkin ia tega menambah beban pikiran temannya itu untuk urusan motor.

Ia menyadari bahwa di Jakarta, semua orang sedang bertarung mati-matian dengan masalahnya sendiri. Barangkali ada yang benar-benar peduli pada nasib kita, tapi mereka tidak bisa hadir dan membantu karena tenaga dan mental mereka sudah habis dikuras oleh kesulitan mereka sendiri.

Haram mengabarkan berita buruk ke orang rumah

Di titik terendahnya, insting seorang anak adalah mencari perlindungan kepada orang tuanya. Adnan pun demikian. Dalam kondisi terburuknya, ingin rasanya jemarinya itu mengetik pesan panjang di WhatsApp ibunya.

Ia ingin sambat. Ia ingin bercerita betapa lelah badannya, betapa hancur perasaannya, dan betapa ia ingin menyerah lalu pulang saja.

Namun, semua itu ia abaikan karena ada sebuah pantangan tak tertulis yang selama ini ia percaya.

“Haram hukumnya membiarkan orang di rumah tahu kalau hidup kita sedang hancur di perantauan,” ujarnya.

Baginya, membebani pikiran orang tua yang sudah renta di desa dengan masalah di Jakarta adalah sebuah dosa besar yang pantang dilakukan oleh Adnan.

Sebagai bentuk “pelarian”, Adnan membangun dunianya sendiri di media sosial. Di kota yang kejam ini, saat orang-orang di dunia nyata terlalu sibuk dan lelah dengan urusannya sendiri, dunia maya menjadi satu-satunya tempat persembunyian yang aman. 

Bagi Adnan, teman maya–orang-orang asing yang tak pernah ia temui wajahnya–terkadang terasa lebih dekat dan mengerti dibanding tetangga di kamar kos sebelahnya.

“Jadi perantau maksa kita buat berlindung di balik layar aja,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kawasan Setiabudi Strategis buat Ngekos, tapi Menyimpan Masalah yang Menyiksa Perantau Gen Z Jakarta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 3 Agustus 2026 oleh

Tags: Bertahan hidup di Jakartajakartakerja di jakartaKesepian di kota besarkota jakartamerantau ke jakartarealitas perantau JakartaSuka duka merantau
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO
Urban

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
Lulusan s2, susahnya legalisir ijazah setelah wisuda.MOJOK.CO
Sekolahan

Nasib Lulusan S2 di Jakarta: Kuliah Dianggap Nggak Guna karena Kalah Saing dengan Tamatan SMA, tapi Tetap Merasa Bangga

23 Juli 2026
Lulus SMA nekat kerja ke Jakarta untuk jadi cleaning service. MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah SMA Kerja Jadi Cleaning Service di Jakarta demi Lulus Sarjana, Kini Pilih Resign untuk Keliling Indonesia

22 Juli 2026
Seporsi kemenangan kecil yang bisa dirayakan di kehidupan dewasa usai berporsi-porsi kekalahan MOJOK.CO
Urban

Menemukan Seporsi Kemenangan yang Layak Dirayakan usai Berporsi Kekalahan dari Kehidupan Dewasa yang Bikin Setengah Gila

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Desa adalah Tempat Ideal Buat Nine to Five: Gaji “Utuh”, Mental Sehat, asalkan Memegang 3 Prinsip Ini

28 Juli 2026
jadi bridesmaid usai cut off di pernikahan mantan sahabat. MOJOK.CO

Penyesalan Saya Menerima Tawaran Bridesmaid dari Mantan Sahabat, Peran Paling Tak Berguna dalam Sebuah Pernikahan

31 Juli 2026
Akademisi UGM kritik RUU Sisdiknas karena belum menjawab tantangan pendidikan nasional di masa mendatang MOJOK.CO

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Jawab Tantangan Pendidikan hingga Menyoal Relevansi Perguruan Tinggi Kedinasan

28 Juli 2026
Tren selebrasi di panggung wisuda seperti minta difotoin rektor ala wisudawati UINSA: mengejar atensi maya hingga pergeseran batas hierarki formal MOJOK.CO

Difotoin Rektor: Selebrasi Wisuda biar Berkesan, Atensi Maya, dan Pergeseran Batas Hierarki Formal

30 Juli 2026
Budi daya ikan nila cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan ngasal MOJOK.CO

Budi daya ikan nila bisa cuan 18 juta tiap 4 bulan tapi jangan sampai merusak sumber daya 40 tahun ke depan

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.