In this economy—saat situasi ekonomi terasa makin sulit—para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan. .
***
Air mata Firza (27) tumpah saat motoran sendirian di sepanjang jalan pusat kota Surabaya. Tidak lama lagi adik laki-lakinya akan lulus SMA. Alih-alih menyiapkan rencana kuliah, sang adik sudah memantapkan hati untuk langsung bekerja.
“Bapak-ibu sudah tua, kalau aku kerja, biar aku yang nanggung kebutuhan mereka,” begitu ujar sang adik saat ditanya.
Tak pelak jika Firza merasa bersalah besar. Tidak hanya itu, ia juga merasa menjadi anak laki-laki gagal. Apalagi posisinya sebagai anak pertama dalam keluarga.
Janji mudah diucap tapi sulit diwujudkan karena masalah keuangan
Firza ingat betul, dulu semasa masih kuliah, ketika tengah kumpul dengan orang tua dan adiknya di rumah, Firza sering menjanjikan banyak hal.
Misalnya, setelah lulus kuliah dan bekerja, biaya pendidikan sang adik akan ia tanggung. Selain itu, ia tidak akan membiarkan ibunya capek-capek kerja di sebuah pabrik roti rumahan lagi. Dengan begitu, bapaknya juga tidak perlu menanggung beban ekonomi keluarga sendirian dari penghasilan tidak menentu sebagai tukang ojek di pasar.
“Bahkan kalau misalnya kelak adikku kuliah, aku yang bersumpah dalam diriku sendiri untuk membiayai,” tutur pemuda pekerja swasta di Surabaya asal Nganjuk, Jawa Timur tersebut, Kamis (28/5/2026).
Tapi, kenyataan yang Firza hadapi justru berbeda sama sekali. Hingga sekarang, ia sudah tiga kali pindah-pindah tempat kerja. Namun, hasil yang ia dapat nyatanya tidak bisa untuk mewujudkan satu-persatu janjinya tersebut.
“Kalau pekerjaan pertama dulu Rp2 juta. Yang kerjaan kedua dan sekarang di angka Rp2,8 juta,” ungkap Firza.
Jangankan untuk menanggung biaya sekolah adik atau menanggung penuh kebutuhan orang tua, bisa menyisihkan uang sebesar Rp500 ribu ribu-Rp700 ribu tiap bulan saja Firza masih kesulitan.
Lebih-lebih, in this economy, harga kos di Surabaya terus naik, seiring dengan harga makanan dan kebutuhan lain. Bahkan ketika Firza bersiasat untuk benar-benar hemat, tapi anehnya gajinya terasa hanya numpang lewat. Tak ayal jika ia merasa menjadi anak laki-laki gagal.
In this economy: jadi anak laki-laki gagal karena hidupi diri sendiri kesulitan sampai makan tabungan
Firza mengaku, sejak pertama kali bekerja, ia memang punya habit menabung. Namun, dengan gaji yang hanya numpang lewat, sistem tabungannya tentu tidak seideal yang direkomendasikan oleh pakar-pakar finansial.
Tabungannya itu ya sekaligus sebagai dana darurat. Kendati awalnya ia memproyeksikan tabungannya tersebut tidak akan ia ambil sampai situasinya sangat butuh atau kalau ingin mencapai hal-hal besar: seperti biaya nikah atau beli motor baru.
“Setiap bulan Rp200 ribu, Rp300 ribu. Mampuku nabung segitu. Tapi kerja dari 2021, karena nggak pernah kuambil, alhamdulillah sekarang kumpul banyak,” beber Firza.
“Tapi sekarang, in this economy, situasi ekonomi kok rasanya makin sulit dan berat ya. Aku sering kehabisan uang yang dari gaji. Kalau kepepet, ambil tabungan lah. Kalau kepepet terus, bahaya sekali,” sambungnya.
Mengambil uang dari tabungan itu terpaksa Firza lakukan karena ia susah payah menghindari dua hal: utang orang atau bahkan mengajukan pinjaman online (pinjol).
Akhirnya, nangis sambil motoran mengelilingi Surabaya menjadi kegiatan yang sering ia lakukan. Merenungi kegagalannya sebagai anak laki-laki.
Tidak berdaya saat orang tua bicara macam-macam kebutuhan
Rasa gagal itu terus menguat seiring waktu. Bagaimana tidak. Untuk menghidupi diri sendiri saja ia kewalahan. Jelas Firza tidak punya keberanian untuk seterang-terangan dulu: bilang akan menanggung biaya pendidikan sang adik atau menanggung kebutuhan orang tua sepenuhnya.
“Aku sekarang nggak pernah berani minta orang tua berhenti kerja. Nggak seperti dulu waktu awal-awal aku kerja. Karena kalau mereka nggak ikut kerja, makin sengsara kami. Sekarang malah adikku memutuskan ikut kerja juga,” ucap Firza dengan terisak.
Semakin terisak ketika Firza teringat, betapa ia sangat tidak berdaya ketika (misalnya) dalam sambungan telepon sang ibu bercerita: televisi di rumah sudah mulai rusak, bapak sering mengeluh sakit pinggang dan linu, atau kabar kalau sedang musim orang membuat hajatan sehingga harus menyiapkan uang sumbangan.
“Masalahnya, aku nggak sanggup bantu. Aku nggak bisa bilang (misalnya), ‘Udah, Buk, nanti aku urus.’ Aku nggak berdaya, sama sekali nggak berdaya. Nggak bisa bantu,” ucapnya lirih.
“Bahkan sekarang untuk pulang pun aku harus mikir-mikir. Padahal jarak Surabaya-Nganjuk hanya 2,5 jaman. Pertama, karena malu jadi anak laki-laki gagal. Kedua, kalau aku pulang, aku takut kehabisan uang,” sambungnya.
Karena setiap pulang, Firza punya kecenderungan menyembunyikan kekalahannya. Seolah-olah hidupnya baik-baik saja. Sehingga kalau pulang ia sering jor-joran, seperti membelikan bapak rokok, mengajak adik dan ibu makan enak, atau lain-lain. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan dalam masalah keuangan pas-pasan.
Dilema suami dan bapak 2 anak
Sementara bagi laki-laki yang sudah menjadi suami dan bapak seperti Putro (39), situasi ekonomi yang sulit seperti sekarang membuatnya harus berpikir keras sepanjang waktu: Nyari duit dari mana lagi? Harus kerja model gimana lagi?
Saya berbincang dengan Putro ruang merokok Stasiun Jombang sembari menanti jam keberangkatan KA Jayakarta dengan tujuan akhir Pasar Senen, Jakarta Pusat, pada Jumat (29/5/2026) siang WIB. Kami sama-sama hendak kembali ke perantauan. Saya kembali ke Jogja, sementara Putro bertolak ke Jakarta.
Putro sebenarnya asli Cilacap, Jawa Tengah. Sudah bertahun-tahun ia bekerja di Jakarta. Kerja di sebuah agen konstruksi sebagai operator lapangan.
“Istriku yang Jombang, sama kayak Masnya (maksudnya saya). Kami nikah karena sebenarnya masih saudara jauh. Ibuku kan orang sini, Mas, Bapak yang asli Cilacap. Terus nikah Ibuku diboyong di Cilacap. Kami dikenalkan orang tua lah,” ujarnya bercerita.
Putro sempat mengajak sang istri ngontrak di Jakarta. Tapi karena sang istri tidak betah, akhirnya mau tidak mau harus long distance marriage (LDM). Dengan begitu, sejak menikah di usia 29, hingga sekarang Putro mau tidak mau harus bolak-balik Jakarta-Jombang jika ingin bertemu istri dan dua anaknya.
“Sekarang makin kerasa, Mas. Anak dua, istri kan nggak kerja, terus entah kenapa situasi ekonomi sekarang rasanya sulit sekali. Jadi makin kerasa. Tiap mau pulang ke Jombang mikir-mikir. Ongkos kereta Rp400 ribuan. Pulang-pergi ya Rp800 ratusan,” beber Putro. “Belum nanti di rumah kalau anak pengin apa, pengin apa.”
In this economy: laki-laki merasa gagal jadi suami, tapi mau kerja model gimana lagi?
Putro tidak menyebut angka gaji. Namun, in this economy, ia merasa menjadi laki-laki gagal sebagai suami sekaligus bapak.
Istrinya selalu memberi pemakluman jika kirimannya dari bulan ke bulan berkurang. Istrinya selalu menerima jika ada keinginan yang tidak bisa lekas terbeli. Bahkan istrinya sempat berpikir untuk cari-cari pekerjaan di Jombang untuk mengatasi masalah keuangan. Walaupun upahnya mungkin kecil, tapi setidaknya bisa membantu menambal kebutuhan harian.
“Aku yang nggak mau. Gagal sekali aku kalau istriku sampai ikut kerja,” tegas Putro.
Sementara di saat bersamaan, Putro merasa bingung: Kok bisanya gajinya yang secara psikologisnya sebenarnya terlihat besar, tapi ketika dibelanjakan rasanya cepat ludes begitu saja. Uang Rp1 juta rasanya tidak lebih dari sekadar Rp100 ribu.
Pikir Putro, harus kerja model gimana lagi agar masalah keuangan ini bisa ia atasi? Lembur-lembur selalu ia lakukan. Proyek apa pun selalu ia ambil sampai rela LDM dengan istri dan dua anak.
“Makanya kadang, pas video call sama mereka (istri dan anak), aku pasti nahan nangis. Sedih karena kangen. Sedih karena aku merasa belum bisa ngasih hidup layak ke mereka. Sekarang aja kami masih numpang mertua. Belum bisa beli rumah sendiri,” tutup Putro sebelum kami berpisah setelah KA Jayakarta memasuki peron karena kami berbeda gerbong.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














