Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
25 Mei 2026
A A
Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten MOJOK.CO

Ilustrasi Kisah Lestari, Ibu yang Bertahan Menyekolahkan 2 Orang Anak dari Hasil Memulung Botol Plastik di Sekitar Stasiun Klaten (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Saban sore, Lestari (53) memungut sampah terutama botol plastik di sekitaran Stasiun Klaten menggunakan sepeda ontel. Biasanya ia mengayuh sepeda dari Pasar Srago dan memarkirkannya di dekat kafe yang jaraknya hampir 1 kilometer. 

Sembari membawa karung goni, Lestari mulai berjalan untuk mencari botol plastik di sekitaran Stasiun Klaten sebelum diangkut duluan oleh petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). 

Berdasarkan pengalaman Lestari, ia tak pernah diusir oleh petugas berbaju oranye dan justru dianggap membantu mengurangi volume sampah, yang timbunannya diperkirakan mencapai 300 ton per hari. 

Guna menangani masalah sampah, Klaten telah mendirikan sejumlah tempat pengolahan sampah dengan prinsip reduce, reuse, recycle (TPS 3R), serta sekitar 80 bank sampah. Namun, upaya ini tak bisa diselesaikan satu pihak. 

Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Ikatan Pemulung Indonesia (IPI) Jawa Tengah, Suyanto menegaskan persoalan sampah harus dimulai dari hulu yakni individu dan rumah tangga, termasuk pemulung. Sebab, kata dia, pemulung selama ini masih menjadi kelompok masyarakat yang terpinggirkan.

“Selama ini pemulung masih dianggap kaum marginal, disisihkan, padahal punya kontribusi besar untuk pengurangan dan pemanfaatan sampah. Di dunia bahkan sejak 2023 pemulung sudah memisahkan diri dari ILO (organisasi buruh internasional) dan berdiri sendiri,” kata Suyanto dikutip dari Detik Jateng, Senin (25/5/2026).

Upah yang didapat dari memulung

Setelah mengumpulkan sampah selama kurang lebih 2 jam, Lestari akan membawanya dengan mengikat sampah di sepedanya untuk dibawa ke pengepul. Kebetulan jarak pengepul dari Stasiun Klaten tak terlalu jauh.

Lestari menjelaskan satu kilogram botol plastik tanggung (600 mililiter) dihargai Rp1.200 oleh pengepul. Menurutnya, harga ini jauh lebih murah dibandingkan dulu yang bisa mencapai Rp3.500 per kilogramnya. 

Sementara satu kilogram gelas plastik harganya lebih mahal, yakni Rp2 ribu per kilogram. Namun, Lestari tetap merasa bersyukur karena Klaten kini sudah ramai dikunjungi wisatawan. Terlebih karena banyaknya kafe dan rumah makan yang mulai buka di sekitar Stasiun Klaten. 

Saat libur lebaran Idul Fitri 2026 kemarin, Kabupaten Klaten menempati posisi ke-2 di Provinsi Jawa Tengah sebagai tempat yang banyak digandrungi wisatawan. Lebih eksis dari kota tetangga seperti Jogja dan Solo.

Ikut berkontribusi mengurangi sampah di Klaten 

Kisah Lestari ibu di Klaten yang memulung. MOJOK.CO
Lestari (53) ibu di Klaten yang mencari botol plastik di sekitar Stasiun Klaten. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Peningkatan jumlah wisatawan di Klaten nyatanya turut mempengaruhi ekonomi warga lokal, termasuk Lestari yang sehari-hari mencari botol plastik.

Sayangnya, Lestari berujar tak banyak botol plastik yang ia kumpulkan dari sampah-sampah di kafe secara langsung, sebab mereka lebih banyak menggunakan gelas kaca untuk diminum di tempat.

Salah satunya Juli Bakery & Cafe yang lokasinya hanya 200 meter dari Stasiun Klaten. Manajer Operasional Juli Bakery & Cafe, Hafid (27) menjelaskan kafenya memiliki limbah botol kaca premium yang seharusnya bisa dikumpulkan ke fasilitas penampungan di Solo atau Jogja. 

Namun, hal itu belum berjalan karena biaya logistik dan bensin yang ternyata lebih besar daripada uang ganti daur ulang botol. Mengingat kafenya yang baru buka, Hafid juga belum punya kendaraan khusus untuk mengantar limbah tersebut ke luar kota. 

Iklan

“Akhirnya cuma kami buang ke satu tong sampah tapi kami masukkan dalam kardus untuk isolasi agar petugas pemungut sampah tidak terluka saat mengambilnya,” kata Hafid.

Hal yang sama juga dilakukan pemilik Kopi Bingah di Klaten. Supervisor Kopi Bingah, Theo (31) berujar kafenya juga memakai gelas kaca dan hanya memakai gelas plastik untuk pembeli yang ingin membawa pulang.

Meski hanya bisa mengumpulkan 1-2 kilogram botol plastik dalam sehari, Lestari tetap bersyukur karena jadi tak perlu pulang-pergi dari Klaten ke Jogja, sehingga bisa menghabiskan waktunya bersama keluarga.

“Saya lahir di sini dan sudah kerasan. Bersyukur Klaten sekarang sudah ramai,” ucap Lestari ditemui secara terpisah, Sabtu (25/4/2026).

Memulung sebagai kerja sampingan, asal bisa kerja di Klaten

Lestari sendiri belum sampai satu tahun mencari botol plastik. Dulu, ia menjadi petani melon di Gamping, Kabupaten Sleman dan harus pulang pergi memakai commuter line dari Klaten. Setelah 15 tahun, Lestari memutuskan kembali ke Klaten alias kampung halamannya karena menganggur. 

“Saya sudah nggak kerja dari Oktober 2025 kemarin. Sudah tua, makanya saya cari sampah. Lumayan untuk makan dan nyambung hidup,” kata Lestari.

Selain mencari botol plastik di sore hari, Lestari juga memiliki toko kelontong di rumahnya untuk biaya sekolah kedua anaknya yang masih SMP dan SMA. Namun, Lestari berujar jika akhir-akhir ini tokonya sepi pembeli.

“Sekarang cari uang susah, apa-apa mahal. Jualan juga nggak laku,” kata Lestari. 

Oleh karena itu, kegiatan memulung sejatinya menjadi harapan baru bagi Lestari. Ia berharap pemulung bisa memiliki kesejahteraan dan ikut andil dalam menangani sampah di Klaten. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Cerita Ibu Tunggal di Kota Semarang: Putus Kerja usai 14 Tahun Jadi Buruh, Kini Jadi Penyapu Jalan demi Sekolahkan Kedua Anak atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 26 Mei 2026 oleh

Tags: atasi sampahibu tunggalklatenpemulungpengolahan sampahsampahStasiun Klaten
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Dalang cilik perempuan asal Klaten yang menyukai wayang. MOJOK.CO
Eksplor

Jadi Perempuan Satu-satunya di Lomba Dalang Anak Klaten, Bocah 13 Tahun Ini Buktikan Wayang Tak Kenal Gender

22 Juli 2026
Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan MOJOK.CO
Esai

Bintang Lima untuk Kemasan Paket: Konsumen Puas, Sampah Bubble Wrap Jadi Petaka Lingkungan

22 Juli 2026
KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Perjuangan masuk UGM.MOJOK.CO

Kehilangan Ayah Menjelang SNBT, Kini Berhasil Kuliah Gratis di UGM Meski Harus Belajar di Rumah Sakit

23 Juli 2026
Punya teman si paling cashless yang sama sekali tidak pegang uang tunai (cash) merepotkan. Karena tidak semua hal bisa dibayar pakai QRIS MOJOK.CO

Teman Si Paling Cashless Pemuja QRIS bikin Repot Kita yang Sedia Tunai, Kepraktisan Semu di Balik Tren Dompet Kosong

24 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro MOJOK.CO

Nasi Kuning Muna Cung dan Kisahnya yang Membuat Wisatawan Rela Berjalan Kaki dari Malioboro

22 Juli 2026
Ilustrasi - Cerita bapak dulu bungah antar anak wisuda sarjana dari PTS Jogja, kini nelangsa antar anak susah cari kerja meski modal ijazah S1 MOJOK.CO

Cerita Bapak Dulu Bahagia Antar Anak Wisuda Sarjana, Kini Nelangsa Antar Cari Kerja Pakai Ijazah SMA karena S1 Tak Guna

19 Juli 2026
Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum.MOJOK.CO

Menyerang Jurnalis dengan Umpatan Bukti Pengacara Kehabisan Akal, Tunjukkan Miskinnya Argumen Hukum

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.